Di TPU Teratai.
“Kamu kenapa?” tanya mas Andre padaku.
Aku memperhatikan sekitar memastikan apakah Ferdi masih mengikuti atau tidak, tapi aku tidak menemukannya mungkin dia sudah pergi begitu melihat ada mas Andre disini.
“emm.. Tidak apa-apa mas."ucapku gugup.
Aku memutuskan tidak menceritakan kepada mas Andre kalau Ferdi tadi mengikutiku, aku takut mas Andre salah paham kepadaku.
“Kamu kenapa disini? Bukannya ada meeting?” Tanyaku.
“Iya, meetingnya sudah selesai jadi saya kesini karena ingin ikut denganmu mengunjungi makam ibu kamu.”
“Tapi bagaimana kamu bisa tahu lokasi pemakaman ibuku?”
“Saya tanya ke Mella, tadi saya coba menghubungimu tapi kamu tidak menjawab.”
“Maaf mas, HP nya aku silent.”
Aku dan mas Andre menuju makam ibu, sesampainya disana aku melihat diatas makam ibu ada taburan bunga yang masih tampak baru dan kondisi tanah yang masih basah, mungkin sebelum aku datang kesini ada orang lain yang mengunjungi makam ibu.
“Pasti ayah baru dari sini, mungkin ayah memberitahukan ke ibu kalau sebentar lagi aku akan menikah.” gumamku dalam hati.
Aku dan mas Andre berdoa untuk ibu. Setelah berdoa aku berbicara dalam hatiku pada ibu.
“Ibu, apa kabar ibu disana?”
“Feli baik-baik disini bu, hari ini aku tidak datang sendiri, aku datang dengan laki-laki yang akan menjadi suamiku.”
“Namanya Andre Tanuwijaya, Selasa depan kami akan menikah bu, semoga suami aku sayang padaku seperti ayah sayang pada ibu. Semoga aku bahagia bersama keluarga kecilku nanti supaya ibu juga bisa ikut bahagia melihat aku dari sana.”
Setelah kami berdoa untuk ibu, mas Andre merangkulmu dan mengajakku pulang.
***
Di dalam mobil.
“Fel, persiapan pernikahan kita sudah selesai nanti kita menikah di Villa keluarga ku.”
Aku hanya mengangguk.
Selama perjalanan kami terus berbincang tentang persiapan pernikahan, sampai tak terasa kami sudah tiba di kostanku, karena mas Andre ada urusan pekerjaan lagi dia hanya mengantarku sampai gerbang kost. Sesampainya didalam kamar kost aku mulai menyicil merapikan barang-barangku karena setelah menikah aku kan tinggal dirumah mas Andre.
Dimulai dari merapikan baju-baju yang ada didalam lemari satu persatu aku masukkan kedalam koper, aku susun barang-barangku yang lain agar waktu aku pindah semuanya sudah siap.
Aku tidak menyangka kalau ternyata aku tinggal dikost ini hanya dalam waktu singkat, saat pertama kali pindah aku pikir akan menetap disini untuk waktu yang lama, tetapi Tuhan berkehendak lain dalam waktu singkat Tuhan pertemukan aku dengan mas Andre yang akhirnya akan menjadi suamiku.
Sebenarnya aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, dalam waktu singkat aku berani mengambil keputusan menerima pinangan orang yang belum aku kenal dengan baik, bahkan aku lebih menganal mas Andre hanya berdasarkan cerita orang disekitar.
Semenjak aku memutuskan untuk menerima mas Andre aku perhatikan sikapnya sangat baik padaku, aku berharap setelah kami menikah kami bisa hidup bahagia, aku berharap mas Andre bukan hanya sebagian suami tapi bisa menjadi sosok ayah yang selama ini aku rindukan. Sosok yang bisa melindungi aku dengan baik, karena selama beberapa tahun kebelakang semenjak hubungan aku dengan ayah memburuk selama itu juga aku berjuang sendiri tanpa ada sosok ayah yang mendampingi.
Akhirnya setelah berjam-jam semua barang sudah aku rapikan, karena kelelahan tanpa sadar aku tertidur.
Aku sedang duduk ditaman penuh bunga, saat itu kondisi taman gelap, hanya ada sedikit cahaya kecil. Dari arah depan muncul cahaya terang yang semakin mendekat ke arahku, ada sesosok wanita berjalan mendekat diiringi cahaya putih terang. Sosok wanita itu jalan perlahan mendekatiku, aku tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu karena terhalang silau cahaya terang itu, kucoba memastikan siapa sosok wanita itu.
Dia semakin mendekat, samar-samar wajah wanita itu mulai terlihat.
“Ibu.” ternyata wanita itu ibuku.
Ibu mendekat dan tersenyum manis padaku, tanganya membelai rambutku dengan lembut, mengelus pipiku dengan kedua tangannya, mengecup keningku, dan menepuk lembut punggungku.
“ibuu.” aku mencoba memanggilnya tapi ibu tidak menjawab. Ibu hanya tersenyum padaku, berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya berlalu menjauh dengan senyum manis.
Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku, ternyata tadi aku bermimpi.
Aku menangis karena bahagia, semenjak kepergian ibu belum sekalipun ibu hadir dalam mimpiku tapi malam ini ibu hadir disaat aku akan memulai hidup baru.
Aku berharap mimpi ini pertanda bahwa ibu sudah memaafkan kesalahanku dan memberi restu untuk pernikahan aku dan Mas Andre.
***
Hari ini adalah hari pernikahanku, aku duduk di cermin memandang wajahku yang sedang dirias. Hari ini akan menjadi babak baru dalam hidupku, menjadi seorang istri dari mas Andre.
Aku akan merasakan apa yang ibuku jalani dulu, dulu aku sangat senang ketika melihat ibu menyiapkan makanan untuk ayah, membuatkan ayah secangkir teh, menemani ayah mengobrol, menunggu ayah pulang kerja dan hal-hal lain yang selayaknya seorang istri lakukan untuk suaminya. Dan setelah hari ini aku akan melakukan hal itu.
Para tamu sudah duduk ditempat mereka masing-masing, mas Andre duduk dihadapannya sudah ada penghulu yang akan menikahkan kami. Dengan langkah perlahan aku berjalan didampingi Mella. Kehadiranku disambut oleh tamu yang datang, mas Andre berdiri saat menyadari aku mulai mendekat kearahnya, tampak tatapan hangat dimatanya, dia mengulurkan tangannya dan membantuku saat aku akan duduk.
Pernikahan kami digelar sangat sederhana apalagi untuk orang seperti mas Andre. Pernikahan kami hanya dihadiri oleh beberapa orang terdekat saja bahkan keluarga dari kami tidak ada satupun yang bisa hadir.
Aku memperhatikan tamu yang hadir tak satupun anggota keluargaku berdiri disana, pernikahan yang seharusnya menjadi moment saling memperkenalkan keluarga kedua pengantin justru di pernikahan kami itu tidak terjadi. Aku yang seharusnya didamping ayah justru harus melewati moment ini sendiri lagi. Aku teringat saat pernikahan Ferdi dan Caroline ayah tampak gagah dan tersenyum bahagia diatas pelaminan tapi justru di pernikahan anak kandungnya sendiri ayah tidak hadir.
Aku menahan sekuat tenaga agar air mataku tidak tumpah di acara yang seharusnya membuatku bahagia, tapi setelah kata sah terdengar air mata itu tak terbendung lagi, aku menangis. Mas Andre yang melihatku menangis langsung menggenggam tanganku dan mengusap air mata di pipiku.
Mas Andre menggandeng tanganku menuju pelaminan saat kami telah dinyatakan sah sebagai suami istri, tamu yang datang bergantian memberikan selamat kepada kami bedua. Aku dan mas Andre duduk di pelaminan sedangkan para tamu menikmati jamuan makanan yang dihidangkan.
Pak Randi menghampiri mas Andre dan berbisik padanya, tak lama pak Randi pergi.
“Fel, saya harus pergi. Ada masalah yang harus saya urus.” Ucap mas Andre.
“Tapi ini pernikahan kita mas, memang ada masalah apa sampai kamu harus pergi?” Tanyaku cemas.
Mas Andre tidak menjawab pertanyaanku dan bergegas pergi meninggalkanku, aku berusaha mengejarnya. Pak Randi didepan villa sudah berdiri dan membukakan pintu mobil saat mas Andre datang. Mas Andre pergi mengendarai mobilnya dengan cepat.
“Mas.. Mas.. mas Andre..”
Aku berlari mencoba mengejarnya sambil terus memanggil namanya tapi mobil itu semakin menjauh.
“Pak Randi, ada apa? Kenapa mas Andre pergi begitu saja? Apa yang terjadi dengannya pak?”
Aku mencoba mencari informasi melalui pak Andre tapi dia tidak menjawab, pak Randi mengatakan tidak mengetahui kenapa dan kemana mas Andre pergi. Aku merasa ada yang ditutupi oleh mas Andre dan tidak mungkin pak Randi tidak mengetahuinya, jelas-jelas mas Andre pergi setelah pak Randi berbisik padanya.
Acara resepsi masih berlangsung dan tamu undangan masih ada aku kembali ke pelaminan dengan diantar pak Randi, berkali-kali kucoba menelpon mas Andre tapi tetap tidak mendapat jawaban, sampai satu persatu tamu undangan pergi aku masih belum mengetahui mas Andre kenapa dan dimana.
Di kursi pelaminan aku termenung, pak Randi menghampiriku.
“Bu Feli, sebelum pergi pak Andre meminta saya mengantar ibu ke Villa pak Andre. Letaknya tidak jauh dari sini.”
“Apa mas Andre ada disana pak Randi?” aku bertanya pada pak Randi dan berharap jawaban iya dari pak Randi ternyata dia mengatakan bahwa mas Andre hanya memintanya mengantarku kesana tapi ada atau tidaknya mas Andre disana dia tidak tahu.
Ku usap air mataku dan bergegas mengikuti langkah pak Randi, aku berharap mas Andre sudah menungguku disana.
Mobil pak Randi berhenti disebuah bangunan megah berwarna putih dengan pilar besar, pintu gerbang menjulang tinggi. Pak Randi membukakan pintu mobil untukku.
“Silahkan bu, saya antar ke dalam.”
“Mas Andre ada disini kan pak?” aku masih menanyakan hal yang sama pada pak Randi.
Pak Randi menggelengkan kepala.
“Lalu mas Andre ada dimana? Dia baik-baik saja kan?”
“Pak Andre baik-baik saja bu, jadi ibu tidak perlu khawatir. Lebih baik ibu masuk dan menunggu didalam.”
Kami berjalan menuju pintu, pak Randi menekan bel. Pintu terbuka kemudian dari dalam rumah keluar perempuan muda, jika aku perhatian mungkin usianya beberapa tahun lebih muda dariku
“Silahkan masuk mba Feli.”
Ternyata perempuan muda itu mengenaliku, pak Randi memperkenalkan perempuan itu padaku, dia asisten rumah tangga mas Andre bernama Mirna.
“Mirna, kamu ajak bu Feli masuk dan antar ke kamarnya.”
“Baik Pak Randi, memangnya mas Andre kemana? Istrinya malah ditinggal dihari pernikahannya.”
Karakter Mirna yang ceplas ceplos membuat dia tidak memikirkan perasaanku saat berbicara, pak Randi memberi isyarat untuk hati-hati saat berbicara.
“Maaf-maaf mba Feli, tapi mas Andre memang sepeti itu orangnya yang dipikirin hanya kerjaan saja, jadi mba Feli jangan sedih tenang ada Mirna disini. Ayo kita masuk mba.” Ucap Mirna berusaha menghiburku.
“Saya pamit bu, kalau butuh apa-apa bu Feli bisa minta ke Mirna atau kalau butuh bantuan saya silahkan telepon saya.”
Kemudian pak Randi pamit, sedangkan aku dan Mirna masuk kedalam rumah.
“Mba Feli ini kamarnya, kalau butuh sesuatu Mirna ada dikamar belakang ya mba.”
“Iya Mirna, Terima kasih ya.”
“Sama-sama mba, lebih baik mba Feli istirahat dulu dikamar.”
Mirna pergi ke kamarnya sedangkan aku masuk ke kamarku. Aku terus menghubungi mas Andre tapi tetap tidak mendapat jawaban. Kucoba berbaring diatas ranjang dengan keadaan masih menggunakan gaun pengantin, beberapa kali kucoba berganti posisi tapi mata ini tetap sulit terpejam. Aku tidak menyangka dihari pernikahanku justru aku ditinggal oleh suamiku saat resepsi masih berlangsung bahkan dimalam pertama aku harus tidur sendiri dan tidak tahu dimana suamiku saat ini.
***
Sementara itu, dirumah sakit Singapore Andre sedang menemani perempuan yang tertidur diranjang rumah sakit, perempuan itu terus menggenggam tangan Andre dengan erat. Andre terus mengusap lembut rambut dan pipi perempuan itu. Seorang suster dan dokter memasuki ruangan untuk memeriksa kondisinya.
Andre berdiri sambil memperhatikan dokter yang memeriksa, setelah dokter memeriksa dia berbincang dengan Andre. Dokter mengatakan bahwa sekarang kondisi perempuan itu sudah lebih baik, setidaknya dia sudah lebih tenang dibanding sebelum Andre datang menemuinya.
Dokter menyampaikan ada baiknya malam ini Andre bermalam disini sampai besok pagi untuk memastikan kondisi pasiennya benar-benar stabil.
***
Aku dikamar merasa tidak tenang karena belum mendapat kabar dari mas Andre, kucoba memejamkan mata tapi tetap tidak bisa, akhirnya aku putuskan keluar kamar dan berkeliling villa. Melihat kondisi villa, aku perhatikan tidak ada satu pun foto keluarga yang terpajang di dinding, sebenarnya aku sangat penasaran dengan keluarga mas Andre. Sesekali aku melihat ke arah luar villa berharap mobil mas Andre datang tapi diluar tetap sepi tidak ada tanda-tanda kedatangan mobil mas Andre.
Aku duduk di ruang tamu sambil terus mencoba menghubungi mas Andre, karena putus asa aku coba menghubungi pak Randi untuk memastikan apa mas Andre menghubunginya.
“Hallo bu Feli.” ucap pak Randi saat mengangkat telepon dariku.
“Hallo pak Randi, maaf sekali saya ganggu malam-malam. Apa sudah ada kabar dari mas Andre pak? Apa dia menghubungi pak Randi?”
Pak Randi yang mendengarkan ucapanku pasti dapat merasakan rasa cemas dari caraku berbicara sehingga dia berusah menenangkanku.
“Pak Andre belum menghubungi saya bu, tapi saya yakin pak Andre baik-baik saja jadi lebih baik ibu istrahat. Semoga besok pagi pak Andre sudah pulang.”
Aku yang merasa kecewa dengan jawaban pak Randi sedikit merasa tenang setelah pak Randi menyampaikan bahwa mas Andre pasti dalam keadaan baik-baik saja, akhirnya aku mengucapkan terimakasih kepada pak Randi dan menutup teleponnya. Suasana di luar villa sangat sepi, aku memandang keluar dari jendela ternyata hujan turun dengan deras.
Saat aku sedang sibuk dengan lamunan memikirkan mas Andre tiba-tiba dari belakang Mirna mengagetkan ku.
“Mba Feli kenapa belum tidur?”
Aku tersenyum padanya.
“Aku sedang menunggu mas Andre Mir, kenapa mas Andre belum pulang juga ya sampai sekarang.” ucapku dengan mimik wajah cemas.
“Mba Feli, mas Andre itu dari dulu memang seperti itu, selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan dulu pernah berhari-hari tidak pulang karena terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya jadi Mba Feli tidak perlu cemas. Pasti mas Andre baik-baik saja, lebih baik Mba Feli tidur.”
“Tapi aku tetap merasa tidak tenang Mir sampai aku dapat kabar dari mas Andre dan memastikan kondisinya baik-baik saja.”
“Mba Feli sudah coba menanyakan pada pak Randi? Siapa tahu mas Andre menghubungi pak Randi.”
“Sudah Mir, tapi pak Randi juga belum dapat info apapun.”
Akhirnya karena Mirna merasa kasian padaku dia menemaniku duduk untuk menunggu mas Andre pulang, sambil menunggu kami berbincang sebentar. Dia menceritakan tentang awal mula dia berkerja di kelurga mas Andre, aku merasa mungkin Mirna bisa memberikan informasi tentang kelurga mas Andre padaku. Aku mencoba menanyakan tentang beberapa hal padanya tapi entah kenapa aku merasa seolah Mirna menutupi dengan menghindari pertanyaan dariku dan justru mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain.
Mungkin Mirna semakin kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang aku lontarkan akhirnya dia permisi padaku untuk masuk ke kamarnya dengan alasan sudah mengantuk.
Setelah Mirna pergi mungkin karena kelelahan tanpa aku sadari aku tertidur di sofa dengan posisi duduk.
***
Sementara itu di rumah sakit, Andre duduk memandang wajah perempuan yang tertidur lelap dengan posisi tangan menggenggam tangan Andre.
Pagi harinya dokter mengatakan bahwa kondisi pasiennya sudah stabil, setelah memastikan semuanya baik-baik saja Andre memutuskan pulang, dia menghubungi Randi untuk menjemputnya di bandara.
Sesampainya di bandara Andre mencari sosok Randi yang dia tugaskan untuk menjemput dirinya kerana mobil yang dia gunakan ke bandara sudah supir ambil dan dibawa ke kantornya. Andre memperhatikan sekitar tapi tidak juga menemukan sosok yang dia cari.
“Pak, maaf saya terlambat.”
Randi muncul dari arah belakang Andre dan membuat Andre terkejut.
“Oke, tidak apa-apa.”
Andre dan Randi berjalan ke parkiran bandara, sesampainya di parkiran Randi membukakan pintu mobil untuk Andre kemudian mobil Randi melaju meninggalkan parkiran bandara. Di dalam mobil Randi, mereka berbincang membahas pekerjaan.
“Pak dari kemarin bu Feli bertanya tentang bapak, sepertinya bu Feli tidak tenang karena tidak mendapat kabar kondisi pak Andre setelah pergi dari acara pernikahan.”
“Menurut Mirna, bu Feli semalaman menunggu kepulangan pak Andre di ruang tamu sampai tertidur di kursi.” Ucap Randi melaporkan kondisiku pada atasannya. Andre tidak merespon ucapan yang Randi sampaikan, dia hanya sibuk membaca berkas pekerjaan yang Randi bawa.
“Randi, kamu fokus saja ke jalanan.” ucap Andre tegas.
Randi yang sudah sangat mengenal watak atasannya menyadari bahwa atasannya tidak suka dengan apa yang dia katakan.
“ Baik pak.”
“Antarkan saya ke Villa, saya hari ini tidak ke kantor. Suruh supir kantor mengantarkan mobil saya ke vila dan kamu handle dulu pekerjaan saya.”
“Baik pak.”
Mobil Randi terus melaju ke arah Villa.
***
Di vila aku masih merasa tak tenang karena masih belum mendapatkan kabar dari mas Andre, melihat ke arah luar vila berharap mas Andre datang. Mirna yang melihatku masih tidak tenang menghampiriku.
“Mba Feli, ayo sarapan dulu dari semalam mba Feli tidak makan.”
“Terima kasih Mirna, tapi saya mau menunggu sampai mas Andre datang dulu.”
“Mba, mas Andre tidak perlu ditunggu nanti kalau pekerjaannya sudah selesai pasti pulang.”
Mirna mencoba menenangkanku.
Saat aku dan Mirna masih berbincang dari luar terdengar suara mobil datang, aku berlari dan melihat dari kaca jendela berharap yang datang mobil mas Andre. Ternyata aku salah mobil pak Randi yang datang, aku bergegas keluar, dari jendela kulihat pintu belakang mobil terbuka ada sosok yang keluar dari dalam mobil.
“Mas Andre.”
Aku langsung berlari keluar untuk membukakan pintu. Kubuka pintu rumah dan berlari menyambut kedatangan mas Andre. Dia langsung berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan aku yang masih berdiri diluar rumah sedangkan Pak Randi dan Mirna memperhatikan kami berdua.
Aku mengejar mas Andre yang masuk ke dalam kamar.
“Mas, kamu kemana saja?? Aku cemas memikirkan kamu, kenapa kamu tidak memberi kabar kepadaku?”
Mas Andre tidak menjawab pertanyaanku, aku tidak mengerti kenapa sikap mas Andre tiba-tiba berubah padaku.
“Mas?”
Dia masih mengabaikan ucapanku dan bergegas masuk ke kamar mandi. Aku terdiam, berpikir kesalahan apa yang sudah aku perbuat sehingga membuat mas Andre berubah.
Mas Andre membuka lemarinya dan berganti baju sedangkan aku duduk dipinggir kasur melihat apa yang mas Andre lakukan, sesekali dia menoleh ke arahku dengan tatapan datar. Aku bingung harus berbuat apa.
Sosok dihadapanku sangat berbeda dengan sosok yang aku kenal sebelum pernikahan digelar.
Setelah mengganti bajunya mas Andre langsung berbaring diatas ranjang, aku hanya terdiam.
***