Adara duduk di salah satu bangku menghadap ke arah taman rumah sakit yang berada di hadapannya. Wajahnya datar, tatapan matanya kosong, tampak putus asa. . . . Gabriel tersenyum tipis, tampak begitu tampan. Lelaki itu bahkan menatapnya dengan tatapan hangat, seperti yang selama ini lelaki itu berikan padanya. Tapi ... “Maaf ... kau ... siapa?” Dunia Adara serasa hancur saat itu juga. Gabriel ternyata benar-benar tidak mengingatnya sama sekali. Lelaki itu justru menatapnya dengan tatapan bingung, penuh tanya. Seolah benar-benar tak mengenalinya sama sekali. Dada Adara mencelos, kosong. Serasa di lubangi oleh tatapan Gabriel yang tampak tak mengenalinya. Adara tahu ... ia bahkan sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk ini. Tapi mengapa rasanya tetap sakit? Mengapa i

