Merahnya subuh perlahan menguning dan membirukan langit yang semula hitam. Aku bersandar di pilar teras sambil menikmati lalu lalang anak-anak yg katanya jogging. Tawa genit mereka karena dibuntuti orang yg ditaksir serta ejekan-ejekan menggoda, terdengar lucu di telingaku. Lalu sejenak mengingat apakah aku dulu juga begitu? Rasa-rasanya memang iya. Hanya saja dulu tak seberani itu. Dulu dilirik saja sudah teramat malu rasanya. Apalagi kalau dijodoh-jodohkan, wih rasanya memerah muka karena malu. Tawa anak-anak itu berderai tanpa beban. Misalpun ternyata di rumah mereka meninggalkan PR yang belum tersentuh, orangtua yg marah-marah karena belum mendengar kata pamit, atau bahkan kisah-kisah sedih lainnya, mereka tak peduli. Terpenting diwaktu itu, teman-teman mereka, menerima mereka apa adan

