BAB 8 / Pisah Kamar

2120 Kata
Pagi harinya mas Andre sudah bersiap ke kantor, aku mengajaknya sarapan semua makanan sudah tersaji diatas meja tapi dia menolak dengan alasan tidak mau terlambat datang di kantor. Dia mengatakan bahwa nanti siang akan ada supir yang menjemputku dan Mirna, supir itu yang akan mengantar kami pulang ke rumah sementara mas Andre akan keluar negeri beberapa hari untuk urusan bisnisnya. Sebagai istri aku hanya menuruti perintahnya, dia pergi setelah aku mencium tangannya. *** Mobil kami berhenti setelah memasuki rumah megah, bangunannya tak kalah mewah dibandingkan villa mas Andre. Mirna langsung keluar mobil dan memanggil Agus, dia adalah satpam mas Andre. Mirna memperkenalkanku pada Agus dan memintanya membantu membawakan barang-barang yang kami bawa, awalnya aku berniat membantu tapi Mirna langsung melarang dan memintaku mengikuti langkahnya. Di halaman rumah tanaman dan bunga-bunga indah bermekaran, melihat itu aku teringat pada ibu. Dulu ibu sangat senang merawat tanaman dan bunga di halaman rumah kami. Bangunan dihadapanku tampak berdiri tegak dengan pilar tinggi, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana suksesnya mas Andre. Pintu rumah terbuka, aku mengikuti langkah Mirna. Saat masuk ke dalam rumah aku perhatikan sekeliling rumah, interior rumah tampak mewah walau dengan gaya minimalis dan yang membuatku senang ternyata dinding banyak dihiasi lukisan indah, karena dulu aku senang melukis aku dapat mengenali lukisan ini, bahkan beberapa diantaranya dilukis oleh pelukis terkenal, harga lukisannya pun pasti sangat mahal salah satu lukisan bahkan bernilai milyaran, aku tahu karena lukisan itu pernah di lelang untuk acara donasi tapi aku tidak menyangka ternyata mas Andre yang memilikinya. Aku tidak mengira ternyata mas Andre menyukai karya lukis, sambil terus berkeliling rumah aku nikmati suguhan lukisan-lukisan indah, nantinya setiap hari aku bisa memandang lukisan itu padahal dulu membayangkan untuk bisa melihatnya langsung saja terasa mustahil tapi sekarang lukisan itu ternyata dimiliki suamiku. Semenjak kepergian ibu aku tidak pernah berani melukis lagi karena rasa bersalahku tapi kecintaanku pada karya lukis masih sangat besar. Aku terus berkeliling mengitari setiap sudut rumah, dari semua ruangan yang sudah aku datangi tidak ada satupun foto keluarga mas Andre, menurutku aneh rasanya jika keluarga mas Andre tidak pernah melakukan foto untuk keluarga mereka. “Mba Feli, kamar mba Feli dan Mas Andre saya rapikan dulu.” “Iya Mir, terima kasih, maaf merepotkan kamu.” “Tidak apa-apa mba, sudah menjadi tugasku.” Jawab Mirna sambil tersenyum padaku. “Saya masuk ke dalam dulu ya mba.” lanjutnya. “Iya Mir, silahkan.” Mirna berlalu pergi meninggalkanku, aku kembali berkeliling rumah, sampai dibagian belakang aku melihat kolam renang luas dan terdapat vertikal garden yang terlihat indah. Rumah sebesar dan seindah ini aneh rasanya jika hanya ditinggali mas Andre dan pegawainya saja bahkan menurut cerita Mirna karena pekerjaanya mas Andre sendiri jarang pulang ke rumah, rasanya apa yang diceritakan Mirna benar adanya terbukti saat ini bahkan setelah kami menikah dia memilih untuk meninggalkanku sendiri. Saat berkeliling sebenarnya perasaanku masih tidak tenang, aku masih memikirkan perubahan sikap mas Andre padaku. Kami memang belum saling mengenal dengan baik saat memutuskan menikah, aku duduk dipinggir kolam renang sambil terus memikirkan mas Andre tiba-tiba dari dalam tasku terdengar suara handphone, ternyata Mella yang menghubungiku. Aku mengangkat teleponnya dan kami berbincang. “Halo Mel.” “Tidak, aku sudah pulang ke rumah.” Mella terus menggodaku, aku terdiam dan berbicara dalam hati. “Mesra dari mana Mel, justru dari awal aku sah menjadi istri mas Andre dia selalu meninggalkan aku sendiri.” Aku tersadar dari lamunan karena mendengar teriakan Mella yang nyaring. Mella menanyakan kondisiku, sebenarnya bisa saja aku bercerita ke Mella agar bisa mengurangi beban pikiranku tapi aku memilih tidak menceritakannya karena teringat ucapan ibu dulu. Dulu ibu mengatakan padaku bahwa sebagai istri kita harus menutup rapat keburukan suami kita, cukup kita yang tahu. Aku tersadar, setelah Mella kembali memanggil namaku. “Tidak apa-apa Mel, ada apa kenapa kamu menelpon?” “Hah?” Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Mella karena selama ini aku tidak pernah mendengar mereka bertengkar hebat, Mella pernah sesekali bercerita saat mereka berselisih paham tapi aku rasa itu masih hal yang wajar namun baru saja Mella bercerita bahwa hubungan mereka telah berakhir. Mella menceritakan penyebab mereka akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka sekarang, ternyata Heru berselingkuh. Saat Mella menceritakannya memang dia tidak menangis tapi dari suaranya yang bergetar aku bisa merasakan bahwa dia menahan tangisnya, aku berusaha menghiburnya walau aku sendiri tidak yakin berhasil, aku pernah merasakan hal yang sama. Saat dimana Ferdi menjauhiku dan ternyata tak lama justru bertunangan dengan Caroline, itu adalah salah satu bagian terberat dalam hidupku. “Sabar Mel, aku yakin kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dibanding Heru.” Aku mencoba menenangkan Mella. Aku terdiam mendengar ucapan Mella, dimata Mella sosok mas Andre begitu sempurna bahkan Mella menganggap bahwa mas Andre berkali-kali lipat lebih baik dibanding Ferdi nyatanya aku masih belum yakin apakah keputusanku menikah dengan mas Andre adalah keputusan yang tepat. Aku ikut mengamini harapan Mella untukku, harapan agar aku bisa hidup bahagia bersama mas Andre. “Mel, kamu hari ini lihat mas Andre di hotel?” Mendengar pertanyaanku Mella tampak heran karena seharusnya sebagai pengantin baru aku dan mas Andre seharusnya masih menghabiskan waktu bersama. Aku mencoba membela mas Andre dihadapan Mella. “Iya, tapi tidak apa-apa kan kamu tahu kalau mas Andre sibuk sekali, kerjaannya pasti banyak jadi aku tidak masalah kalau mas Ande langsung kerja.” “Oh, ya mungkin mas Andre ke kantor nya yang lain.” Aku masih berusaha membela mas Andre dihadapan Mella. “Aku pernah dengar sih Mel, tapi aku sendiri tidak tahu pasti kerena mas Andre tidak pernah membahas masalah pekerjaan denganku.” Mella menanyakan tentang project perumahan baru yang akan di launching mas Andre. Mella masih terus membicarakan tentang kesibukan mas Andre karena pekerjaannya. Aku memikirkan ucapan Mella, mungkin benar sikap mas Andre berubah karena dia sibuk dengan pekerjaannya atau mungkin dia sedang stress karena masalah pekerjaannya sehingga menyebabkan moodnya buruk dan berimbas kepadaku. Aku coba menerka kemungkinan penyebab sikap mas Andre berubah padaku. Mella melanjutkan ucapannya, kali ini dia bercerita tentang Dian, menurut Mella semenjak mas Andre menikah denganku moodnya berubah, dia sering marah-marah saat di kantor. “Aduh aku jadi merasa bersalah kepada Dian, aku sendiri masih tidak menyangkan dengan semua yang terjadi padaku Mel, aku tahu Dian menyukai mas Andre dan dari awal aku tidak ada niatan untuk menjalin hubungan dengan mas Andre bahkan terpikir sampai menikah.” Mendengar ucapanku Mella berusaha menghiburku dengan mengatakan apa yang terjadi padaku adalah takdir yang sudah Tuhan gariskan. Belum sempat aku menjawab apa yang Mela katakan dia langsung mengatakan harus mengakhiri teleponnya karena harus melanjutkan pekerjaannya. “Boleh Mel, kapanpun kamu mau main boleh.” Akhirnya kami mengakhiri pembicaraan kami di telepon. Aku menyimpan kembali handphone ku didalam tas. *** Setelah kepergian mas Andre untuk urusan bisnisnya hari-hari aku habiskan bersama Mirna, aku membantu Mirna mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, Mirna melarangku membantunya tapi aku bersikeras membantunya untuk mengalihkan pikiran yang sedang membebaniku. *** Sementara itu di ruangan tampak Andre sedang berbincang dengan clientnya, disampingnya ada Randi yang mendampingi. Ternyata saat itu Andre sedang berada di Australia untuk urusan bisnisnya. Dia tampak fokus menyimak persentasi yang clientnya sampaikan. Setelah satu jam berlalu, Andre dan Randi keluar ruangan dan pergi menuju hotel mereka untuk beristirahat. Di perjalanan mereke berbincang. “Randi kamu sudah urus semua keperluan Sarah?” Tanya Andre pada Randi. “Sudah pak, saya sudah urus semuanya, semua biayanya sudah saya urus termasuk proses rencana kepindahannya bulan depan, jadi bulan depan pak Andre bisa langsung jemput Sarah saja.” “Oke, Terima kasih Ran.” Mobil yang mereka kendarai tiba di depan hotel, mereka turun dan Randi menuju resepsionis untuk urus semuanya sedangkan Andre menunggu di lobby hotel. Andre duduk menunggu Randi selesai mengurus semuanya, saat Andre sedang duduk ada perempuan yang menghampirinya, mereka berbincang sampai Randi datang menghampiri Andre. Andre dan Randi berjalan menuju kamar mereka masing-masing untuk beristirahat karena esoknya mereka harus kembali. *** Setelah tiga hari berlalu di halaman rumah tampak mobil mas Andre berhenti, sosok yang sangat aku tunggu-tunggu kehadirannya turun dari mobil sambil membawa koper. Aku yang sedang di dapur langsung berlari ketika mendapat info dari Mirna bahwa mas Andre pulang. Mas Andre berjalan pelan, aku langsung meraih tangannya untukku cium. Kami langsung masuk ke dalam kamar. “Kenapa kamu disini?” ucap Andre dengan nada sinis. Aku terdiam tidak memahami ucapannya. “Maksud mas Andre?” “Ini kamar saya, kamar kamu bukan disini.” Ucap mas Andre yang sontak membuatku sangat terkejut. Aku hanya terdiam, mencoba menerka ucapannya. Cepat bawa semua barangmu keluar dari sini, aku hanya berdiam mematung. Mas Andre melangkah mendekati lemari, dia mengeluarkan pakaianku yang tertata rapih. Aku hanya diam melihat perbuatannya, sesekali dia menatapku dengan tatapan dingin. “Mirna.” Teriak mas Andre. Merasa belum mendapat jawaban dari Mirna dia mengulangi ucapannya. Setelah beberapa kali akhirnya sosok yang dia panggil datang. Mirna berlari dan menghampiri kami berdua, dia tampak terkejut melihat pakaianku berserakan di atas lantai. Aku masih diam dengan tatapan kosong, sesekali Mirna melirik kearahku. “Antar Feli ke kamarnya.” Mirna merasa heran dengan ucapan Andre, kamar mana yang dia maksud? Bukankah ini kamarku. Mirna hanya terdiam, melihat Mirna terdiam tiba-tiba mas Andre memanggilnya dengan suara lantang. Suara Andre langsung menyadarkan lamunannya. “Maksud mas Andre kamar yang mana?” Tanya Mirna polos. “Kamar belakang.” Jawab Andre. “Maksud mas Andre? Kamar kecil di samping kamarku?” Tanya Mirna ragu. “Iya.” Jawab Andre. “Tap…” Ucapan Mirna terhenti saat Andre membentaknya. Aku yang merasa tidak tega melihat mas Andre memarahi Mirna langsung mengambil pakaianku yang berserakan diatas lantai agar bisa segera keluar dari kamar mas Andre. Mirna yang melihatku langsung berinisiatif membantuku. Aku dan Mirna langsung keluar kamar mas Andre, Mirna langsung membimbingku kearah kamar yang dimaksud mas Andre. “Mba ini kamarnya.” Ucap Mirna dengan wajah merasa tak tega. “Iya, terima kasih ya Mir.” Jawabku, aku perhatikan kamar ini, kamarnya berukuran jauh lebih kecil dibanding kamar mas Andre bahkan jika dibandingkan dengan kostan ku dulu kamar ini masih lebih kecil. “Mas Andre ini apa-apaan sih, wong sama istrinya kok tega. Seharusnya mba Feli kan satu kamar dengannya. Kan suami istri, iyakan mba?” ucap Mirna. Aku yang mendengar ucapannya hanya tersenyum “Mba aku bantu merapikan pakaian mba Feli ya?” Ucap Mirna. Aku berterimakasih untuk tawarannya tapi aku menolak dan mengatakan bahwa aku bisa mengerjakannya sendiri dan memintanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Mirna pergi meninggalkanku sendiri di dalam kamar, aku merapikan pakaianku. Sejujurnya aku sangat merasa sedih dengan perlakuan mas Andre padaku. Aku berusaha menahan tangis, tak kusangka dia yang mulanya begitu baik terhadapku langsung berubah sikap sekejam ini padaku. Apa salahku padanya sampai dia tega memintaku untuk keluar dari kamar yang seharusnya menjadi kamar kami berdua. *** Di dalam kamar Andre masih bersiap sebelum pergi ke kantornya, dia sibuk merapihkan pakaiannya. Sementara aku masih sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk mas Andre. Andre keluar kamar, aku langsung menghampirinya dan memintanya untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor tapi lagi-lagi dia menolak. “Saya masih kenyang.” Jawab Andre tanpa menatap wajahku saat menjawab ajakanku. Dia langsung berlalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung, sadar Andre perlahan menjauh aku langsung menuju meja makan untuk mengambil kotak makan yang sudah aku siapkan untuk bekal makan siang Andre. “Mas.. Mas, tunggu.” Aku berusaha menghentikan langkahnya tapi tetap dia abaikan, aku berlari mengejar langkahnya. Setelah berusaha keras, akhirnya langkahnya terhenti. “Ini bekal makan siang mas.” Ucapku sambil memberikan kotak makan yang sudah aku siapkan. “Kamu pikir saya anak sekolah yang harus kamu bekali saat akan pergi?” ucap Andre dengan tatapan sinis. Dia langsung membuka pintu mobilnya, aku memanggilnya lagi. “Apa lagi??” Jawab Andre dengan nada tampak kesal. Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung meraih dan mencium tangannya. Andre tampak terkejut melihat tindakanku. Dia langsung masuk kedalam mobil sedangkan aku masih berdiri sampai mobil Andre tak terlihat dari jangkauan mataku. Di dalam mobil Andre melihatku dari kaca spion di mobilnya. Setelah mobil Andre tak terlihat aku bergegas masuk ke dalam rumah, ternyata dari tadi Mirna melihat perilaku Andre padaku, dia tampak menatapku dengan tatapan sedih. Aku sendiri merasa sangat sedih dengan semua perlakuan mas Andre hari ini padaku, padahal dari pagi aku sudah berusaha menyiapkan semuanya, aku ingin agar mas Andre bisa merasakan makanan yang aku masak sendiri tapi ternyata usahaku sia-sia, dia kembali menolak niatanku. “Mba Feli.” Ucap Mirna menyadarkanku. Aku tersadar dari lamunan dan berusaha menutupi kesedihanku dari Mirna tapi tampaknya Mirna bisa melihat raut wajah sedih yang sedang aku rasakan. “Mba, mas Andre itu memang seperti itu orangnya, dia kan galaknya minta ampun mba. Jadi mba tidak perlu memikirkan ucapannya.” Ucap Mirna berusaha menghiburku. Aku hanya membalas dengan senyuman. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN