Sean memutuskan akan memantau secara langsung kinerja gladis.
dengan cepat Sean mendial Rendi.
"Rendi cepat keruangan ku."
Tut Tut Sean dengan cepat mematikan sambungan teleponnya.
"aduhh apalagi sih bos reseh ini."
"perasaan aku dari sana baru 2 menit yang lalu udah di panggil lagi."
Rendi berjalan tergesa gesa dia tidak mau di amuk oleh bos galak nya itu.
saat hendak membuka hendel pintu Sean suda lebih dulu membukan kan pintu dan itu membuat Rendi terkejut.
"ayo berangkat" Sean berjalan dengan langkah kaki nya yang panjang.
Rendi hanya bisa mengikuti dari belakang.
"antar kan aku ke butik yang baru."
"baik pak".dengan cepat mobil Sean melejit membelah ramainya aktivitas insan manusia.
setelah beberapa waktu mereka sampai di butik yang baru saja di rilis oleh mami Yasmin.
dari semua butik yang dimiliki keluarga jayadiningrat ini adalah salah satu butik terbesar sekota tersebut.
"pak kita sudah sampai."
"hmmmm "ucap Sean yang sedari tadi memegangi iPad nya.
Rendi buru buru membukakan pintu mobil bos nya tersebut.
Sean berjalan dengan gagah nya.
karyawan di butiq tersebut terkejut dengan kedatangan Sean.
sebenarnya mereka blom pernah bertemu Sean Adi jayadiningrat.
Namum mereka sudah banyak tau tentang sifat suami bos nya itu.
Sean mendorong pintu butiq semua karyawan menunduk tanda mereka hormat.
"selamat siang pak!" ucap karyawan karyawan tersebut.
Sean bahkan tidak menjawab dan hanya berlalu melewati mereka.
sebagian karyawan terpana dengan ke gagahan dan ketampanan Sean.
dan sebagain nya lagi takut melihat wajah Sean yang dingin Namum terlihat menakutkan.
Shinta mengikuti langkah kaki Sean.
"pak ibu gladis sedang tidak ada diruangan nya."
Sean membalikkan badan nya cepat membuat Shinta terkejut.
"kemana dia pergi??"
"tadi ibu pergi dengan teman nya pak sekalian buat makan siang" ucap Shinta.
Sean melanjutkan langkah kaki nya menuju ruangan gladis.
setelah sampai diruangan mata nya langsung tertuju ke buket bunga mawar putih besar yang berada di atas meja gladis.
Sean melangkah kan kaki nya menuju bunga tersebut dipandangi bunga itu dengan seksama.
"siapa yang mengirimkan ini??" ucap Sean kepada Shinta.
"ohh itu tadi dari teman ibu yang datang berkunjung pak."
"teman." ucap Sean datar.
"siapa nama nya" ucap Sean sedikit penekanan di dalam pertanyaan nya.
"bapak Galang pranomo pak."
dengan cepat tangan Sean meraih buket bunga tersebut dan dilempar nya dengan sangat kencang ke dinding ruangan.
bunga tersebut hancur kelopak nya berguguran dimana mana.
"brengsekkkk ,,,,berani sekali dia."
Sean menggertak meja kerja gladis dengan sangat kencang sampai berkas berkas disana berhamburan.
Shinta terkejut dengan apa yang dilihat nya.
ternyata benar apa yang dibilang karyawan lain selama ini.
Sean Adi jayadiningrat adalah orang yang pemarah dan arogan.
lamunan nya pecah dengan teriakan Sean.
"kemana mereka pergi????? "ucap Sean dengan nada suara tinggi.
"maaf pak saya tidak tau."
"tadi ibu hanya bilang mau bicara dengan teman nya dan sekalian makan siang pak."
"sialllll,,,,berani sekali dia dengan lelaki itu."
"apa sekarang dia sudah merasa hebat karna bisa bekerja di butiq besar seperti ini."
Rendi yang baru saja tiba diruangan terkejut melihat betapa berantakan nya ruangan itu.
"Rendi cepat kau cari tau dimana mereka sekarang."
Rendi yang memiliki kecerdasan tinggi mengerti akan perintah bos nya tersebut setelah melihat buket bunga besar yang berserak di lantai.
"baik bos ."ucap Rendi sambil menelfon seseorang untuk melacak keberadaan Galang dan gladis.
dengan cepat Rendi mendapat kan informasi.
"pak mereka berada di restoran A ."ucap Rendi.
Sean berjalan dan menendang buket bunga besar tersebut karna menghalangi langkah kaki nya .
Rendi mengikuti Sean yang tampak emosi.
tanpa disuruh Rendi melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.
sesampai direstoran A sean melihat Galang dan gladis duduk sambil menikmati makanan nya.
Galang terlihat memotong beberapa stik milik nya dan memberikan nya kepada gladis.
"gladis kamu harus makan banyak lihat kau tampak kurus."
Galang memberikan beberapa potongan stik milik nya untuk gladis.
"udah Galang aku udah kenyang."
saat gladis menyeruput orange jus nya dia tersedak dan batuk batuk.
sontak saja itu membuat Galang bangkit berdiri dan menepuk nepuk pelan pundak nya.
"pelan pelan gla."
"ehh ia makasih Galang." ucap galdis sambil tersenyum.
Sean yang baru saja tiba di restoran tersebut melihat pemandangan itu dan membuat nya semakin murka.
dengan cepat dia menuju kedua manusia yang rasa nya ingin dihabisinya.
Rendi juga mengikuti dari belakang.
"ohhhh ini yang kau lakukan disaat kau sudah mulai bisa menguasai sedikit demi sedikit harta ku. "ucap Sean sambil menarik tangan gladis dengan kasar dan itu membuat nya terkejut.
"se Sean ini gak seperti yang kau pikirkan."
Sean menampar kencang pipi galdis dan sontak saja membuat Galang terkejut dengan perlakuan Sean.
untung saja restoran itu sepi dan tempat yang dipesan Galang adalah VIP.
karna bisa saja kejadian itu bisa membuat gempar dunia Maya karna sean dan Galang dikenal oleh semua orang dan selalu disorot media karena kekayaan dan usahanya yang selalu melejit.
"dasar wanita jalang!!" ucap Sean dengan kasar.
Galang meninju tepat di pipi Sean.
hatinya sangat sakit melihat gladis diperlakukan kasar.
"b******k berani berani nya kau menyakitinya ."ucap Galang dan ingin meninju Sean kembali.
Namum dihalangi oleh Rendi.
gladis menangis memegangi pipinya yang panas dan perih.
Sean tidak melepaskan genggaman tangan nya malah semakin mempererat pegangan nya.
"hmmm akhir nya aku bisa melihat seorang Galang pranomo mengamuk," sindir Sean dengan senyuman sinis nya.
"aku akan mengulangi peringatan ku kepadamu.!!"
"jangan pernah berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku kalau kau tidak ingin hancur.!"
"dan jangan pernah memperlihatkan wajah mu dimanapun aku berada kalau kau tidak ingin hilang dari bumi ini." ancam Sean dengan serius.
Galang yang melihat gladis menangis membuat hatinya semakin hancur dan yakin tidak akan perna melepaskan nya.
dia melupakan janji yang sudah dibuat nya tadi melihat perlakuan Sean kepada gladis.
pipi gladis tampak bengkak dan memerah karna tamparan Sean yang sangat kencang tadi.
Sean menarik tangan gladis dengan kasar.
seannn lepaskan tangan ku.
aku dan dia bertemu hanya ingin menjelaskan apa yang sudah terjadi."
"hikss hikss hikss itu semua gak seperti apa yang kau pikirkan."
Sean tidak perduli dengan pernyataan galdis dia tetap menarik tangan galdis dengan sangat kencang.
sementara rendi menahan Galang yang ingin mengejar mereka.
"lepaskan aku b******k ."ucap Galang mendorong tubuh Rendi.
"baik lah pak.tolong jangan pernah menemui nyonya gladis lagi kalau anda ingin selamat." ucap Rendi tanpa takut lalu pergi meninggalkan Galang sendirian.
Galang tampak prustasi dia takut akan terjadi hal yang lebih menyakitkan lagi yang dilakukan sean kepada gladis.
"gladis kenap kau harus bertahan??"
"minta lah aku datang,maka aku akan datang untuk mu meskipun nyawaku taruhan nya ucap Galang ...."