Sore harinya.
Kami masih sibuk dengan pekerjaan tiba - tiba Dian berbicara dengan suara lantang yang membuat semua orang diruangan ini mendengar ucapan Dian.
“Oh jadi diam-diam ada hubungan? Aneh deh gua sama cewek yang sok punya wajah polos tahunya mau ngerusak hubungan orang udah gitu coba ngerayu cowok lain lagi. Sudah gitu cowok yang dirayu nya bos besar lagi, jadi enak donk nanti ga harus kerja banting tulang.”
Kami semua melihat ke arah Dian, termasuk aku bedanya setelah mereka melihat Dian pandangan yang lain tertuju padaku. Aku sendiri tidak menyadari jika perempuan yang dimaksud Dian adalah aku, tapi begitu yang lain menoleh ke arahku seakan itu menjelaskan bahwa aku perempuan yang dibicarakan Dian.
Mella yang menyadari temannya sedang disindir langsung bangun dari duduknya dan berniat menghampiri Dian tapi aku cegah dengan memegang tangannya dan menariknya duduk kembali.
Jam kerja pun selesai dan kami semua bersiap untuk pulang kerumah masing-masing, tapi saat aku sibuk memasukkan barang kedalam tas aku mendengar langkah kaki menghampiri meja kerjaku, aku menoleh ke arah sumber suara itu yang ternyata pak Randi.
“Mba Feli, mari ikut saya karena pak Andre sudah menunggu di mobil.” Ucap pak Randi.
Aku yang tertegun mendengar ucapan pak Randi menghentikan kegiatanku sejenak, aku melirik kesekitar, mereka semua menatapku termasuk Mella yang duduk disampingku terlihat tanpa dia sadari membuka mulutnya lebar karena terkejut dengan ucapan pak Randi. Tatapanku langsung ku arahkan kembali ke pak Randi.
“Maksud pak Randi?” tanyaku pada pak Randi untuk memastikan maksud dari ucapannya itu.
“Iya, pak Andre sudah menunggu di mobil untuk mengantarkan mba Feli pulang.” Jelas pak Randi.
Ucapan pak Randi sebenarnya sudah sangat jelas untuk dipahami tapi aku masih belum mengerti maksud pak Andre yang akan mengantarkan aku pulang. Mella yang memegang tanganku memberi kode agar aku segera mengikuti pak Randi untuk segera menyusul pak Andre.
“Maaf Pak, tapi saya bisa pulang sendiri tolong sampaikan terima kasih saya kepada pak Andre atas niat baiknya.”
“Saya rasa mba Feli harus ikut saya karena kata pak Andre jika mba Feli menolak saya yang jemput maka pak Andre sendiri yang akan datang kesini untuk mengajak mba Feli langsung.”
Samar-samar aku mendengar orang disekeliling membicarakan aku, karena aku takut jika ternyata pak Andre sendiri yang datang kesini maka aku putuskan untuk mengikuti ajakan pak Randi.
“Mel, aku duluan ya.”
Aku pamit kepada Mella dan dijawab anggukan kepala oleh Mella. Ku langkahkan kaki mengikuti langkah pak Randi yang berjalan di depanku sampai langkah pak Randi terhenti didepan sebuah mobil yang sudah aku kenali, mobil pak Andre.
Pak Randi membukakan pintu mobil untukku dan mempersilahkan aku masuk, kemudian dia menghampiri pak Andre dan mereka berbicara sebentar melalui kaca mobil yang dibuka oleh pak Andre. Sepintas aku mendengar mereka membahas tentang jadwal meeting dengan kontraktor untuk proyek perumahan baru yang akan di launcing beberapa bulan lagi, aku juga mendengar pak Andre mengucapkan terima kasih karena telah membantu menjemputku dan membawaku sampai ke mobil.
Mobil pak Andre pun berjalan meninggalkan parkiran, didalam mobil kami sama-sama terdiam sampai akhirnya pak Andre membuka topik obrolan.
“Saya yakin kamu masih terkejut dengan apa yang terjadi hari ini, tapi saya sangat serius dengan apa yang saya ucapkan dan apa yang saya lakukan.”
“Saya bukan termasuk orang yang bisa main-main saat mengambil keputusan.” sambungnya.
Sebenarnya hati kecil saya percaya padanya, karena tidak mungkin pak Andre yang notabene seorang pebisnis hebat bertindak sembarangan tapi yang masih belum bisa aku pahami adalah kenapa aku? Dan kenapa sangat tiba-tiba? Itu yang masih membuatku ragu untuk mengambil keputusan. Aku terdiam.
“Saya tahu kamu kurang merasa nyaman dengan apa yang saya lakukan, saya tahu sekarang kita sedang menjadi topik pembicaraan teman-temanmu.”
Aku menoleh ke arah Pak Andre, aku tidak menyangka bahwa pak Andre mengetahui tentang apa yang terjadi.
“Kenapa? Kamu tidak menyangka kalau saya tahu?” Tanyanya padaku.
“Iya.” jawabku singkat.
“Saya tahu dari kemarin saat kamu tidak masuk kerja sedangkan teman-teman kerja kamu membicarakan tentang kita.”
“Saya juga mendengar teman kamu menyindir kamu tadi.” sambungnya.
Aku menatap pak Andre dengan tatapan heran.
“Jangan salah paham, tadi saya tidak sengaja mendengar saat melewati ruang kerja kalian.”
“Oh.” ucapku singkat
“Fel, coba kamu pikir kalau saya tidak serius dengan kamu apakah saya akan membiarkan teman kamu membicarakan saya sesuka hati mereka? Apakah kamu pikir saya akan diam saja dan tidak mengambil tindakan tegas?”
Aku memikirkan apa yang baru saja pak Andre katakan, memang benar apa yang dia sampaikan bahkan jika dia mau dengan mudah dia bisa memecat Dian dan kawan-kawannya.
“Sekarang kamu bisa lihat keseriusan saya untuk menikahimu, saya minta kamu pikirkan baik-baik.”
“Iya, tapi pak boleh saya bertanya?”
“Silahkan.”
“Kenapa pak Andre tiba-tiba ingin menikahiku? Padalah kita tidak saling mengenal dekat sebelumnya, terlebih lagi saya hanya bawahan pak Andre dan masih banyak wanita lain yang lebih pantas menjadi istri bapak.”
“Saya punya alasan sendiri yang saya rasa tidak harus saya sampaikan ke kamu, semua tindakan yang saya lakukan pasti sudah saya pikirkan baik-baik, saya tidak butuh wanita yang secara finansial sepadan dengan saya kalau dengan apa yang saya punya saja saya sudah merasa cukup.”
Mobil pak Andre berhenti tepat di depan gerbang kostku. Aku keluar mobil, pak Andre membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya padaku, aku balas dengan lambaian tangan, setelah mobil pak Andre menghilang dari pandangan aku bergegas jalan ke arah pintu gerbang namun tiba-tiba langkahku terhenti ada tangan yang meraih lenganku. Aku menoleh ke belakang, ternyata Ferdi.
“Lepaskan.” aku mencoba melepaskan diri dari Ferdi tapi tangannya memegang lenganku cukup erat.
Karena sekarang sudah cukup malam kondisi jalanan dan kostku sepi sehingga tidak ada orang yang bisa aku mintai pertolongan.
“Lepaskan!!” ucapku lagi mengulang permintaan sebelumnya yang diabaikan Ferdi tapi Ferdi tetap tidak mau melepaskan tangannya dari lenganku.
“Siapa laki-laki tadi?”
Ferdi menanyakan tentang pak Andre, tapi aku tidak menjawab pertanyaannya.
“Aku tahu kamu juga masih mencintaiku jadi mustahil kalau tiba-tiba kamu punya pacar.” Ucap Ferdi dengan percaya diri.
Aku tersenyum sinis padanya.
“Kamu pikir kamu cukup baik untuk tetap aku cintai? Kamu salah Ferdi, masih banyak lelaki diluar sana yang jauh lebih baik dari kamu.”
“Lelaki yang bertanggung jawab untuk hidupnya sendiri, lelaki yang bisa mengambil keputusan sendiri tanpa harus selalu diatur oleh orang tua nya.”
Ferdi terdiam mendengar ucapanku, aku masih tetap berusaha melepaskan diri darinya, tapi Ferdi semakin erat memegang lenganku dan menarik aku ke arah mobilnya.
Tiba-tiba ada sorot cahaya lampu mobil yang mengarah ke aku dan Ferdi, semakin dekat aku mengenali mobil itu.
“Pak Andre.” gumamku dalam hati.
Mobil itu berhenti, tanpa mematikan mesin mobilnya pak Andre bergegas keluar dari mobilnya menghampiri kami, dia melepaskan tangan Ferdi dari lenganku. Menarikku ke belakangnya kemudian memukul wajah Ferdi.
Ferdi terkejut dengan kedatangan pak Andre dan pukulan yang mendarat diwajahnya kemudian dia membalas memukul wajah pak Andre, aku mencoba melerai mereka. Aku berdiri di depan pak Andre dan meminta Ferdi pergi.
Suara keributan menyebabkan satpam dan beberapa penghuni kost keluar, satpam ikut melerai perkelahian pak Andre dan Ferdi. Pak Andre kembali memperingatkan Ferdi untuk tidak mengganguku lagi dan memintanya pergi tapi Ferdi tetap tidak mau pergi.
Aku mengambil HP dari dalam tas ku.
“Pergi Ferdi, atau kalau kamu tetap tidak mau pergi saya akan telepon Caroline dan menceritakan semuanya ke dia.”
Mendengar ucapanku Ferdi memutuskan pergi, aku tahu Ferdi tidak cukup berani menentang keinginan keluarganya untuk menikahi Caroline.
Aku menatap pak Andre, memegang wajahnya dan melihat luka bekas pukulan Ferdi tadi. Akhirnya aku meminta pak Andre masuk dulu ke kostku agar aku bisa mengobati lukanya. Dia membawa masuk mobilnya ke dalam parkiran kost, aku persilahkan dia duduk di kursi yang ada di depan kamar kostku sementara aku masuk ke dalam kamar kost mengambilkannya secangkir teh dan kotak p3k.
“Silahkan minum pak.”
Aku meletakkan cangkir teh itu diatas meja dan mempersilahkan pak Andre meminumnya, sementara aku membuka kotak p3k dan mengambil obat untuk luka pak Andre.
“Kamu baik-baik saja?” pak Andre bertanya padaku untuk memastikan kondisi ku.
“Baik pak, justru sekarang saya merasa bersalah karena pak Andre sampai terluka karena saya.” ucapku sambil fokus mengobati luka diujung bibir pak Andre.
“Saya baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir.”Ucap pak Andre mencoba menenangkanku.
“Tapi kenapa pak Andre kembali lagi?” Tanyaku penasaran.
Andre berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah mobilnya, ternyata dia mengambil laptopku yang tertinggal di mobilnya.
“Kamu melupakan ini, saya kembali lagi karena akan mengembalikan ini.” jelasnya padaku.
Ku ambil tas laptop dari tangannya.
“Terima kasih pak, maaf lagi-lagi saya merepotkan bapak.”
“Fel, apa tidak ada kata-kata lain selain terima kasih dan maaf yang bisa kamu katakan saat berbicara dengan saya?” keluh Andre.
Aku tersenyum disusul senyuman Andre.
“Saya permisi sekarang sudah malam kamu juga harus beristirahat, jangan lupa kunci pintu kamarnya.”
“Baik pak, terima kasih, hati-hati di jalan.”
Pak Andre memutar arah mobilnya dan melaju ke arah gerbang kost tapi aku lihat dia sempat berhenti dan berbincang sebentar dengan satpam kost, entah apa yang mereka bicarakan.
***
Esok harinya saat aku akan pergi bekerja aku menyapa pak Tono, satpam kostan.
“Pagi pak, saya pergi dulu.”
“Silahkan Neng, oh iya tadi malam pacar neng Feli bicara pada bapak, dia menitipkan neng Feli, dia takut kalau kejadian semalam terjadi lagi. Baik sekali ya neng pacarnya.” Ucap Pak Tono.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan pak Tono dan bergegas pergi karena taxiku sudah tiba.
***
Di Ruang kerja.
Ruang kerja masih kosong saat aku datang, aku mengeluarkan kotak bekal yang tadi aku bawa, karena takut terlambat aku selalu sarapan di kantor.
Satu persatu teman kerjaku datang, termasuk Mella dia langsung mengambil roti bagiannya dari kotak bekal ku.
“Gimana semalam?”
“Apanya yang gimana?” aku balik bertanya padanya.
“Iya, kamu dan pak Andre.”
“Oh, stop kita jangan bahas itu disini aku tidak mau kalau semakin menjadi topik pembicaraan diruang ini.”
Jam dinding menunjukan pukul 09.55 WIB, artinya 5 menit lagi meeting di mulai. Aku dan Mella bergegas ke ruang meeting karena hanya kami yang belum kesana, kami langkahkan kaki dengan tergesa-gesa karena takut terlambat.
Di depan pintu ruang meeting tenyata aku dan Mella berpapasan dengan pak Andre dan pak Randi. Mereka mempersilahkan kami masuk duluan. Kami bergegas masuk dan duduk dikursi kami.
Saat pak Andre duduk di kursinya kuperhatikan wajahnya, bekas pukulan Ferdi masih terlihat di ujung bibir bawahnya. Sesekali aku dan dia saling melirik satu sama lain bahkan tatapan kami bertemu, dia tersenyum padaku.
Mella yang menyadari ada luka di wajah pak Andre menggeser kursinya lebih dekat ke arahku kemudian berbisik padaku.
“Fel, wajah pak Andre kenapa? Kamu apain?” bisiknya pelan.
“Semalam dipukul Ferdi.” jawabku tak kalah pelan.
“Apaa??” teriak Mella.
Tanpa dia sadari suaranya nya sangat keras menyebabkan semua orang diruang meeting itu mendengar ucapannya.
Dia meminta maaf dan menggeser kursinya ke tempat semula, aku perhatikan wajahnya memerah karena menahan malu.
Meeting hari ini selesai, semua peserta meeting sudah meninggalkan ruang hanya tersisa aku dan Mella, Mella menanyaiku tentang kejadian semalam.
“Fel, coba kamu ceritakan bagaimana awalnya sampai Ferdi memukul pak Andre.”
Aku menceritakan semuanya ke Mella, dia menggelengkan kepala setelah mendengar aku bercerita. Mella merasa heran dengan Ferdi, padahal dua hari lagi acara pernikahannya tapi sempat-sempatnya dia masih menggangguku.
Mella juga merasa bersyukur karena ternyata pak Andre datang diwaktu yang tepat dan menolongku. Setelah aku selesai bercerita aku dan Mella kembali ke ruang kerja. Saat aku duduk, di meja kerja kulihat undangan pernikahan. Undangan itu dari Ferdi dan Caroline, ternyata Mella juga mendapatkan undangan itu. Aku yang sebenarnya berstatus sebagai kakak Caroline justru mendapat undangan sebagai tamu. Aku dan Mella memutuskan datang bersama ke acara pernikahan mereka. Tapi tiba-tiba Mella menanyakan sesuatu padaku.
“Fel, kenapa kamu tidak ajak pak Andre saja?”
“Aku rasa pak Andre pasti mau kalau kamu ajak, lagipula Ferdi kan tahu kalau kamu dan pak Andre pacaran jadi aneh kalau kamu tidak pergi dengan pak Andre.”
Aku memikirkan ucapan Mella, benar juga apa yang dia katakan tapi disana ada ayah juga aku takut kalau nantinya ayah berpikir macam-macam tentangku.
“Tidak perlu, aku cukup datang dengan kamu saja Mell.”
***
Hari itu aku dan Mella sibuk dengan persiapan GR acara pernikahan Ferdi dan Caroline, kami harus memastikan semuanya berjalan dengan baik. Saat aku sedang mengecek persiapan tiba-tiba HP ku bergetar tanda pesan masuk.
Ternyata chat dari pak Andre.
“Fel, kamu dimana?”
“Di Ballroom pak, sedang GR untuk acara wedding lusa.”
Tidak lama setelah aku membalas pesan tiba-tiba pak Andre datang ke ballroom, karyawan lain yang melihat pak Andre datang merasa terheran karena tidak seperti biasanya pak Andre turun langsung ke lapangan. Mereka menunduk sopan saat berpapasan dengan pak Andre, aku yang sedang sibuk memastikan persiapan tidak menyadari kedatangan pak Andre sampai pak Andre memanggilku dari belakang.
“Fel.” panggilnya pelan.
Aku menoleh dan tersenyum padanya, karyawan lain terlihat segan saat melihat kedatangan pak Andre.
“Ya pak? Ada yang bisa saya bantu?” Ucapku karena merasa bingung dengan apa yang harus aku katakan setelah menyadari kedatangan pak Andre.
“Masih lama? Saya datang untuk jemput kamu.”
“Maaf pak tapi saya rasa saya masih lama, mungkin baru selesai 2 jam lagi. Pak Andre bisa pulang duluan nanti saya bisa pulang naik taxi.”
“Tidak, saya tunggu kamu sampai selesai.”
Sementara itu disudut lain ballroom, Ferdi yang saat itu sedang berbincang dengan Mella melihat aku dan pak Andre mengobrol.
“Mba Mella, kenapa di hotel semewah ini saat ada acara orang bisa dengan leluasa masuk?”
Mella yang tidak mengerti maksud ucapan Ferdi bertanya padanya.
“Maksud pak Ferdi?”
Ferdi menunjuk ke arahku dan pak Andre, sontak Mella menoleh ke arah kami.
“Oh, kalau yang dimaksud pak Ferdi laki-laki yang berdiri dengan Feli itu pak Andre, beliau GM sekaligus pemiliki hotel ini, jadi mana ada orang yang berani mengusirnya keluar dari hotel ini, beliau memiliki akses penuh atas hotel ini.” Jawab Mella.
Ferdi yang mendengar jawaban Mella terdiam, dia tidak menyangka orang yang semalam dia pukul adalah orang yang sepenting itu di hotel ini.
Pak Andre masih berdiri disampingku, sementara dari kejauhan Ferdi mengamati aku dan pak Andre.
“Pak, apa tidak sebaiknya bapak pulang duluan?”
“Tidak, saya tunggu kamu sampai selesai tapi lebih baik saya duduk disana ya, saya takut kamu terganggu dengan kehadiran saya disini.”
“Baik pak.”
Pak Andre berjalan ke kursi yang ada disudut ruangan, dia sibuk dengan HPnya dan sesekali mengamati sekitar, tak sengaja dia melihat Ferdi yang sedang berdiri bersama Mella.
GR pun selesai aku pamit ke Mella untuk pulang duluan, Mella yang menyadari kalau ada pak Andre yang menungguku mempersilahkan aku pulang duluan. Aku menghampiri pak Andre, terlihat dia tertidur di kursi karena menungguku selesai, perlahan ketepuk pundaknya untuk membangunkan dia.
Dia terbangun dari tidurnya, kami pergi ke parkiran mobil.
***