BAB 9 / Perhatian Kecil Andre Padaku

2134 Kata
Di rumah Caroline. Caroline sedang duduk menunggu kepulangan Ferdi. Tak lama Ferdi datang, Caroline langsung memeluk Ferdi. “Fer, kenapa baru pulang?” “Tadi ada meeting dengan client.”Jawab Ferdi singkat. “Kita makan ya, aku sudah siapkan makan malam untuk kita.” “Kalau kamu mau makan duluan saja, saya mau mandi dulu.” “Kalau begitu aku tunggu kamu saja sayang.” Ferdi bergegas pergi meninggalkan Caroline. *** Aku terbangun setelah mendengar suara alarm, seteleh sholat dan semuanya rapi aku berniat keluar kamar untuk menyiapkan sarapan untuk mas Andre tapi tiba-tiba handphone ku berbunyi, aku melihat siapa yang menelpon ku pagi-pagi. Di layar handphone muncul nomer yang tidak aku kenal, karena takut panggilan penting akhirnya aku memutuskan untuk menerima panggilan itu. “Halo?” Aku mengenali pemilik suara itu. “Ferdi.” “Ferdi, tolong stop!!” “Fer, berapa kali sudah saya katakan hubungan kita sudah berakhir, kita sudah punya pasangan masing-masing jadi tolong kamu stop hubungi saya, saya tidak mau ada kesalahpahaman karena kamu terus berusaha menghubungi saya.” Tanpa aku sadari ternyata di luar kamar mas Andre mendengar pembicaraanku dengan Ferdi di telepon, wajahnya terlihat kesal. Sementara aku masih mendengarkan Ferdi, Setelah mendengar ucapan Ferdi aku langsung mematikan teleponnya. *** Dari luar kamar. “Loh kok mas Andre ada disini?” tanya Mirna pada Andre. Pertanyaan Mirna sontak membuat Andre terkejut, padahal dia tidak ingin aku menyadari ada dia disini. Aku di dalam kamar mendengar suara Mirna menyebut nama mas Andre, aku langsung keluar kamar. “Mas?” Aku bicara dalam hati. “Apa mas Andre mendengar pembicaraan ku dengan Ferdi di telepon tadi?” gumamku dalam hati. Mas Andre menatapku, dari tatapannya aku merasa mas Andre mendengar pembicaraan kami sehingga aku putuskan untuk coba menjelaskan apa yang terjadi pada mas Andre. “Mas, mungkin kamu tadi dengar aku berbicara di telepon dengan Ferdi, tadi Ferdi yang meneleponku mas, aku sudah berusaha menghindarinya tapii..” Belum sempat aku melanjutkan penjelasanku tentang Ferdi mas Andre memotong ucapanku. “Cukup! Saya tidak menanyakan apa yang sedang kamu lakukan tadi jadi kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa pada saya.” “Baca.” Mas Andre menyerahkan secarik kertas padaku kemudian melanjutkan ucapannya. “Itu adalah daftar pekerjaan yang harus kamu kerjakan setiap hari, ingat setiap hari!! “ “Dan kamu Mirna jangan sekali - kali kamu coba menolong Feli.” Ucap Andre pada Mirna. Kami hanya terdiam mendengarkan apa yang mas Andre katakan. Aku membaca kertas yang diberikan mas Andre padaku, ternyata sudah tertulis berbagai pekerjaan rumah yang harus aku lakukan, sebenarnya tanpa mas Andre minta sebagai seorang istri aku pasti akan melakukan pekerjaanku tapi dengan sekarang mas Andre memberikan daftar kerja padaku aku merasa mas Andre bukan memposisikan aku sebagai istrinya tapi sebagai karyawannya. “Felli, kamu paham apa yang saya katakan tadi?” Aku mengangguk, sebenarnya aku merasa sangat sedih dengan tindakan yang mas Andre lakukan, aku tidak menyangka jika aku kembali diabaikan. Dulu ayahku yang selalu mengabaikanku sekarang mas Andre suamiku sendiri melakukan hal yang sama. Mas Andre berjalan meninggalkan aku dan Mirna yang masih berdiri di depan kamarku. “Sabar mba Feli.” Mirna menenangkanku sambil mengelus pundakku, aku tersenyum padanya. Aku berusaha mengejar langkah mas Andre yang berjalan didepanku. “Mas, kamu mau sarapan apa? Hari ini kamu mau aku masakkan apa?” Mas Andre langsung menolak, dia mengatakan jika aku tidak perlu memasak untuknya karena pasti dia tidak akan memakannya. Aku terus mengikuti langkah mas Andre sampai dia masuk kedalam kamarnya, di banting pintu kamar dengan keras saat aku berada tepat didepannya. Aku mencoba menahan tangisku, saat aku menikah aku bertekat untuk hidup bahagia dengan mas Andre jadi aku harus bertahan dengan semua perlakukan mas Andre padaku, aku yakin suatu saat nanti mas Andre akan kembali bersikap baik padaku, aku yakin mas Andre seperti ini bukan karena dia benci padaku tapi pasti dia sedang stress dengan pekerjaannya dan aku sebagai istrinya harus memaklumi, aku berusaha menenangkan hatiku sendiri. *** Di ruang tamu. Aku sedang membersihkan kaca, karena kaca jendela sangat tinggi aku berdiri di atas tangga untuk memudahkan aku menjangkau kaca saat membersihkannya. Dari kejauhan ternyata mas Andre memperhatikanku, dia tersenyum puas karena telah berhasil membuat aku kesusahan. Aku yang kesulitan menjangkau ujung kaca mencoba berdiri lebih tinggi diatas tangga, tiba-tiba tangga ini bergeser dan aku terjatuh ke lantai awalnya mas Andre yang melihat itu berniat menolongku tapi dia mengurungkan niatnya dan hanya memperhatikanku dari kejauhan. Aku berusaha bangkit dari lantai, kakiku terasa sakit dan ternyata kakiku bengkak. Sekuat tenaga aku berusaha bangkit dan merapikan tangga yang jatuh tadi, kemudian aku duduk di kursi. Ternyata kakiku memar, aku elus lembut kakiku mencoba menahan sakit tiba-tiba mas Andre memanggilku. “Feli.. Feli.” Dia berteriak memanggilku, aku berusaha berjalan secepat mungkin tapi karena kakiku memar aku kesulitan melangkahkan kakiku dengan cepat, kembali mas Andre berteriak padaku. “Felliii” “Iya mas.” Aku paksakan untuk berlari walaupun sebenarnya kakiku terasa sangat sakit. “Kamu kalau saya panggil cepat datang, lama sekali.” “Maaf mas, tapi kak..” Ucapanku dipotong olehnya. “Buatkan saya kopi.” Sebenarnya aku ingin menjelaskan padanya bahwa kakiku memar karena terjatuh tadi tapi aku pikir dia tidak peduli dengan kondisiku karena dengan aku berjalan pincang saja dia tidak menanyakan kenapa dengan kakiku. Aku berjalan perlahan menuju ke arah dapur. “Cepat yaa!!!” teriak mas Andre. “Iya mas.” Aku berusaha melangkahkan kaki lebih cepat walaupun kakiku semakin terasa sakit. Dari lantai atas Mirna memperhatikan aku dan mas Andre, dia bicara dalam hati. “Kasian sekali mba Feli, mas Andre ini kok tega sekali ke istrinya.” Sesampainya di dapur aku mengambil kopi, gula, dan cangkir air aku seduh kopinya kemudian perlahan aku bawa kopi itu ketempat mas Andre duduk. “Ini mas kopinya.” Kuletakkan secangkir kopi itu diatas meja, mas Andre mengambil cangkir itu dan meminum kopinya, tapi tiba-tiba dia sembur kopi itu dari dalam mulutnya. “Kamu bisa buat kopi? Kenapa kopinya pahit sekali?? Buatkan lagii!!” Aku yang dari tadi berdiri disamping mas Andre mengiyakan permintaan mas Andre dan membawa kembali cangkir kopi tadi ke dapur, aku berusaha membuatkan kopi lagi dengan menambahkan takaran gula, kopi itu aku bawa kembali ke mas Andre. “Ini mas kopinya.” ucapku sambil meletakkan kopi itu dihadapan mas Andre. Mas Andre meminum kopi itu lagi tapi lagi-lagi dia berkomentar bahwa kopi itu terlalu manis dan memintaku membuatkan kembali kopi untuknya. Aku yang bingung dengan takaran yang pas dengan kopi yang mas Andre mulai merasa putus asa, kucoba lagi membuatkan dia kopi dan aku bawa kembali. “Ini mas.” Dia meminum kopinya, dia kembali berkomentar dan meletakkan kopi itu dengan keras di atas meja yang menyebabkan air kopi didalam cangkir itu tumpah mengenai tanganku. “Ahhh.” Aku berteriak karena merasa kepanasan terkena air kopi mendidih itu. Mas Andre yang melihat hanya menunjukan muka datar padaku kemudian dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah untuk pergi bekerja. Aku dengan terpingkal jalan mengejarnya. “Mas.. Mas.” Tak sedikitpun dia menoleh kearahku, aku langkahkan kaki lebih cepat agar bisa mengejar langkahnya dan akhirnya berhasil. Ku sodorkan tanganku karena ingin mencium tangannya saat akan pergi bekerja tapi dia hanya diam tidak merespon. Aku arahkan tanganku untuk meraih tangannya dan kucium tangannya. Dia terdiam melihat aku mencium tangannya. “Hati-hati ya mas. “ ucapku sopan. Dia masuk kedalam mobilnya sedangkan aku berdiri dan melambaikan tanganku padanya, dari dalam mobil dia memperhatikanku. Aku membalikkan tubuhku dan berjalan masuk kembali kedalam rumah sementara mas Andre memperhatikan langkahku yang terpingkal dari kaca spion mobil. Aku masuk kembali kedalam rumah, merapikan tumpahan kopi dan sisa sarapan mas Andre tadi, Mirna menghampiriku dan berniat membantuku. “Mba, biar Mirna saja, mba duduk saja pasti tangan dan kaki mba sakitkan?” “Gimana sih mas Andre ini, baru beberapa hari mba Feli jadi istrinya sudah begini kan...” Aku memotong ucapan Mirna. “Sudah Mir, aku tidak apa-apa kok, lagipula ini bukan kesalahan mas Andre ini terjadi karena aku yang kurang berhati-hati.” ucapku berusaha membela mas Andre di depan Mirna. “Keterlaluan memang mas Andre ini, punya istri cantik, baik, sabar, ya mbok di baik-baikin dijaga, ini malah disuruh ini itu...” Mirna masih terus mengungkapkan kekesalannya pada mas Andre atas perlakuannya padaku. “Ssttt, sudah Mirna. Lebih baik kamu lanjutkan kembali pekerjaan kamu dan aku lanjutkan pekerjaanku.” ucapku pada Mirna. “Maaf mba, habis Mirna kesel ke mas Andre kenapa tega sekali ke mba Feli, Mirna tahu dia itu kaku, galak tapi Mirna rasa tidak mungkin mas Andre sejahat itu pada mba Feli. Mirna rasa itu bukan seperti mas Andre yang Mirna kenal.” Aku tersenyum mendengar ucapan Mirna tadi. Kami melanjutkan pekerjaan masing-masing, aku sedang di taman belakang menyiram tanaman, Mirna berlari menghampiriku deng expresi senang. “Mbaa.. Mbaa.. Mbaa Feli.” Aku yang terkejut mendengar teriakan Mirna segera mematikan kran air yang menyala. “Iyaa.. Ada apa Mirna?” “Ini mbaa, tadi Agus kasih ini.” Aku menerima bungkusan dari tangan Mirna. “Apa ini?” “Kata Agus, tadi ada ojek yang kirim. Katanya dari mas Andre buat mba Feli.” Aku membuka bungkusan itu ternyata di dalamnya ada salep luka bakar dan penghilang memar. “Tuh kan, Mirna tahu sebenarnya mas Andre pasti tidak mungkin setega itu, dia cuma gengsi saja, buktinya dia langsung kirim obat untuk mengobati luka mba Feli.” Flashback Mobil Andre terus melaju meninggalkan rumahnya, diperjalanan pikirannya tertuju pada luka yang Feli alami, dia gelisah dengan apa yang harus dia lakukan, mengabaikannya atau membelikan obat untuk luka Feli. Selama diperjalanan dia menimbang-nimbang apa yang seharusnya dia lakukan. “Biarkan saja, untuk apa saya peduli padanya.” Tapi sisi baiknya berbicara lagi. “Hari ini dia mengalami dua luka sekaligus pasti dia sangat merasa kesakitan sekarang.“ pikirnya cemas. Andre masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tak lama matanya tertuju pada apotek yang tepat berada di depan jalanan yang sedang dia lewati, dia terus berpikir mobilnya sudah melewati apotek itu tapi tiba-tiba Andre menghentikan laju mobilnya kemudian memundurkan mobilnya dan masuk ke area parkir apotik itu, dia turun dari mobilnya dan masuk kedalam apotik. “Ada yang bisa dibantu pak? “ ucap sopan penjaga apotik. “Saya butuh obat untuk memar karena terjatuh dan untuk bekas air panas.” ucap Andre. “Baik Pak, tunggu sebentar, saya ambilkan.” Pelayan apotik itu kemudian mengambil beberapa merk untuk ditunjukkan pada Andre. “Silahkan pak, mau yang mana? Ini ada beberapa pilihan.” “Tolong beri saja yang paling bagus.” jawabnya. Kemudian pelayan apotik itu memberikan yang menurutnya paling bagus kepada Andre. Andre keluar dari apotik, pikirannya kembali bergejolak. “Tapi kalau sampai Feli geer gimana?” “Akh biarkan saja toh saya melakukan ini supaya Feli bisa mengerjakan tugas yang saya berikan.” Andre berusaha untuk memantapkan keputusannya, dia meyakinkan hatinya bahwa dia melakukan ini bukan karena merasa kasihan kepada Feli, kemudian Andre mengambil handphonenya dan memesan ojek untuk mengantarkan obat yang dia beli kepada Feli. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya ojek yang dia pesan datang. “Pak Andre?” tanya tukang ojek itu. “Benar.” “Tolong antar ini ke alamat sesuai aplikasi.” ucap Andre sembari memberikan ongkos pada tukang ojek itu. “Ini kembaliannya Pak.” Tukang ojek itu menyodorkan uang kembalian kepada Andre tapi Andre menolaknya dan memberikan uang kembalian itu untuk tukang ojek simpan saja. Tukang ojek itu mengucapkan terimakasih dan pergi meninggalkan Andre, tak lama Andre pun melajukan mobilnya kearah menuju kantor. Sementara itu di gerbang rumah Andre tukang ojek sedang berbincang dengan Agus. “Pak, ini ada kiriman buat ibu Felicya dari Pak Andre.” “Oh baik, akan saya sampaikan. Terima kasih ya.” Tukang ojek itu kemudian pergi setelah menyerahkan bingkisan obat itu kepada Agus sedangkan Agus berjalan ke arah rumah untuk mencari Mirna dan meminta Mirna memberikan bingkisan itu kepadaku. “Mirna. Mir.. Mirna.“ Teriak Agus memanggil Mirna. “Apa? Berisik sekali!!” bentak Mirna. “Ini ada kiriman dari pak bos untuk mba Feli.“ ucap Agus. Mirna yang penasaran langsung meraih bingkisan itu dari tangan Agus, dia tersenyum setelah membaca tulisan yang ada di bingkisan itu. “Hmm tuh kan, mas Andre ini sok-sok tega tapi ujung-ujungnya tetap tidak tega.” “Memang ada apa ayang Mirna? “ tanya Agus penasaran. Mendengar Agus memanggilnya sayang Mirna sewot. “Sayang.. Sayang pala lu peyang!! Udah jangan banyak tanya, sana keluar lagi jaga gerbang.” *** Di halaman belakang aku yang sedang sibuk menyirami tanaman terkejut dengan teriakan Mirna. Aku tersenyum mendengar ucapan Mirna tadi. “Terima kasih mas, ternyata kamu masih peduli denganku walaupun beberapa hari ini aku sangat sedih dengan semua perlakuanmu padaku tapi hari ini aku sangat senang karena kamu ternyata perhatian padaku.” Aku duduk di kursi dan mengobati lukaku, Mirna ikut senang melihatku yang menunjukan rasa bahagiaku dengan tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN