Gemuruh ombak di Pantai Tanah Lot pagi itu dibingkai oleh fajar yang nyaris merah. Sembur-sembur awan yang tipis terarak pelan saling menjauh dari satu sama lain. Ketika dari jauh awan-awan itu bahkan tampak menyatu, bukankah awan-awan itu sebenarnya terserak. Terpisah satu sama lain, bahkan dari ketinggian yang berbeda, juga dengan kecepatan yang berbeda. Aku dengan Mas Aji, mungkin saat ini pun sedang seperti itu. Kami bergandengan tangan, menikmati ombak mendebur kaki kami, namun kami sedang dalam ketinggian perasaan dan kecepatan menata hati yang berbeda. Aku menunduk, melihat pasir yang sedang digaris oleh Mas Aji, dia membentuk namaku lalu namanya terhubung satu benang yang meliuk memagari nama kami dalam satu hati. Setelah selesai dia mendongak, memberikan senyumnya padaku. Aku

