Gadis Bermata Coklat

1892 Kata
“Halo,” sapaku lesu. “Tolong hentikan berita viralnya”, suaranya lirih tapi ada ketegasan disana. “Bukan aku yang nyebar.” jawabku. “Hapus video kamu hari itu.” “Aku bahkan ga simpan rekaman hari itu,” jawabku lesu. “Minta perempuan itu buat klarifikasi!” suara bergetar dengan setengah membentak terdengar di seberang sana. “Ini loudspeaker?” tanyaku. “Iya, istriku terganggu dengan berita ini.” “Kamu pikir aku ga keganggu? Kamu pikir aku sengaja? Dengar ya nyonya, aku sama sekali ga butuh sensasi buat cari perhatian. Kamu pikir aku ga nyoba buat ngehentiin penyebarannya?” aku membentak sampai Papa dan Mama menoleh ke arahku. “Na, please, jangan memperkeruh suasana,” bujuk Yogi padaku. “Kasih tahu istrimu, kalau cuma nuntut, cuma teriak-teriak, aku juga bisa,” aku lalu memutuskan panggilan. Papa dan Mama yang awalnya melirik padaku kemudian berpaling dan kembali menekuni kertas yang sudah semakin berwarna dengan coretan spidol dan stabilo. Aku meletakkan ponsel di sampingku dan kembali mencari atau mengirim pesan ke pengurus laman atau grup. Belum lagi selesai aku mengetik, nada dering kembali terdengar. Aku melirik dan nama Yogi ada di layar ponselku. “Apa?” “Na, ngertilah, istriku marah karena sikapmu kaya gini.” “Terus dia maunya aku seperti apa?” “Dia malu keluar rumah, karena beberapa tetangga atau temannya tahu soal kita?” “Kamu pikir aku berani kerja? Ga Mas, aku bahkan ga berani keluar kamar nemuin Mama Papa,” aku membawa ponselku keluar kamar. “Do something lah Na, biar postingan ga semakin kesebar.” “Do something? Something?” aku lalu menekan tombol peralihan ke video call. “Jangan vcall.” “Angkat!” bentakku. Saat itu terlihat Yogi duduk di tepian tempat tidur dengan istrinya yang tengkurap sambil tersedu di tempat tidur yang sama. Aku membalik kameraku dan menyorot Papa juga Mama yang juga membantuku menghubungi pemilik akun untuk menghapus postingan serupa. “See, lihat Papa dan Mamaku yang berusaha bantu kita Yo, aku sudah bantu kamu tanpa kamu minta. Aku sudah berusaha tanpa harus kamu suruh,” aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku. Terlihat Yogi berdiri dan keluar dari kamar mereka. Sempat melintasi seorang anak perempuan yang asyik menggambar dengan warna-warna yang cerah. Mungkin itu Mayda. “Maafin aku kalau terlalu keras, aku tahu ini semua salahku, aku yang ngajak kamu ketemuan, aku juga yang ngirim paket itu ke alamat kamu. “Papa, May gambar gunung,” anak itu mengulur kertasnya lalu melihat ke arahku di ponsel ayahnya. “Iya, May lanjutin dulu ya gambarnya,” kata Yogi pelan. “Tantenya nangis kenapa?” pertanyaan polos dari si mata coklat itu membuatku sekali lagi menghapus air mataku. “Mas!” teriakan Lasyifa membuat Mayda terkejut hingga bahunya terguncang. “Do more Na, kalau butuh bantuanku, hubungi saja.” Sejenak, aku terpikir untu membuat permintaan terbuka, oke ini mungkin akan semakin menghancurkan aku, tapi mungkin juga membuat postingan itu terhapus dengan sendirinya. “Oke aku akan coba klarifikasi, tapi kalau justru bikin runyam masalah, kita tanggung bersama. Aku udah pernah ngingetin ini ke kalian.” Telpon terputus. Yogiku, menelponku untuk membela istrinya. Yogiku menelponku dengan tuntutan dari istrinya. Papa benar. Aku sedang jatuh cinta sendiri saja. Aku sedang tergila-gila dengan masa laluku sampai lupa masa depanku. Kunyalakan laptopku dan berusaha menghentikan laju share dari berita yang sedang viral itu. Selagi Papa dan Mama masih sholat, aku mengemasi kertas-kertas yang berserakan. Kembali memindai kertas yang telah sepenuhnya bisa dihubungi dan memisahkan yang kertas yang masih rapi atau belum penuh coretan spidol merah. Kacamata Mama yang tergeletak di bawah juga kuambil lalu kupindahkan di meja panjang di dekata kamarku. “Na, sholat dulu!” perintah Papa saat melihatku mengemasi kertas-kertas itu. “Iya Pa, makasih ya,” dengan lesu aku memeluknya sebentar lalu beranjak ke kamar mandi. “Yang bersih kalau mandi, udah dua hari ga mandi itu,” Mama meledekku sembari membuat secangkir kopi untuk Papa. Sekembali aku dari kamar mandi, kulihat Mama dan Papa kembali bergelut dengan ratusan postingan yang tersisa. Aku terharu melihat keduanya berdiskusi dan aling bertanya apakah ini sudah dihubungi atau belum. Melihat ke ponsel mereka dan berharap akun-akun itu akan membalas direct messange mereka. “Pa, Ma, udahin yok, Papa sama Mama udah capek,” kataku. “Tinggal dikit lagi Na, nanggung kan,” kata Papa. “Hm, Naya live dulu ya,” kataku. Masih di satu ruangan yang sama, aku mempersiapkan kameraku pada tripod. Aku juga menyiapkan peralatan makeupku di atas meja. Kali ini aku ingin offline saja. Aku harus mendramatisir hasilnya sebelum akhirnya aku post nantinya. “Halo, kalian sudah tidak bertanya-tanya lagi kan ada apa denganku kemarin. Oke, kelanjutannya adalah saya mohon maaf kalo terkesan gimmick, cari sensasi. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya walaupun yang terjadi memang diluar kontrol saya. Nah, buat kalian yang ngerasa posting atau pernah reshare, Aya mohon dihapus ya. Ga enak sama sebelah sana. Aya lagi kan yang disalahkan. Please ya hapus mama-mama cantik, mbak-mbak, nona. Aku sayembarain deh, yang udah hapus, trus kirim bukti hapusnya, Aya tukar sama nomor undian berhadiah 1 juta rupiah, nah lumayan kan bisa buat beli followers akun hahaha. Tapi serius, hapus, laporin ke Aya, kita undi besok siang. Selanjutnya aku bakal ngasih kalian tutorial nutupin mata bengkak gegara video soal mantan viral. Hehehe. Oke yang harus kalian siapkan adalah...,”aku menunjukkan satu persatu alat make up yang perlukan lalu memulai tutorial. Setelah selesai, aku mengulang kembali video itu, memastikan tidak ada kesalahan yang bisa memperburuk masalah. Aku menambahkan beberapa efek dan mematikan video itu tersimpan dengan baik. Saat aku mulai masuk ke akunku youtubeku. Nada sering disertai getaran dengan nama Andris membuatku menghentikan aktivitasku. “Halo, Na?” “Iya Dris,” “Turun drastis trendnya,” jawab Andris. “Alhamdulillah, ke sini deh kerumah aku, ajak istrimu juga,” pintaku untuk mengajaknya makan malam. “Lah, aku lagi di Purwokerto Na,” jawabnya. “Ya udah, lain kali aja deh,” kataku. “Kamu udah ngehubungin pemosting pertama ya?” “Iya, udah dihapus juga,” jawabku. “Ada pengalihan isu juga kayaknya,” katanya. “Maksudmu?” “Ada isu lain dari pemerintah yang menenggelamkan postinganmu, sehingga komen dan sharenya berkurang. Tapi biar ga muncul lagi lain hari, kayaknya harus bersih banget Na,” katanya. “Duh susah Dris, ini aja beberapa ga bisa dihubungi lo pemostingnya, bukan beberapandeng, banyak.” “Kok bisa meledak itu ya? Epicnya dimana coba?” “Diperasaan terluka dan terlunta-lunta, kamu tahu kan yang bahas mantan-mantan itu lagi trending banget, happening banget.” “Hm, kaum baperan,” katanya sambil terdengar napas yang menghembuskan asap rokok. Tak lama berbincang, Andris mematikan telpon dan aku segera memposting video yang baru saja aku buat. Di tengah-tengah load tiba-tiba lampu padam. Kami bertiga mengeluh bersamaan. Tapi lalu saling tertawa. Membercandai diri kami sendiri yang sampai lupa makan seharian. Papa menumpuk semua kertas lalu meletakkannya di atas meja. Aku mengatur hotspot di ponselku dan menghubungkannya ke wifi laptop agar tetap dapat upload meski wifi di rumah padam. Di luar, langit sudah gelap. Papa menyalakan beberapa lilin dan diletakkan di sudut-sudut rumah. Kecuali di kamarku yang sudah menggunakan lampu charge. “Syahdu ya Pa,” Mama menghampiri Papa dan menyuguhkan sepiring pisang rebus. “Iya Ma,mungkin mata kita yang tua ini jenuh dengan tumpukan kertas, begitu lampu padam dan Cuma bisa lihat bintang juga bulan, rasanya jadi istimewa,” Papa mengambil sepotong pisang rebus lalu mengupasnya. “Pisang dari Mbah Darmi kemain Ma?” “Iya Pa, sayang kan kalau ga segera dimakan,” Mama juga akhinya mengambil sepotong. Aku melihat bar upload yang berjalan cukup lambat, tentu saja tidak secepat ketika tersambung wifi, tapi aku harus segera menguploadnya agar tawaran menggiurkan itu segera direspon. 10 menit kemudian aku melihat bar upload sudah terisi seratus persen, aku membiarkan notif like bermunculan, komentar, like, share berselingan. Aku membalas komentar-komentar yang membahas tentang sayembara yang kulakukan. Atau tentang pertanyaan seputar make up yang kugunakan. Pada kalimat pujian atau sanjungan aku memberi tanda hati sebagai balasannya. Aku menyusul Mama dan Papa keluar teras. Melihat jalanan lengang karena mati lampu. Mama mengulurkan piring berisi pisang rebus padaku. “Kamu belum makan seharian lagi lo Na, makan ini dulu, nanti makan nasi meskipun sedikit,” kata Mama. Aku mengambil sepotong pisang rebus lalu mengupasnya. Melempar kulit pisang itu di tempat sampah bersama kulit terbuang yang lain. Ah, betapa sakitnya setelah melindung lalu harus terlempar, ke tempat sampah pula. “Tadi Yogi Na?” tanya Papa. “Iya Pa,” jawabku jujur. “Dia menawarkan bantuan?” tanya Mama. Aku mengangguk sembari mengunyah pisang yang manis itu. “Kamu mengiyakan?” tanya Papa. Aku menggeleng. Pisang itu mulai tertelan sedikit demi sedikit setelah bergumul bersama ptialin di dalam mulut. Meski masih semual yang kemarin, aku berusaha menahan rasa mual itu. Aku menghentikan kunyahanku sampai rasa mual itu mereda. “Kenapa Na? Mual lagi?” Aku mengangguk. Mama segera berdiri mengambilkan segelas air untukku. Aku menerimanya dan mengulang trik itu dari awal lagi. “Ponselmu dari tadi dering terus,” kata Papa mengingatkan. Aku melirik dan mengetuk dua kali pada layar gelap ponselku. Bar notifikasi penuh berjejer. Nampaknya seluruh akun media sosialku diserbu oleh orang-orang yang ingin mengikuti sayembara berhadiah. Aku mendiamkannya. Kembali sibuk mengunyah pisang yang baru tergigit tiga kali itu. Tapi rasa mual kembali menyerang. Aku berlari ke kamar mandi dan merasai dingin menusuk tulang dan seolah ikut mendorong makanan itu keluar lagi dari kerongkonganku. Mama menghampiri dan memijat tengkukku seperti yang dilakukan Papa kemarin. “Habis ini minum obat, isi lagi perutnya, dipaksa makan walaupun mual,” kata Mama yang menuntunku ke kamar. Saat mendekati pintu tiba-tiba mataku terasa gelap. Aku berusaha menahan tubuhku dengan berpegangan pada tangan Mamaa. “Eh, Eh Na, Pa!!” Mama berteriak meminta tolong Papa. Aku merasakan Papa membopongku ke tempat tidur. Mataku mulai membuka dan aroma minyak kayu putih menyeruak ke rongga hidungku. Mama membalurkan minyak itu ke sekujur kakiku. Ia juga mengusap telapak kakiku yang dingin. “Dokter ta Ma?” “Ga mau Pa,” jawabku. “Jangan kaya anak kecil, ayo mumpung belum terlalu malam.” Aku menggeleng. “Wes tak buatkan bubur ae, tungguin Pa anakmu,” pinta Mama. Papa memmijat kakiku dan aku mulai nyaman memejamkan mataku. Sampai Mama kembali membawa semangkuk bubur sumsum untukku. Di tengah malam yang gelap, Mama tetap membuatkan bubur itu untukku. “Ayo dimakan, Mama suapin,” Mama duduk di tepian tempat tidur menyuap sesendok demi sesendok. “Sudah Ma,” kataku ketika perutku mulai mual lagi. “Ya sudah, tidur dulu. Semuanya dilanjut besok.” Papa membetulkan selimutku sebelum kemudian meninggalkan kamarku. Terdengar Mama mengucap syukur saat listrik akhirnya menyala kembali. Tapi alih-alih tertidur, aku justru mulai membalas pesan dari beberapa pengurus laman akun yang membuktikan bahwa mereka sudah menghapus postingan yang menyangkut diriku. Aku membalas pesan mereka dengan nomor urut. Tak terasa sudah 168 nomor yang kuketik untuk membalas akun-akun itu. Aku tersenyum lega. Kenapa cara ini tidak tepikirkan dari awal. Mungkin Mama dan Papa tak perlu kesulitan memeriksa sekian banyak akun. “Good Job,” kata Andris mengirim tangkapan layar berisi komentar di postingan videoku. Mereka yang netral terhadap kasusku hanya menanggapi dengan ucapan bravo ataupun memberikan semangat pada video yang kuupload, sedangkan mereka yang merasa tergiur dengna hadiah itu banyak mengetik komentar agar aku segera memeriksa wa, email atau direct messsange intragramku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN