Malam Pertama

2378 Kata

Sepeninggal Yogi, Mas Aji terlihat berubah raut mukanya. Keceriannya menguap. Mukanya begitu tegas dengan sesekali mengenggam tanganku kuat. Aku memahami caranya untuk berekspresi padaku. Mungkin dia menahan pertanyaan dari mana Yogi tahu tanggal pernikahan kami, bahkan mungkin hatinya sedang menuduhku telah memberitahu tanggal dan jam pernikahan kami dilakukan. Untuk semua itu aku pun menahan rasa kecewaku. Aku mencoba jadi dirinya seperti senja di Paranggupito dulu. Dia yang begitu tabah menghadapi ketidakdewasaanku. Siang ini aku pun begitu, aku yang menjadi lebih ramah kepada para tamu, aku yang lebih perhatian padanya dan teman-temannya yang datang ke acara kami. “Capek Mas?” tanyaku setelah gelombang tamu mulai surut. “Kamu yang lebih capek,” jawabnya tanpa menoleh padaku. Aku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN