Save Me 5

1737 Kata
Jong Gu kembali terbangun dari tidurnya karena mendengar panggilan dari ibunya. Kepalanya terasa sedikit sakit saat dia turun dari tempat tidurnya. “Jong Gu-ya! Bangun sekarang juga atau aku pukul pantatmu nanti!” Ibu Jong Gu berteriak sambil memasak sarapan di dapur. Jong Gu sudah berdiri di depan pintu kamarnya saat ibunya membangunkannya. Saat menuju dapur wajah terkejut ibunya lah yang pertama kali di lihatnya. “Oh kau sudah bangun, makanlah dulu baru berangkat ke sekolah.” Ibu Jong Gu menaruh beberapa piring nasi dan lauk di atas meja makan. Jong Gu duduk dihadapan adiknya. Jong Gu terus melihat ke arah adiknya. Dilihat seperti itu oleh Jong Gu membuat Jong Soo tidak nyaman. “Apa! Kenapa kau terus melihat ke arahku?” Jong Gu terdiam melihat Jong Soo yang menggunakan seragam SMP nya. Jong Gu terus melihat ke arah Jong Soo sambil mulai memakan makanan yang ada di hadapannya. “Jong Soo-ya. Bukankah harusnya kau sudah lulus SMP saat ini? Kenapa kau masih menggunakan seragam sekolah mu itu hah?” Jong Gu berbicara dengan mulut yang penuh degan nasi sambil mengarahkan sumpit yang saat ini sedang di pegangnya ke arah wajah adiknya itu. Jong Soo melemparkan tisu ke arah Jong Gu dan mengelap tangannya sendiri dengan tisu yang lain. “Berbicaralah saat kau selesai mengunyah bodoh.” Jong Soo mengumpat ke arah kakaknya. “Lagipula apa kau mabuk? Masih pagi seperti ini sudah berbicara melantur seperti itu.” Mendengar ucapan Jong Soo membuat Jong Gu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tunggu, kenapa ini seperti dejavu untuknya? Dari arah belakangnya tiba-tiba ibu mereka memukul pelan kepala Jong Soo dengan sendok nasi yang dibawanya. “Hati-hati dengan ucapanmu itu! Kakak mu tidak mungkin mabuk.” Kata ibu Jong Gu sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Jong Gu. Jong Gu menatap heran ke arah ibunya. “O-oh tentu saja tidak bu.” Jong Gu berdeham dan kemudian kembali menyuapkan makanannya kembali. Apa ini? Kenapa semua ini seperti pernah di alami olehnya sebelumnya? Jong Gu bahkan mengabaikan wajah adiknya yang terlihat mencibirnya saat ini. “Kenapa kau berhenti makan nak? Makanlah ini, lalu segera bersiap untuk sekolah.” Ibu Jong Gu memberikan satu potong ikan kukus buatannya di atas nasi Jong Gu. “Terimakasih bu.” Jong Gu makan dengan tenang dan setelah selesai sarapan dia masuk kedalam kamarnya. Jong Gu mulai bersiap-siap dan memakai baju seragamnya. Tunggu, apakah dia sekarang kembali ke masa sekolahnya? Suara ketukan di depan pintu kamar Jong Gu, membuatnya buru-buru memakai baju seragamnya dan membuka pintu. “Cepat berangkat.” Wajah Jong Soo terlihat kesal saat melihat kakaknya yag baru selesai mengancingkan bajunya. Jong Gu mengambil tas dan bukunya yang ada di kamar dan berangkat kesekolah. Jong Gu dan Jong Soo keluar bersama dari dalam rumah mereka. Saat sudah berada dcukup jauh dari rumahnya, Jong Soo langsung berjalan menuju arah yang berbeda dengan Jong Gu. “Loh, mau kemana kau?” Jong Gu menarik tas belakang Jong Soo yang berada di depannya. “Mau ke sekolah. Lalu mau kemana lagi.” Jong Gu melepaskan tangannya dari tas Jong Soo dan mengangguk ke arah adaiknya itu. “Aku berangkat ke sekolah.” Setelah mengatakan itu Jong Soo langsung pergi dari Jong Gu. Jong Gu berjalan menuju ke arah sekolah waktu dia SMA dulu. Semoga saja dia masih mengingat jalannya. Di tengah perjalanan menuju sekolahnya, Jong Gu melihat ada segerombolan orang yang menggerumbungi seorang gadis. Tatapan Jong Gu dan gadis itu bertemu, Entah mengapa, saat tatapan mereka bertemu, Jong Gu merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. “Jong Gu-ya! Tunggu!” Ji Sin temannya datang dengan nafs sedikit terengah-engah dan menepuk bahu Jong Gu cukup keras. Jong Gu merasa kaget saat melihat Ji Sin temannya itu berada disampingnya. Oh benar ini adalah Ji Sin teman SMA nya. “H-hah ? tidak apa-apa. Kenapa kau memukulku hah?” Jong Gu menatap Ji Sin dengan kesal karena bahunya dipukul cukup sakit oleh Ji Sin. “Ya! Aku sudah memanggil mu beberapa kali tapi kau bahkan tidak menjawabku!” Ji Sin balik memarahi Jong Gu yang berdiri di depannya. Jong Gu memegangi dad*nya tepat di jantungnya yang masih berdetak kencang itu. Ji Sin memperhatikan tingkah temannya yang terlihat aneh. Ji Sin mengikuti arah pandangan mata Jong Gu. “Kau sedang melihat apa?” Tanyanya kemudian kepada Jong Gu. Jong Gu menunjuk gerombolan anak perempuan di depannya dengan matanya. “Kau mengenal mereka, sepertinya aku pernah melihat mereka.” Entah mengapa Jong Gu terlihat aneh di mata Ji Sin saat ini. Ji Sin memegang dahi Jong Gu. “Kau tidak demam, tapi apa ini benar-benar Jong Gu?” Jong Gu mengernyitkan dahinya saat Ji Sin memegang dahinya. “Kenapa?” Jong Gu menepis tangan Ji Sin yang berada di dahinya saat ini. “Kau tidak biasanya perduli dengan orang lain, tapi kenapa kali ini kau diam lama disini hanya untuk melihat orang-orang itu?” Ji Sin kemudian berbicara lagi kepada Jong Gu. Jong Gu kembali menatap gadis yang berada di tengah-tengah gerombolan di sana. Matanya kali ini terlihat kosong daripada ketakutan. “Ayok! Tunggu apa lagi kau. Apa kau mau terlambat lagi hari ini!” Ji Sin menarik tangan Jong Gu agar segera pergi dari sana dan berangkat ke sekolah saat ini juga. Dan akhirnya Jong Gu mengikuti langkah kaki Ji Sin yang berjalan di sampingnya saat ini. Meskipun dirinya pergi dari sana, pikiran Jong Gu masih berada pada gadis yang tadi dilihatnya. Jong Gu dan Ji Sin akhirnya sampai di sekolah mereka. Ji Sin sudah duduk di tempat duduknya terlebih dahulu. Jong Gu menghampiri lokernya terlebih dahulu sebelum duduk di kursinya. Jong Gu melihat lokernya yang berisi buku dan satu kaos olahraga. Setelah menaruh bukunya, Jong Gu langsung duduk di kursinya. Jong Gu yang merasa belum ada guru yang akan masuk ke dalam kelasnya akhirnya merebahkan kepalanya ke atas meja. Beberapa menit kemudian Jong Gu sudah berpindah ke alam mimpinya. *** “Aigo-ya. Entah kamu ini bodoh atau memang tidak peka dengan sekelilingmu.” Jong Gu mendengar suara seseorang di dalam mimpinya. Jong Gu membuka matanya dan saat dia membuka matanya dia sudah berada di ruangan yang serba putih. Tidak ada apapun disana, dia hanya melihat rubah berwarna merah jambu yang sedang berjalan mondar-mandir seperti sedang memperhatikan dirinya. Jong Gu melihat Amethyst disana. “Kenapa kau bisa ada disini?” Jong Gu bertanya kepada amethyst yang sudah berada di depannya. “Kenapa? Apakah itu pertanyaan? Bukankah aku menyuruhmu untuk menjaga dan menyelamatkan seseorang?” Amethyst berbicara dengan suara yang bergema di seluruh ruangan. Jong Gu menutup telinganya dengan kedua tangannya. “Bisakah kau berbicara dengan suara biasa saja?” Katanya sambil terus menggosok kedua telinganya. “Lagipula bagaimana caranya aku bisa menjaga orang itu jika aku tidak tau namanya.” Jong Gu mencoba bangun dan berdiri dari tempatnya saat ini. Amethyst berjalan mengikuti Jong Gu yang berjalan menuju sisi lain ruangan. “Kau bahkan tidak bertanya kepadaku.” Amethyst berdiri tepat di depan Jong Gu saat ini. Jong Gu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Su Ran, kau harus bisa menjaganya dan jangan sampai dia terluka sedikitpun.” Jong Gu terjatuh dari tempatnya berdiri saat ini. *** “Jeon Jong Gu!” Jong Gu merasa samar-samar namanya dipanggil oleh seseorang. Jong Gu hanya menggerakkan kepalanya sedikit dan kembali ke alam mimpi. Tidak lama setelah itu Jong Gu merasakan punggungnya yang di cubit oleh seseorang. “JEON JONG GU!” Suara teriakan yang di dengar tepat di telinganya itu akhirnya membuat Jong Gu segera membuka matanya. Jong Gu terjungkal dari tempat duduknya saat melihat gurunya saat ini berada tepat di hadapannya saat ini. Seluruh kelas langsung penuh dengan tawa saat melihat Jong Gu. Jong Gu menatap tajam ke semua orang-orang yang berada di kelas itu. “Keluar kamu dari kelas saya sekarang juga!” Setelah mendengar itu, Jong Gu langsung bangun dari posisinya saat ini dan keluar dari kelas tersebut. Jong Gu berjalan menuju lapangan yang ada di depan sekolahnya. Dia duduk di salah satu kursi yang mengelilingi lapangan tersebut. Tangannya mengeluarkan sebuah earphone dan ponsel dari dalam saku celananya. Saat hendak memakai earphone nya tersebut, Jong Gu melihat seorang gadis yang tadi pagi di temuinya ketika berangkat sekolah. Gadis itu terlihat seperti baru datang ke sekolah. Dia masih membawa ransel yang menempel di punggungnya saat ini. Jong Gu turun dari kursi yang saat ini dia duduki dan menghampiri gadis itu. Dia ingin memastikan sendiri, apakah gadis itu ada hubungannya dengan jantungnya yang tiba-tiba terasa sakit tadi pagi atau tidak. “Ya! Apa kau gadis yang tadi pagi di gerubungi oleh anak-anak tadi?” Jong Gu berusaha untuk menyeimbangkan langkah kakinya dengan gadis tadi. Tidak ada jawaban apapun dari gadis itu. Jong Gu melihat sedikit luka memar di tangan gadis itu. “Oh tanganmu?” Gadis itu berhenti sebentar untuk melihat ke arah yang tadi Jong Gu tunjukkan kepadanya. Gadis itu melihat ke arah Jong Gu sekilas dan setelah itu langsung pergi dari sana meninggalkan Jong Gu. "Oh kenapa kamu pergi? Ya! Tunggu aku!" Jong Gu tidak diam saja saat melihat gadis itu pergi, dia mengikutinya dari belakang. Merkea berdua akhirnya sampai di atas rooftop sekolahnya. "Kenapa kamu tidak masuk kelas? Kenapa kamu kemari?" Jong Gu berbicara di belakang gadis itu. Lagi-lagi gadis itu mengabaikan keberadaan Jong Gu dan duduk di ujung pembatas rooftop. "Ya! apa kau sudah gila? Kau ingin segera mati sekarang?" Jong Gu mengulurkan tangannya saat melihat gadis yang duduk di ujung sana. Dia tidak mendengarkan Jong Gu sedikitpun. Jong Gu akhirnya terdiam sambil memperhatikan gadis itu dalam diam. Tiba-tiba gadis itu melihat ke arah Jong Gu dengan wajah datarnya. "Kenapa kau mengikutiku?" Mendengar pertanyaan itu membuat Jong Gu berjalan mendekat kearahnya dengan pelan-pelan. "Apa kau mengenalku?" Jelas pertanyaan itu adalah pertanyaan yang Jong Gu sendiri tidak tahu apa jawabannya. Jong Gu terdiam mencoba mencari jawaban yang masuk akal baginya. "O-oh? Justru itu. Aku ingin mengenalmu. Iya betul begitu." Jong gu menjawab dengan memegang belakang tengkuknya. Gadis itu memutar matanya. "Kau tidak perlu mengenalku. Kau tidak perlu mengenal anak buangan sepertiku." Gadis itu membuang pandangannya dari Jong Gu. Jong Gu terdengar kaget saat mendengar itu dari mulut gadis itu. Jong Gu bukan tipikal orang yang mudah penasaran dengan seseorang apalagi ikut campur dengan urusan orang. Ditambah dengan dirinya yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Membuatnya merasa selagi dia bisa lulus dan bekerja dengan nyaman, dia hanya akan diam saja sampai saat itu. "Kenapa seperti itu?" Gadis itu pergi dari rooftop meninggalkan Jong gu sendirian disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN