Suara seorang gadis terdengar saat aku mencoba untuk membuka mataku.
Seolah di rekatkan sesuatu mataku tidak bisa terbuka sama sekali. Dan suara terakhir yang aku dengar adalah seseorang yang memanggil namaku dengan keras.
“JEON JONG GU!”
***
Jong Gu lagi-lagi terbangun dari tidurnya. Mimpi itu terasa begitu nyata baginya. Pelipisnya dipenuhi dengan keringat. Jong Gu mengambil ponselnya dan melihat jam disana. Masih pukul 1 dini hari, Jong Gu keluar dari kamarnya untuk sekedar mengambil minum dan mencuci mukanya.
“Oh, Ibu baru pulang?” Jong Gu melihat ibunya yang baru saja sampai dirumah. Ia mengambilkan air minum dan membawanya duduk di kursi yang ada di ruang makan.
“Minumlah ini dulu bu.” Katanya sambil menyerahkan satu gelas air minum ke arahnya. Ibu Jong Gu menerima gelas yang di berikan oleh Jong Gu. Jong Gu ikut duduk disana menemani ibunya untuk menghabiskan air yang berada di dalam gelasnya itu.
“Kenapa kau masih disini dan belum tidur juga nak?” Tanyanya ke arah Jong Gu yang masih memakai baju sekolahnya.
“Oh? Apa kau baru saja pulang di jam segini?” Menyadari itu ibunya langsung bertanya, mungkin saja Jong Gu baru pulang dari kerja paruh waktunya.
“Ibu ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Jong Gu membenarkan posisi duduknya dan berhadapan dengan ibunya saat ini.
“Ada apa nak?” Wajah ibu Jong Gu terlihat begitu khawatir saat anaknya berkata ingin menanyakan sesuatu kepadanya.
“Apa aku punya penyakit parah?” Mereka berdua saling bertatapan dalam diam. Ibu Jong Gu berdiri dan kemudian berjalan menghampiri Jong Gu.
“Apa kau mengalami hal yang membuatmu sakit nak?” Ibu Jong Gu malah memeriksa semua bagian tubuh Jong Gu.
“Tidak apa-apa bu, aku hanya merasa sedikit ada yang aneh dalam tubuhku.” Jong Gu menggeleng dan berbicara kepada ibunya.
“Syukurlah kau membuatku takut. Aku tidak pernah mendengar kau terkena penyakit yang parah. Jadi aku khawatir kalau ada apa-apa yang terjadi kepadamu.” Ibu Jong Gu berjalan menuju tempat piring kotor dan meletakkan gelas yang tadi di pakainya untuk minum.
“Tidurlah, sudah malam, kau besok harus sekolah. Dan jangan lupa juga untuk mengganti bajumu sebelum pergi tidur.” Ibu Jong Gu pergi meninggalkan Jong Gu yang masih duduk disana.
Merasa tidak ada jawaban sama sekali dari pertanyaannya itu, Jong Gu memilih untuk pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya dan membersihkan diri sebentar. Kemudian dia kembali ke kamarnya untuk tidur.
Sudah hampir 1 jam Jong Gu hanya bergerak kesana kemari di dalam kamarnya. Dia tidak bisa memejamkan matanya lagi. Jong Gu memilih untuk mengambil ponselnya dan melihat isinya. Dia membuka semua aplikasi yang ada disana. Saat melihat catatan dia melihat kalender yang berisi jadwal dan dimana saja dia harus kerja paruh waktu. Saat melihat semua itu Jong Gu berbicara kepada dirinya sendiri.
“Wah aku tidak menyangka, ternyata aku sudah bekerja sangat keras sejak aku masih sekolah dulu.” Katanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Disana terlihat jadwal dan tempat yang berbeda-beda setiap harinya. Hari senin sampai rabu dia harus kerja di salah satu toko serba ada yang di dekat dengan sekolahnya. Kamis dan jum’at menjadi kurir di restoran ayam, sabtu dan minggu juga bekerja di restoran.
“Jadwalku ternyata sangat padat, kenapa aku tidak menyadarinya.” Mata dan tangannya masih terus memainkan ponselnya.
“Tidak ada libur sama sekali? Eukh kau payah sekali Jong Gu!” Katanya kepada dirinya sendiri. Selama satu bulan itu memang tidak ada seharipun dirinya untuk libur.
Tanpa disadari waktu sudah 1 jam berlalu. Jong Gu saat ini sedang memeriksa kontak yang ada di ponselnya. Dan tidak ada nama siapapun disana selain nomor Ji Sin, adik dan ibunya. Jong Gu berfikir sebentar sambil melihat langit-langit kamarnya.
“Apakah aku juga harus mencari teman?” Kepala Jong Gu langsung menggeleng saat memikirkannya. Dia bahkan tidak tau kenapa dia berada di sini saat ini. Seolah waktu yang sudah berlalu itu kembali lagi.
Memikirkan itu semua membuat Jong Gu menjadi mengantuk. Jong Gu memejamkan matanya perlahan dan pergi ke alam bawah sadarnya kembali.
**
Bunyi berisik yang terjadi di dapur tidak bisa membangunkan Jong Gu. Saat ini dia masih bergelung dibawah selimutnya dan tertidur dengan pulasnya. Jong Gu merasa hawa yang aneh di kamarnya, Saat membuka matanya, dia melihat sebuah benda melayang tepat di atas wajah Jong Gu. Jong Gu langsung terbangun dan berteriak dengan kencang.
“AKH!” Jong Soo terlihat tertawa terbahak-bahak saat melihat kakaknya ketakutan. Benda itu adalah boneka yang di tutupi kain putih dan di ikat tali oleh adiknya itu.
“Ck! Kau sungguh penakut.” Jong Gu yang masih terkejut dengan apa yang tadi di lihatnya tadi, akhirnya bangkit dari tempat tidurnya dan mengejar adiknya yang berada di dapur.
“Ya! Kemari kau! Bisa-bisanya kau membangunkanku seperti itu!” Jong Soo bersembunyi di balik badan ibunya yang sedang memasak. Jong Gu terus mencoba menangkap Jong Soo. Ibu berbalik kearah anak-anaknya dan memarahi Jong Gu yang terus mengejar adiknya.
“Jong Gu-ya! Berhentilah mengejar adikmu dan cepat bersiap untuk sekolah!” Jong Soo berlari saat melihat Jong Gu yang sedang di omeli oleh ibu mereka. Jong Gu kembali mengejar adiknya saat melihatnya pergi dari sana.
Jong Soo keluar dari dalam rumah untuk menghindari kakaknya. Jong Gu terus berlari mengikuti adiknya. Saat membuka pintunya, disana dia malah berpapasan dengan gadis yang ditemuinya di ruang kesehatan kemarin.
Matanya terlihat membulat saat bertemu dengan Jong Gu di pagi buta seperti ini. Jong Gu masih mencerna apa yang terjadi saat ini kemudian menyapanya dengan canggung sambil mengangkat tangannya ke udara.
“Oh gadis ruang kesehatan? Ha-halo!” Katanya sambil memperbaiki posisi berdirinya saat ini.
“Oh. Halo.” Jawabnya dengan segan ke arah Jong Gu.
“Ka-kau mau ke-kesekolah?” Jong Gu bertanya dengan gagap ke arah gadis itu. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pelan.
“O-oh ka-kalau begitu hati-hati dijalan!” Setelah mengatakan itu Jong Gu langsung masuk kedalam rumahnya dan masuk menuju kamarnya. Ibunya yang sedang menaruh masakan di meja terlihat kaget saat Jong Gu menutup pintu kamarnya dengan cukup keras.
Jong Gu yang berada di dalam kamarnya langsung memegang ke arah dimana jantungnya berada. Detakannya terasa sangat cepat. Jong Gu mengatur napasnya dan saat dia sudah merasa baik-baik saja Jong Gu menuju kamar mandi. Jong Gu keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai baju seragamnya. Jong Gu melihat Jong Soo yang sudah duduk di meja makan memukul kecil kepala Jong Soo.
“Akk! Ck!” Jong Soo berdecih saat melihat Jong Gu yang duduk di hadapannya.
“Makan dan cepat berangkat ke sekolah kalian.” Ibu Jong Gu ikut bergabung duduk di samping Jong Soo.
Setelah selesai memakan sarapan mereka. Jong Gu dan Jong Soo akhirnya keluar dari dalam rumah dan berangkat ke sekolah mereka masing-masing.
***
“Ya! Jong Gu!” Ji Sin sudah berada di tempat biasanya mereka bertemu. Jong Gu berjalan lurus meninggalkan Ji Sin yang berjalan di belakangnya. Ji Sin menyusul sampai dia berjalan di samping Jong Gu.
“Ya! Jong Gu, hari ini ada pelajaran olahraga. Apa kau membawa baju olah raga hari ini?” Ji Sin melihat Jong Gu yang berangkat ke sekolah tanpa membawa apapun.
“Bukankah aku sudah meninggalkannya di loker sekolah?” Jong Gu kemarin sempat melihat beberapa buku dan baju yang berada di dalam lokernya. Ji Sin mengangguk dan mereka kembali berjalan menuju sekolah mereka.
Saat mereka sampai di sekolah orang-orang yang sudah berada di sekolah semuanya berkumpul di depan lapangan dan semua orang melihat ke atas atap. Ji Sin dan Jong Gu yang baru sampai disana langsung menuju sumber keramaian.
“Kim Su Ran! Turunlah sekarang!” Salah seorang guru berbicara ke arah gadis yang tadi di sebutnya sebagai Kim Su Ran menggunakan pengeras suara. Saat Jong Gu melihat ke atas sana, dia melihat gadis yang tadi pagi berpapasan dengannya di depan rumahnya itu ada disana.
"Oh gadis itu." Ji Sin yang mendengar Jong Gu yang berbicara dengan pelan.
"Apa kau mengenalnya?" Jong Gu menggeleng saat Ji Sin bertanya kepadanya. Matanya tidak bisa terlepas dari Su Ran. Wajah Su Ran sudah mengingatkannya kepada sesuatu yang terlupakan olehnya.
Su Ran yang berada diatas sana tidak berbicara apapun saat guru yang berada di bawahnya saat ini memanggilnya dan menyuruhnya untuk turun. Su Ran sudah berdiri di ujung pembatas gedung itu.
Su Ran merasa sangat lelah dengan hidupnya sekarang. Dia bahkan tidak tahu apa kesalahannya sampai-sampai dia harus mendapat perlakuan kejam dari teman-teman sekolahnya. Su Ran hidup seorang diri. Dia bahkan tidak tau dimana keluarganya saat ini. Dia dibesarkan dan tumbuh di panti asuhan sejak kecil sampai saat ini. Tapi beberapa tahun yang lalu, ada seseorang yang datang ke tempatnya dan memberitahukan kepadanya bahwa dia masih mempunyai keluarga dan dia diberi rumah sederhana oleh orang itu. Meskipun demikian, Su Ran tetap tidak bertemu dengan orang yang katanya mengaku sebagai keluarganya itu. Sampai-sampai Su Ran merasa hidupnya saat ini sedang di permainkan oleh orang itu.
"Nak! Turunlah. Masih ada kami yang akan mendengarkanmu nak!" Salah seorang guru lain mencoba membujuk Su Ran agar mau turun dari sana. Jong Gu melihat ada beberapa orang lain yang berada di atas sana di belakang Su Ran.
"Tetap disana dan jangan coba-coba untuk mendekat." Suara Su Ran terdengar penuh dengan penekanan saat ini. Jong Gu melihat beberapa gadis yang memakai baju seragam seperti miliknya berdiri sambil melipat tangannya. Mereka terlihat seperti tidak perduli dengan apa yang terjadi di saat ini.
"Ck! Drama sekali sikap kalian ini. Kenapa tidak kalian biarkan saja dia lompat dan mati?" Gadis itu berbicara dengan suara yang cukup keras.
"Cepatlah kau lompat! Aku sudah bosan menunggumu!" Setelah mengatakan itu, gadis itu langsung pergi dari sana. Su Ran terdiam, Jong Gu melihat langkah kaki Su Ran yang sudah menyentuh ujung gedung.
"Kau harus menyelamatkan seseorang untukku." Jong Gu mendengar suara menggema di telinganya. Tepat setelah itu, Jong Gu melihat Su Ran yang menjatuhkan tubuhnya kebawah. Semua orang yang berada dibawah berteriak saat melihat Su Ran yang tergeletak disana dengan bersimbah darah.
Jong Gu tidak sengaja melihat dan bertatapan dengan mata Su Ran. Tiba-tiba jantungnya terasa sakit dan Jong Gu ikut terjatuh di tengah-tengah keramaian itu.
***
Seekor rubah berwarna merah muda terlihat sedang berjalan mondar-mandir di hadapan tubuh seorang pria yang sedang tertidur pulas itu. Belum ada tanda-tanda pria itu akan terbangun dari tidurnya. Merasa bosan menunggu pria itu terbangun akhirnya rubah merah muda itu membangunkannya dengan cara menggigit kaki pria itu.
"Akh kenapa kau menggigitku lagi?" Pria itu akhirnya terbangun dan langsung mengelus kakinya yang tadi digigit. rubah itu berdiri di hadapan pria itu.
"Aku sudah bilang kau harus menyelamatkannya Jong Gu." Setelah mengatakan itu rubah itu langsung menghilang dan Jong Gu merasa dunia kembali menggelap.