BAB 10 / Peringatan Caroline Untukku

2639 Kata
Sementara aku sibuk dengan pekerjaan rumah yang mas Andre berikan, di kantor mas Andre sedang duduk di ruang kerjanya, didepannya tampak Randi mendengar arahan mas Andre dengan seksama. “Kamu cari orang untuk terus mengawasi pergerakan Ferdi, laporkan jika dia terus mendekati Feli, dan jangan lupa awasi terus bisnis ayah Feli kepada saya laporkan secara detail.” “Baik Pak, ada hal lain yang bisa saya bantu Pak?" Ucap Randi. “Tidak, Terima kasih. Kamu sudah bisa kembali keruangan kamu.” Randi pun pergi meninggalkan mas Andre dan berjalan menuju ruang kerjanya. Sementara itu didalam ruangan Andre sibuk menatap monitor laptopnya, dia fokus dengan pekerjaan yang sedang dia periksa. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Di layar handphonenya muncul notifikasi pesan masuk dariku. “Mas, Terima kasih obatnya ya. Aku sudah terima.” Begitu isi pesan yang aku kirim, Andre hanya membacanya kemudian meletakkan kembali handphonenya di atas meja dan kembali fokus ke laptopnya sementara aku di rumah terus memandang handphoneku menunggu jawaban dari Mas Andre tapi tak kunjung menerimanya Karena sekian lama menunggu dan tidak mendapat jawaban aku letakkan handphoneku dan kembali menyiram tamanan yang sempat terhenti tadi. Aku menyirami tanaman dan merapikan tanaman yang sudah terlihat tidak terawat, aku teringat pada ibu, dulu ibu sangat senang merawat tanaman setiap pagi hari ibu selalu sibuk merawat tanamannya di halaman depan rumah sementara ayah duduk di kursi sambil minum teh dan memandangi ibu yang sedang asik dengan koleksi tanaman bunganya. Sekarang aku melakukan hal yang sama bedanya suamiku tidak ada disini, aku kembali teringat ke ayah. “Bagaimana kabar ayah sekarang? Apa ayah sehat-sehat saja?” gumamku. “Apa lebih baik aku coba tanya ke mbok Atun saja?” pikirku. Saat sedang kembali fokus menyiram bunga-bunga yang sedang bermekaran, tiba-tiba terdengar suara handphoneku. Aku berlari mengambil handphoneku yang aku letakkan diatas meja, berharap mas Andre yang menelponku. “Mella.” Aku sedikit kecewa karena telepon masuk bukan dari mas Andre melainkan dari Mela. “Hallo Mel.” “Aku sedang di rumah, ada apa Mel?” “Boleh, aku tunggu ya nanti sore.” jawabku. “Oke, bye Fel.” Telepon kami terputus. Setelah selesai menyiram tanaman aku bergegas masuk kedalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan lainnya. *** Di rumah Caroline. Caroline dan Ferdi sedang di ruang makan menikmati menu sarapan mereka. “Sayang hari ini kamu bisa pulang cepat kan?” tanya Caroline pada suaminya. “Saya ada meeting sampai malam hari ini jadi kamu tidak perlu menunggu saya pulang.” Jawab Ferdi ketus. Seteleh menikah hubungan Ferdi dan Caroline memang buruk seringkali Ferdi mengabaikan dan berkata kasar pada istrinya mungkin hal tersebut disebabkan karena sebenarnya Ferdi tidak mencintai Caroline sama sekali. Caroline merasa kesal dengan apa yang dia dengar, jawaban ketus Ferdi menbuat dia tersulut emosi sehingga menyebabkan pertengkaran diantara mereka. “Tapi dari semenjak kita menikah kamu selalu pulang terlambat, bahkan kita belum sempat pergi berbulan madu. Alasan kamu selalu sibuk dengan pekerjaan kamu.” teriak Caroline. Ferdi hanya terdiam, tidak ingin merespon celotehan Caroline, tapi Caroline melanjutkan ucapannya. “Jangan-jangan sampai sekarang kamu masih belum bisa melupakan mba Feli??” Sejenak Ferdi terdiam dan menatap Caroline tajam. “Iya kan? Kamu masih belum bisa melupakan mba Feli? Itu sebabnya kamu masih sering berusaha menghubunginya? Kamu lupa kalau kamu sudah punya istri? Kamu lupa kalau mba Feli sudah punya suami? Kamu lupa sayang??” ucap Caroline sambil terisak. Ferdi yang mendengar ucapan Caroline mulai emosi hampir saja dari mulutnya keluar pengakuan bahwa memang benar dia masih mencintaiku, tapi karena takut membuat masalah semakin panjang dia mencoba menahan diri dan memilih menghentikan makannya, Ferdi bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi meninggalkan Caroline yang masih menangis. Caroline yang menyadari suaminya pergi meninggalkannya langsung berlari mengejar suaminya, meraih tangan suaminya dan merengek agar mendapat jawaban dari suaminya. “Jawab.. Kamu masih belum bisa melupakan mba Feli kan?” teriaknya sambil terisak dan memegang tangan suaminya. Ferdi berusaha melepaskan tangan Caroline dari lengannya. “Cukup Caroline!!! Saya tidak mau berdebat dengan kamu untuk hal-hal seperti ini di pagi hari.” Ferdi bejalan cepat dan masuk kedalam mobilnya, Caroline berusaha mencegah Ferdi pergi tapi gagal dan mobil Ferdi melaju cepat meninggalkan Caroline yang masih berdiri sambil menangis melihat laju mobil Ferdi yang menjauh darinya. Karena tersulut emosi Caroline segera mengambil handphonenya dan mencari namaku di daftar kontak handphonenya. Dia mencoba menghubungiku, tapi karena handphone aku letakkan diatas meja sedangkan aku sedang sibuk mencuci piring akhirnya telpon darinya tidak aku jawab, beberapa kali dia mencoba menghubungiku tapi tetap tidak mendapat jawaban dariku. Caroline semakin kesal karena berpikir aku sengaja mengabaikan telepon darinya. Dia membanting handphonenya dan melempar cangkir yang ada dihadapannya. *** Sementara di dapur aku masih sibuk mencuci piring, luka bekas terkena air kopi tadi tidak sengaja terkena air yang menyebabkan rasa sakit, aku mencoba menahannya dan sesekali meniup luka itu. *** Di ruang kerja Andre. Mas Andre sedang sibuk menatap layar handphonenya tapi kali ini dia bukan sedang membalas pesan atau melihat e-mail yang masuk, dia sedang melihat video yang ada di handphonenya ternyata yang dia lihat adalah rekaman CCTV di bagian dapur, dia sedang mengamati aku dari kejauhan memastikan apakah aku melakukan pekerjaan yang dia perintahkan. Tanpa dia sadari mas Andre merasa iba saat dia melihatku meniup luka di tangan dan berjalan tertatih karena memar di kaki tadi. Aku tidak menyadari bahwa mas Andre memperhatikanku dari CCTV yang ada diatas tempat aku berdiri. “Bbagus ternyata Feli mengerjakan pekerjaan yang aku perintahkan padanya. “ Pikir Andre dalam hatinya. “Tapi kenapa dia masih berjalan tertatih? Apa kakinya masih saki?” gumam Andre dalam hatinya setelah melihatku kesakitan saat berjalan. Dia terus mengamati apa yang sedang aku lakukan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. “Masuk.” Ucap Andre. Ternyata Anggi yang datang, Anggi adalah sekertaris Andre. Dia menyerahkan jadwal Andre dan materi meeting hari ini. “Maaf Pak, sebentar lagi saya cuti melahirkan, bagaimana untuk pengganti saya selama saya cuti?” “Oh iya, saya hampir lupa bicara dengan bagian HRD, hari ini saya bahas dengan mereka untuk mencari pengganti sementara untuk pekerjaan kamu selama kamu cuti.” Ucap Andre. “Baik Pak, Terima kasih. “ Anggi keluar dari ruangan Andre sementara Andre menghubungi bagian HRD, dia menjelaskan agar bagian HRD mencari pengganti sementara untuk Anggi selama dia cuti dan bagian HRD menyanggupi dan meminta waktu seminggu untuk mencari kandidatnya dulu, Andre menyetujuinya. Setelah mendapat instuksi langsung dari Andre mereka bergegas mencari kandidat untuk dijadikan sekertaris Andre sementara. Kabar pencarian sekertaris sementara untuk Andre menyebar dengan cepat dan akhirnya sampai juga ke telinganya Dian, dia yang dari awal menyukai Andre sangat antusias mendengar kabar itu dan bergegas menghubungi HRD agar dapat dimasukkan sebagai kandidat. Dengan mempertimbangkan hasil kinerja Dian selama ini yang cukup baik HRD menyetujui memasukkan Dian ke salah satu kandidat. Mela yang mendengar kabar bahwa Dian mengajukan diri sendiri untuk menjadi sekertaris mas Andre berencana menceritakan semuanya kepadaku sore ini saat dia berkunjung kerumahku. *** Sementara itu Ferdi yang sedang mengendarai mobilnya masih kesal dengan ulah Caroline, dia merasa semakin menyesal karena telah menyetujui perjodohannya dengan Caroline saat itu, andai saja saat itu dia tetap memilih mempertahankan hubungannya denganku mungkin dia sudah hidup bahagia dengan orang yang dia cintai saat ini pikirnya, krena emosi dia mengendarai mobilnya dengan kencang. *** Aku yang telah menyelesaikan pekerjaan di dapur berencana menelpon mbok Atun untuk menanyakan kabar ayah padanya, kuambil handphone dari atas meja tapi saat aku membuka handphoneku aku melihat ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Caroline, karena takut ada hal penting yang ingin Caroline sampaikan akhirnya aku putuskan untuk menelpon balik Caroline. Aku tekan tombol hijau di layar handphoneku, belum sempat aku menyapa dengan kata Halo, terdengar suara emosi dari Caroline. “Halo, mba Feli kenapa tidak angkat telepon aku dari tadi? Kamu sengaja menghindariku?” ucapnya dengan nada tinggi. “Tadi mba sedang tidak pegang handphone jadi mbaa..” Caroline memotong ucapanku. “Sudah, aku tidak ingin mendengar penjelasan mba yang tidak berguna untukku” kembali dia membentaku, aku hanya diam mendengarkan apa yang Caroline ucapkan. “Dengar baik-baik ya mba, Ferdi itu suami aku!!! Jadi aku minta jangan sekali-kali mba mencoba mencari perhatian dari dia. Jangan coba-coba merebut dia dariku!! Dengar??!!” “Caroline mba tidak pernah sekalipun berpikir merebut dia dari kamu, lagipula kamu tahu mba sudah punya suami dan asal kamu tahu sekalipun mba tidak pernah menghubungi dia.” “Pokoknya aku minta mba jaga jarak darinya, aku minta mba tidak meresponnya jika dia menghubungi mba.” Belum sempat aku menjawab ucapannya telepon Caroline sudah terputus. Aku berusaha bersabar dengan tuduhan Caroline tadi dan mengabaikan ucapannya. Setelah merasa sedikit tenang aku menelpon ke no rumahku. Terdengar suara mbok Atun. “Halo mbok, ini Feli.” “Mbok apa kabar?” “Aku baik mbok, nanti kapan-kapan aku main ke rumah dengan suamiku ya mbok.” “Mbok kabar ayah gimana?” “Syukurlah kalau ayah baik-baik saja, aku titip ayah ya mbok. Mbok juga jaga kesehatan yah.” Akhirnya kami memutuskan sambungan telepon setelah berbincang sesaat. Setelah menelpon mbok Atun aku kembali ke dapur untuk memasak menu makan siang untuk mas Andre yang rencananya akan aku kirim menggunakan ojek online sebagai balasan atas perhatiannya padaku karena telah mengirimiku obat. “Mirna.” Aku memanggil Mirna, dia bergegas menghampiriku. “Mirna, makanan kesukaan mas Andre apa?” “Hmm apa yaa, mas Andre sebenarnya jarang sekali makan di rumah mba, tapi seingat Mirna mas Andre suka soto daging.” “Oh.. Soto daging ya? Kita punya bahan-bahannya Mir?” “Ada mba.” Mirna membantuku mengeluarkan semua bahannya. “Mirna bantu ya mba?” “Tidak perlu Mirna, kamu kerjakan saja pekerjaan kamu.” “Baik mba, tapi memang mas Andre mau pulang makan siang dirumah mba?” “Tidak, tapi rencananya aku mau kirim makan siang untuk mas Andre.” “Beruntung sekali mas Andre punya istri sekarang, sudah ada yang menyiapkan makan siang, kalau begitu Mirna ke belakang ya mba.. Kalau mba butuh sesuatu panggil saja.” “Iya, Terima kasih ya Mirna.” Di dapur aku sibuk memasak soto daging untuk mas Andre sementara di kantor mas Andre masih sibuk dengan pekerjaannya. Setelah soto daging dan nasi masak aku bergegas menyiapkan untuk aku kirim ke kantor mas Andre, tak lupa aku pesan ojek untuk mengantar makanan itu. *** Di kantor Andre. Terlihat tukang ojek tadi menyerahkan kiriman makanan dariku kepada resepsionis kantor kemudian resepsionis menyerahkan ke Anggi. Jam dinding menunjukan pukul 11.55 WIB, mas Andre masih sibuk dengan pekerjaannya. Terdengar ketukan pintu kantornya. “Masuk.” Ucap Andre. Ternyata yang masuk OB sambil membawa makanan yang aku antar. Andre merasa heran dengan apa yang OB itu bawa karena seingatnya dia belum meminta Anggi mememasankan makanan untuknya. Tapi karena dia berpikir ini inisiatif Anggi yang memesankan makan siang untuknya dia menerima makanan itu dan memakannya. Saat dia memakan nasi soto daging itu dia terheran karena rasanya lebih enak dibanding nasi soto di tempat yang biasa dia beli, makananya habis tak tersisa. Setelah selesai makan dia memanggil OB untuk membawa piring kotor bekas dia makan. “Kamu tahu Anggi pesan soto ini dimana?” tanya Andre pada OB yang datang untuk mengambil piring kotor. “Maaf Pak, saya tidak tahu. Tadi bu Anggi hanya meminta saya menyiapkan makan siang untuk bapak.” ujar OB itu menjelaskan. “Oke, kamu bisa keluar, Terima kasih.” Andre kembali melanjutkan pekerjaanya. *** Di rumah aku sedang duduk di teras rumah, tampak mobil Mella memasuki pintu gerbang kemudian dia memerkirkan mobilnya dan berjalan menghampiriku yang sudah berdiri menyambutnya. Kami berpelukan. “Haii pengantin baruu.” goda Mella padaku. Aku tersenyum padanya, kemudian dia memberikan bingkisan yang dia bawa. “Aku bawa kue kesukaan kamu.” ucapnya. Aku mengambil bingkisan kue yang dia bawa dan mengajaknya masuk kedalam rumah. Mirna yang mengetahui ada tamunya yang datang bergegas menyiapkan minuman untuk aku dan Mella. “Silahkan diminum.” ucap Mirna sambil meletakkan minuman untuk aku dan Mella diatas meja. “Terima kasih.” jawab aku dan Mella kompak. Mirna bergegas pergi meninggalkan aku dan Mella di ruang tamu, Aku dan Mella berbincang banyak hal dimulai dari Mella yang menceritakan tentang putusnya hubungan dia dengan mantannya, sampai kondisi hotel semenjak aku berhenti bekerja. Mella ingat bahwa ada yang ingin dia ceritakan padaku tentang Dian. “Fell, suami kamu sudah cerita?” “Cerita apa? “ tanyaku penasaran. “Tentang bu Anggi, sekertaris pak Andre yang akan cuti melahirkan dan sekarang pak Andre sedang mencari sekertaris sementara untuk menggantikan tugas bu Anggi selama dia cuti.” Ucap Mella. Aku dari tadi hanya mendengarkan cerita Mella, jangankan membahas tentang urusan pekerjaan hubunganku dengan mas Andre memang sangat buruk setahun menikah tapi aku berniat memendamnya sendiri termasuk pada Dian. “Belum, lalu kenapa?” “Mungkin dia belum cerita karena baru hari ini juga sih aku dengar.” Lanjut Mella. “Memang ada apa?” aku mendesak Mella agar segera menceritakan padaku. “Tapi sudah tahu kan kalau bu Anggi sebentar lagi akan cuti? “tanya Mella padaku. Sebenarnya aku belum mendengar ini dari mas Andre, jangankan membicarakan hal ini aku dan mas Andre memang tidak pernah berbicara setelah pernikahan kami, tapi karena aku tidak berniat menceritakan tentang kondisi rumah tanggaku akhirnya aku mengangguk seolah sudah mengetahui tentang rencana cuti bu Anggi. “Lalu? “ tanyaku semakin penasaran. “Jadi pak Andre meminta bagian HRD mencari sekertaris pengganti semalam ibu Anggi cuti melahirkan, tapi dari yang aku dengar pak Andre minta pengganti dari karyawan dalam saja tidak perlu menerima karyawan baru toh hanya untuk tiga bulan saja.” Mella menghentikan ucapannya sesaat, aku yang penasaran meminta Mella melanjutkan ceritanya. “Yang aku dengar dari HRD sendiri sudah mengajukan dua kandidat, pertama Gita, Gita itu salah satu karyawan pak Andre di PT. Tanuwijaya Sejatera Properti, kedua ada Rosa dari PT. Tanuwijaya Grup, Tbk. Nah satu lagi yang kamu tidak akan duga.” Aku semakin penasaran dengan ucapan Mella. “Siapa?” “Ketiga Dian, kamu tahu dua kandidat itu HRD sendiri yang menunjuk tapi Dian dia dengan pedenya mencalonkan diri. Aku bilang ke kamu supaya kamu berhati-hati kamu kan tahu sendiri kalau Dian memang dari dulu menyukai suami kamu.” “Iya, terima kasih infonya ya Mel.” Setelah mendengar ucapan Mella aku semakin memikirkan nasib rumah tangga aku dan Mas Andre, tanpa hadirnya orang ketiga saja aku belum tahu kelanjutan rumah tanggaku apalagi kalau tiba-tiba Dian muncul sebagai orang ketiga dirumah tangga kami. Aku mencoba menenangkan diri dihadapan Mella karena takut membuat Mella ikut khawatir, obrolan kami terus berlanjut. Kami membahas banyak hal. Jam dinding menunjukan pukul 18.30 WIB, Mella pamit pulang kepadaku. Dia berjalan ke kearah mobilnya sedangkan aku masuk kembali ke dalam rumah. Saat Mella akan masuk kedalam mobilnya tiba-tiba mobil mas Andre datang, dia turun dari mobilnya Mella yang melihat mas Andre menyapa mas Andre dengan sopan sedangkan mas Andre hanya tersenyum tipis padanya dan berjalan ke arah rumah. Sebenarnya Mella tidak merasa heran dengan sikap mas Andre karena jika bertemu di hotel pun mas Andre seperti itu, akhirnya Mella masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumahku. Mas Andre berjalan cepat menuju rumah, dia membuka pintu rumah dengan keras aku yang sedang berjalan tertatih masuk ke dapur mengurungkan niatku dan berbalik arah mendekat ke mas Andre. “Siapa yang mengizinkan kamu mengundang teman kamu ke rumah saya?” Aku terdiam, mencoba mengartikan maksud mas Andre. Jadi maksud mas Andre aku tidak berhak menerima tamu disini? Gumamku dalam hati. “Feli, kamu dengar saya sedang bicara?” bentak mas Andre. “Iya mas, maaf aku salah. Aku seharusnya minta izin padamu dulu. Maaf ya mas?” “Kamu dengar ya jangan sekali-kali lagi kamu membiarkan orang lain masuk kerumah saya tanpa seizin saya.” “Iya mas.” Aku menjawab dengan wajak tertunduk. Aku menyodorkan tangan untuk mencium tangannya tapi mas Andre berlalu pergi meninggalkan aku, dia masuk ke kamarnya aku pun putuskan untuk masuk ke kamarku. Mungkin karena kelelahan ternyata tanpa aku sadari aku tertidur. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN