bc

Takdir Felycia

book_age12+
614
IKUTI
4.3K
BACA
revenge
love after marriage
fated
CEO
boss
drama
icy
office/work place
enimies to lovers
secrets
like
intro-logo
Uraian

Felicya tidak menyangka hidupnya akan berubah secepat ini, perlahan dia kehilangan semua hal yang dulu dia dapatkan dengan mudah.

Dulu seolah dunia selalu berpihak padanya, sekarang dia berjuang untuk bertahan di dunia yang menurutnya tidak seindah dulu.

Felicya tidak menyangka ibunya pergi karena keegoisannya dan ayahnya bersikap dingin padanya setelah kepergian ibunya.

Perlahan dia belajar menerima kenyataan untuk merelakan semuanya dan justru disaat itu Tuhan hadirkan dunia baru untuknya setelah mengenal laki-laki yang akhirnya menjadi suaminya.

Disaat itu pula dia memahami arti dicintai setelah sekian lama dia tidak merasakan bentuk cinta setelah kepergian ibunya.

Tapi siapa sangka laki-laki yang dia cintai justru memiliki maksud lain untuk menyakitinya.

Dia berjuang untuk menumbuhkan rasa cinta dihati suaminya, akankah semua usahanya berhasil? Atau justru dia harus kembali merelakan orang yang dia cintai lagi?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1/Prolog
Aku, Felicya perempuan berumur 25 tahun anak tunggal dari pengusaha sukses di bidang pertambangan, dari kecil aku telalu mendapatkan apa yang aku mau. Materi dan kasih sayang selalu aku dapatkan dari kedua orang tuaku, ibuku selalu menuruti semua keinginanku dan hidupku sempurna disaat itu, sampai suatu hari ada tragedi yang terjadi, ibuku meninggal karena kecelakaan saat akan mengantarku membeli canvas untuk melukis. Malam itu hujan turun deras, terdengar gemuruh petir  dan terlihat cahaya kilat dari balik jendela kamarku.  Saat itu usiaku 17 tahun, karena aku terbiasa mendapatkan keinginanku aku selalu memaksakan kehendakku seperti yang terjadi pada malam itu,  aku memaksa agar diizinkan pergi ke toko perlengkapan lukis langgananku padahal saat itu hujan  lebat dan jalanan pasti licin, saat itu Ayahku sedang keluar kota untuk urusan bisnis jadi hanya ibuku yang ada dirumah, sebenarnya aku hanya butuh izin dari ibuku karena aku bisa diantar oleh supir keluargaku, tapi ibuku tetap melarang. Aku marah dan masuk kedalam kamarku,  ibuku merasa tidak tenang karena melihat anaknya mengurung diri di dalam kamar. “Feli sayang.. Jangan gitu donk.” “Kamu kan bisa beli perlengkapannya besok,  saat ini hujan deras sayang,  jalanan licin.” Ucap ibuku berusaha membujuk. Aku hanya diam karena masih kesal. “Sayang? Oke, kalau kamu mau pergi biar ibu yang antar, sekarang kamu siap-siap ya.” “Yess!!” aku bersorak senang, tak lama aku keluar kamar menemui ibuku. “Makasih ibu sayang.” aku memeluk manja ibuku. “Ayo bu, nanti keburu tutup tokonya.”aku menarik tangan ibu. Kami keluar rumah menuju mobil kami terparkir. “Loh,  pak Tono kemana bu? “ “Sudah malam sayang, kasian pak Tono jadi biar ibu saja yang mengantar kamu ya.” Akhirnya aku dan ibu pergi menunjukkan toko langganan ku. *** Sesampainya ditoko aku memilih beberapa barang yang aku butuhkan,  setelah semuanya lengkap kami keluar toko dan bergegas pulang ke rumah,  saat itu hujan masih lebat. Ibu mengendari mobil perlahan, tapi takdir berkata lain. Dari arah berlawanan terlihat mobil melaju kencang,  terlihat ibu berusaha membanting setirnya  untuk menghindari tabrakan namun ternyata ibu menabrak pembatas jalan dan menyebabkan mobil kami terguling cukup jauh. Setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi, tapi tiba-tiba aku merasa ada tangan yang membelai wajahku dan mengusap rambutku dengan lembut. “Feli sayang.” Perlahan aku berusaha membuka mataku,  samar-samar aku melihat ibu tergeletak penuh darah. Ibu tersenyum padaku. “Semua akan baik-baik saja sayang, ibu sayang Feli, semua ini bukan kesalahan Feli.” ucap Ibu terbata-bata sampai akhirnya tidak berkata-kata lagi. Aku berteriak mencoba meminta pertolongan,  saat itu posisi jalanan sepi,  bahkan mobil yang menyebabkan kami mengalami ini pun mungkin sudah kabur karena nyatanya saat itu tidak ada yang menolong kami. Entah apa yang terjadi, aku tidak mengingatnya dengan jelas bagaimana sampai akhirnya aku terbaring dirumah sakit. *** Mataku terbuka perlahan, tubuhku sudah dipasang infus dan aku melihat beberapa bagian tubuhku sudah diperban. Aku berusaha mencari Ibu,  tapi tidak aku temukan. “Suster, Ibu saya dimana ya?” aku coba menanyakan kepada suster tapi dia tidak menjawab justru menyuruhku untuk istirahat. Esok harinya mbok Atun datang ke rumah sakit. “Mbok, Ibu dimana?  Ibu baik-baik saja kan mbok?” Mbok Atun hanya terdiam dan memintaku untuk istirahat. Tiga hari aku di opname, ayah dan Ibu sama sekali tidak terlihat mengunjungiku,  berkali-kali ku coba menanyakan pada mbok Atun tapi tetap tidak mendapat jawaban. Siang harinya dokter mengizinkan aku pulang ke rumah, aku masuk ke dalam rumah berusaha memanggil ibuku. *** “Ibu.. Ibu.. Bu.. Bu, Feli pulang Bu.” Tetap tidak ada jawaban dari Ibu, aku berusaha mencari disetiap sudut ruangan,  aku berlari menuju kamar Ibu berharap Ibu ada disana tapi Nihil, aku tetap tidak menemukan Ibu dimanapun. Aku berteriak dan menangis memanggil Ibu tiba-tiba ayah keluar dari ruang kerjanya,  ternyata ayah ada dirumah tapi kenapa ayah tidak menemuiku dirumah sakit? Aku bertanya-tanya dalan hati. Aku menghampiri ayah dan memeluknya, tapi entah kenapa ayah melepaskan pelukanku, ayah tidak mengucapkan sepatah katapun,  menurutku aneh karena biasanya bahkan saat aku hanya luka lecet ayah pasti sangat khawatir tapi saat ini bahkan ayah tidak menanyakan kondisiku. “Ayah, Ibu kemana? Aku udah cari kemana-mana tapi Ibu tidak ada.” “Ibu baik-baik aja kan Ayah?” Ayah tidak menjawab tetapi dia membawaku masuk kedalam mobil, entah aku mau dibawa kemana. “Ayah, kita mau kemana? Ketemu Ibu ya?” Aku bingung dengan sikap ayah, apa aku membuat kesalahan sampai ayah yang sebelumnya tidak pernah bersikap dingin jadi berubah seperti sekarang. *** Mobil kami berhenti, aku mengamati sekeliling, tenyata ini pemakaman. “Ayah, kita mau kemana? Bukannya kita mau menemui Ibu?” Ayah terus berjalan, aku mengikuti dari belakang karena aku tertunduk saat berjalan akau tidak menyadari ayah berhenti dan akhirnya aku menabrak punggung Ayah. Di depan ayah terlihat kuburan yang masih basah, aku masih belum tahu makam siapa itu, sampai akhirnya ayah bergeser ke samping dan terlihat nisan kuburan itu. “Viona Putri Raharja.” Sontak aku terkejut melihat nama itu tertulis di batu nisan. “Ayah, ini Ibu?” Aku mencoba setenang mungkin sampai akhirnya ayah mengangguk mengiyakan pertanyaanku. Tangisku langsung pecah, ternyata beberapa hari ibu tidak menemuiku karena ibu sudah tidak ada. Aku langsung memeluk kuburan ibu yang basah karena sisa hujan semalam, aku menangis kencang sambil mengelus nisannya sementara ayah masih berdiri mematung di tempatnya. “Kenapa ibu meninggalkan aku secepat ini,  kenapa ibu setega ini padaku?” Cukup lama aku diposisi memeluk kuburan ibu sampai ayah merangkulku dan berusaha membantuku berdiri. “Ayo pulang.” Itu kata-kata yang pertama keluar setelah beberapa hari semenjak kecelakaan terjadi. Sesampainya dirumah, ayah bergegas masuk ke ruang kerjanya aku mencoba memanggilnya tapi dia hiraukan, aku putuskan masuk kembali ke kamar. Kupeluk foto ibuku dengan erat, air mataku keluar dengan deras. Pikiranku menerawang ke malam itu, andai aku mendengarkan ucapan ibu untuk tidak memaksakan pergi malam itu juga ibu pasti masih ada disini, andai aku tidak bertindak sesuka hati pasti semuanya tidak seperti ini. *** Berhari-hari aku di dalam kamar, rasa bersalahku teramat dalam karena secara tidak langsung aku yang sudah membuat ibu meninggal. Selama aku di dalam kamar tidak pernah sekalipun ayah menemuiku dan memintaku keluar kamar, aku merasa sikap ayah berubah padaku. Mungkin ayah marah karena aku yang telah menyebabkan ayah harus kehilangan ibu untuk selama-lamanya. Hanya mbok Atun yang terus menerus ke kamarku memintaku keluar kamar,  mencoba memberiku makan tapi tetap ku tolak. Setelah hari kelima, terdengar ketukan pintu kamar tapi kali ini bukan suara mbok Atun yang memanggil tetapi suara ayah,  aku segera bangkit dari tidurku karena berhari-hari tidak makan dan minum aku merasa lemas, aku dekati pintu dengan langkah perlahan, aku putar kunci dan ku tarik pegangan pintunya agar pintu terbuka. Aku melihat ayah berdiri dengan tatapan dingin padaku. Belum sempat kami berbicara tiba-tiba aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Tiba-tiba aku tersadar setelah mencium aroma minyak, mungkin aroma itu sengaja ditempelkan di hidungku oleh mbok Atun agar aku tersadar, aku siuman, kupandang sekitar ada mbok Atun duduk disamping kiriku sedangkan ayah berdiri disamping kanan ranjangku. Aku bangkit dan langsung berusaha meraih tangan ayah, tapi ayah menghindarinya. “Mbok, tolong keluar sebentar.” pinta ayahku pada mbok Atun. “Baik Pak, saya permisi.” Setelah pintu kamar ditutup oleh mbok Atun, ayahku mulai bicara padaku. “Apa kamu puas Feli? Ibu kamu pergi meninggalkan kita karena ulahmu!“ Aku sangat terkejut mendengar ucapan ayah padaku. “Jika saja malam itu kamu menuruti kata-kata ibumu, mungkin ibumu masih bersama kita saat ini.” “Diusiamu sekarang apa masih pantas kamu merengek meminta dibelikan barang disaat itu juga seperti anak kecil? Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Ibumu sudah pergi untuk selama-lamanya.” “Mulai saat ini, jangan berharap kamu mendapatkan semua keinginanmu dengan mudah, kamu harus berusaha sendiri untuk mendapatkan kemauanmu, mulai sekarang ayah akan membatasi semua fasilitas yang kamu dapatkan.” Aku menangis keras, bukan karena takut kehilangan fasilitas yang selama ini aku dapat, aku menangis karena ucapan ayah yang seolah menyalahkan aku atas kepergian ibuku. Aku terus menatap ayah berharap ayah menarik ucapannya dan memelukku untuk mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja seperti kata-kata ibu saat kecelakaan itu terjadi, ternyata ayah justru meninggalkanku, ayah pergi dari kamarku dan menutup pintu dengan keras. Tak henti-hentinya aku menangis,  semangat hidupku sudah hilang, bahkan sekarang aku benci melihat lukisan-lukisan karyaku sendiri yang terpajang di atas dinding kamarku. Aku lepas semua lukisan itu dan meminta mbok Atun membuangnya. Sejak saat itu hubunganku dengan ayah terasa sangat dingin, ayah selalu menghindariku bahkan saat aku mendekati ayahku yang sedang sarapan, ayahku langsung bangkit dari duduknya dan berlalu pergi, aku sangat sedih saat itu, mbok Atun yang melihatku menghampiriku dan memelukku. “Sabar Neng, bapak masih berduka karena kehilangan ibu, mbok yakin bapak tidak marah pada neng Feli.” Ucap mbok Atun berusaha menghiburku. Entah kenapa ucapan mbok Atun membuat aku sedikit tenang, aku harus sabar, memang ini adalah saat tersulit bagi aku dan ayah. “Neng ingin ibu tenang kan di surga?” “Iya mbok.” “Kalau begitu neng Feli harus lanjutkan hidup neng dengan baik, neng makan,  kuliah, melukis lagi, neng Feli harus berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya supaya dari surga ibu bisa bangga dengan neng Feli yang sekarang.” Aku menangis dalam pelukan mbok Atun,  setelah aku pikirkan memang benar  yang diucapkan mbok Atun, dengan aku menangis terus tidak akan mengembalikan  ibuku padaku. *** Setelah mendengar ucapan mbok Atun aku memutuskan kembali manata hidupku kembali. Aku baranjak dari tempat tidur,  hari ini aku membuat janji untuk pergi bersama Hana sekedar mencari suasana baru setelah berhari-hari aku terpuruk karena kepergian ibu. Saat aku turun dari tangga dari kaca aku melihat mobil ayah pergi menjauh dari gerbang rrumah sekarang hubunganku dengan ayah benar-benar dingin, entah apakah ayah masih menganggap aku sebagai anaknya atau tidak. Dulu setiap ayah akan pergi, ayah selalu menemuiku untuk berpamitan dan mengecup keningku saat itu aku merasa risih dengan tindakan ayah,  tapi ayah bilang sampai kapanpun aku akan tetap sama dimata ayah, aku adalah putri kecilnya. Sekarang justru aku merindukan kecupan dikening yang selalu ayah berikan,  sekarang saat mau pergi atau pulang ke rumah ayah tidak pernah mencariku. Aku hanya dapat melihat dari balik kaca jendela saat mendengar mobil ayah masuk atau keluar, dari kejauhan aku melihat sosok ayah yang sangat aku rindukan. “Mbok, aku pergi dulu ya mbok. Tolong minta pak Tono antarkan aku.” Mbok Atun terdiam. “Maaf neng, tapi.. tapi.” ucap mbok ragu melanjutkan ucapannya “Tapi kenapa mbok?” “Maaf neng, tapi sekarang pak Tono dilarang bapak mengantarkan neng kemanapun.” “Maksud mbok? Ayah melarangku diantar sopir? kalau begitu aku menyetir sendiri saja,  tolong minta pak Tono siapkan mobilku.” Ucapku. “Maaf neng, tapi bapak juga melarang neng menggunakan mobil, kata bapak kalau neng mau pergi harus pakai kendaraan umum karena mulai sekarang bapak tidak memberikan fasilitas kendaraan ke neng Feli.” Aku tertegun mendengar ucapan mbok,  ternyata ayah membuktikan ucapannya,  ayah menarik fasilitas untukku. Mbok Atun terlihat sangat sedih saat mengatakannya, aku berusaha menutupi rasa sedihku. “Tidak apa-apa mbok, aku bisa pergi naik taxi nanti.” Sejujurnya aku hampir tidak percaya dengan apa yang mbok katakan,  apakah semudah ini sikap ayah berubah padaku,  dari yang begitu menyayangiku berubah begitu membenciku?. Aku menghela nafas, melangkahkan kaki ke arah dapur sedangkan mbok menuju teras untuk menyiram tamanan milik ibu, ayah berpesan agar mbok merawat tanaman ibu dan jangan sampai tanaman ini ada yang mati. Di dapur aku terdiam karena bingung apa yang harus aku lakukan, pikiranku kacau setelah mendengar ucapan mbok tentang ayah, setelah berusaha fokus kuputuskan untuk membuat omlate untuk sarapan. Aku pergi bergegas ke mall setelah selesai sarapan. Ternyata Hana sudah tiba duluan, aku menghampirinya. “Hai Fel, bagaimana kabar kamu?” “Baik Han, sorry ya kamu nunggu lama ya?” “Tidak,  aku juga baru saja tiba.” Jawab Hana. “Kita mau kemana dulu nih?  Mau nonton?  Ada film baru loh.” Ajak Hana. “Boleh.” Jawabku singkat. Seperi biasa aku yang membayar semuanya saat hang out dengan Hana,  karena aku masih punya uang cash dalam dompet aku bayar dengan cash. Pilihan kami jatuh ke film komedi, kami asik menonton,  setidaknya aku sedikit terhibur dengan tontonan di depanku. “Fel, ku lapar nih, makan Yuk?” Ajak Hana. Kami makan di tempat favorit kami. Setelah makan aku menuju kasir untuk membayar tagihannya, ku sodorkan kartu kredit tapi ditolak oleh kasir karena tidak bisa dipakai, ku coba kartu yang lain tapi hal yang sama terjadi, akhirnya aku memakai kartu debit. *** Aku tiba di rumah, terlihat mobil ayah sudah terparkir, berarti ayah sudah pulang pikirku. “Mbok, ayah dimana?” “Di ruang kerja neng.” Jawab Mbok Atun. Aku mengetuk pintu ruang kerja ayah. “Masuk.” “Ayah, tadi saat aku menggunakan kartu kredit semuanya tidak bisa digunakan,  apakah ada masalah ayah?” “Ya, mulai sekarang ayah memblokir semua kartu kredit yang kamu pegang.” “Setiap bulan ayah hanya akan memberikan uang bulanan dan semua kebutuhan kamu harus menggunakan uang itu, jika ternyata kurang kamu harus berusaha sendiri.” Sekali lagi ayah membuktikan ucapannya, perlahan semua fasilitasku diambil. “Tapi yah..” Belum sempat aku lanjutkan ucapanku,  ayah kembali bicara. “Saat ini kamu tidak diposisi bisa memilih, kalaupun kamu mau memilih pilihannya adalah menerima atau kami bisa pergi dari rumah ini.” Aku sangat terkejut,  apakah maksudnya ayah mengusir ku? Kuputar tubuhku, aku berlari sambil terisak meninggalkan ayah. Kembali di dalam kamar aku menangis sambil memeluk foto ibu sampai tak sadar akhirnya tertidur. *** Esok harinya. “Mbok, ayah kemana?” Biasanya aku melihat  ayah yang biasa duduk di teras untuk menikmati secangkir teh sambil membaca koran, tapi semenjak ibu pergi melihat ayah adalah hal langka. Entah karena memang ayah yang sengaja pergi pagi-pagi agar tidak bertemu denganku. “Bapak sudah pergi pagi-pagi Neng,  neng mau sarapan? Mbok buatkan ya?” “Terima kasih mbok,  tidak perlu,  nanti mbok kena marah Ayah kalau sampai Ayah tahu mbok membantuku.” “Tidak apa-apa, mbok khawatir Neng Feli sekarang jarang makan, neng Feli sekarang kurus.” Memang sekarang aku sering menahan lapar dan berat badanku memang berkurang. “Bagus donk mbok, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi diet.” Aku berusaha memberikan jawaban agar mbok tidak khawatir “Mbok, aku pergi kuliah dulu ya.” “Tunggu Neng, bawa ini untuk bekal makan siang di kampus, neng kan harus hemat uang bulanan kan? “ Mbok sembunyi-sembunyi memberikan bekal makanan untukku. “Terima kasih mbok.” Aku bersyukur masih ada mbok disaat aku sendiri sekarang padahal dulu aku sering memarahi mbok. “Hati-hati di jalan ya Neng, jangan pulang malam-malam ya bahaya neng kan pakai kendaran umum.” “Iya mbok.” Aku berjalan menuju gerbang rumah,  rumahku sangat luas sehingga untuk sampai ke gerbang utama saja membutuhkan waktu yang cukup lama, awalnya kaki ini terasa sakit karena harus bolak balik saat akan keluar rumah tapi lama kelamaan aku mulai bisa menikmatinya. Sekarang naik angkot menjadi aktivitas rutinku,  awalnya aku tidak tahu bagaimana cara naik dan turun tapi karena aku cepat tanggap memahami sesuatu hanya dengan melihat aku tidak mengalami kesulitan saat sekarang hidupku berubah 180 derajat. Semenjak kehilangan ibu, disaat itu pula aku kehilangan banyak hal. Bahkan teman kuliah sekarang banyak yang menjauhiku karena finansialku tidak seperti dulu. Aku harus merelakan perjodohanku dengan laki-laki yang aku cintai batal. Ferdi Gunawan, dia adalah putra dari rekan kerja ayah, sebenarnya mungkin rencana perjodohan ini ada kaitannya dengan urusan bisnis kedua orang tua kami, tapi entah kenapa perjodohan itu dibatalkan bahkan Ferdi perlahan menjauhiku. Hari-hariku aku lalui tanpa kehadiran sosok ayah dalam hidupku. Empat tahun setelah kepergian ibu, ayah memutuskan untuk menikah lagi. Saat itu ayah tidak memberitahuku tentang rencananya menikah. Yang aku ingat malam itu ayah pulang bersama dua orang perempuan. Ternyata perempuan itu adalah wanita yang dinikahi ayahku, sedangkan perempuan muda disampingnya adalah anaknya. Sebenarnya aku kecewa kepada ayahku,  tapi aku sudah tidak memiliki hak untuk protes sehingga aku menerima keputusan ayahku dengan berat hati. Aku pikir dengan hadirnya wanita itu bisa memperbaiki hubunganku dengan ayah,  ternyata justru semuanya semakin buruk. Terlihat ayah lebih menyayanginya dibanding denganku, aku semakin terpuruk ketika mengetahui bahwa ayah menjodohkan  Ferdi dengan saudara tiriku. Bahkan sampai saat ini, disaat usiaku sudah beranjak 25 tahun artinya sudah 8 tahun semenjak ibuku meninggal sikap ayah tetap dingin padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari rumah ayahku dan hidup mandiri. *** Ayahku seorang pengusaha sukses pertambangan yang memiliki beberapa anak perusahaan dibidang lain tapi mirisnya aku anak kandungnya justru harus bekerja sebagai pastry chef disalah satu hotel sedangkan Caroline anak tirinya bisa leluasa menikmati semua kekayaan ayahku. Keputusanku untuk keluar dari rumah ayah ternyata membuat ayah marah besar,  bukan hal sulit bagi ayahku membuat aku kehilangan pekerjaan, seperti hari ini tiba-tiba saja aku mendapat surat pemberhentian dari hotel tempatku bekerja, karena penasaran aku langsung mendatangi petinggi hotel yang aku kenal untuk mencari tahu alasan aku diberhentikan secara sepihak tanpa aku tahu kesalahan apa yang sudah ku buat. Setelah mendengarkan penjelasannya, aku baru menyadari bahwa di hotel ini pun ayahku memiliki saham dengan persentase yang besar, ayahku sendiri ternyata yang meminta aku diberhentikan dari sini,  aku merasa ini tidak adil untukku tapi tidak mungkin bagiku melawan kehendak ayah. Aku berkemas merapikan barangku, rekan kerjaku datang menemuiku untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku berkeliling mencari tempat tinggal baru, hampir tiga jam akhirnya aku menemukannya. Aku memilih kostan yang sederhana saja karena aku harus berhemat selama belum mendapat pekerjaan baru. Sore harinya aku bawa semua barangku dan pindah ke kosan itu, kost ini sebenarnya bangunan baru sehingga kamar-kamar masih terlihat bersih, di halaman depan ditanami tanaman-tanaman yang membuat suasana terlihat asri, parkirannya pun cukup luas. Setelah selesai merapikan barang, aku buka laptopku untuk mencari informasi lowongan kerja. Aku berharap segera mendapatkan pekerjaan baru agar aku bisa melanjutkan hidupku. Seminggu berselang ada e-mail masuk,  ternyata panggilan interview besoknya. Aku sangat antusias. Esok harinya aku bergegas pergi ke hotel tempat aku melamar pekerjaan, hotel ini adalah salah satu kompetitor dari hotel tempatku bekerja dulu. Hari ini aku langsung melewati semua tahapan interview dan dinyatakan lulus,  aku diterima bekerja di hotel ini,  senang rasanya aku mendapat pekerjaan tidak lama setelah aku dipecat padahal dari beberapa sumber aku mendengar bahwa karena permintaan ayahku namaku di blacklist dan pasti menyebabkan aku kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Memang jabatan pekerjaanku sekarang berbeda dengan posisiku dulu, sekarang aku menjadi bagian dari divisi sales dan marketing di hotel ini, besok akan menjadi hari pertamaku bekerja. Hari ini seharian aku memilih beristirahat di kost agar besok kondisiku fit saat pertama kali bekerja. Esok harinya, aku bergegas berangkat ke hotel karena dihari pertama bekerja aku ada jadwal meeting. Diruang meeting. Meeting masih belum dimulai,  kami masih menunggu GM hotel, karena hari ini adalah hari pertama aku bekerja mungkin di meeting ini juga nantinya pihak HRD akan memperkenalkan aku termasuk kepada GM hotel. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook