Aku menempelkan kartu ke handle pintu lalu mendorongnya pelan. Segera lampu menyala saat kartu itu bertengger pada wadahnya. Sepatu dan tasku kubiarkan di dekat lemari. Tujuan pertamaku adalah kamar mandi. Mas Aji pun tak jauh berbeda, saat kubuka pintu kamar mandi, dia sudah berdiri di ambang pintu, mengejutkanku. “Kaget ih!” hardikku. “Becanda Dek,” lalu diapun masuk ke kamar mandi. Kupikir dia hanya buang air seperti yang kulakukan, ternyata terdengar suara shower menyala. Dia mandi lagi. Suamiku keluar dengan handuk yang masih membelit pinggang ke bawahnya. Kali ini aku terkesiap dengan perut yang masih cukup rata, lengan-lengan berotot yang tidak berlebihan. Aku melihatnya tanpa terkedip. Sudah sangat tahu dengan apa yang diinginkannya. Tapi dia lalu mendekat pada lemari, mengamb

