“Na?” Tepukan di pundakku seketika membuatku mendongak padanya. Suara yang tidak asing itu tak membuatku terkejut sama sekali. Terlebih aku sudah mengetahui keberadaannya sedari tadi. “Hm”, hanya itu kalimat sambutan yang bisa kukeluarkan. “Sendiri?” dia kembali membuat nada bertanya padaku. Matanya memandang berkeliling, seolah bertanya di tempat ini sendiri adalah suatu keanehan untuknya yang sangat mengenalku. “Iya,” jawabku. “Aji ke mana?” “Dinas luar.” “Ga kerja?” dia melihat pada jam tangannya. “Cuti.” Yogi membuang nafas panjang, lalu menunjuk salah satu minuman sachet yang ada di belakang pemilik warung yang berdiri menyambutnya. “Mbak, yang itu satu pake es ya?” pesannya pada pelayan warung di tempat wisata itu. Tanpa basa basi dia duduk di sampingku meskipun tidak

