Sesuatu itu disebut takdir. Yaitu ketika kami telah memilih hari, telah mempersiapkan hampir semuanya untuk kepergian kami berlibur, bahkan beberapa pakaian telah rapi di dalam koper, tetiba Mas Aji mengeluarkan kembali pakaianku dan hanya mengisi dengan pakaiannya dan semua peralatan mandi dan sholatnya. “Apa-apan sih Mas?” “Maaf dek, kita ga jadi berangkat, aku ada dinas luar beberapa hari,” katanya sambil memasukkan kembali baju-bajuku ke lemari. “Tapi kan katamu udah ngajuin cuti?” “Cutiku ditolak,” dia menoleh padaku dan membuatku begitu membencinya saat itu. Aku menekuk tubuhku di tepian ranjang. Berkutat dengan handphone dan sama sekali tak menoleh ke arahnya. Sesekali kudengar hembusan nafas panjang dan udara seruangan itu seolah mendadak berhenti. Tak ada suara apapun. Tera

