BAB 11 / Akhirnya Aku Tumbang

2315 Kata
Di ruang keluarga mas Andre sedang duduk sambil memegang handphonenya dia sesekali memperhatikan sekeliling entah apa yang dari tadi dia cari. Mirna membawakan secangkir teh untuk mas Andre. “Feli mana?” Mirna yang mendengar mas Andre mananyakanku menggodanya. “Ehmm.. Makanya mas Andre jangan galak-galak sekarang giliran istrinya ga kelihatan nyari kan?” Mas Andre langsung melihat Mirna dengan tatapan tajamnya, menyadari mas Andre marah Mirna langsung pergi meninggalkan mas Andre. “Feli kemana sih?” ucap mas Andre dalam hati. “Apa dia marah karena kata-kataku keterlaluan padanya hari ini?” sambungnya dalam hati. “Tapi buat apa saya pikirkan bukannya saya sudah melakukan hal yang tepat, buat apa saya cemas? Lebih baik saya tidur.” Ucap Andre. Sebenarnya dia berniat ke arah kamarnya tapi entah kenapa langkah kakinya justru mengarah ke kamarku, di depan kamarku dia sempat berhenti dan berniat mengetuk pintu kamar tapi dia urungkan niatnya. Disaat itu pula Mirna berjalan ke arah kamarnya dan berpapasan dengan mas Andre, Mirna yang mengetahui mas Andre datang ke kamarku kembali menggodanya. “Hmmm, mas Andre salah arah ya? Kamar mas Andre bukan disini loh tapi kesana.” Mirna menunjukkan arah berlawanan dan tersenyum usil. Andre yang menyadari Mirna menggodanya menjadi salah tingkah. Dia berlalu pergi tanpa menjawab ucapan Mirna. Mirna yang menyadari jika mas Andre merasa malu tertawa terbahak. Andre masuk ke dalam kamarnya mencoba memejamkan matanya tapi pikirannya masih tertuju kepadaku. “Feli kemana? Apa dia marah padaku? Apa dia sakit?” Andre terus merubah posisi badannya untuk mencari posisi yang nyaman dengan harapan bisa tertidur tapi ternyata sulit baginya tidur. *** Keesokan harinya. Mas Andre pagi-pagi keluar kamarnya berharap bisa melihatku, dia duduk di ruang keluarga sambil membaca koran, dari bawah terlihat ada tangan yang meletakkan secangkir teh di atas meja. Mas Andre mengalihkan tatapan ke pemilik tangan itu dan berharap aku yang meletakkan cangkir teh tapi ternyata Mirna, terlihat sedikit kekecewaan diwajah mas Andre saat mengetahui bahwa Mirna yang memberikan teh kepadanya. Mirna pergi meninggalkan mas Andre yang masih sibuk membaca koran, sampai waktunya mas Andre pergi ke kantor aku masih belum menunjukan batang hidungku di depan mas Andre, dia semakin penasaran dimana sebenarnya aku. “Mirna, dimana Fe..” Dia mengurungkan niatnya karena sadar jika dia menanyakanku pada Mirna pasti akan menjadi bahan ledekan Mirna. “Kenapa mas?” Tanya Mirna karena tidak mendengar dengan jelas apa yang mas Andre katakan tadi. “Tidak, saya pergi dulu. Jaga rumah.” “Siap mas.” Jawab Mirna. *** Di kantor Mas Andre. Tampak bagian HRD sedang menunjukan berkas kandidat sekertaris sementara untuk mas Andre, setelah dilakukan seleksi ternyata Dian yang direkomendasikan oleh bagian HRD dan mas Andre menerima rekomendasi dari HRD. “Jadi mulai besok Dian bisa mulai bekerja sebagai sekertaris sementara disini, nanti untuk job desc nya biar Anggi yang menerangkan dan memberikan arahan selama Anggi belum mengambil cuti.” Ucap Andre. “Baik Pak, masih ada yang kami harus kerjakan pak?” “Sudah cukup, terimakasih.” Setelah itu mereka keluar meninggalkan ruangan mas Andre. “Anggi kamu keruangan saya.” ucap mas Andre meminta Anggi menemuinya di ruangannya. Terdengar ketukan pintu dari balik ruangan. “Masuk.” “Iya Pak, ada yang harus saya kerjakan? “ tanya Anggi. “Mulai besok Dian yang akan menggantikan posisi kamu sementara akan mulai bertugas, kamu jelaskan job desk dia dan ajari pekerjaan apa saja yang biasa kamu kerjakan.” Ucap mas Andre. “Baik Pak, ada hal lain Pak?” “Tidak, kamu bisa kembali bekerja.” Tiba-tiba mas Andre memanggilnya lagi. “Anggi, tolong kamu pesanan saya nasi soto yang terakhir kamu pesanan untuk saya.” Anggi merasa bingung dengan ucapan mas Andre. “Maaf nasi soto yang mana ya pak? Nasi soto daging yang biasa bapak Andre pesan?” Anggi bertanya untuk memastikan yang dimaksud mas Andre. “Bukan, saya rasa bukan di tempat biasa saya beli. Rasanya beda lebih enak yang terakhir kamu belikan untuk saya.” Anggi mencoba mengingat kembali. “Oh.. Nasi soto itukan bukan saya yang beli Pak, itu kiriman bu Feli.” Jelas Anggi. “Kiriman Feli?” “Iya Pak, saya pikir Pak Andre tahu jadi kemarin saya tidak bilang kalau bu Feli kirim makanan itu.” “Oke, kalau begitu kamu boleh keluar.” *** Di rumah Andre. Aku masih belum keluar kamar, Mirna yang merasa cemas mengetuk pintu kamar dan meminta izin masuk kedalam kamar karena tidak mendapat jawaban dia memutuskan untuk memaksa masuk ke dalam kamar. Mirna melihat aku yang tertidur dengan muka pucat, dia memegang keningku untuk memeriksa kondisiku dan ternyata aku demam. Mirna panik melihat aku demam dia mengambil handphonenya dan berniat menghubungi mas Andre tapi aku larang. “Tapi mba Feli demam, kita harus ke dokter mba.”ucap Mirna cemas. Aku mengangguk tapi melarang Mirna memberitahukan kondisiku pada mas Andre karena tidak mau menggangu mas Andre yang sedang bekerja. Akhirnya Mirna memutuskan memesan taxi untuk mengantarkanku dan Mirna ke rumah sakit, kami menunggu taxi di teras rumah. Kondisiku semakin parah, keringat dingin keluar, suhu tubuhku tinggi aku duduk terkulai lemah diatas kursi, Mirna semakin cemas melihat kondisiku. Di luar gerbang ada mobil berhenti, Mirna pikir mobil itu taxi yang dia pesan tapi ternyata itu mobil Ferdi yang sengaja datang untuk menemuiku karena sudah berhari-hari tidak dapat menghubungiku karena nomernya aku blok. Ferdi yang melihat aku tidak sadarkan diri ikut panik, Mirna yang panik tidak mengecek apakah mobil itu benar taxi yang dia pesan. Mirna justru meminta bantuan Ferdi menggendongku kedalam mobil, Ferdi membawaku ke rumah sakit terdekat. Diperjalanan handphone Mirna berbunyi ternyata taxi yang menghubunginya, Mirna baru sadar bahwa mobil yang mereka naiki bukan taxi yang dia pesan akhirnya Mirna meminta maaf ke taxi tersebut dan membatalkan pesanannya, sementara Ferdi menjelaskan pada Mirna bahwa dia adalah temanku. Sesampainya di rumah sakit aku dibawa ke ruang IGD untuk diperiksa kondisinya sedangkan Mirna dan Ferdi menunggu diluar ruangan. Tak lama dokter mendekati mereka dan menjelaskan bahwa aku sementara harus tetap di IGD untuk observasi lebih lanjut, karena merasa cemas akhirnya Mirna mencoba menghubungi mas Andre, beberapa kali dia menelpon mas Andre tapi tidak mendapat jawaban karena saat itu mas Andre sedang meeting dengan client nya. Akhirnya Mirna memutuskan untuk mengirim pesan. “Mas Andre, mba Feli sakit. Ini Mirna sedang di RS. Sejahtera mengantar mba Feli.” Andre masih sibuk dengan pekerjaanya baru satu jam kemudian pesan Mirna dibaca olehnya. Dia panik dan mencoba menghubungi Mirna. Sementara dirumah sakit, Mirna dan Ferdi masih menunggu diluar ruangan. Handphone Mirna berdering. “Halo?" “Masih diobservasi mas, lagian mas Andre kemana saja sih dari tadi Mirna hubungi tidak diangkat kan kasian mba Feli.” Mas Andre menutup teleponnya dan bergegas ke rumah sakit. Dia meminta Randi mengurus semua pekerjaan yang seharusnya dia selesaikan. Sementara di rumah sakit Mirna menggerutu. “Kebiasaan nih mas Andre main tutup-tutup telepon seenaknya.“ ucap Mirna sambil melirik ke arah Ferdi. “Maaf pak Ferdi, kalau pak Ferdi mau pergi silahkan mungkin pak Ferdi ada urusan lain?” “Tidak apa-apa, saya tunggu sampai kondisi Feli membaik” jawab Ferdi. Mirna mengucapkan terimakasih karena sudah menolongnya membawaku ke rumah sakit. Saat Mirna dan Ferdi masih duduk menunggu aku diluar ruangan IGD tiba-tiba handphone Ferdi berbunyi. Ferdi pamit ke Mirna untuk menerima panggilan telepon. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari Mirna, ternyata Caroline yang menelponnya. “Halo.” “Saya sedang meeting.” “Saya sedang sibuk, jangan ganggu dulu kalau kamu ingin bertengkar nanti kalau saya sudah pulang ke rumah.” Caroline yang ternyata sebelumnya menanyakan keberadaan Ferdi pada sekertarisnya mengetahui bahwa Ferdi telah berbohong padanya, menyadari bahwa Caroline mengetahui bahwa dirinya berbohong Ferdi memutuskan sambungan teleponnya dan mengnonaktifkan handphonenya. Sementara itu di depan ruangan IGD, mas Andre datang dan menghampiri Mirna. “Feli dimana?” tanya Andre cemas. “Masih di dalam.” Belum sempat Andre menanyai Mirna lebih lanjut, Andre melihat sosok yang sangat dia kenali mendekat ke arahnya. Sosok itu tak lain adalah Ferdi. Andre mendekat ke arah Ferdi dengan ekspresi marah, Mirna yang melihat merasa heran dengan apa yang dia lihat. “Sedang apa anda disini?” bentak mas Andre pada Ferdi. “Seharusnya saya yang tanya pada anda, kemana saja anda saat Feli sakit?” Ferdi tak kalah emosi. Andre yang tersulut emosi memukul Ferdi dan Ferdi membalas, mereka berkelahi. Mirna yang melihat berusaha melerai mereka, satpam yang melihat membantu memisahkan Andre dan Ferdi. Saat mereka masih berdebat dokter keluar dan menanyakan dimana keluarga Ibu Felicya, Mirna yang mendengar ucapan dokter langsung memanggil mas Andre. Dokter mempersilahkan satu orang anggota kluarganya masuk untuk melihat kondisiku. Ferdi yang melihat Andre diperbolehkan masuk meminta izin ke dokter untuk ikut masuk tapi dokter melarangnya. *** Aku masih terkulai lemas diatas ranjang rumah sakit, mas Andre mendekatiku dan menanyakan kondisiku. Aku tidak menjawab pertanyaannya tapi hanya menatap datar ke mas Andre. Mas Andre merasa bingung dengan tatapanku, dia mencoba memegang keningku untuk memastikan apakah aku masih demam, aku hanya terdiam. Tak lama dokter datang menemui mas Andre dan menjelaskan bahwa sebaiknya malam ini aku beristirahat di rumah sakit dan dokter akan kembali memastikan kondisiku besok pagi, setelah menyetujui ucapan dokter mas Andre keluar ruangan dan meminta Mirna masuk menemaniku sementara dia mengurus administrasi rumah sakit. Ferdi masih menunggu di luar, Andre mendekati Ferdi dan berbicara tegas padanya untuk pergi dari rumah sakit tapi dia tetap menolak, security yang melihat bergegas menghampiri mas Andre dan Ferdi lagi karena mereka takut terjadi perkelahian lagi, akhirnya dengan bantuan security Ferdi mau meninggalkan rumah sakit sementara mas Andre menuju bagian administrasi. Mirna membantuku untuk duduk di ranjang rumah sakit karena aku sudah merasa bosan tidur. “Bagaimana kondisi mba Feli? Apa yang sakit?” Ucap Mirna cemas setelah melihatku tampak lemah. Aku yang menyadari kekhawatiran Mirna berusaha meyakinkannya bahwa kondisimu baik-baik saja. Setelah beberapa saat tampak mas Andre datang diikuti langkah suster yang ternyata akan membantuku untuk berpindah ke ruangan rawat inap. “Mari bu, kami bantu ibu pindah ruangan.” Ucap salah satu perawat dengan ramah. Mas Andre dan Mirna hanya melihat. “Mirna, sekarang kamu bisa pulang. Saya sudah minta supir untuk mengantar jangan lupa kamu siapkan pakaian untukku dan Feli dan minta supir membawakan kemari.” Perintah Andre pada Mirna dan dijawab anggukan oleh Mirna, setelah itu Mirna berpamitan padaku dan Andre sementara aku di bawa perawat ke ruangan inap. Mas Andre mengikutiku dari belakang. Setelah perawat pergi meninggalkan ruangan mas Andre mendekatiku, dia kembali menanyakan kondisiku. Aku hanya terdiam sesaat sampai dia mengulang kembali pertanyaannya karena belum mendapatkan jawaban dariku. “Tidak apa-apa.” Aku menjawab singkat pertanyaan mas Andre. Andre yang dari tadi melihat reaksiku merasa heran dengan sikapku, aku yang biasanya bersikap sangat ramah padanya mendadak kaku. Aku berusaha memejamkan mata sedangkan mas Andre duduk di kursi samping ranjang sambil terus menatapku. Mataku terpejam tapi pikiranku terus menerawang ke beberapa hal, mungkin beban pikiran itu juga yang akhirnya membuatku tumbang. Entah apa yang membuatku merasa sedih saat ini, perubahan sikap mas Andre? Tuduhan Caroline? Kabar Dian yang akan menjadi sekertaris mas Andre? Rasa rindu pada ayah? Aku sendiri tidak mengetahui dengan pasti penyebab kegundahan hatiku tapi tanpa aku sadari air mata keluar dari ujung mataku yang terpejam dan mas Andre melihatnya. Menyadari itu aku langsung berbalik arah posisi tidur dengan membelakangi mas Andre. Aku coba menyeka mataku dengan tangan agar air mata ini berhenti menetes. *** Sore harinya supir datang membawakan pakaianku dan mas Andre, setelah memberikannya pada Mas Andre dia bergegas pergi. Tak lama terdengar pintu kamar terbuka kembali kali ini giliran perawat membawakan makanan untukku. “Bu Feli, ini makan malamnya ya. Silahkan di makan sebelum nantinya harus makan obat.” Ucap perawat. “Terima kasih sus.” Aku jawab ucapan perawat itu. Aku mencoba bangkit dari tidurku tapi kondisiku yang masih lemas membuatku hampir terjatuh, mas Andre melihatku dengan sigap dia berusaha menopang tubuhku dan membantuku duduk, karena tanganku yang diinfus membuatku kesulitan membuka penutup piring dan mangkok dan lagi-lagi mas Andre menolongku tanpa aku minta. “Mas, kenapa sekarang kamu baik padaku? Setelah sebelumnya kamu asing bagiku.” Aku berbicara dalam hati sambil terus menatapnya. Menyadari aku terus menatapnya dia melirik padaku. “Nih makan.” Ucap mas Andre sambil memberikan sendok padaku. Aku mengambil sendok itu dan perlahan memaksakan agar makanan itu masuk ke mulutku. Beberapa suapan makanan akhirnya masuk ke tubuhku tapi rasanya perut ini sudah tidak mampu lagi menerima makanan akhirnya aku putuskan menyudahi makanan dan memilih minum. Tanganku mencoba menjangkau gelas yang berada diatas laci ranjang tapi lagi-lagi tubuhku hampir terjatuh dan mas Andre kembali menopang tubuhku. Mata kami saling menatap secara tidak sengaja. Kami saling terdiam seolah sedang menikmati suasana romantis karena tatapan kami tapi tak lama mas Andre tersadar. “Makanya kalau butuh bantuan bilang.” Ucap mas Andre dengan nada tinggi. Aku kembali membenarkan posisi duduk ku, dia memberikan gelas air padaku lalu berlalu pergi ke kamar mandi. *** Mas Andre menatap dirinya di cermin dan berbicara dalam hati. “Apaan sih lo Nde, kenapa sekarang kamu mulai lemah pada Feli?” Pikirannya masih berkecamuk, tiba-tiba HP nya berbunyi ternyata Randy yang menghubunginya. Dia mengangkat telepon tersebut sambil keluar kamar mandi dan berlalu keluar meningalkan aku sendiri di ruangan. “Mas Andre mau kemana?” Aku bertanya-tanya dalam hati setelah melihat mas Andre berlalu pergi meninggalkan aku. Di luar kamar inapku mas Andre duduk sambil terus berbincang dengan Randi. Entah apa yang mereka bicarakan saat itu tapi wajah mas Andre tampak serius mendengarkan ucapan Randi sesekali terlihat kekesalan dari wajahnya. Setelah mereka mengakhiri teleponnya mas Andre kembali masuk ke kamar inap, aku sudah dalam kondisi berbaring kembali saat mas Andre datang, mataku langsung aku pejamkan saat mendengar langkah kaki mas Andre mendekati ranjangku. Malam ini menjadi malam pertama untukku tidur di kamar yang sama dengan suamiku. Tengah malam aku terbangun dari tidurku sedangkan mas Andre tertidur di kursi samping ranjang. Aku menatap wajahnya, sosok suami yang belum lama aku nikahi kini tertidur saat sedang menjagaku yang sakit. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN