Di dalam mobil.
“Tadi saya lihat laki-laki itu di ballroom. “ ucapkan pak Andre.
Aku langsung mengerti siapa yang dimaksud pak Andre.
“Iya, laki-laki itu yang menyewa ballroom untuk pernikahannya.”
“Maksud kamu? Dia akan menikah tapi masih sempat-sempatnya mengganggu kamu?”
Aku tersenyum pada pak Andre.
“Lebih baik kita tidak bahas tentang dia pak.”
Sesuai permintaanku obrolan kami tentang Ferdi berakhir, di dalam mobil kami membahas tentang kondisi jalanan yang padat, Andre melajukan mobilnya perlahan. Setibanya di kost aku bersih-bersih dan bergegas tidur.
***
Dua hari kemudian.
Aku berdiri di lobby hotel menunggu Mella, tak lama Mella datang dan menghampiriku. Malam ini aku dan Mella datang ke hotel bukan sebagai karyawan hotel melainkan sebagai tamu undangan wedding di ballroom.
Aku berjalan beriringan dengan Mella memasuki ballroom, kami berdiri menikmati jamuan makanan sambil menunggu giliran menyalami pengantin.
Sampai tiba saatnya giliran aku dan Mella, kami berjalan menghampiri pengantin, untuk pertama kalinya aku melihat ayah lagi setelah sekian lama kami tidak berkomunikasi.
Aku menghampiri ayah, reaksi ayah datar seolah aku hanya tamu biasa. Hatiku sangat sakit melihat reaksi ayah padaku. Aku dan Mella berjalan menyalami Ferdi dan Caroline kemudian turun kembali dari panggung.
Kami berdiri disudut ruangan, Mella menanyakan apakah aku baik-baik saja, aku jawab bahwa aku baik tapi sebenarnya aku menahan tangis karena reaksi ayah. Disamping aku berdiri ada pendingin ruangan besar yang berdiri tegak tapi karena terdorong oleh karyawan hotel, pendingin itu terjatuh dan hampir mengenaiku, Mella yang melihat langsung berteriak dan memintaku menghindar tapi belum sampat aku menghindar ada tangan yang memegang pundakku, melindungiku.
Pendingin itu justru mengenai pundak laki-laki itu, aku langsung menoleh kebelakang untuk memastikan kondisi orang yang menolongku. Ternyata laki-laki itu adalah pak Andre, lagi-lagi dia yang selalu menolongku disaat aku butuh pertolongan. Mendadak suasana di ballroom menjadi ricuh, karyawan hotel yang menyadari orang yang terkena pendingin itu pak Andre langsung bergegas memberi pertolongan pertama padanya sebelum ambulan datang membawa pak Andre.
Aku panik melihat kondisi pak Andre yang tidak sadarkan diri, perhatian semua orang di ballroom tertuju pada pak Andre termasuk orang-orang yang ada diatas pelaminan.
Aku langsung berlari kecil mengikuti langkah perawat yang membawa pak Andre, dibelakangku Mella mengikutiku. Aku yang panik memutuskan untuk mendampingi pak Andre di mobil ambulan sedangakan Mella mengendarai mobilnya. Kami menuju rumah sakit terdekat dari hotel.
Di dalam ambulan aku tak henti-hentinya berdoa, memohon agar tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada pak Andre. Sesampainya di rumah sakit perawat membawa pak Andre masuk keruangan untuk di periksa dokter, aku menunggu di luar ditemani Mella, kondisi pak Andre membuatku cemas sehingga aku hanya bisa jalan mondar mandir menunggu dokter keluar dan memberitahu kondisi pak Andre.
“Fel, tenang lebih baik kamu duduk. ajak Mella mencoba menenangkanku.
Aku tetap menghiraukan ucapan Mella dan berdiri di depan pintu sampai dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
“Dok, bagaimana? Semua baik-baik saja kan?”
“ Tenang bu, semua baik-baik saja. Pasien memang terkena benturan yang menyebabkan dia pingsan tadi tapi setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh kondisi pasien baik-baik saja.”
Aku menghela napas lega, aku bersyukur tidak ada sesuatu yang buruk dengan kondisi pak Andre.
“Boleh saya masuk dok?”
Karena dokter melihat aku dan Mella yang berdiri, maka dokter mengatakan hanya satu orang saja yang diperbolehkan masuk. Mella yang datang hanya untuk menemaniku mempersilahkan aku masuk untuk menemui pak Andre.
Aku menghampiri pak Andre yang sedang terbaring diatas ranjang rumah sakit.
Tiba-tiba air mataku jatuh dihadapan pak Andre, pak Andre yang menyadarinya langsung bangkit dari tidurnya dan mengusap air mataku, kemudian dia memelukku. Tangisku semakin menjadi-jadi saat pak Andre memelukku. Yang aku rasakan saat itu adalah aku takut kesalahanku terulang lagi, aku takut nyawa orang melayang karena ulahku lagi. Aku teringat kembali bagaimana ibu meninggal karena ulahku dan aku tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada pak Andre karena mencoba menyelamatkanku.
Pak Andre menepuk pundaku dan berkata bahwa dia baik-baik saja jadi aku tidak perlu khawatir. Dia memintaku menghentikan tangisku kemudian dia melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku. Aku berhenti menangis.
“Apa kamu terluka?” tanya pak Andre sambil memeriksa kondisi ku.
Aku menggelangkan kepalaku. Dia kembali berbaring sedangkan aku berdiri disamping ranjangnya, tangannya memegang tanganku. Entah apa yang aku pikirkan saat itu tapi tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulutku.
“Ayo kita coba jalani.” ucapku singkat.
Pak Andre yang langsung mengerti maksud ucapanku tersenyum dan mengangguk padaku.
“Saya tidak mau membuang waktu, kalau kamu sudah yakin saya akan langsung melamarmu untuk menikah denganku.”
Aku tersenyum dan mengangguk pelan.
“Kalau begitu kapan kamu perkenalkan saya ke keluarga kamu?” tanya pak Andre.
“Tolong beri aku waktu beberapa hari,, setelah aku bicara dengan ayah baru aku coba pertemukan pak Andre dengan ayahku.”
“Oke, mulai sekarang kamu jangan panggil saya dengan sebutan pak.” pinta pak Andre.
“Lalu? Aku harus panggil apa?” tanyaku.
“Mas.” dia memintaku memanggilnya Mas dan aku turuti.
Dokter tiba-tiba datang dan memeriksa kembali kondisi mas Andre. Setelah diperiksa dokter memperbolehkan mas Andre pulang. Aku membantu mas Andre berjalan keluar ruangan ternyata diluar sudah ada pak Randi bersama Mella, mereka langsung bangun dari duduknya dan menghampiri kami saat melihat kami keluar ruangan.
Diparkiran rumah sakit akhirnya kami berpisah, mas Andre pulang diantar pak Randi sedangkan aku ikut ke mobil Mella.
“Ini obatnya mas.”
Aku memberikan obat yang diresepkan dokter tadi,, Mella dan pak Randi saling menatap saat mereka mendengar aku memanggil pak Andre dengan panggilan mas.
“Terima kasih, kamu kabari saya kalau sudah sampai kost.”
“Baik mas.”
Mobil pak Randi melaju meninggalkan aku dan Mella yang masih berdiri diparkiran. Mella langsung menarikku.
“Kalian sudah..?”
Belum sempat Mella melanjutkan pertanyaannya aku langsung menjawab dengan anggukan kepala. Mella langsung memelukku dan memberiku ucapan selamat.
***
Aku melajukan mobil kerumah ayah.
Di halaman rumah aku masih melihat tanaman yang dulu ibu tanam, semua masih terawat dengan baik pasti mbok yang merawatnya.
Aku tekan bel rumah, seharusnya aku sebagai anak pemilik rumah bisa dengan leluasa masuk ke dalam rumah tapi sekarang aku lebih mirip seorang tamu yang ingin datang berkunjung.
Masih belum ada orang yang membukakan pintu, kucoba menekan bel kembali dan setelah menunggu beberapa saat dari dalam rumah terdengar langkah kaki dan suara kunci diputar, akhirnya pintu terbuka. Saat perlahan pintu terbuka tampak perempuan tua yang sangat aku kenali.
“Mbok.”
Mbok Atun yang langsung mengenaliku membuka tangannya lebar menyambut kedatangan ku, aku berlari memeluk mbok.
“Mbok sehat?”
Aku menanyakan kabar mbok sambil memeluk erat tubuhnya.
“Sehat, neng Feli bagaimana? Kenapa tidak pernah pulang ke rumah?” tanya mbok padaku.
“Pulang ke rumah? Apakah ini masih rumahku? Rumah adalah tempat dimana kita bisa pulang kapan saja dengan nyaman, tapi semenjak kepergian ibu aku tidak merasakan hal itu ketika datang rumah ini.” gumamku dalam hati.
“Maaf mbok, akhir-akhir ini aku sibuk sekali jadi aku belum sempat mampir kesini lagi.”
“Oh iya, ndak apa-apa, ayo masuk neng.”
Mbok merangkulku dan mengajakku masuk kedalam rumah, saat aku menginjakkan kaki diruang tamu semuanya masih sama seperti terakhir kali aku kesini. Mbok menceritakan padaku kalau ayah melarang semua isi rumah ini diubah, ayah meminta agar kondisi rumah ini sama persis seperti bangunan saat masih ada ibu.
Bahkan saat istri baru ayah berniat merenovasi rumah ini ayah melarangnya, akhirnya ayah dan istri barunya pindah kerumah baru yang sengaja ayah beli agar istri baru nya tidak menyentuh rumah ini, mungkin itu bentuk rasa cinta ayah pada ibuku sampai saat ini, mungkin sikap ayahku padaku juga merupakan bentuk kekecewaannya padaku karena aku telah memisahkan ayah dengan wanita yang sangat dia cintai.
“Oh, jadi ayah sekarang tidak tinggal disini mbok?”
“Tidak neng, ayah neng Feli kesini paling dua minggu sekali itupun paling cuma tidur semalam, pagi-pagi nya sudah pergi lagi.” Jelas mbok.
“Oh.”
“Neng kesini mau ketemu ayah? Memangnya neng tidak tahu dimana ayah tinggal sekarang?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Tidak mbok, sudah cukup lama aku tidak berkomunikasi dengan ayah semenjak ayah memblokir nomerku di HP nya, di awal-awal aku masih berusaha untuk tetap menghubungi ayah dengan berganti nomer tapi lama-lama aku merasa lelah dengan sikap ayah padaku, setiap aku telepon ayah selalu memakiku karena telah menghilangkan nyawa ibu.”
“Ayah tidak tahu tanpa ayah katakan pun dalam hati kecilku sangat merasa bersalah dengan kepergian ibu.”
Tiba-tiba air mataku menetes, mbok yang melihat langsung bangun dari duduknya menghampiriku kemudian memelukku dan membelai lembut rambutku, aku teringat kembali saat itu, mbok yang selalu memeluk dan membelai rambutku saat ibu sudah tidak ada. Aku kembali tersadar dan teringat kembali tujuan awal ku kesini untuk menyampaikan kabar bahagia kepada ayah dan mbok, ku usap air mataku.
“Mbok, sebenarnya aku kesini ingin meminta izin ke ayah dan ingin memberitahukan kabar bahagia pada mbok.”
“Ada apa neng?”
“Aku akan menikah, makanya aku ke sini ingin meminta izin ke ayah dulu sebelum aku mengajak calon suamiku bertemu dengannya.”
Mbok yang mendengar ucapanku kembali memelukku dan memberi selamat padaku.
“Mbok sangat senang mendengarnya neng, mbok bersyukur akhirnya akan ada laki-laki yang menjaga neng Feli.” Ucap mbok sambil berlinang air mata.
“Tapi sekarang aku bingung mbok bagaimana caraku meminta izin ke ayah, kalau aku datang ke rumah baru atau kantornya pasti ayah akan mengusir ku.”
“Tenang neng, coba mbok bantu ya.”
“caranya?”
“Mbok coba telepon ayah neng ya, nanti neng bicara lewat telepon ya.”
Mbok berjalan ke telepon yang ada di ruang tengah, aku mengikutinya dari belakang. Terlihat mbok berbicara di telepon itu, tak lama mbok memanggilku dan memberikan gagang telepon kepadaku.
“Halo.”
Jantungku langsung berdetak kencang, aku mendengar suara ayah yang sudah lama tidak aku dengar.
“Hallo ayah.”
Ayah tidak menjawab, aku lanjutkan kembali kata-kataku.
“Ayah, Feli akan menikah, Feli kesini sebenernya ingin bicara langsung pada ayah untuk meminta izin sebelum aku kenalkan calon suamiku pada ayah, tapi ternyata ayah tidak ada dirumah.”
Ayah masih diam tidak merespon ucapanku.
“Aku juga kesulitan menghubungi ayah karena ayah memblokir nomer teleponku.”
“Ayah, kapan ayah ada waktu luang? Aku ingin mengenalkan calon suami ku pada ayah.”
Ayah masih terdiam, aku masih menunggu respon ayah. Setelah beberapa saat akhirnya ayah bicara.
“Saya sibuk, jadi kamu tidak perlu memperkenalkan calon suami kamu pada saya, jangan berharap saya bisa datang di acara pernikahanmu juga. Semenjak kamu memutuskan pergi dari rumah semenjak itu juga kamu bisa mengambil keputusan untuk hidupmu sendiri tanpa izin terlebih dahulu pada saya.”
“Tap..”
Belum sempat aku lanjutkan ucapanku, terdengar suara telepon sudah terputus.
Aku menahan tangisku kemudian meletakkan gagang telepon.
“Mbok boleh aku lihat kamarku dan kamar ibu sebentar?”
“Boleh neng, silahkan”
Aku berjalan ke kamar ibu dan ayah, kubuka pintunya.
Terlihat foto pernikahan ibu dan ayah masih tergantung di dinding kamar. Semuanya masih tertata rapih, aku coba membuka lemari pakaian disana pakaian ibu dan ayah masih tertata dengan baik. Aku menangis karena teringat kembali semua kenangan saat bersama ibu.
Setelah beberapa saat aku keluar dari kamar ibu dan menuju kamarku. Semuanya masih sama seperti saat aku pergi meninggalkan rumah ini, bedanya diatas meja ada lukisan-lukisanku yang dulu aku minta mbok membuangnya, ternyata lukisan itu masih ada.
Kulihat lukisan itu satu persatu, ada satu lukisan yang dulu sangat aku suka. Lukisan keluargaku. Pose aku yang berdiri diantara ayah dan ibu dengan senyum lebar, saat itu adalah masa-masa terindah dalam hidupku, kembali air mataku menetes.
Aku berkeliling melihat semua sudut kamarku. Di atas meja ada foto kecilku bersama ayah dan ibu.
Aku peluk foto itu. Tiba-tiba mbok masuk kedalam kamarku.
“Neng, tadi ayah neng Feli menelepon. Katanya ini hadiah dari ibu untuk neng Feli saat neng Feli akan menikah.”
Mbok Atun memberikan kotak besar berwarna biru tua dengan hiasan pita biru muda diatasnya. Aku menerima kotak itu dan meletakkannya diatas kasur, aku duduk di samping kotak itu dan membukanya.
Ternyata didalamnya ada beberapa barang, satu persatu barang itu aku keluarkan. Barang yang pertama, ada kotak berwarna merah aku membukanya ternyata gaun pernikahan, ku amati gaun itu ternyata ini gaun pernikahan ibuku. Warnanya masih putih bersih modelnya mungkin terlihat kuno jika digunakan saat ini tapi aku berjanji akan menggunakan gaun ini diacara pernikahanku. Aku melipat kembali gaun itu dan memasukkannya kembali kedalam kotak merah tadi.
Barang kedua, aku menebak kotak ini adalah kotak perhiasan ibu. Aku membukanya dan ternyata benar didalam kotak itu berisi semua koleksi perhiasan ibu, dari dulu ibu sangat senang mengkoleksi perhiasan jadi tak heran jika dalam kotak berukuran cukup besar ini berisi penuh koleksi perhiasan ibu, tapi dari semua koleksi ibu mataku tertuju pada sepasang cincin pernikahan, jika kutebak ini pasti cincin pernikahan ayah dan ibuku. Aku tutup kembali kotak perhiasan ini.
Barang ketiga, ada album foto berwarna hitam.
Ku buka perlahan album itu, ternyata album itu berisi foto-foto ku saat masih kecil, ibu menatanya dengan rapi, ibu juga memberi keterangan di foto itu mulai dari usiaku saat itu dan kejadian yang terjadi saat foto itu diambil. Aku melihat semua foto itu sampai bagian terakhir dan aku tutup kembali albumnya.
Barang ke empat, ada kotak berwarna biru muda. Saat aku buka ternyata kotak itu berisi pakaian bayi perempuan dan sapatu mungil. Mungkin ini pakaianku saat masih kecil.
Aku menangis setelah meletakkan kembali semua barang kedalam kotak besar tadi, aku tidak menyangka bahkan saat ibu sudah tidak ada ibu masih begitu sayang padaku dengan memberikan semua barang berharganya padaku, menyiapkan kado di hari pernikahanku.
“Mbok, boleh aku ambil beberapa barang dari kamarku?”
“Silahkan neng, toh ini semua barang miliki neng Feli.”
Aku memisahkan beberapa barang untuk aku bawa pulang. Kuambil lukisan keluarga, foto kecilku dengan kedua orang tuaku, dan beberapa barang pemberian ibu dan ayah yang terpajang di lemari. Setelah semua barang masuk kedalam bagasi aku berpamitan dengan mbok Atun dan pak Tono.
“Jaga kesehatan ya mbok, Pak Tono, aku juga titip ayah. Tolong jaga ayah dengan baik, Terima kasih juga sudah merawat rumah ini dengan baik, tanaman ibu juga masih terawat, Terima kasih mbok.. Pak.”
“Iya neng, sama-sama.Neng juga jaga kesehatan ya. Mbok doakan semoga pernikahan neng Feli lancar dan neng hidup bahagia dengan suami neng, kapan-kapan neng ajak suami neng kesini supaya mbok kenal.”
“Iya neng.” sambung pak Tono.
“iya nanti kapan-kapan aku ajak suami aku kesini.”
“Aku permisi ya mbok.. Pak.”
Aku masuk kedalam mobil dan melajukan mobilku meninggalkan rumah yang penuh kenangan buatku. Selama perjalanan pikiranku kemana-mana, kenangan saat bersama ibu, memikirkan sikap ayah yang masih dingin padaku sampai ayah menolak menghadiri acara pernikahanku, sejujurnya saat ini aku tidak fokus ke jalanan didepanku.
***