Aku terbangun dari tidur nyenyakku. Saat aku membuka mataku, aku melihat gadis yang masuk ke dalam cahaya tadi berada di hadapannku. Aku melihatnya berjalan ke arahku dengan tatapan anehnya. Begitupun juga dengan rubah yang saat ini berada di pelukannya.
***
“Ya! Setidaknya beritahu aku dulu siapa namamu!” Jong Gu berteriak saat gadis itu pergi dari rooftop. Dia pergi begitu saja meninggalkan Jong Gu yang berteriak di belakangnya.
Jong Gu terdiam menyadari sikap dirinya saat ini. Ji Sin yang sedari tadi mencari keberadaan Jong Gu, akhirnya menghampiri sumber teriakan yang tadi di dengarnya.
“Ya! Kenapa kau ada disini? Sedang apa kau disini?” Ji Sin merasa heran dengan Jong Gu yang berada di rooftop.
“Bagaimana kau bisa masuk kesini?” Ji Sin kali ini berbicara sambil melihat ke arah sekeliling rooftop seakan mencari sesuatu.
“Ji Sin-a, apa kau tadi berpapasan dengan seorang gadis saat kau masuk kesini?” Jong Gu bertanya kepada Ji Sin, mungkin saja gadis itu belum pergi jauh dari sini. Melihat Ji Sin yang menggeleng, membuat Jong Gu menghela napasnya. Kemungkinan dia sudah pergi kembali ke kelasnya atau memang pergi ketempat lain.
“Kenapa? Apa kau bertemu dengan seseorang tadi?” Ji Sin yang penasaran pun akhirnya bertanya kepada Jong Gu. Jong Gu mengangguk.
“Aku bertemu seseorang, tapi aku tidak tau siapa namanya.” Jong Gu mengatakan kepada temannya itu. Ji Sin berbalik ke belakang. Dia tidak melihat siapapun saat menuju kesini. Orang yang Jong gu cari bukan hantu kan? Tanpa aba-aba Ji Sin mendekat ke arah Jong Gu.
“Jong Gu-ya. Kau tidak habis berbicara dengan hantu kan?” Ji Sin mengatakan apa yang ada dipikirannya kepada Jong Gu. Jong Gu dengan seenaknya menjitak kepala Ji Sin dengan cukup keras, sampai membuat Ji Sin mengaduh ke arahnya.
“Ya! Bisakah kau tidak memukul kepalaku sekali saja hah!” Ji Sin berkacak pinggang sambil melihat ke arah Jong Gu.
“Berbicaralah sedikit masuk akal! Lalu aku tidak akan memukul kepalamu lagi.” Jong Gu turun terlebih dahulu meninggalkan Ji Sin yang masih mengelus kepalanya disana.
“Jong Gu-ya! Tunggu aku!” Setelah mengatakan itu, Ji Sin langsung turun menyusul Jong Gu yang sudah berada di bawah sana. Ji Sin dan Jong Gu masuk kedalam kelas dengan mengendap-endap dari pintu belakang kelas mereka. Saat ini seorang guru sudah berdiri di depan kelas dan sedang menulis pelajaran yang harus dipelajari saat ini.
Selesai menulis, guru itu langsung berbalik ke arah murid-muridnya. Jong Gu yang duduk di samping Ji Sin menopang dagunya dan menatap ke arah atap kelasnya.
Jong Gu benar-benar merasa penasaran dengan gadis tadi yang ditemuinya. Kenapa jantungnya merasa sakit saat melihatnya tadi pagi tadi?
“Jong Gu-kun? Bisa kau jelaskan kembali apa yang tadi saya jelaskan?” Guru itu melihat ke arah Jong Gu yang terlihat sedang melamun. Ji Sin mencoba untuk menyadarkan Jong Gu dengan menyenggol tangannya. Jong Gu mengabaikan Ji Sin yang menyenggol tangannya.
“Jong Gu-kun?” Jong Gu kembali dipanggil oleh guru. Ji Sin mencoba sebaik mungkin untuk menyadarkan Jong Gu yang saat ini sedang berada di alam lain. Beberapa saat kemudian guru mendekat ke arah Jong Gu dan berbicara tepat di telinga Jong Gu.
“Jeon Jong Gu!” Guru itu memanggil nama lengkap Jong Gu dengan suara yang cukup keras tepat di telinga Jong Gu yang membuat Jong Gu kembali terjatuh dari tempat duduknya lagi untuk hari ini. Lagi-lagi Jong Gu di tertawakan oleh teman-teman sekelasnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan sampai tidak mendengar perkataanku?” Guru bertanya ke arah Jong Gu yang bangun untuk duduk di kursinya kembali.
“Tidak bu, saya minta maaf.” Jong Gu langsung meminta maaf kepada gurunya. Guru itu hanya menggelengkan kepalanya dan kembali ke depan kelas.
Tidak lama kemudian, suara bel istirahat bergema di seluruh kelas. Guru yang tadi mengajar akhirnya mengakhiri kelas dan keluar dari dalam kelas.
“Ya! Ada apa sebenarnya denganmu Jong Gu-ya? Kenapa kau aneh sekali hari ini?” Ji Sin berdiri dari tempat duduknya sambil menaruh tangannya di pinggangnya.
“Aku pun tidak tahu. Ya! Ji Sin-a, bagaimana kalau kita pergi ke kantin saja? Aku sudah sangat lapar sekarang.” Jong Gu mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan Ji Sin. Jong Gu bangun dari tempat duduknya dan menggandeng bahu Ji Sin untuk keluar dari sana.
Mereka berdua akhirnya berjalan bersama menuju kantin untuk makan siang. Sekolah mereka sudah menyediakan makan siang untuk setiap murid yang ada bersekolah disana. Itulah sebabnya Jung Gu tidak membawa makanan dari rumahnya. Ji Sin dan Jong Gu berbaris mengantri untuk mengambil makan siang mereka. Makan siang hari ini adalah bibimbap dan sup kimchi. Setelah mengambil makan siang mereka, Jong Gu melihat ke arah meja yang saat ini dipenuhi dengan banyak orang. Disana banyak orang yang mengerubungi meja itu. Jong Gu berjalan hendak menghampiri meja itu untuk memastikan siapa orang yang ada di sana. Tapi saat Jong Gu baru melangkahkan kakinya, dia dihalangi oleh Ji Sin.
“Mau kemana kau? Kita makan di meja yang ada disana saja.” Ji Sin berbicara sambil menunjuk salah satu meja kosong yang ada di sisi lain kantin. Jong Gu mengurungkan niatnya untuk mendekat kearah meja yang saat ini sedang di kerubungi oleh orang-orang itu.
“APA KAU PUNYA WAKTU YANG CUKUP BANYAK UNTUK MAKAN DISINI!” Jong Gu mendengar suara bentakan dari arah gerombolan orang itu.
“BUKANNYA AKU SUDAH MENYURUHMU UNTUK MEMBELIKAN JUS UNTUKKU!” katanya lagi. Jong Gu yang merasa penasaran dengan suara-suara ribut itu akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri arah gerombolan orang itu. Panggilan dari Ji Sin pun tidak di dengarkan olehnya.
Saat Jong Gu sampai disana, dia melihat gadis yang tadi di temuinya di rooftop sedang duduk disana dengan baju yang sudah basah kuyup dengan noda warna orange di bajunya. Makanan yang ada dihadapannya pun sudah berubah warna menjadi orange. Jong Gu langsung berjalan melewati banyak orang untuk mengeluarkan gadis itu dari sana. Jong Gu melihat satu per satu orang yang ada disana. Matanya kembali melihat ke arah gadis itu.
“Kita pergi dari sini sekarang.” Jong Gu memegang tangan gadis itu dan menariknya untuk keluar dari sana. Tapi tanpa disangka gadis itu malah melepaskan tangan Jong Gu dan menepisnya.
“Siapa kau? Berani sekali memegang tanganku?” Gadis itu berdiri dari tempat duduknya. Semua orang yang ada disana melihat ke arah mereka berdua. Suara tepukan tangan terdengar dari seorang gadis yang sedari tadi berdiri di dekat gadis itu.
“Wah, Su Ran-a, kenapa kau tidak bilang kepadaku kalau kau sudah memiliki penjaga baru?” Ucapnya sambil tertawa. Tunggu. Apa tadi dia saja baru memanggil nama gadis itu? Jong Gu menatap gadis yang ada di sampingnya dengan tatapan bingungnya.
“Apa namamu Su Ran?” Jong Gu mendekat ke arah gadis itu dan berbisik di sampingnya. Gadis yang tadi di panggil Su Ran itu hanya terdiam sambil melihat aneh ke arah Jong Gu.
“Tidak perlu bawa-bawa orang lain. Kalau kau ingin menggangguku, cukup ganggu saja aku.” Setelah mengatakan itu Su Ran pergi dari sana menuju entah kemana. Orang-orang yang tadi berkumpul disana, satu per satu mulai pergi meninggalkan meja tadi. Jong Gu menghalangi saat melihat gadis yang tadi berbicara ke pada Su Ran itu hendak pergi dari sana juga.
“Tunggu. Aku ingin berbicara kepadamu.” Jong Gu mulai mendekat ke arah gadis itu. Jong Gu menatap gadis itu dengan tatapan penuh intimidasi.
“Jangan pernah mengganggu Su Ran lagi. Kalau sampai aku melihatmu mengganggunya lagi, akan kuhabisi kau.” Jong Gu berbicara dengan penuh penekanan dalam kata-katanya. Gadis itu hanya bisa tertawa mendengar kata-kata Jong Gu.
Setelah mengatakan itu Jong Gu mencari keberadaan Su Ran. Dia keluar dari kantin dan mulai mencari keberadaan Su Ran. Jong Gu mencari ke arah tolilet wanita terlebih dahulu. Melihat baju Su Ran yang tadi basah karena jus jeruk, dia pasti menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, pikir Jong Gu.
Setelah tiga puluh menit menunggu di depan kamar mandi Jong Gu mulai merasa khawatir karena tidak ada yang keluar dari sana sama sekali. Jong Gu akhirnya pergi dari sana dan mencoba mencari ke tempat lain.
Bel bunyi masuk kelaspun akhirnya berbunyi, Jong Gu kembali menuju kelasnya. Ji Sin sudah berada disana saat Jong Gu masuk kedalam kelasnya.
“Ya! Darimana saja kau? Kau meninggalkan makan siangmu di kantin tanpa menyentuhnya.” Ji Sin memarahi Jong Gu seolah dia adalah anak Ji Sin.
“Aku mencari Su Ran.” Jong Gu menjawab dengan putus asa karena tidak bisa menemukan Su Ran dimanapun.
“Siapa lagi itu? Apa kau mengenalnya?” Ji Sin bertanya kepada Jong Gu dengan wajah penasarannya. Jong Gu bahkan tidak pernah berbicara dengan anak perempuan yang ada di kelasnya ini. Tapi kenapa dia bisa mengenal gadis itu.
“Aku pernah melihatnya disuatu tempat, dan aku pikir nama itu tidak terdengar begitu asing untukku.” Jong Gu menjelaskan kepada Ji Sin apa yang ada dipikirannya. Ji Sin mengernyit kebingungan saat mendengar apa yang Jong Gu katakan kepadanya.
"Dimana memang kamu melihatnya?" Ji Sin bertanya kepada Jong Gu dengan wajah yang tidak percaya. Jong Gu terlihat sedang terdiam memikirkan sesuatu.
"Namanya Kim Su Ran." Jong Gu langsung memukul lengan Ji Sin yang ada di sampingnya. Ternyata benar firasatnya saat ini, gadis yang dimaksud oleh amethyst memang Su Ran yang tadi di temuinya.
"Ji Sin-a, bolehkah aku meminta bantuanmu?" Ji Sin sudah tau apa yang akan di katakan oleh Jong Gu selanjutnya.
"Baiklah, aku akan menemanimu menemukan gadis itu." Ji Sin menghela napasnya setelah mengatakan itu kepada Jong Gu. Jong Gu menatap Ji Sin dengan tatapan terharunya. Bagaimanapun juga Jong Gu harus bisa mendekati Su Ran, pikirnya.
***
Jam sekolah pun akhirnya selesai. Jong Gu dan Ji Sin pun pulang dari sekolahnya. Saat baru keluar dari gerbang sekolahnya, Jong Gu mengingat sesuatu. Jadwal kerja paruh waktunya.
"Ji Sin-a, aku ada jadwal kerja hari ini, kalau kau nanti bertemu dengan Su Ran, tolong kabari aku." Ji Sin menunjukkan wajah tidak percayanya. Dia terlihat seperti pengantar pesan bagi Jong Gu dan gadis itu.
Jong Gu berjalan menuju tempat kerjanya, hari ini dia mempunyai jadwal di restoran ayam sebagai pengantar makanan. Jong Gu sampai disana dan mulai memakai seragamnya.
"Jong Gu-ya! Bisakah kau antarkan ayam ini ke alamat ini?" Seorang perempuan paruh baya menghampiri Jong Gu yang baru selesai mengganti pakaiannya. Jong Gu mengangguk dan setelah itu pergi mengantarkan ayam itu kerumah orang yang memesannya.