BAB 2/ Perhatian Andre

3160 Kata
Pintu ruang meeting pun terbuka, mereka yang hadir di ruang meeting berdiri, aku yang menyadaringa ikut bangkit. Terlihat sosok lelaki berjalan mendekat ke arah kursi GM. Aku mengamati lelaki itu, dia masih terlihat cukup muda untuk menjabat sebagai seorang GM, jika dilihat mungkin usianya sekitar 30 tahun. Perawakan lelaki itu tinggi tegap, kulitnya putih bersih, sangat terlihat bahwa dia lahir dari keluarga kaya raya. Dia duduk di kursinya dan mempersilahkan kami untuk duduk kembali. Meeting dimulai dengan persentasi dari bagian R&D, sesekali dia memberikan komentar dan pertanyaan. Ternyata GM itu bernama Andre Tanuwijaya, dia putra sulung dari Hartawan Tanuwijaya, Founder Tanuwijaya Grup, karena ayahnya sudah meninggal Andre sebagai putra sulung harus mengambil alih tanggungjawab ayahnya walaupun diusianya yang masih cukup muda. Kaluarga Tanuwijaya memang sudah sangat terkenal dibidang properti, nama mereka tersohor bahkan sebagai pemilik dari beberapa perumahan elit dibeberapa kota. Aku tidak menyangka perusahaan sebesar itu dipimpin oleh anak muda berusia 30 tahunan. Terlihat jika dia sosok yang tegas, dari caranya merespon dan memberikan koreksi selama meeting. Meeting hari ini ditutup dengan bagian HRD memperkenalkan aku sebagai bagian dari Divisi Sales & Marketing yang baru. Mereka merespon baik perkenalan diriku, Pak Andre juga mengucapkan selamat bergabung padaku dan kujawab dengan ucapan Terima kasih. *** Tiga bulan kemudian. Aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan baruku, aku juga sudah mempunyai beberapa teman baik ditempat kerja salah satunya Mella, semakin lama kami semakin dekat bahkan beberapa kali kami pergi jalan bersama setelah pulang kerja. Lingkungan kerja yang nyaman membuat aku sejenak melupakan masalah keluargaku, sudah beberapa bulan aku tidak berkomunikasi dengan Ayahku. Sebenarnya aku sering mencoba menelepon ayah tapi teleponku selalu diabaikan, aku hanya bisa menanyakan kondisi ayah pada mbok Atun, sesekali aku mengirim makanan buatanku sendiri untuk ayah tapi aku minta mbok Atun tidak mengatakan bahwa itu makanan buatanku. *** Hari ini aku dan Mella harus meeting dengan client yang akan menyewa ballroom hotel kami untuk acara pernikahannya. Resepsionis memberitahukan bahwa mereka sudah datang dan menunggu diruang meeting, karena aku lupa membawa bahan persentasi aku meminta Mella pergi dahulu dan aku akan menyusulnya jika sudah mengambil barang yang tertinggal. Aku melangkahkan kami mendekat ke ruang meeting, perlahan aku mendekati meja metting. Terlihat Mella sedang berbincang dengan client yang ada di depannya. Dari belakang aku bisa melihat calon client kami. Aku menghampiri mereka namun saat tepat dihadapannya betapa terkejutnya aku ternyata calon pengantin yang akan menikah adalah Ferdi dan Caroline. Aku berusaha bersikap profesional, menjabat tangan mereka, memposisikan diriku bukan sebagai Feli tapi sebagai marketing hotel yang harus menservice client nya dengan baik. Sangat terlihat reaksi tidak suka dari Caroline padaku, setiap kali aku coba berbicara dia tidak merespon dan lebih memilih berbicara pada Mella, tampaknya Mella menyadari ada yang berbeda denganku sehingga dia mengambil alih semuanya bahkan tugas yang seharusnya menjadi bagianku, sedangkan aku hanya duduk diam. Caroline terlihat seolah ingin menunjukan keromantisannya dengan Ferdi dihadapanku. Beberapa kali dia terlihat manja pada Ferdi sedangkan Ferdi hanya merespon datar dan sesekali melihat ke arahku. Aku yang duduk di depan Ferdi hanya tertunduk, mencoba mengalihkan pandangan kearah laptop, mencatat point-point penting pembicaraan Mella dan Caroline. Aku dan Ferdi beberapa kali tidak sengaja beradu pandang, dia menatapku tajam. Entah hanya perasaanku saja tapi aku merasa tatapan Ferdi padaku masih sama, aku masih dapat melihat tatapan sayang dimatanya. Selama meeting dia tak henti menatapku, sebenarnya aku sendiri tidak nyaman dengan situasi ini. Pikiranku bergejolak, rasa cinta itu masih ada didalam hatiku tapi karena rasa hormat pada ayah aku berusaha sekuat tenaga mengikis rasa itu, tapi disaat perlahan rasa itu mulai menghilang tiba-tiba dia hadir kembali. Sebenarnya aku penasaran kenapa Caroline memilih menikah di tempatku bekerja padahal dia bisa menggunakan hotel milik ayah. “Apakah dia tahu kalau aku kerja disini dan sengaja memilih tempat ini agar aku bisa melihat dan sakit hati karena pernikahannya?” pukirku dalam hati. “Apakah Ferdi juga tahu kalau aku kerja disini dan melakukan hal yang sama untuk membuat aku semakin sakit hati?” Pikiranku semakin melantur, tiba-tiba Mella menyenggol lenganku dan menyadarkanku dari lamunan, ternyata dari tadi Mella sudah beberapa kali memanggil namaku tapi aku tidak merespon. Meeting sudah selesai, Ferdi dan Caroline berjalan menjauh dari tempat kami duduk. Caroline menggandeng manja Ferdi, dari belakang aku menatap mereka sampai mereka menghilang dari tatapanku. “Kamu kenapa? Kalian saling mengenal ya?” Tanya Mella padaku. Awalnya aku tidak ingin menceritakannya pada Mella tapi setelah aku pikir kondisinya mungkin akan semakin sulit jika aku tidak menceritakan padanya. Mungkin jika aku bercerita pada Mella dia akan membantuku untuk kedepannya mengingat setelah ini kami akan lebih sering bertemu. Akhirnya aku putuskan untuk menceritakannya pada Mella, dia terkejut setelah mendengar ceritaku, dia ikut kesal saat mendengar apa yang aku ceritakan. “Pantas saja dari tadi perempuan itu seolah menujukan keromantisan mereka di depan kita, tapi kalau aku perhatikan si Ferdi itu merespon datar, justru beberapa kali aku melihat dia memandang kamu dengan tatapan yang tidak biasa Fel, kalau aku ingat-ingat lagi tatapannya itu seperti tatapan seseorang kepada kekasihnya.” Ucap Mella. Aku tertawa mendengar ucapan Mella, berusaha menutupi perasaan hati yang tidak menentu. “Kalau kamu merasa tidak nyaman coba kamu bicara untuk tukar dengan Anggi mungkin? Kamu yang handle project Anggi.” Saran Mella. “Tidak perlu Mel, aku yakin bisa. Apalagi ini project besar pertama aku selama kerja disini jadi aku tidak akan menyerah begitu saja, tapi mungkin aku akan sering meminta bantuanmu Mel,” Jawabku. “Tenang Fel, aku sangat memahami posisimu saat ini, jadi sebisa mungkin aku akan backup kamu.” Sambung Mella. “Terima kasih Mel.” *** Sore harinya aku dan Mella berjalan keluar lobi hotel, jam kerja kami telah selesai. Sebelum pulang kami berencana untuk pergi menonton film di bioskop yang letaknya tidak jauh dari hotel. kami sedang berjalan menuju parkiran mobil sambil asik berbincang tiba-tiba ada suara klakson mobil dari arah belakang kami, awalnya kami pikir mobil itu meminta kami menepi karena kami menghalangi jalannya tapi ternyata mobil itu adalah mobil pak Andre. Dia menghentikan laju mobilnya tepat disamping aku berdiri kemudian membuka kaca mobilnya. Dia menyapa aku dan Mella, kami membalas dengan anggukan dan senyuman sopan. “Felicya, ayo saya antar kamu pulang.” ajaknya. Aku yang mendengar ajaknya sontak kaget, begitu pula dengan Mella yang terlihat heran dengan apa yang baru saja dia dengar. Seorang GM baru saja menawarkan untuk mengantar anak buahnya pulang, aku masih terdiam karena masih belum bisa memahami situasi ini, tiba-tiba Mella menyenggol lenganku dan menyadarkanku dari lamunan. “Terima kasih pak, tapi maaf saya akan pergi dengan Mella dulu. Terima kasih atas tawarannya.” Aku menolak tawaran pak Andre dengan sesopan mungkin. Pak Andre terlihat menatap Mella seolah memberi isyarat untuk membiarkan aku pergi dengan pak Andre. Mella menyadari isyarat yang diberikan pak Andre. Dia mengambil HP dari dalam tas nya. “Sorry Fel, lain kali saja ya kita nonton ini baru saja mamaku memintaku pulang cepat jadi sorry juga aku tidak bisa mengantar kamu pulang.” “Maaf Pak, saya permisi duluan.” Mella berpamitan pada pak Andre, aku coba menahan kepergian Mella dengan menarik tangannya tapi Mella melepas genggaman tanganku dan berlalu pergi meninggalkanku. Aku mematung melihat kepergian Mella, Mella menoleh kearahku sambil memberikan senyuman usilnya. “Ayo masuk, kamu dengar sendiri kalau Mella membatalkan acara nonton kalian.” ucap pak Andre. “Terima kasih pak, tapi biar saya pulang naik tadi saja pak.” Aku mencoba mencari-cari alasan untuk menolak tawarannya. Pak Andre keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untukku, aku semakin merasa serba salah, disatu sisi tidak sopan jika aku menolak ajakan pak Andre tapi disisi lain jika aku menerima ajakannya aku takut akan ada gosip tentang aku dan Pak Andre jika ada yang melihat. “Ayoo, saya sudah bukakan pintu untuk kamu.” Aku menatap pak Andre, dia membalas dengan senyuman. Aku putuskan untuk ikut dengan pak Andre karena merasa tidak sopan jika aku tetep menolak. Aku berjalan masuk ke mobil, ternyata tanpa aku sadari, diparkiran itu ada Dian yang melihat aku dan pak Andre pergi dengan mobil yang sama. Didalam mobil aku terdiam bingung untuk memulai pembicaraan. “Fel, kamu pasti belum makan? Kita makan dulu ya. “ Ajak pak Andre. “Terima kasih pak, tapi aku rasa tidak perlu, nanti saya bisa makan di kost, lagipula saya tidak ingin semakin merepotkan pak Andre.” Ucapku. “Justru saya ajak kamu karena saya belum makan dari pagi, jadi kamu temani saya makan dulu sebelum saya antar kamu pulang.” “Ehmm” Sebenarnya aku bingung menjawab ucapan pak Andre, aku bingung ucapannya itu sekedar ajakan, permintaan, atau bahkan perintah. “Baik pak.” akhirnya keluar juga jawabanku mengiyakan ucapan pak Andre tadi. *** Mobil berhenti didepan restoran seafood, pak Andre jalan terlebih dahulu sedangkan aku mengikutinya dibelakang. Sebenarnya aku punya alergi jika memakan seafood tapi aku segan untuk mengatakan itu pada pak Andre akhirnya aku memakan sedikit makanan yang pak Andre pasan. “Ya sudah aku makan sedikit saja, sesampainya di kost aku harus minum obat.” pikirku karena merasa tidak enak menolak makanan yang pak Andre pesan. Sampai sekarang aku masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi, kenapa aku dan pak Andre bisa makan malam berdua, padahal selama ini aku jarang berkomunikasi denganya bahkan masalah pekerjaan. Aku penasaran kenapa dia bisa bersikap begitu ramah padaku bahkan sampai mau mengantarkanmu pulang dan mengajak makan padahal dari staf hotel yang lain ku dengar pak Andre adalah sosok tegas yang kaku, belum pernah terlihat dia tersenyum pada seorang wanita bahkan sampai dekat dengan wanita, aku pernah mendengar bahwa dia pernah akan dijodohkan dengan anak dari teman ibunya tapi dia menolak dan memilih fokus untuk menggantikan posisi ayahnya memimpin perusahaan. “Lalu kenapa dia begitu berbeda didepanku sekarang?” “Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?” Terlintas sekumpulan pertanyaan dalam benakku. Dari yang aku dengar belum pernah ada perempuan yang diperbolehkan ikut kedalam mobilnya tapi kenapa dia sampai membukakan pintu mobil untukku, aku merasa ada yang aneh. “Feli, ayo makan.” ucap pak Andre. “Iya Pak, Terima kasih.” “Kamu tidak perlu sekaku itu pada saya, apalagi sekarang sudah diluar jam kerja, jadi kamu bisa bersikap santai.” Aku tersenyum mendengar ucapan pak Andre. Setelah kami selesai makan pak Andre mengantarkan aku pulang. *** Di depan kost, mobil pak Andre berhenti. “Terima kasih pak, maaf aku tidak bisa menawari bapak mampir.” “Sama-sama Fel, tidak apa-apa saya memaklumi lagi pula ini sudah malam, saya permisi fel.” “Silahkan pak, Hati-hati di jalan.” Mobil pak Andre pergi menjauh, setelah tidak terlihat aku bergegas masuk ke kamar kost dan segera meminum obat alergi karena selama diperjalanan aku sudah merasakan gatal di sekujur tubuhku. *** Esok harinya. Aku terbangun dari tidurku, aku merasa ada yang aneh dengan wajahku. Ku langkahkan kaki ke depan cermin untuk berkaca, begitu terkejutnya aku saat melihat wajahku bengkak ternyata efek alergi itu masih ada. Aku memutuskan untuk cuti kerja hari ini dan pergi ke dokter. Kucoba menghubungi Mella. “Hallo Mel.” Tampaknya dia juga baru bangun dan belum sadar sepenuhnya sehingga dia tidak menyadari kondisi mukaku yang bengkak. “Hallo Fel, gimana semalam? Pak Andre bicara apa saja?” Mungkin Mella mulai menyadari wajahku yang bengkak sehingga belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia kembali menanyakan kenapa dengan wajahku yang bengkak. “Itu wajah kamu kenapa Fel??” Tanya Mella cemas. Dia terlihat mendekatkan wajahnya ke layar HP untuk memastikan dapat melihat dengan jelas wajahku di layar HP. “Semalam pak Andre mengajakku makan seafood, karena aku sungkan menolaknya aku paksakan makan sedikit, pikirku semua akan baik-baik saja setelah aku minum obat yang biasa aku minum, tapi begitu bangun wajahku bengkak.” Aku mencoba menjelaskan situasi yang terjadi. “Ya ampun, gila ya kamu. Jelas-jelas kamu sadar kalau kamu alergi seafood tapi hanya karna kamu merasa tidak enak kamu paksakan? Kalau sampai dampaknya parah gimana? Please Fel kamu jangan melakukan hal bodoh!!” Mella terdengar marah dari caranya berbicara. “Iya, makanya hari ini aku ambil cuti karena mau memeriksakan kondisi wajahku dulu Mel.” “Oke, nanti saya sampaikan juga ke pak Jemmy kamu cuti karena kondisi kamu, kabari aku jika perlu bantuan.” “Oke, thanks ya Mel, bye.” Kututup sambungan telpon. Aku bersiap ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi wajahku ke dokter langgananku. *** Sementara di kantor, ternyata sudah ada gosip menyebar tentangku. “Gw ga nyangka si Feli seperti itu.” “Iya gw juga ga nyangka, wajah saja terlihat polos tapi ternyata mainnya sama bos besar.” Samar-samar Mella mendengar rekan kerja kami membicarakanku, salah satunya ada Dian yang dengan antusias ikut membicarakanku. Mella menghampiri mereka dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan, mereka bercerita bahwa semalam Dian melihatku masuk kedalam mobil pak Angga. Mereka berasumsi bahwa aku ada hubungan khusus dengan pak Angga, Mella yang mengetahui kejadian sebenarnya mencoba menjelaskan kepada mereka. Mella menceritakan semuanya dari awal bahkan dari yang awalnya aku dan Mella akan pergi menonton film ke bioskop sampai akhirnya pak Andre sendiri yang dengan jelas Mella dengar menawari mengantarkan aku pulang. Setelah mendengarkan cerita Mella bukanya mereka percaya justru mereka makin curiga karena hari ini aku cuti, sebenarnya Mella sudah bantu menjelaskan bahwa aku cuti karena harus ke dokter karena alergi tapi mereka tetap tidak mau percaya ditambah lagi ada Dian yang seolah memperkeruh suasana karena ucapannya. Saat mereka sedang asik berbincang tiba-tiba Pak Andre melewati mereka, dia berjalan diikut pak Randy asisten pribadinya. Seperti biasa pak Andre memasang wajah serius melewati mereka yang sebenarnya sedang membicarakannya tapi langsung berhenti bicara saat menyadari kedatangan pak Andre. Mella merasa heran dengan apa yang dilihatnya barusan, sikap pak Andre berbeda dengan sikapnya semalam yang begitu ramah kepada Mella. Mereka kembali ke meja kerja masing-masing tapi Mella masih dapat mendengar obrolan mereka yang masih membicarakan tentang aku dan Pak Andre. Suara telepon di meja Novi berbunyi, terlihat Novi mengangkat teleponnya, ternyata itu panggilan telepon dari Pak Andre yang menanyakan aku dan memintaku untuk keruangannya. Novi pun menjelaskan bahwa hari ini aku tidak masuk, pak Andre meminta Mella untuk datang keruangannya. “Mella, lo disuruh keruangan pak Andre sekarang.” ucap Novi. Mella bergegas pergi keruangan pak Andre sementara yang lain melanjutkan gosip mereka. Novi menceritakan kepada yang lain bahwa tadi pak Andre mencariku, membuat gosip tentang kami makin menjadi-jadi. *** Di ruangan Pak Andre. Mella mengetuk pintu. “Silahkan masuk.” Terdengar suara pak Andre mempersilahkan Mella masuk. “Permisi pak, bapak memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Mella pada pak Andre. “Hari ini Felicya tidak masuk, kalian berteman baik kan? Apa kamu tahu alasan Felicya tidak masuk kerja hari ini? Tadi saya dengar dari Pak Jemmy dia sakit?” “Benar pak, Felicya hari ini izin karena berobat.” “Sakit apa? Semalam masih baik-baik saja saat saya antarkan dia pulang.” “Emm.” Mela terlihat ragu menceritakan kepada pak Andre tetapi pak Andre menyadari bahwa Mella sungkan untuk berkata jujur. “Tidak apa-apa, silahkan katakan apa yang sebenarnya terjadi.” “Maaf pak sebelumnya, tadi malam bapak mengajak Felicya makan seafood?” “Iya.” Jawab Andre. “Jadi Felicya itu sebenarnya alergi seafood pak, tapi karena dia merasa sungkan menolak ajakan bapak akhirnya dia paksakan makan seafood.” “Ya ampun, kenapa dia tidak bilang, kalau dia bilang saya pasti akan ajak di makan ditempat lain.” Ucap pak Andre. “Feli merasa sungkan untuk menolaknya pak, memang Feli seperti itu orangnya.” Jelas Mella. “Lalu bagaimana kondisinya saat ini?” tanya pak Andre penasaran. “Tadi pagi saat menelpon wajahnya bengkak.” “Lalu apa sudahlah ada kabar lagi dari dia?” Tanya Pak Andre. “Belum pak” Sambung Mella. “Kalau begitu saya minta no HP Feli.” ucap pak Andre. Mella memberikan no HP ku, kemudian pamit keluar ruangan setelahnya. *** Sementara di apotik rumah sakit aku sedang menunggu obat, aku sibuk memainkan HP ku tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor yang tidak aku kenal. Aku mengangkat teleponnya. “Hallo? “ “Hallo, Feli.. Ini Andre.” “Andre??” Karena aku tidak berpikir bahwa yang menelpon adalah pak Andre aku menyangka Andre yang lain. “Iya, saya Andre Tanuwijaya” Aku terkejut nama itu disebut. “Oh iya pak, ada yang bisa saya bantu?” “Saya dengar dari Mella kalau kamu sakit, alergi karena makam seafood semalam? Padahal kata Mella kamu sebenarnya sadar bahwa kamu alergi seafood tapi tetap memaksakan makan karena merasa tidak enak pada saya.” “Tidak apa-apa pak, ini saya sedang obati.” “Apa perlu saya kesana?” “Oh, tidak perlu pak, Terima kasih.” “Baik kalau begitu saya akan bicara ke pak Jemmy untuk memberikan kamu izin selama 3 hari untuk istirahat.” “Tidak perlu pak, kalau kondisi saya membaik besok saya akan masuk.” “Oke semoga lekas sembuh.” “Terima kasih pak.” Obrolan kami pun berakhir. Begitu aku menutup telepon, ternyata ada panggilan masuk lagi kali ini dari Mella. Dia menanyakan bagaimana kondisiku saat ini dan menceritakan apa yang terjadi di hotel, dia bercerita bahwa hari ini aku menjadi topik pembicaraan karena kemarin Dian melihat aku dan pak Andre pulang bersama, belum lagi hari ini pak Andre mencariku. Seperti yang aku khawatirkan, aku menjadi bahan gosip di hotel. “Tadi pak Andre menanyakan no telepon kamu dan aku beri.” “Iya, tadi pak Andre sudah telepon.” “Fel, kayanya pak Andre naksir kamu deh.” “Apaan sih Mel, kamu jangan bicara yang aneh-aneh kalau sampai mereka dengar makin aneh saja yang akan mereka bicarakan.” Protesku setelah mendengar ucapan Mel. “Tenang aku sedang sendiri jadi pasti tidak ada yang mendengar. Aku serius Fel, coba kamu pikir-pikir lagi selama ini kamu sudah dengarkan bagaimana pak Andre itu? Dia sangat cuek ke perempuan, setiap kali ada perempuan cantik dia abaikan bahkan dari yang aku dengar ada juga model yang mendekati dia tapi tetap dia acuhkan.” “Nah tuh, coba kamu pikir-pikir lagi seorang model aja dia tolak jadi bagaimana bisa dia naksir aku yang punya fisik pas-pasan begini.” “Loh siapa tahu justru dia luluh karena seorang Felicya.” goda Mella padaku. “Terus tadi dia telepon bicara apa?” “Tanya kondisi aku gimana, terus katanya mau bicara ke pak Jemmy supaya memberikan aku izin 3 hari tapi aku larang, lagipula besok kan kita ada meeting dengan Ferdi dan Caroline kan?” “Iya, tapi kalau kondisi kamu masih belum membaik biar aku saja yang meng-handle nya.” “Besok aku usahakan masuk Mel, aku tidak mau Ferdi dan Caroline berpikir aku menghindari mereka karena masih merasa sedih, aku akan tunjukan kepada merek bahwa aku baik-baik saja.” “Terserah kamu deh, tapi ingat jangan dipaksakan apalagi pak Andre sendiri yang sudah memberikan kamu izin tidak masuk kerja selama tiga hari.” “Oke, sudah dulu ya, aku mau balik ke kost nih.” “Oke.. Bye.. Hati-hati ya.” Aku tutup telepon dan kemasukan HP ku kedalam tas. Aku berjalan ke parkiran rumah sakit dan bergegas pulang ke kostan agar bisa segera berisirahat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN