Temani Aku

1040 Kata

Aku hanya mengangguk membiarkan Mas Aji memutus panggilan. Jam di dinding menunjukkan pukul 16.00. Tanpanya waktu berjalan pelan. Tapi seperti apa kata Yogi, aku harus belajar menerima karir suamiku. Toh semuanya memang akan kembali padaku. Seluruh kesuksesan Mas Aji juga akan menjadi kebanggaanku. Melihat tas kerjaku yang tergeletak di meja kerja di dalam kamar, aku mengingat cuti kerjaku yang juga masih berlaku untuk besok. Ternyata selain berjalan pelan, waktu juga merambah membosankan. Ponsel yang sedari tadi agak senyap ini seolah membuat waktu menjadi semakin panjang. Kuraih ponselku untuk menghubungi kepala personaliaku, bertanya apakah boleh jika aku boleh membatalkan cutiku. Dan beruntungnya aku ketika beliau mengatakan aku cukup mengganti surat ijin cuti yang sudah masuk deng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN