Undian Satu Juta

1819 Kata
Saat terbangun, aku merasa tubuhku masih lemas. Aku bangun dengan berpegangan pada nakas. Aku berjalan pelan menuju kamar mandi dan lalu terduduk di dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi. Aku hanya termenung sampai Mama juga keluar dari kamar. “Sudah bangun Na?” tanya Mama. “Badanku sakit semua Ma”, jawabku. Mama juga masuk ke kamar mandi. Aku bangkit dan mengambil ponsel yang ada di kamar. Melihat banyak inbox, direct message, juga pesan di w******p. Kembali membalas pesan mereka satu persatu dengan nomor undian yang aku janjikan. Mama sudah menghadap ke dapur,  merebus air sambil mencuci beras yang akan dia tanak. Segelas teh hangat lalu dia suguhkan padaku. “Diminum dulu Na,” kata Mama. “Makasih Ma,” aku menyentuhkan tanganku ke tepian gelas. Merasai hangat yang bahkan sudah nyaman sebelum aku meminumnya. Mama terlihat mencampurkan lagi tepung beras dengan santan di sebuah wadah. Aku tahu beliau sedang membuat bubur sumsum untukku. “Jangan banyak-banyak Ma, paling juga ga habis,” kataku. “Kalau ga habis kan bisa dimakan Mama,” jawab beliau. Ponsel di meja makan bergetar. Aku melihat layar dan nama Susi ada di sana. Aku lalu menekan tombol hijau dan mengusapnya ke atas. “Halo,” sapaku. “Hai Na, baik?” “Sakit Sus,” jawabku. “Sakit apa? Cepet sembuh ya?” “Makasih ya,” kataku. “Postingan-postingan screenshoot udah terhapus semua, nanti bisa ngantor kan?” “Aku masih agak lemes sih,” jawabku.  “Begitu sembuh masuk ya?” Susi bertanya. “Entahlah... Aku ingin, tapi aku malu.” jawabku jujur. “Kerja aja. Udah ga ada gosip kok di kantor. Pak Broto juga butuhin kamu buat nemenin presentasi. Ya, kerja ya. Apa mau aku jemput?” “Ga usah. Malah ngrepotin kamu.” “Ya udah, besok-besok kalau kamu udah siap kerja, aku tunggu di gerbang ya?” Mama menghidangkan bubur sumsum panas ke hadapanku. Asap mengepul di udara membumbung. Aku melihat tehku yang bahkan belum kuminum sama sekali, sekarang datang lagi sepiring makanan yang asapnya mengepul. Gelas teh kuangkat dan kusesap sedikit. Hangatnya mengalir dari kerongkonganku hingga keperutku. Lalu perlahan seluruh darah di tubuhku mengalir membawa rasa hangat itu. Aku menghela  napas panjang tanda syukur. Mama lewat di belakangku sambil menepuk pundakku. Aku mengekor padanya untuk mengambil wudhu dan bersujud pada Sang Penulis Takdir. Saat aku kembali ke meja makan, asap tak lagi terlihat di atas bubur putih bertabur gula di atasnya. Sendok mulai kugerakkan untuk memindahkan bubur itu ke mulutku. Tidak semanis yang kubayangkan. Tapi tentu bukan karena masakan Mama yang gagal. Lebih karena mulutku yang pahit. Aku melanjutkan sendokan kedua dan seterusnya selama mual tidak kurasakan. “Habis makan jangan lupa obatnya diminum,” kata Mama. Aku terus menikmati bubur yang hampir tak terasa nikmatnya di mulutku. Pelan, aku memaksa bubur itu tersendok dan tertelan. Mama sudah sangat sibuk menyiapkan diri sebelum berangkat kerja. Begitu juga Papa, setelah sempat membelai rambutku, ia kembali menyiapkan dirinya untuk mencari nafkah. “Ga kerja Na?” tanya Papa saat keluar dari kamar dengan kemeja batiknya. “Belum sehat Pa, jangan dulu, ijinkan Mas Broto sana,” kata Mama yang juga sudah siap dengan tas tangan dan sebotol air minum. Aku sudah biasa melihat Papa dan Mama seibuk ini ketika pagi. Dulu ketika kecil, aku melihat semua kesibukan ini sambil membuntuti mereka. Aku tahu mereka akan pergi, aku ingin ikut. Tapi nenek memelukku, mengajakku bermain di belakang di kamar atau di depan televisi sampai keduanya bisa pergi. Aku membalas perlakuan mereka ketika aku sudah bersekolah. Aku berlagak seperti mereka yang sibuk menyiapkan diri. Mama kadang tersenyum melihatku menata bukuku sendiri meskipun salah. Tanpa memarahiku, beliau lalu menukar buku yang benar kedalam tasku. Mama selalu jadi perempuan keren yang sangat bisa kujadikan panutan sejak aku kecil. Rambutnya yang selalu rapi saat bekerja, bajunya yang selalu pas di tubuhnya, make up sederhana yang membuatnya terlihat ayu dan padanan warna yang selalu pantas dipakainya. Semua penampilan Mama menjadi nyaman di mataku. “Mama berangkat ya Na,” Mama mengeluarkan motornya dan bersiap berangkat kerja. Ketika Mama sibuk di dapur, tugas Papa adalah menyalakan mesin kedua motor kami. Sehingga saat aku dan Mama siap berangkat kerja, motor tak perlu menunda kami untuk memanaskan mesin terlebih dulu. “Na, kalau belum kerja, Papa pinjam motor kamu ya,” kata Papa. “Silakan Pa,” jawabku. Aku sudah berhenti menyuap bubur itu ke mulutku. Setelah mencuci dan mengembalikan piring ke dapur, aku lalu kembali ke ruang keluarga. Setelah satu mingguan bekerja, aku kembali melihat rumah ini sepi lagi. Bahkan hari ini lebih sepi karena aku tak bisa banyak beraktifitas. Tubuhku masih tak nyaman untuk beraktifitas. Aku hanya duduk di depan televisi dengan menyalakan laptop sehabis minum obat.  Aku masuk ke semua media sosial yang kupunya, membalas inbox mereka yang ingin ikut di undian satu jutaku. Aku menggunting lembaran kertas untuk menyiapkan nomor-nomor yang akan kuundi. Tentu saja aku mengulur waktu, siapa tahu ada yang belum menonton videoku. Sembari menunggu aku mengatur aplikasi undian untuk nanti siang. Serbuan inbox sudah tidak serame tadi malam. Setelah satu jam lebih tidak ada notifikasi yang masuk lagi aku menyeting kamera di depanku. Seluruh pesan yang menghubungi sebelumnya sudah kuminta untuk memfollow instragramku. Sekali tepuk dua nyamuk, selain postinganku terhapus, aku juga menambah ratusan follower instagramku. “Live 5 menit lagi,” pancingku di storygram. Dalam sekejap tanggapan tepuk tangan berdatangan. Aku segera menyiapkan ponselku yang sudah berisi aplikasi undian dengan ratusan nomor sesuai dengan mereka yang sudah menghubungiku. “Halo, selamat siang,” sapaku membuka live. “Baru berapa ini yang nemenin aya live? Baru 30 orang ya, yuk gabungin ya, yang diundi banyak lo ini, dan nanti kalau g follow ig Aya berati kita anulir ya, udah pada dapat ketentuannya dari Aya kan? Oh ya, sekalian ngingetin ya Aya, buat teman-teman semua, ada baiknya kita punya batasan untuk membagikan sesuatu, oke Aya emang salah udah ga perhitungan, ceroboh buka kemasan paket tanpa cek n ricek isi dan pengirimnya, tapi ketika memang itu udah terhapus, ga jadi konsumsi publik jangan diperkeruh suasannya ya, kita harus tahu orang lain, siapapun itu, punya privasi masing-masing ya. Wew, udah empat puluh tiga ribu yang bergabung, selamat datang ya pemirsa, ini pada nungguin Aya ngundi apa emang penasaran yang habis bikin heboh yang mana sih? Hahahaha, ini bisa kalian lihat bareng ya, ini sudah Aya siapin aplikasi ini udah sesuai dengan teman-teman yang konfirmasi, ngirim bukti hapusan postingan ya. Ada yang kirim screenshot, ada yang kirim videoscreen, pokoknya Aya makasih banget buat yang udah sukarela hapus postingan ga berguna itu ya. Oke sekarang kita undi ya, ini udah Aya siapkan laptop juga buat ngecek teman-teman yang nanti nomornya keluar di aplikasi udah follow ig Aya apa belum. Trus ini ga cuma undian duit satu juta aja ya, nanti Aya juga bagi-bagi merchandise juga biar pemenangnya ga cuma satu ya.” Kemudian aku mulai mengundi hingga keluar 5 nomor yang berhak atas hadiah pulsa 50 ribu. Aku melanjutkan dengan 5 nomor yang berhak dapat kaos oblong dari salah satu merk yang mengendors padaku. Dan terakhir aku mengundi uang satu juta yang didapat oleh seorang pemilik akun twitter. “Nanti kita hubungi pemenang-pemenangnya ya, atau kalau mau konfirm duluan juga gak apa –apa sih,” setelahnya aku mengajak bergabung dengan pemenang undian satu juta. Kami mengobrol bagaimana awalnya dia mendapat rentetan gambar tangkapan layar itu dan mengapa akhirnya tertarik mengepost di akunnya. Kuijinkan dia promo beberapa akunnya. “Wih, banyak, ternak kak?” tanyaku. “Iya mbak Ay,” jawabnya sambil tersenyum. Kami berbincang, saling membalas komentar yang tampil dengan bergantian. Sampai akhirnya aku mentransfer uang satu juta yang aku janjikan dan menunjukkan bukti transfer langsung layar. Komentar menjadi semakin seru, riuh, ketika Deep menunjukkan layar ponselnya menunjukkan M-Bankingnya yang sudah bertambah saldo satu juta. “Makasih Mbak Ay, ini g settingan ya, bisa dilihat ini ada mutasi dari Mbak Aya ya, yang ini nih yang satu juta baru 3 menita lalu kan ya, makasih Mbak Ay,” katanya sambil tertawa. “Sekali aja ya tapi, jangan dibuatin kasus lagi sayanya,” akupun ikut tertawa. Setelah selesai dengan live yang aku lakukan. Aku logout di semua media sosial, kemudian menutup laptop. Merasa perutku mulai lapar aku menuju dapur. Membuat secangkir teh lalu membuat telur dadar besar dari beberapa telur kemudian memakannya. Aku duduk di  meja makan dan mulai melahapnya. “Lapar Na?” tanpa kuketahui sejak kapan Mama ada di belakangku. “Eh Mama udah pulang?” Dibelainya rambutku lalu menepuk bahuku. Mama memang seperti itu. Agak berbeda dengan mama-mama lain yang begitu cerewet ingin tahu masalah anaknya. Mamaku tidak. Mama lebih memilih Papa sebagai juru bicara terhadapku. Sedangkan Mama hanya berlaku seperti ibu pada dasarnya, menyayangi anaknya tanpa ingin membahas ada apa dengan anaknya yang membuat anaknya menjauh. “Udah enakan perutnya?” tanya Mama sambil meletakkan tas kerjanya di kamarnya. “Iya Ma, mulai lapar.” jawabku. “Lapar kok ga makan nasi, Mama ambilin ya? “ “Ga usah, ini udah pake 3 telur kok,” aku tersenyum dengan pipi menggembung. Mama duduk di hadapanku. Melihatku makan dengan tersenyum. Aku melirik sudut matanya yang mulai menggenang air mata. Tapi dia membendung dengan sekuat tenaga. Hingga air mata itu tidak jatuh sedikitpun. Entah apa yang dipikirkan Mama, tapi pasti tidak jauh dari anaknya yang mengenaskan yang makan karena baru merasa lapar. Karena dari 3 hari hanya menggeleng jika ditawari makan. “Besok jadi kerja?” “Iya Ma,” jawabku. “Nanti malam, cukupin istirahatnya, jangan begadang lagi, masalah kita udah selesai kan?” Aku mengangguk dan mengiyakan kalimat Mama. “Besok, apapun yang terjadi cukup fokus kerja, ga usah meduliin yang lain, apapun tatapan temanmu, apapun yang dibicarakan temanmu, kita sudah mencoba memperbaikinya, kamu ga boleh kepancing emosi, bisa?” “I’ll try.” Aku melahap telur dengan nikmat, perasaan yang lebih santai daripada dua malam terakhir. Begitu kenyang aku mengembalikan piring dan gelasku ke rak piring setelah kucuci. Tak lama Papa juga datang dari kantor dengan membawa beberapa bungkusan. “Bawa apa Pa?” “Makan besar yuk, menikmati lelahnya kita yang sudah berakhir,” kata Papa sambil menyerahkan bungkusan itu pada Mama. Mama mengeluarkan isinya dan meletakkannya di piring-piring. Aku membantu Mama menghidangkan 3 bungkus sate, tahu crispy, dua botol sprite di meja makan. “Yah Papa, aku baru aja makan telur tiga, masih kenyang ini ih,” kataku. “Ya dimakan nanti malamkan bisa, ini tahu crispynya makan dulu gih, biasanya kamu suka,” Papa mengambil satu tahu dan mencelupkannya ke saus yang sudah kuletakkan ke piring saji. Malam ini kami berbincang, bercanda tanpa membahas apapun yang baru saja berlalu. Kami menonton film sambil menghabiskan camilan yang dibeli Mama dan Papa sepulang kerja. “Night Na, tidur, jangan lihat ponsel lagi, istirahat, kita tidur nyenyak,” Mama berkata saat aku mulai masuk ke dalam kamar. “Night Ma, Pa, thanks for all, have a nice sleep tonight,” aku tersenyum lalu masuk ke kamar dan membaringkan tubuhku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN