Jangan Pulang Dulu...

1070 Kata
Hari ini aku memasuki gerbang kantor lebih berdebar dari pertama kerja dulu. Aku turun dari motor dan menuntunnya sampai ke parkiran. Begitu helm kubuka, tatapan mata mulai banyak tertuju padaku. Aku salah tingkah. Ingin rasanya bersembunyi di kolong meja. Tapi, meja siapa? Aku mulai mengingat nasihat Papa, abaikan tatapan orang lain dan mulailah memenuhi kewajibanku. Tapi bagaimana jika kewajibanku saat ini adalah melindungi diriku sendiri? Aku terdiam dan menunduk meski banyak mata semakin mangerah padaku. Kupercepat langkahku menuju kantorku. Begitu sampai ke lobi aku segera mengantri log in presensi. Di barisan yang tak jauh dariku, Susi melambai padaku. Di sampingnya ada Indar yang terlihat masih salah tingkah padaku. Mereka ada di depanku sehingga meskipun selesai cek log, mereka hanya keluar barisan, namun masih menungguku yang masih ada dalam antrian. Begitu selesai meletakkan jari manisku ke alat presensi, aku menghampiri mereka. Kami agak canggung tentu saja. Antara aku dan Susi memang tidak terjadi apapun, tetapi antara aku dan Indar. Kami ada di sisi kanan dan kiri Susi membuat seolah kami masih belum berbaikan. Aku menggandeng tangan Susi dan kami beriring masuk lorong menuju ruangan kami. “Kurus amat neng? Ga makan kamu tiga hari?” tanya Susi. Aku mengangguk seperti orang ga punya tenaga. “Ga doyan makan, sampe sekalinya makan, makanannya g doyan aku,” jawabku. Indar lalu berpindah ke sisi kiriku dan mengguncang tanganku. “Aku belum sempat minta maaf kan, maafin aku ya. Semuanya gara-gara aku.” ucapnya. Sebenarnya ingin berucap banyak, tapi melihat keadaan lorong yang cukup rame, saling berpapasan antara teman yang baru hadir dan yang bersiap meninggalkan kantor, membuatku urung mengumbar emosi. Aku tersenyum dan menghadap kepadanya. Aku berdiam diri sampai kami sama-sama berbelok ke ruang kerja kami. “Kamu belum bisa maafin aku ya Na?” Indar mengulang pertanyaannya. “Iya In, aku maafin, toh masalahnya udah kelar kayaknya. Berita itu udah hampir ga da lagi kan? Semoga aja yang masih tersisa ga perlu mencuat ke permukaan lagi,” jawabku. “Jadi pelajaran ya In, jangan lemes itu mulut sama jari, kalau bukan wewenang kita, jangan ikut campur, kita teman di tempat kerja, soal urusan pribadi ya tetap masing-masing donk,” nasehat Susi sebelum kami saling menempati meja masing-masing. Kami duduk di tempat masing-masing setelah Indar akhirnya menganggukkan kepala. Aku menatap tumpukan map yang tidak banyak berubah. Artinya, pekerjaanku terbengkalai, sama sekali tidak ada yang menghandle. Justru map itu semakin bertambah tinggi. Aku memiringkan kepalaku, menocoba menyapa Indar atau Susi yang mejanya bersebarangan denganku. “Hai, kalian, ada info apa selama aku ga masuk?” tanyaku. “Ga ada sih, cuma kerjaanmu makin numpuk yang ada.” Jawab Susi. Tampak Indar belum mau banyak bicara. Dia segera tenggelam di balik layar komputernya. Bekerja seperti biasa. Aku segera kembali ke posisi dudukku. Komputerku sudah menyala, setelah memasukkan password untuk membuka programku, aku langsung terdiam dan mulai memasukkan data ke dalamnya. Aku berusaha bekerja lebih cepat dari biasanya sehingga tumpukan map itu segera berkurang. tapi tentu saja kapastitas kecepatanku pun terbatas. Meski targetku belum terpenuhi, waktu makan siang sudah datang. “Na, ngantin yuk, makan dulu,” ajak Susi. “Bentaran deh, 3 lagi,” aku melirik tumpukan map di hadapanku dan Susi segera mengerti. “Eh Na, selesai tiga itu, selesai juga jam makan siang kita, yuk ah berenti dulu,” Susi memaksa dengan menggaet tanganku. Dengan kilat kusimpan dan kututup aplikasi itu supaya tidak nampak di layar. Kalau sampai ada yang memanipulasi angka bisa mampus aku. Aku melirik meja Rudi yang kosong, sudah dari tadi aku tidak melihatnya, itu artinya dia memang tidak hadir di kantor hari ini. Kami makan siang seperti biasa. Saat itu aku mulai mengajak Indar berbicara agar kami tak saling canggung lagi. Sehingga tak butuh lama, Indar pun mulai mengakrabiku lagi. Kami bercanda, di sela mengunyah makanan seperti biasa dan berharap pulangpun seperti biasa. Tapi harapan emang ga selalu sesuai ekspektasi kan. Ada banyak harapan yang ga sesuai realita. “Na, ke sini sebentar,” pak Broto melambaikan tangan padaku. “Iya Pak,” aku segera menjawab dan berdiri dari tempat asalku. Aku memasuki kantornya dengan masygul apa aku akan dipecat setelah tiga hari absen?? Atau dia akan berusaha mencampuri urusanku dengan memberi nasehat. Atau hanya mau memberi kerjaan? Kenapa ga tadi pas masih jam kantor sih ah. “Iya Pak, Bapak manggil saya?” aku mengetuk pintu kantornya. “Iya, sini duduk dulu.” Aku terduduk di kursi depan mejanya. Seandainya suasana tidak semenegangkan ini, rasanya pengen muter-muterin ini kursi. Tapi keadaan seperti masih tanda tanya, aku memilih duduk dengan tegang. “Ini berkas laporan pengiriman barang ke customer kita, nah saya mau kamu buat laporan slidenya buat kita presentasikan minggu depan. Gimana?” “Ini bukannya bagiannya Rudi Pak?” tanyaku. “Istrinya Rudi kan lagi sakit, dia ijin untuk pengurangan beban kerja. Makanya saya pengin kamu aja yang ngerjain. Sanggup kan?” tanya Pak Broto sekali lagi. “Sanggup sih pak, tapi.. saya belum pernah juga ngerjain laporan. Kalau ternyata hasilnya tidak sebagus punya Rudi, gimana pak?” jawabku mengelak halus. “Saya pernah lihat slide presentasi kamu tentang kosmetik berbahaya. Dan saya kira itu bagus. Menarik. Jadi laporan ini saya ingin kamu yang menyelesaikan.” Pak Broto tersenyum. “Baik Pak, saya coba kerjakan,” aku lalu menerima laporan itu dan memeriksanya sejenak. “Kamu bisa bertanya pada Rudi atau Indar jika kesulitan, tapi saya rasa catatan Rudi itu pun sudah sangat rapi dan mudah dimengerti, saya harap kamu tidak kesulitan mengadaptasi.” “Saya akan berusaha pak,” kataku sambil menutup map itu. “Ada yang lain lagi pak?” tanyaku sebelum meninggalkan ruangan itu. “Masalahmu sudah selesai?” tanya Pak Broto lagi. “Saya harap sudah pak,” aku menjawab dengan tertunduk malu. “Bekerja yang baik, kasian sama papamu yang sudah susah-susah masukin kamu ke sini ya?” tekannya padaku. “Iya Pak, maaf kalau saya merepotkan,” aku belum juga mengangkat kepalaku. “Gak apa-apa, bukan sesuatu yang disengaja, saya juga sudah menegur Indar, semoga kalian semakin solid dan yang seperti itu, tidak perlu terjadi lagi,” Pak berbicara sambil memutar kursinya pelan. “Iya Pak, terima kasih atas perhatian bapak,” kataku. “Ya sudah, kamu boleh meninggalkan ruangan,” Pak Broto menyilakan aku untuk pergi. Setelah mengangguk, aku membawa laporan itu keluar lalu memasukkanya ke dalam tas. Ruangan itu hanya menyisakan aku sendiri. Dua rekan kerjaku itu pasti sudah menghilang lebih dulu. Aku segera mematikan komputer dan mengemasi barang-barangku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN