Dingin yang menyergap membuatku semakin mendekap tubuh di sampingku. Aku beringsut merapat mencari kehangatan padanya. Tubuhnya meresponku dan mengaitkan kakinya pada kakiku. Dingin ini tak hanya membuat perutku terasa kaku, tapi juga membuat naluri kebirahian ini menguak. Ketika dua manusia yang belum lama mengenal sanggama semacam kami ini terus-terusan di tempat tidur, dan dingin menaungi kami, maka hanya kamasutra yang jadi jawabannya. Seolah hasrat itu sedang mencapai dendam kesumatnya, kami hampir selalu melakukannya setiap hari. Begitu pun pagi ini. Sebuah perjalanan manis yang diakhiri dengan lenguhan lega Mas Aji yang mendesak tubuhku. Dia kembali memelukku setelah mengecup keningku. “Kamu mau kemana?” tangan Mas Aji menahanku yang turun dari tempat tidur. “Bersih-bersih sayan

