Save Me 3

1760 Kata
Cahaya terang itu berubah menjadi asap berwarna keemasan, Jong Gu kembali berada di tengah-tengah tempat asing yang berbeda kali ini. Padang rumput itu berubah menjadi sungai yang airnya terlihat sangat jernih yang membuat rasa dahaga ku tiba-tiba muncul. Jong Gu memeriksa sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa disana. Akhirnya dia pun mengambil air itu dengan tangannya. Namun setelah meminumnya aku langsung merasa tidak tahan dan akhirnya tidak sadarkan diri. *** Jong Gu membuka matanya perlahan. Bau obat-obatan membuatnya terbangun dari tidur. Dia tidak mengingat apa yang tadi sudah terjadi kepadanya. Jong Gu melihat ke ruangan sekelilingnya, memastikan dimana saat ini dia berada. Ruangan serba putih dengan hordeng sebagai pembatas ruangan satu dengan yang lainnya. Dia melihat ruangan sebelahnya, mencoba melirik sedikit ke dalam sana. Saat Jong Gu melihat kedalam sana, dia melihat wanita tadi sedang tertidur di dalam sana. Jong Gu terkejut saat tiba-tiba hordeng pembatas itu terbuka dan dia melihat gadis itu sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil menyilangkan kakinya. “Apa kau mengenalku?” Gadis itu melihat Jong Gu dengan tatapan menyelidiknya. Jong Gu membenarkan posisinya agar sama-sama duduk dengan gadis di depannya ini. “Aku tidak tahu, aku seperti merasa pernah melihatmu sebelumnya, tapi aku tidak tau dimana itu.” Jong Gu meletakkan tangannya di dagunya, matanya melihat ke atas dan mencoba mengingat-ingat kembali apakah dia mengenalnya atau tidak. Jong Gu kembali melihat ke arah gadis itu, wajahnya sudah terlihat sangat penasaran, bahkan posisi tubuhnya sudah sedikit condong ke arah tempat tidur Jong Gu saat ini. Melihat kasihan dengan gadis itu yang terlihat menunggu jawabannya akhirnya Jong Gu menurunkan tangannya dari dagunya dan menggeleng ke arah gadis yang ada di depannya. Gadis itu menghela napas dengan kasar. Jong Gu merasa sedikit bersalah saat melihat raut wajah kecewa dari gadis itu. “Kenapa kau terlihat kecewa begitu?” Jong Gu kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Matanya masih terus melihat ke arah gadis itu. Tanpa banyak berbicara dia beranjak dari ruang kesehatan dan meninggalkan Jong Gu sendirian. Jong Gu terheran-heran saat melihat gadis itu pergi begitu saja. Saat hendak menutup matanya, Jong Gu mendengar suara gaduh dari arah pintu. Melihat Ji Sin yang masuk dengan heboh begitu membuat Jong Gu malu dan menutup matanya. “Jong Gu-ya! Temanku, apa yang terjadi padamu.” Ji Sin masuk dan menggoyang-goyangkan badan Jong Gu saat melihat temannya itu terus menutup matanya. “Jong Gu! Kau tidak benar-benar mati kan? Jangan mati dulu Jong Gu! Apa yang harus aku katakan pada ibumu jika kamu mati sekarang!” Ji Sin mulai terisak menangis di samping Jong Gu. Jong Gu yang merasa terganggu dengan suara tangisan temannya itu menarik selimutnya dan berbicara dengan pelan. “Lebih baik kau pergi, aku mengantuk sekarang dan ingin tidur.” Melihat temannya yang masih bisa bergerak dan berbicara membuat Ji Sin merasa lega dan langsung menghampirinya hendak memeluk erat Jong Gu. Belum sempat Ji Sin menggapai Jong Gu, Jong Gu sudah bangun terlebih dulu dari tempat tidur dan memakai sepatunya kembali di ujung tempat tidur ruang kesehatan itu. “Ya! Jong Gu! Apa kau bercanda! Tunggu aku!” Ji Sin merasa kesal saat melihat Jong Gu yang sudah keluar dari sana meninggalkan Ji Sin sendirian disana. Jong Gu berjalan menuju keluar dari sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Jong Gu bahkan tidak sadar saat dirinya sudah tertidur cukup lama tadi di ruang kesehatan. “Lama sekali kau berjalan! Cepatlah sedikit Ji Sin-a!” Jong Gu berhenti tepat saat dia berada di depan gerbang sekolahnya karena Ji Sin yang tertinggal jauh berada di belakangnya saat ini. Menunggu Ji Sin yang tidak kunjung datang, Jong Gu kembali melihat sesuatu yang aneh melewati dirinya. Entah dari mana Jong Gu melihat seekor rubah yang warnanya sangat begitu aneh. Rubah itu terlihat berjalan mondar mandir di hadapannya. Ji Sin akhirnya sampai di depan pintu gerbang dimana Jong Gu berada dan menepuk pundaknya dengan nafas yang terengah-engah. “Ya! Bisa-kah ka-u ber-ja-lan. Pelan-pelan saja!” Ji Sin berbicara dengan terputus-putus karena nafasnya yang terasa begitu berat. Jong Gu melihat ke arah Ji Sin sebentar dan kembali lagi melihat ke arah rubah yang ada di depannya tadi, ternyata sudah tidak ada apapun disana. “Ck! Ayok kita pulang. Aku sudah lapar dan lelah sekarang.” Jong Gu berjalan di depan Ji Sin terlebih dahulu. Jong Gu dan Ji Sin akhirnya pulang menuju rumah mereka. *** “Ya Jong Gu! Apakah kau hari ini masuk kerja paruh waktu?” Ji Sin bertanya kepada Jong Gu sambil menendang-nendang batu saat mereka berdua sedang berjalan menuju rumahnya. Jong Gu berhenti sebentar dan mencoba mengingat-ingat lagi. “Kenapa kau berhenti?” Ji Sin bertanya dengan heran karena Jong Gu yang berhenti berjalan. “Apakah aku mempunyai kerja paruh waktu?” Ji Sin merasa benar-benar aneh kepada Jong Gu. Apakah dia mendadak amnesia setelah jatuh pingsan tadi? Ji Sin memutari badan Jong Gu untuk memeriksa keadaan temannya itu. “Apa yang sedang kau lakukan? Aku baik-baik saja.” Jong Gu menyingkirkan tangan Ji Sin saat dia hendak menyentuh Jong Gu, “Apa kau merasa sakit kepala atau mungkin kau merasa sesuatu di dalam tubuhmu yang membuatmu sakit?” Ji Sin bertanya kepada Jong Gu dengan wajah khawatirnya. “Ck. Aku tidak apa-apa. Aku hanya bertanya apakah aku memiliki pekerjaan paruh waktu?” Ji Sin berdiri di tempatnya kembali. “Justru itu aku bertanya apakah kau merasa sakit kepala atau merasa ada yang sakit dalam dirimu. Kau terlihat sangat aneh hari ini.” Jong Gu mengernyit saat mendengar Ji Sin yang mengatakan dirinya yang begitu aneh. Dia saja masih merasa kebingungan dengan dirinya yang terbangun lagi di masa ini, masa sekolahnya. Jong Gu akhirnya berpura-pura untuk mengingat bahwa dia tidak ada pekerjaan paruh waktu hari ini. “Oh, aku baru ingat, aku tidak ada pekerjaan paruh waktu hari ini.” Jong Gu dan Ji Sin akhirnya kembali berjalan menuju rumahnya. Jong Gu memilih diam dan dia akan bertanya kepada adiknya Jong Soo saat dia sudah sampai dirumahnya nanti. Jong Gu akhirnya sampai dirumahnya. Dia melihat rumah yang terasa begitu sepi saat ini. Ibunya memang masih bekerja di sebuah restoran seafood dan adiknya sepertinya masih belum pulang dari sekolahnya. Jong Gu masuk kedalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia teringat dengan kejadian tadi siang saat dia tidak sadarkan diri di kantin sekolahnya tadi. Jong Gu mendadak merasakan jantungnya terasa sangat begitu sakit, bahkan rasa sakit itu hampir tidak bisa Jong Gu tahan. Rasa sakit itu muncul saat Jong Gu berbalik membelakangi gadis yang tadi di temuinya di ruang kesehatan sekolah. Gadis yang berada di ruang kesehatan tadi adalah gadis yang di rundung oleh teman-temannya tadi di kantin. Jong Gu juga tadi sempat melihat luka kecil yang berada di pelipis gadis itu. Namun Jong Gu tidak berani untuk mengungkit atau bertanya kenapa. Karena dia berpikir itu bukanlah urusannya. “Apakah mungkin itu gara-gara itu?” Jong Gu bertanya pada dirinya sendiri. Jong Gu menggelengsaat menyadari itu tidaklah mungkin. Nanti saat ibunya datang, Jong Gu akan bertanya kepada ibunya, apakah dia mempunyai riwayat penyakit jantung atau tidak. Jong Gu mendengar suara pintu yang terbuka saat dia sedang berleha-leha di dalam kamarnya. Jong Gu langsung keluar dan dia menemukan adiknya yang sudah pulang dari sekolahnya. Melihat kakaknya yang berada di rumah, Jong Soo mengernyitkan matanya. “Kenapa kau hari ini ada dirumah? Bukankah kau harusnya kerja malam ini?” Jong Soo meletakkan tasnya di kursi dan mengambil air minum. Jong Gu terus berjalan di belakang Jong Soo. Jong Soo yang merasa risih karena terus diikuti terus-terusan oleh kakaknya, akhirnya berhenti dan duduk di kursi yang tadi dia gunakan untuk meletakkan tasnya. “Kenapa? Apa yang ingin kau katakan?” Jong Gu langsung duduk di kursi yang berada di hadapan adiknya tersebut. “Banyak yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah aku saat ini memiliki pekerjaan paruh waktu? Dimana?” Jong Gu bertanya dengan satu tarikan nafas sekaligus. “Apa kau terbentur sesuatu saat pulang?” Jong Gu yang mendapat pertanyaan itu kembali merasa sedikit jengkel. “Apa kau tidak bisa langsung menjawabnya saja? Kenapa terus bertanya seperti itu.” Jong Gu menatap malas ke arah adiknya. “Ya ya ya baiklah, kau ingin bertanya apa?” Setelah mendengar adiknya yang mulai berbicara serius, akhirnya Jong Gu mulai bertanya. “Apa aku punya riwayat sakit parah?” Jong Soo langsung menyemburkan minuman yang sedang di minumnya ke wajah Jong Gu. Hampir saja Jong Gu memukul kepala adiknya dengan sendok nasi yang ada di hadapannya saat ini. “Ya! Apa kau ingin mati!” Jong Gu sudah mengangkat sendok nasi itu tinggi-tinggi di depan wajah Jong Soo. Jong Soo mengelap sisa air yang ada di bibirnya. “Maafkan aku. Dan lagipula dari mana pikiran seperti itu bisa datang kepadamu? Kau tidak bisa lihat badanmu yang sehat seperti itu?” Jong Soo berbicara sambil menunjuk tubuh Jong Gu. Benar, Jong Gu sendiripun merasakan tubuhnya baik-baik saja. Dia tidak pernah merasa gejala-gejala penyakit parah selama ini. Tapi kejadian tadi siang di sekolah membuatnya merasa aneh. “Sudahlah, pertanyaanmu tidak ada yang benar. Aku mau masuk ke kamar.” Melihat kakaknya yang hanya terdiam di kursinya, Jong Soo akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya. “Ya! Aku belum selesai bertanya!” Tanpa meladeni panggilan kakaknya Jong Soo menutup pintu dengan cukup keras. Jong Gu akhirnya meminum sisa air putih yang ada di gelas Jong Soo, dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Jong Gu masuk kembali kedalam kamarnya dan merebahkan badannya. Rasa mengantuk mulai menyerang dirinya. Jong Gu tidak bisa menahan lagi rasa kantuknya itu. Jong Gu akhirnya tertidur dengan baju seragam yang masih menempel di badannya. *** "Tolong" Jong Gu mendengar suara seseorang yang meminta tolong kepadanya. Jong Gu berjalan di tengah hutan yang gelap gulita, mencari sumber suara yang di dengarnya tadi. "Tolong aku!" Lagi, Jong Gu terus mengitari hutan itu tapi dia tidak menemukan apapun disana. "AAAAAKKKKKK!" Jong Gu berbalik ke belakang saat mendengar suara teriakan dari arah belakangnya. "Halo! Apa kau bisa mendengar suaraku!" Jong Gu berteriak berharap akan ada yang bisa membalas teriakannya. Semak belukar membuat langkah kakinya menjadi susah berjalan. Jong Gu mendengar suara ranting pohon yang terinjak di belakangnya. Jong Gu berbalik dan dia tidak melihat apapun. Merasa tidak apapun disana Jong Gu melanjutkan jalannya. "Halo! Dimana kamu!" Jong Gu terus berteriak agar orang itu bisa mendengar suaranya dan membalas ucapannya. Tidak ada suara apapun lagi setelah suara teriakan itu. Jong Gu akhirnya sampai di ujung tebing yang ada di hutan tersebut. Hampir saja Jong Gu terjatuh kesana. "Sudah lama ya tidak bertemu." Itu bukan suara seseorang, Jong Gu melihat seekor rubah dan akhirnya pandangan mata Jong Gu mulai menggelap
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN