BAB 3 / Lamaran Andre

2224 Kata
Aku berjalan menuju ruang kerja, seperti biasa aku menyapa rekan kerja yang berpapasan denganku saat berjalan. Ada yang berbeda dengan mereka hari ini, tatapan mereka sinis kepadaku belum lagi terdengar samar-samar mereka menyebutkan namaku dan pak Andre di obrolan mereka. Aku teringat ucapan Mella tentang gosip antara aku dan Pak Andre. “Fell.” terdengar suara Mella. Aku menoleh kearah belakang dan benar Mella ternyata berjalan dibelakangku. “Hai Mella.” “Gimana wajah kamu?” Mella melihat wajahku. “Sudah lebih baik, sudah tidak bengkak.” Aku menunjukan wajahku pada Mella. “Syukurlah.” Mella bersyukur setalah memastikan wajahku memang sudah tidak sebengkak pertama kali dia lihat saat VC denganku. Kami berjalan beriringan. “Mel, sepertinya mereka bener ngegosipin aku dan pak Andre deh.” “Sudah abaikan saja.” Ucap Mella berusaha menenangkanku. “Ya kalau aku sih tidak apa-apa, tapi aku merasa tidak enak ke pak Andre.” “Justru aku berharap Pak Andre mendengarnya, biar mereka tahu rasa kalau sampai di tegur pak Andre.” Ucap Mella. Aku dan Mella terus berjalan beriringan menuju ruang kerja kami. “Kita meeting jam berapa Mel?” “Jam 11.00 WIB” “Schedule food testing ya hari ini?” “Iya, bener kamu tidak apa-apa harus ketemu mereka lagi?” “Aku baik-baik saja Mel.” *** Di ruang kerja. Aku dan Mella sedang berdiskusi menyiapkan bahan untuk food testing, sesekali aku melirik Dian dan teman yang lain,mereka saling berbisik sambil melirik. Aku sadar mereka masih membicarakan aku dan pak Andre. Jam dinding sudah menunjukan pukul 11.00 WIB, aku dan Mella menuju ruang food testing. Disana sudah ada Ferdi dan Caroline duduk menunggu kami, aku dan Mella menghampiri mereka. Kami saling berjabat tangan, Mella langsung mengambil alih dengan menjelaskan menu makanan yang akan mereka coba, menu datang satu persatu. Aku dan Mella memperhatikan dan mencatat komen yang mereka berikan, mereka masih asik menikmati menu makanan yang disajikan. “Mel, sorry aku permisi ke toilet sebentar.” aku berbisik ke Mella. “Oke.” Aku juga pamit ke Ferdi dan Caroline. *** Di depan toilet wanita. Aku keluar dari toilet, karena berjalan menunduk aku tidak menyadari kalau ada Ferdi berdiri di samping toilet. “Fel, bisa kita bicara sebentar?” Aku hanya melihat Ferdi dan berlalu pergi, tapi Ferdi memegang tanganku erat. “Tunggu, beri saya waktu sebentar.” Aku mencoba melepaskan genggaman tangan Ferdi dan berusaha menghindar sambil bediri menjauh. “Saya rasa sudah tidak ada hal yang harus kita bicarakan selain masalah rencana acara pernikahan kamu dan itupun kita sedang bahas di ruang meeting bukan disini.” “Sebentar Fel, ada yang harus kita bahas.” “Tolong Fer, saya tidak mau ada salah paham.” “Beri saya waktu sebentar Fel.” Ferdi memohon sambil tetap menggenggam tanganku, sebenernya aku sudah berusaha melepaskan genggamannya tapi karena tenaganya lebih besar aku kesulitan melepaskan genggamannya. “Oke, tiga menit.” ucapku singkat. “Fel, kamu apa kabar?” “Baik, kalau kamu mau membahas tentang kabar saya rasa tidak perlu. Saya baik-baik saja.” Jawabku tegas. “Fel, jujur saya menikah dengan Caroline sebenarnya bukan kehendak saya, ini semua karena perjodohan yang orang tuaku dan ayahmu sepakati. Jujur saat itu saya juga sangat terkejut mendengar perjodohan kita dibatalkan dan diganti dengan perjodohan saya dengan Caroline, ini semua bukan kehendak saya tapi saya tidak punya pilihan.” Jelas Ferdi. Aku terdiam mendengarkan ucapan Ferdi, ternyata perjodohan kami gagal justru karena permintaan ayahku sendiri, aku mencoba menahan diri untuk tidak emosi dan menangis. Sebenci itukan ayah padaku? Sampai dia harus menukar kebahagiaan anaknya. Aku sadar perjodohan aku dan Ferdi memang ada faktor bisnis antara ayahku dengan orang tua Ferdi tapi terlepas dari itu mereka sama-sama tahu bahwa antara aku dan Ferdi memang saling mencintai. Aku tidak menyangka ayah akan bertindak sejauh ini, menghukumku atas kesalahan yang aku sesali seumur hidupku, penyesalan karena telah menghilangkan nyawa ibu. Aku kembali teringat masa itu, rasa sesak didadaku muncul kembali, aku menahan air mata yang hampir menetes dipelupuk mataku. “Oke, saya sudah mengikhlaskan semuanya, termasuk merelakan kamu untuk Caroline, saya doakan kalian bahagia selalu.” “Tapi saya masih mencintai kamu Fel.” Ucap Ferdi. “Please Fer, jangan buat semuanya menjadi sulit. Antara saya dan kamu sudah tidak ada hubungan lagi.” Ucapku sambil terus mencoba melepaskan diri dari genggaman Ferdi. Sementara itu tak jauh dari aku dan Ferdi berdiri ada pak Andre berjalan didampingi pak Randi, ternyata dari tadi sambil berjalan pak Andre memperhatikan aku dan Ferdi. Pak Andre meminta Pak Randi duluan karena dia akan pergi ke toilet dulu dan akan menyusul setelahnya. Masih di depan toilet aku berusaha menarik tanganku dari genggaman Ferdi, tiba-tiba ada tangan yang membantu melepaskan genggaman Ferdi dari tanganku. Kini tanganku telah berganti posisi digenggam lembut oleh tangan itu. Aku menoleh ke sosok pemilik tangan lembut itu. “Pak Andre.” Aku terkejut ternyata tangan lembut itu milik pak Andre, saat aku melihatnya dia tersenyum padaku. “Maaf bisa untuk tidak kasar pada wanita?” tanya Pak Andre dengan sopan pada Ferdi. “Saya minta anda tidak ikut campur dengan urusan kami, lepaskan dia.” bentak Ferdi. Aku sontak mundur bersembunyi dibelakang punggung pak Andre, tangan pak Andre masih menggengam tanganku. Anehnya aku tidak berusaha melepas genggaman itu. Bentakan Ferdi hanya dibalas dengan senyuman oleh pak Andre. “Siapa kamu? Saya rasa kamu tidak ada hubungannya dengan masalah yang terjadi antara kami, jadi saya minta anda untuk tidak ikut campur.” sambung Ferdi. “Anda salah, semua yang berhubungan dengan Feli akan menjadi urusan saya, orang yang berusaha mengusiknya akan berurusan dengan saya.” jawab pak Ferdi dengan tegas. Karena tubuh tegap pak Andre aku bisa bersembunyi dibalik punggungnya dan hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan. “Memang siapa anda?” tanya Ferdi penasaran. “Saya pacarnya.” jawab pak Andre. Aku sangat terkejut dengan jawaban yang pak Andre sampaikan ke Ferdi, aku reflek mencoba menarik tanganku dari genggamannya tapi pak Andre manahan dengan menggenggam lebih erat tanganku. “Saya tidak tahu anda siapa, kalaupun anda orang dimasa lalu Feli saya pikir itu sudah berakhir. Yang anda harus ingat saya adalah masa kini dan masa depan Feli, jadi tolong jangan ganggu Feli lagi.” Ucap pak Andre. Ferdi terdiam mendengar ucapan pak Andre sedangkan aku ditarik pergi oleh pak Andre. Aku mengikuti langkan pak Andre. Ternyata dibalik dinding toilet ada Novi yang mendengar pembicaraan pak Andre dan Ferdi. Novi menutup mulut dengan tanganya ketika mendengar pak Andre mengaku sebagai pacarku. Dia sangat terkejut mendengar ucapan pak Andre. Sementara Novi dan Ferdi masih berdiri mematung setelah aku dan dan Pak Andre pergi. Pak Andre mambawaku ke tangga darurat. Aku melepaskan genggaman tanganku, pak Andre meminta maaf karena memegang tanganku dengan erat sehingga mungkin aku merasa kesakitan karena genggamannya. “Terima kasih pak sudah membantu saya, tapi saya pikir bapak tidak perlu melakukan hal sejauh itu sampai mengaku sebagai pacar saya hanya untuk menolong saya pak.” “Saya tidak mau ada staff lain mendengar dan menyebabkan kesalahpahaman lebih jauh lagi antara saya dan bapak.” “Kamu pikir saya melakukan itu hanya untuk melindungi kamu Feli?” tanyanya padaku. Aku terdiam, mencoba menerka arti kata-kata pak Andre. “Apa yang saya katakan tadi serius, bahkan jika kamu siap saya akan segera melamar dihadapan keluargamu.” Ucap pak Andre. Seluruh tubuhku terasa lemas, aku masih tidak memahami dengan situasi ini, baru saja aku sedih karena harus merelakan lelaki yang dulu aku cintai karena keinginan ayahku tiba-tiba didepanku sekarang ada sosok lelaki lain yang melamar ku. Aku hampir terjatuh kerena kakiku lemas, pak Andre coba menahanku dengan merangkulku sehingga aku dapat berdiri tegak lagi. “Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, kamu pikirkan saja dulu yang pasti saya sangat serius dengan apa yang saya sampaikan tadi.” ucap pak Andre sambil berlalu pergi meninggalkan ku sendirian. Aku duduk terdiam di tangga darurat sampai aku tersadar bahwa aku harus segera kembali ke ruang meeting karena sudah terlalu lama meninggalkan Mella sendiri. *** Diruang meeting. Ferdi dan Caroline masih menikmati makanan yang disajikan sedangkan Mella masih sibuk dengan catatannya. Aku kembali duduk, terlihat Ferdi melirik padaku. Aku mengalihkan pandanganku ke catatan di depanku. Jam dinding menunjukkan pukul 12.30 WIB. Kami baru saja menyelesaikan sesi food testing. Ferdi dan Caroline sudah pergi sedangkan aku dan Mela lanjutkan makan siang karena jam istirahat tadi kami masih gunakan menemani Ferdi dan Caroline food testing. Sembari makan aku dan Mella sesekali berbincang tentang Ferdi dan Caroline. Menurut Mella, Caroline adalah client yang banyak menuntut, aku hanya mendengarkan apa yang Mella sampaikan tapi sebenarnya pikiranku masih belum fokus, aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri tentang ucapan pak Andre tadi. Tiba-tiba ada pelayan hotel menghampiri aku dan Mella membawakan kotak dengan pita biru diatasnya. “Ini ada titipan untuk bu Feli.” Ucapnya sambil memberikan kotak itu lalu bergegas pergi. “Dari siapa?” Tanyaku tapi tidak palayan itu jawab. “Cie ada penggemar.” goda Mella. Aku membuka kotak itu, didalamnya ternyata ada beberapa kotak coklat dan secarik surat ucapan. “Semoga coklat ini bisa membuat kamu tersenyum lagi, saya serius dengan ucapan saya tadi, saya tunggu jawaban kamu jika kamu sudah siap.” “Andre Tanuwijaya.” Mella yang ikut membaca surat itu sontak berteriak membuat orang disekitar kami memperhatikan kami. “Stttt.” aku memberikan isyarat agar Mella diam. Mella mendekatkan posisi duduknya kearahku. “Feli, kayaknya ada sesuatu yang aku ga tahu kan?” tanya Mella penasaran. Aku memagang kepalaku karena merasa bingung harus berbuat apa. “Feli, ada apa sih sebenarnya? Cerita donk.” Ucap Mella. Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Mella, dia terbelalak kaget saat mengetahui niatan pak Andre melamarku. “Serius kamu??” tanya Mella lantang sampai membuat orang disekitar melihat kami lagi. Aku tutup mulut Mella dengan tanganku. “Dieem jangan berisik donk.” “Sorry.. sorry Fell, habis aku kaget dan ga nyangka, terus jawaban kamu apa?” sambung Mella penasaran. “Aku belum jawab.” “Sudah akh ayo kita balik ke ruang kerja.” “Fel, tunggu donk.” Mella berlari mengejarku sambil terus menanyakan apa yang akan aku jawab untuk pernyatan pak Andre. *** Sementra di ruang kerja. Novi menghampiri meja Dian. Dia meminta teman yang lain juga mendekat. “Kalian tahu apa yang baru saja aku lihat dan dengar?” ucap Novi yang membuat teman-temannya penasaran. “Apaan Nov?” Tanya Dian penasaran. “Iya ada apa sih?” ucap yang lain karena penasaran juga dengan apa akan Novi ceritakan. “kalian tahu kan Mella dan Feli sedang ada client yang akan booking ballroom untuk acara pernikahan mereka?” Tanya Novi pada semuanya. “Iyaa.” jawab mereka kompak. “Terus??” tanya Dian semakin penasaran. “Jadi calon pengantin wanita itu ternyata adik Feli sedangkan yang laki-laki nya itu mantan Feli?” ucap Dian. “O iya??” Mereka semakin penasaran dengan bagaimana kelanjutan cerita Novi. “Terus.. Terus??” “Jadi si laki-laki itu dulu dijodohkan dengan Feli tapi entah bagaimana ceritanya ayah Feli membatalkan perjodohan mereka dan justru menjodohkan laki-laki itu dengan adik Feli.” “Ooh.” “Tunggu ini ada lagi yang lebih menarik.” “Apaan? Cepet donk Nov cerita jangan buat kami penasaran.” ucap Desi. “Waktu aku di toilet, tidak sengaja mendengar dan melihat laki-laki itu menahan Feli dan mengatakan bahwa sebenarnya dia masih mencintai Feli dan disaat itu Feli berusaha pergi tapi ditahan oleh laki-laki itu. “ “Terus.. Terus??” Mereka makin antusias dengan kelanjutan ceritanya. “kalian pasti tidak akan menyangka apa yang selanjutnya aku lihat dan dengar. Saat Feli berusaha melepaskan genggaman tangannya dari laki-laki itu tiba-tiba pak Andre datang lalu..” Belum sempat Novi melanjutkan ucapannya tiba-tiba Dian memotong ucapan Novi. “Terus.. Terus? Kenapa pak Andre? “ tanya Dian. “Pak Andre meraih tangan Feli dari genggaman laki-laki itu, dan yang paling membuat kian terkejut kalian tahu apa yang pak Andre katakan?” “Apa?” Tanya Dian. “Pak Andre bilang bahwa Feli adalah pacarnya dan meminta laki-laki itu tidak mengganggu Feli lagi.. Ter..” Tiba -tiba ucapan Novi terhenti karena Novi menyadari kedatanganku dan Mella, mereka berhamburan kembali ke meja mereka masing-masing. Aku dan Mella kembali ke meja kerja kami untuk berdiskusi apa saja yang harus diperbaiki pada acara pernikahan Ferdi dan Caroline. Sesekali aku perhatikan tatapan teman kantor yang aneh seolah ada hal lain yang sedang mereka bicarakan dibelakangku. “Mel, aku rasa mereka sedang membicarakanku lagi.” “Abaikan saja, Fel jadi apa yang akan kamu jawab atas ajakan pak Andre?” Mella masih penasaran dengan jawaban apa yang aku beri pada pak Andre. “Entahlah, tapi jujur aku masih tidak percaya dengan apa yang pak Andre katakan. Aku rasa ada yang salah, mungkin pak Andre hanya bercanda? Atau mungkin dia terbawa suasana karena merasa kasihan padaku setelah mengetahui bahwa Ferdi orang yang aku cintai dulu ternyata akan menikah dengan adikku sendiri.” Ucapku berbisik pada Mella karena tidak ingin yang lain mendengar. “Fel, aku rasa pak Andre serius. Coba kamu pikirkan lagi apa mungkin orang seperti pak Andre tidak serius dengan apa yang dia katakan terlebih lagi ini masalah pernikahan.” Jawab Mella. “Tapi kamu tahu aku dan pak Andre memang tidak dekat, kami hanya sesekali berbincang lalu bagaimana ceritanya dia tiba-tiba berniat melamarku?” Aku dan Mella masih berbincang pelan tentang niatan pak Andre melamarku, Mella berusaha meyakinkan aku tentang niatan pak Andre tersebut. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN