disiksa lagi

1021 Kata
sesampai nya di kediaman jayadiningrat gladis tampak diam saja pipi nya masih merah dan terasa panas. Sean melangkah kan kaki nya di ikuti gladis yang tampak tunduk. Rendi juga memasuki rumah tersebut menuju ruangan kerja Sean karna ada pekerjaan yang harus di selesaikan karna sudah ditunda nya tadi. sementara bi asih yang baru saja melakukan pekerjaan nya melihat gladis menunduk. "selamat sore tuan." "selamat sore nyonya" sapa bi asih. Namum Sean hanya pergi berlalu tanpa menghiraukan bi asih. gladis berhenti sejenak dan tersenyum kepada bi asih namun bi asih bisa melihat sorot mata gladis yang tampak sedih dan sedikit ketakutan. bi asih juga memperhatikan pipi gladis yang merah. "selamat sore bi asih." Namum senyuman gladis terhenti mendengar teriakan Sean yang mengejutkan siisi rumah tersebut. "dasar wanita sialan,,,,," "apa aku harus menunggumu."teriak Sean membuat gladis lari menaiki anak tangga. bi asih sangat kasihan melihat nasib gladis. gladis memasuki kamar yang saat ini bagaikan neraka. di melihat pundak Sean yang membelakangi pintu. tangan nya dimasukkan ke kantong celana nya. jas nya terlempar di lantai sementara kemeja yang dipakai nya tampak acak acakan. mengetahui gladis sudah masuk Sean membalikkan badan nya dan menarik tangan gladis. "berani berani nya kau bertemu dengan nya ,dasar w************n. apa kau merasa sudah hebat setelah bekerja di butiq." "Sean percaya lah aku bertemu Galang hanya untuk menjelaskan semua nya kedia." ucap gladis memberi penjelasan. "apa ?? menjelaskan? apa yang perlu kau jelaskan kepada si b******k itu." "Sean kau tau aku dan dia dulu nya,,,," plakkkkkkk Sean kembali menampar pipi gladis dengan sangat kencang. sampai gladis tersungkur ke lantai. gladis memegangi pipinya sambil menangis. "apa kau pikir aku ini bodoh."ucap Sean sambil menunjuk ke arah gladis yang terduduk dilantai. "kau itu sedang menggoda nya," "apa kau pikir bisa mendapatkan dua lelaki kaya sekaligus," "dasar wanita jalang," "Sean aku dan dia sudah selesai. dia sudah berjanji tidak akan mengganggu rumah tangga kita." Sean datang menghampiri gladis menarik kasar rambut gladis yang dikuncir asal. "awww sakit Sean lepaskan Sean." hikss hikss hiksss "kenapa kau mengikat rambut mu seperti ini apa kau mau memamerkan tubuh mu! apa kau mau menggoda nya dengan memamerkan leher mu.hahhhhhhhh,,,," Sean menarik dress kuning gladis. "lepaskan sean hikss hikss. apa kau tidak puas sudah menampar ku." Sean menekan pipi gladis dengan kencang. "kau sudah berani melawan ku. apa kau pikir aku akan mengasihanimu." "hahhahahahha apa kau merasa aku cemburu melihat kau bertemu dengan si b******k itu." "jangan bermimpi terlalu jauh. aku hanya tidak ingin kau merasakan kebahagiaan." "aku mau melihat hanya ada tangis di hidup mu, apa kau mengertiiiii!!"" "semakin kau menderita semakin bahagia hidup ku." Sean meninggalkan gladis yang menangis. rambut nya acak acakan dan baju nya robek karna ditarik Sean dengan sangat kencang. pipi nya terasa membengkak. gladis memegangi kedua kaki nya yang ditekuk nya. gladis menangis dalam diam. bi asih yang melihat Sean meninggalkan kamar langsung masuk memeriksa keadaan gladis. bi asih membawa es batu untuk mengompres pipi gladis yang dilihat nya tadi sewaktu pulang membengkak dan merah. "nyonya!!!!!!" bi asih terkejut melihat keadaan gladis. gladis yang saat itu membutuhkan pelukan langsung saja berhamburan memeluk bi asih. gladis menangis bak anak kecil yang meraung dipelukan ibu sendiri. bi asih memeluk gladis dan menepuk nepuk pelan punda nya untuk menenangkan gladis. saat tangisan gladis mulai reda bi asih melepas pelukan nya dan memperhatikan pipi gladis yang kini memerah kedua sisi nya. dengan lembut bi asih menaruh es batu kedalam kain yang dibawa nya tadi. bi asih sangat menyayangi gladis. setelah mengompres pipi gladis bi asih menuntun gladis untuk mengganti pakaian nya. "nyonya istirahat lah sebentar "ucap bi asih setelah gladis selesai mengganti pakaian nya. "bi saya boleh minta tolong" ucap gladis. "boleh nyonya apa yang perlu saya bantu." "nanti saya ingin pindah ke kamar saya sebelum nya ,tolong bantu saya yah bi." "baik lah kalau begitu nyonya." sementara Sean menuju ruangan kerja nya.rendi sudah lebih dulu berada disana untuk mengurus keperluan untuk meeting besok hari. Sean masuk dengan membanting kencang pintu. "brengsekkk,,,,," berani sekali dia melawan ku," Rendi yang mendengar umpatan Sean menghentikan sejenak aktivitas nya. "maaf pak apa saya boleh memberi saran" ucap Rendi. "hmmmm" "saya pikir nyonya gladis dan Galang hanya mengakhiri hubungan mereka." "saya bisa melihat kalau nyonya gladis adalah wanita baik." Sean menjuruhkan pandangan nya ke arah Rendi. "maaf pak bukan nya saya ingin ikut campur tapi saya pikir bapak terlalu kasar ke nyonya galdis." "rendiiiii !!!!!!apa kau ingin mati juga" ancam Sean kepada Rendi. "jangan sok tau tentang rumah tangga, jika kau saja masih jomblo di umur mu yang sudah tua." Rendi hanya melongos kesal mendengar ucapan Sean. "saya hanya tidak ingin bapak menyesal di kemudian hari pak "ucap Rendi pelan Namum masih dapat didengar Sean. "rendiiiiiiiiiiiiiiiiiii,,,,,,,,,," ""ehhh ia maaf pak ""ucap Rendi takut setelah melihat raut wajah Sean yang membuat semua bulu nya merinding. "apa kau sudah membereskan semua keperluan meeting besok????" "sudah pak, saya juga sudah menjadwalkan kepergian bapak besok sore nya ke Eropa." "karna cabang perusahaan kita disana mau louncing produk baru pak." "hmmm "ucap Sean yang sedang duduk menyilang kan kaki nya sambil meneguk minuman yang bisa membuat hati nya sedikit tenang. "sebelum saya berangkat besok ke eropa.kau ada satu pekerjaan yang harus dikerjakan dengan cepat." "pasang cctv disetiap sudut rumah ini dan juga di tempat kerja nya galdis." "dan sambungkan ke handpone ku." "baik pak" ucap Rendi. "saya juga punya satu pekerjaan lagi." " caritau semua saham dan perusahaan kepemilikan pranomo group." "aku ingin tau seberapa kaya mereka sehingga anak nya sebegitu beraninya menyenggol jayadiningrat." "baik pak." Sean dan Rendi menghabiskan waktu nya di ruang kerja nya sampai mereka lupa waktu. "pak saya pamit pulang semua jadwal keberangkatan bapak dan pekerjaan yang lain nya sudah saya bereskan." "hmmm "ucap Sean. Rendi buru buru melangkah kan kaki nya takut nanti nya bos nya tersebut berubah pikiran dan menahan nya lagi untuk menemaninya minum. sementara Sean yang sudah sedikit mabuk akibat minuman yang sedari tadi diteguk nya melihat kearah jam yang menunjukkan pukul 01.00 malam. Sean memilih tidur di ruang kerja sementara galdis yang masih di kamar Sean bisa tidur dengan tenang karna mengetahui dari bi asih kalau Sean sedang mabuk dan tidur di ruang kerja nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN