Menyambut Bahagia

1149 Kata

“Mas!!” aku menghambur memeluknya. “Eh, apa ini? Kok peluk-peluk, lanjutin beres-beresnya,” godanya padaku. Meskipun dia sendiri membalas pelukanku. Kedua tangannya melingkar di pinggangku. Aku masih begitu terharu dengan bergelayut padanya. Air mataku menggenang menahan girang. “Ayo dibereskan, habis ini ayo aku antar ke Mama,” katanya. Aku menggeleng. “Kok?” “Ga jadi, ga usah ke Mama,” aku masih mengulum senyum padanya. “Loh, katanya pengen ke Mama, gak apa-apa, ayo aku antar, walaupun ga bermalam,” dia membelai rambutku yang masih terikat. Aku sekali lagi memeluknya. Merasakan detak jantungnya yang bertalu. Entah sejak kapan dia merencakan semua ini. Aku bahagia dengan caranya mengejutkanku. Aku merasa sangat bersalah karena sudah menuduhnya atas perasaan tidak jelasku. Kami

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN