Aku bukan asal menjawab. Ini pertama kalinya aku mengudara. Aku menghindari kemungkinan aku mabuk udara terus makanan harus keluar semua. Oh no. Betapa memalukannya. Kami mengantri check in baru kemudian menuju ruang tunggu. Aku mulai jenuh ketika hanya melihat orang-orang yang juga berlalu lalang begitu saja. Telingaku mulai mendoktrin otakku dengan suara-suara peringatan keberangkatan dan kedatangan. Sampai-sampai begitu terdengar bunyi intro itu aku segera membuka mulutku mengikuti nada dan irama informasi. Mas Aji membungkam mulutku dengan tangannya. Meski aku tahu dia bercanda, aku tetap menangkap tangannya dan mengigitnya gemas. "Aduh dek, jangan di sini gemesnya, Bali masih jauh," katanya tanpa menarik tangannya dariku. "Masih lama ya? jenuh aku Mas," kataku. "Tadi diajakin

