BAB 6/ Penyesalan Ferdi

2357 Kata
Tiba-tiba aku tersadar oleh suara HP ku, ada panggilan masuk dari mas Andre. “Hallo mas?” “Aku sedang dijalan baru pulang dari rumah ayahku.” “Mas, lebih baik kita bicarakan langsung, tidak melalui telepon. Kamu dimana?” “Oke mas, bye.” Sambungan telepon pun terputus. Baru saja aku matikan telepon ada panggilan masuk dari Mella. “Hallo Mel.” “Lagi dijalan Mel, kenapa?” “Boleh donk, kamu kenapa?” “Oke, aku tunggu ya.” “Bye.” Kututup telepon dari Mel dan aku kembali fokus dengan jalanan didepan. Kulajukan mobilku perlahan. *** Di dalam kamar kost, aku merapaikan barang-barang yang aku bawa dari rumah, aku memajang foto keluarga diatas meja sedangkan lukisannya aku gantung di dinding. Aku masukan perhiasan pemberian ibuku kedalam brankas, tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk. Aku buka pintu itu, ternyata mas Andre yang datang, aku mempersilahkan mas Andre duduk dikursi sedangkan aku menyiapkan minuman untuknya. “Jadi kapan saya bisa bertemu dengan ayahmu?” Aku bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya pada mas Andre, karena hubungan kami yang singkat aku belum pernah bercerita tentang keluargaku padanya, dia juga belum pernah menceritakan tentang keluarganya padaku. “Mas, maaf aku belum pernah bercerita sebelumnya.” Aku menghentikan ucapanku. “Bercerita tentang apa?” tanya mas Andre penasaran. “Tentang keluargaku.” Aku kembali terdiam dan menghela napas. “Kenapa?” “Ibuku sudah meninggal, kejadiannya saat aku berusia 17 tahun. Kecelakaan itu terjadi saat ibuku mengantarkan aku membeli peralatan melukis.” Aku kembali menghentikan ucapanku. “Lalu?” “Saat itu hujan lebat, ibu melarangku pergi tetapi aku tetap memaksa dan akhirnya ibu mmengantarku Ibu yang mengendarai mobil, jalan licin dan kecelakaan itu terjadi. Ibu meninggal.” Aku menangis karena mengingat kembali kejadian itu, mas Andre menenangkanku. Dia merangkulku dan mengusap air mataku. Aku lanjutkan ceritaku. “Semenjak kerjadian itu hubungan aku dan ayah menjadi kurang baik.” “Sampai beberapa tahun setelah kepergian ibu, ayah menikah lagi dengan ibunya Caroline, Caroline itu wanita yang menikah dengan Ferdi. Awalnya aku yang dijodohkan dengan Ferdi tapi tiba-tiba perjodohan kami dibatalkan dan akhirnya Ferdi dijodohkan dengan Caroline.” “Sampai saat ini hubungan aku dan ayah masih belum baik, jadi nanti diacara pernikahan kita ayah juga menolak untuk datang mas.” Mas Andre menenangkan aku lagi. “Ya sudah, tidak apa-apa kita berdoa semoga kelak hubungan kamu dan ayah membaik seiring berjalannya waktu.” “Aamiin, kalau keluarga kamu gimana? Mama dan adik kamu datang ke acara pernikahan kita kan?” “Mereka juga tidak bisa datang Fel, kan mereka tinggal di luar negeri mereka juga sibuk dengan urusan perusahaan disana. Jadi nanti pernikahan kita mungkin hanya dihadiri beberapa orang terdekat saja, tidak apa-apa kan?” “Iya mas, tidak apa-apa.” “Kamu juga tidak perlu repot mengurus persiapannya, saya sudah minta tolong ke Randi untuk mengurus semuanya. Karena Kamis depan saya harus ke luar negeri jadi pernikahan kita rencananya akan di adakan hari Selasa minggu depan.” “Iya mas, lebih cepat lebih baik tapi untuk gaun pernikahan aku mau pakai gaun pernikahan ibuku mas, boleh?” “Boleh” Saat kami masih asik berbincang mobil Mella masuk ke dalam parkiran kost, dia turun dari mobilnya. Terlihat dia sangat terkejut saat melihat mas Andre ada dikostanku. “Malam Pak” sapa Mella pada mas Andre. “Malam Mel, loh kok kamu ada disini?” “Iya mas, dia mau menginap disini.” “Oh, kalau gitu saya pulang ya, sudah malam juga.” “Ya mas, Hati-hati ya.” Mas Andre pergi dari kostku. “Fel, kamu koq ga bilang pak Andre mau datang kesini?” “Memang kenapa kalau ada mas Andre?” “Ya tidak apa-apa sih tapi aku jadi merasa tidak enak ganggu kalian, mana dia langsung pulang saat aku datang.” “Apaan sih Mel, santai dia pulang karena pembicaraan kami sudah selesai.” “Oh iya Mel, Selasa depan hari pernikahan aku dan mas Andre ya, tapi acaranya dibuat private dan hanya akan dihadiri beberapa orang saja termasuk kamu.” “Koq mendadak sekali Fel? Persiapannya?” Tanya Mella. “Kata mas Andre aku tahu beres, mas Andre sudah minta Pak Randi urus semuanya.” “Memang beda sih ya, nikah sama bos besar enak semua tahu beres.” Goda Mella padaku. “Apaan sih kamu, oh iya ngomong-ngomong tumben kamu menginap disini? Kenapa?” “Mood aku lagi jelek nih, habis berantem sama cowok aku, tapi udah tidak perlu dibahas aku lagi seneng denger rencana pernikahan kamu dan pak Andre.” “Aku tidak menyangka Fel, aku yang pacaran lama tapi yang nikah duluan malah kamu.” “Ya siapa yang tahu takdir kita Mel, aku sendiri tidak menyangka aku akan menikah dengan mas Andre.” “oh iya, setelah menikah kamu tetap bekerja?” “Tidak Mel, mas Andre melarangmu bekerja dia memintaku untuk menjadi istri yang mengurus suaminya saja.” “Wajar sih, mungkin gaji kamu sebulan sama dengan uang jajan kamu sahari saat kamu sudah menjadi istri pak Andre, yah nanti kita jarang ketemu donk?” “Tenang kita kan masih bisa teleponan dan ketemuan sesekali.” Ucapku. “Jadi kamu kerja sampai kapan?” “Besok aku ke hotel untuk urus pengunduran diri ke HRD.” “Loh memang bisa mendadak ya?” “emm ga tahu juga sih, tapi kata mas Andre dia udah bicara langsung ke HRD jadi besok aku tinggal menyerahkan surat pengunduran diri aja.” “Ya ya ya, memang tidak ada lawan calon istri bos besar.” goda Mella padaku. Kami tertawa bersama. “Udah, ayo tidur udah ngantuk nih.” Aku dan Mella akhirnya tertidur. *** Esok harinya. Aku dan Mella pergi ke hotel bersama tapi di lobby hotel kami berpisah, Mella ke ruang kerja sedangkan aku ke ruang HRD untuk menyerahkan berkas pengunduran diriku. Mungkin karena permintaan langsung dari mas Andre proses pengunduran diriku bisa langsung selesai hari ini, setelah urusanku dengan HRD selesai aku mempir ke ruang kerja untuk berpamitan dengan teman-teman kerjaku. Aku menyalami mereka satu persatu, mengucapkan permohonan maaf jika selama aku bekerja disini ada kesalahan yang aku perbuat. Dari reaksi mereka padaku aku merasa ada beberapa orang yang menunjukan tatapan sinis kepadaku, Dian menjadi salah satu orang yang jika diperhatikan sangat terlihat menunjukkan ketidaksukaannya padaku, maklum memang dari awal aku bekerja disini aku mendengar bahwa Dian sangat menyukai mas Andre, beberapa kali dia mencoba mencari cara agar bisa dekat dengan mas Andre tapi seperti biasa mas Andre tidak merespon. Mungkin saat ini Dian kesal padaku karena pikirnya aku telah merebut mas Andre darinya, aku yang karyawan baru tiba-tiba bisa menarik perhatian mas Andre bahkan langsung akan dinikahi dalam waktu perkenalan yang singkat. Beberapa dari mereka mengucapkan selamat atas rencana pernikahan aku dan mas Andre, mereka menjabat tanganku, memelukku dan mendoakan agar pernikahan aku dan mas Andre lancar. Saat aku menghampiri Mella, dia menangis maklum hubungan kami cukup dekat selama ini kami selalu menghabiskan waktu bersama, bahkan sarapan atau makan siang seringkali dari piring yang sama, wajar jika dia merasa kehilangan aku. Tapi aku mencoba menjelaskan pada Mella bahwa setelah aku menikah persahabatan kita tidak akan berubah, kita tetap bisa berkomunikasi setiap hari. Saat aku masih asik berbincang dengan teman kerjaku di luar ruangan mas Andre diikuti pak Randi berjalan melewati lorong, tanpa disengaja mas Andre melihatku.Dia menghentikan langkahnya kemudian berputar arah masuk kedalam ruangan tempat aku berada. “Fel” Tegurnya pelan. Semua orang diruangan bangkit dari duduknya dan menganggukan kepala kepada mas Andre tanda mereka menyapa sopan kemudian dibalas dengan hal yang sama oleh mas Andre. Aku yang merasa ada orang memanggil namaku langsung menoleh, ternyata mas Andre sudah berdiri persis dibelakangku. “Ya mas?” “Sudah selesai urus pengunduran dirinya?” “Sudah mas, aku sedang pamit ke teman-teman kerja dulu sebelum pulang.” “Terus kamu mau kemana lagi setelah ini?” “Aku mau ke makam ibu dulu ya mas.” Mas Andre melihat jam tangannya, sedangkan orang-orang disekeliling kami memperhatikan obrolan kami tidak terkecuali Dian bedanya tatapan Dian sangat sinis padaku dan aku menyadarinya. “Tapi dua puluh menit lagi saya ada meeting, tidak apa-apa kamu pergi sendiri?” “Tidak apa-apa, aku bisa naik taxi mas kebetulan tadi pagi aku pergi kesini ikut ke mobil Mella.” “Kalau begitu kamu pergi diantar supir saja.” “Ran.. To..” Ucapan mas Andre terhenti karena ucapanku. “Tidak perlu mas, aku pergi naik taxi saja lagipula aku belum tahu berapa lama aku disana kasian supirnya kalau harus menunggu terlalu lama.” “Baik lah, ya sudah kamu kabari saya posisi kamu dimana, kalau meeting selesai dan kamu masih disana nanti saya menyusul.” “Oke mas.” “Saya pergi meeting dulu, kamu hati-hati.” “Iya.” Kemudian mas Andre keluar dari ruangan, sesaat setelah mas Andre keluar teman-teman kerjaku kompak menggodaku. “ciie... Cieee” Aku tertawa melihat ulah mereka, setelah itu aku pamit pergi kepada mereka semua. Aku duduk di lobby hotel menunggu taxi online yang aku pesan datang, tapi setelah beberapa lama taxi yang ku pesan tak kunjung datang akhirnya aku putuskan menunggu di area parkir hotel. Aku berdiri sambil memainkan HP, posisi pandanganku tertunduk, tiba-tiba didepanku aku melihat sepasang sepatu laki-laki. Ku arahkan pandanganku keatas, ke wajah si pemilik sepatu itu. “Fel.” Aku terkejut dengan apa yang aku lihat dihadapanku, ternyata Ferdi sudah berdiri didepanku. Aku mencoba menghindar dengan melangkahkan kakiku kearah samping agar wajahku tidak berhadapan langsung dengannya. “Ayo ikut aku sebentar, ada yang harus kita bicarakan.” “Sudah tidak ada hal yang harus kita bicarakan Fer, stop.. Aku tidak mau ada kesalahpahaman jika Caroline melihat kita.” “Aku dengar kamu akan menikah dengan laki-laki itu, benar?” “Iya, jadi tolong jangan ganggu aku lagi. Aku tidak mau calon suamiku salah mengartikan jika dia melihat kita bersama.” “Tapi kenapa Fel? Aku yakin didalam hatimu masih ada aku.” “Stop Fer.. Harus berapa kali aku katakan kalau kamu sedikitpun sudah tidak ada di dalam hatiku, lagipula kamu sudah menikah hargai perasaan istrimu.” Sementara itu dari arah lobby pak Randi berjalan ke arah parkiran dan tidak sengaja melihat aku dan Ferdi sedang berdebat, Pak Randi menghampiriku. “Mba Feli, bukannya tadi mau pergi?” “Iya pak, saya sedang menunggu taxi yang saya pesan datang, kalau pak Randi kenapa disini? Bukannya tadi ada meeting?” “Oh, pak Andre meminta saya mengambil berkas yang tertinggal di mobil beliau. Kalau begitu saya temani mba Feli sampai taxi nya datang.” Aku yang terbiasa untuk sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain kali ini ini langsung mengiyakan tawaran pak Randi. “Baik pak, Terima kasih.” Ferdi yang menyadari maksudku pergi meninggalkan aku dan pak Randi, tak lama setelah Ferdi pergi taxi yang aku pesan datang. Aku masuk ke dalam taxi sedangkan pak Randi menuju mobil mas Andre untuk mengambil berkas yang tertinggal. *** Sementara diruang meeting mas Andre menunggu kedatangan pak Randi membawa berkas yang tertinggal. Tak lama pak Randi masuk kedalam ruangan, menyerahkan berkas itu kepada pak Andre tapi sambil membungkuk pak Randi membisikan sesuatu pada mas Andre. “Maaf pak, tadi saya lama karena menemani mba Feli sampai taxi yang dipesan datang.” “Waktu saya keluar, saya melihat laki-laki bernama Ferdi berbincang dengan mba Feli diarea parkir.” “Tapi sekarang mba Feli sudah pergi menggunakan taxi.” Mas Andre hanya mengangguk mendengar apa yang disampaikan pak Randi. Setelah mendengar apa yang pak Randi sampaikan, mas Andre terlihat gusar dia tampak tak tenang akhirnya dia mempersingkat meeting nya hari ini. Dia bergegas keluar ruang meeting dan berusaha menghubungiku untuk menanyakan dimana posisiku sekarang. Berkali-kali dia mencoba menelepon tapi tidak terjawab olehku karena HP ku didalam tas dan aku menggunakan mode getar. Terlihat mas Andre mulai cemas karena tidak mengetahui posisiku dimana sekarang, dia berjalan ke arah lobby hotel. “Randi, kamu handle dulu urusan disini, reschedule jadwal meeting siang ini ke besok.” “Baik pak.” Randi berjalan kembali ke ruang kerjanya sedangkan mas Andre berjalan ke parkiran hotel. *** Taxi yang aku tumpangi berhenti tepat diparkiran pemakaman ibu. Tak lama dari taxi itu pergi ada mobil berhenti tepat dihadapanku. “Lagi-lagi Ferdi.” gumamku. Ferdi turun dari mobilnya dan menghampiriku. “Fer, stop aku merasa tidak nyaman dengan apa yang kamu lakukan padaku.” “Aku tidak akan pergi sebelum kamu bicara denganku.” Ancam Ferdi. “Apalagi yang ingin kamu bicarakan? Bukankah sudah jelas kukatakan? Hubungan kita sudah berakhir.” “Please Fel, aku sangat menyesal dengan apa yang sudah aku pilih, seharusnya aku memperjuangkan kamu walau ayah kamu membatalkan perbodohkan kita.” “Stop Ferdi, saya minta dengan sangat jangan ganggu saya lagi.” Aku berlari masuk kedalam area pemakaman, dan Ferdi mengikutiku. Tiba-tiba aku merasa ada yang memegang tanganku dari belakang, walaupun kondisi pemakanan sepi aku mencoba berteriak berharap ada yang mendengar dan mau menolongku. Saat aku akan membuka mulutku untuk meminta tolong aku mendengar namaku di panggil oleh suara yang sangat aku kenal. “Mas Andre.” Aku langsung memeluknya. Flashback Mas Andre merasa putus asa karena belum berhasil menghubungiku, entah sudah berapa kali dia mencoba menelponku tapi tetap tidak aku jawab. Dia hanya berdiri bisa berdiri didepan mobilnya sambil terus berusaha menghubungiku, tiba-tiba dia teringat Mella. “Mungkin Mella tahu dimana lokasi pemakaman ibu Feli.” ucap mas Andre dalam hati. Dia langsung berlari masuk kedalam hotel dan mencari Mella di ruangannya. Saat itu kondisi ruangan kerja Mella ramai, mas Andre langsung mendekat ke arah Mella yang sedang mengerjakan pekerjaannya. “Mella, bisa kita bicara sebentar?” Mella menoleh ke sumber suara. “Boleh pak, ada yang bisa saya bantu.” Mas Andre mengajak Mella keluar ruangan untuk berbicara dengannya disana. “Mella, kamu tahu dimana lokasi pemakaman ibu Felicya?” Mella mencoba mengingat apa yang aku katakan tadi pagi, untungnya saat perjalanan ke kantor di mobil aku bercerita ke Mella bahwa siang ini aku akan ke TPU Teratai untuk mengunjungi makam ibu. Setelah Mella mengingat nama pemakaman itu dia langsung memberitahukan nya pada mas Andre. Tanpa mengucapkan sepatah katapun mas Andre berlari meninggalkan Mella yang masih berdiri diam karena merasa bingung dengan apa yang terjadi di depannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN