“Nanti sebelum ke Mama, kamu bantuin aku berkemas ya?” pinta Mas Aji saat kami sarapan bersama. “Iya,” jawabku singkat. “Berangkat bareng aja yuk, aku antar, nanti kalo pulang aku jemput juga, habis itu bantuin kemas-kemas aku antar kamu ke Mama. Oke?” “Hm,” aku mengangguk sambil mengunyah makanan yang baru saja kusuap. Meski secara psikologi aku sudah jauh membaik dibanding hari kemarin. Tapi aku masih butuh healing sepenuhnya, kalau belum sempat berlibur, kembali jadi putri di rumah Mama kurasa juga cukup. Hah, belum punya anak saja sudah sebutuh ini mer time, apalagi kalau nanti ada anak. “Dimakan Dek, jangan diaduk aja, mikir apa?” “Eh, ga Mas,” aku lalu kembali menyuap nasi pecel yang kubeli di dekat rumah. “Kamu pengen banget liburan ya?” Mas Aji menghentikan makannya, men

