Pagi harinya dokter datang memeriksa untuk memastikan apakah kondisiku sudah membaik, setelah diperiksa akhirnya dokter memperbolehkan aku meninggalkan rumah sakit.
Mas Andre pergi untuk mengurus administrasi sedangkan Mirna diminta mas Andre menemaniku di kamar, mas Andre sengaja meminta Mirna datang pagi-pagi ke rumah sakit untuk membantuku, sekarang dia membantu aku duduk di kursi roda tak lama mas Andre datang menjemput kami, awalnya dia berniat mendorong kursi roda tapi aku menolak dan meminta Mirna yang mendorong kursi roda untukku.
Mas Andre hanya terdiam mendengar ucapanku, dia berjalan dibelakang mengikuti aku dan Mirna yang berjalan di depannya. Sesekali aku melirik ke arahnya begitu juga Mirna yang merasa heran dengan aku yang terlihat berani marah ke mas Andre. Kami terus berjalan menuju parkiran rumah sakit.
Mas Andre membukakan pintu depan untuk aku masuk.
“Mirna, saya mau duduk di belakang saja sama kamu.”
Mirna melirik ke arah mas Andre, terlihat mas Andre kecewa dan menutup kembali pintu mobil yang dia buka tadi dengan keras. Mas Andre berusaha membantu aku untuk berdiri dari kursi roda, dia mengulurkan tangannya tapi aku lebih memilih menggapai tangan Mirna dan memintanya membantuku masuk kedalam mobil, sekali lagi Mirna melirik ke arah mas Andre, terlihat mas Andre semakin kesal dengan ulahku.
Selama di perjalanan kami semua terdiam sesekali aku melihat mas Andre menatapku dari kaca spion tapi aku langsung mengalihkan pandangan ke arah jalanan, nampaknya Mirna mengamati gerak gerik kami.
Sesampainya di rumah mas Andre berniat membatuku berjalan tapi aku kembali menolaknya dan lebih memilih Mirna dan Agus yang membantuku. Mereka berdua melirik ke arah mas Andre seolah meminta izin pada mas Andre, mas Andre yang menyadari maksud kedua anak buahnya mengangguk tanda memberikan izin mereka untuk membantuku. Kami semua masuk kedalam rumah.
“Kalian antar Feli ke kamar saya.” Ucap mas Andre.
“Agus, terima kasih, kamu sudah bisa kembali ke depan.” ucapku pada Agus.
Agus pergi kembali ke pos.
“Mirna antar aku ke kamarku.” Ucapku pada Mirna.
“Baik mba.”
Kami berjalan ke kamarku, mas Andre mengikuti kami. Di kamarku Mirna membantu aku berbaring dan menyelimutiku.
“Mba, ada yang harus Mirna kerjakan lagi?”
“Tidak Mir, terima kasih ya.” Jawabku.
“Kalau mba butuh sesuatu panggil saja ya.”
“Iya.”
Lalu Mirna keluar dari kamarku, mas Andre masih berdiri didepan pintu.
“Kamu kenapa?”
Aku terdiam, sebenarnya aku sendiri tidak mengerti kenapa aku marah pada mas Andre, kalau karena perlakuannya padaku aku rasa bukan, karena aku terluka saat terjatuh dan terkena kopi panas aku rasa juga bukan, lalu kenapa aku bersikap dingin pada mas Andre? Apa karena aku marah mendengar cerita Mella bahwa Dian menjadi kandidat sekertaris sementara mas Andre dan mas Andre tidak menceritakannya padaku? Apa aku cemburu? Aku bicara dalam hati pada diriku sendiri.
“Feli?” ucap mas Andre.
“Apa?” ucapku.
“Ya kamu kenapa? Kok malah tanya apa.”
“Tidak apa-apa.” jawabku ketus.
“Kamu marah?”
“Tidak.”
Mas Andre terdiam, aku bangkit dari ranjang dan meminta mas Andre keluar dari kamarku. Dia mundur kebelakang sampai keluar dari kamarku, pintu kamar aku tutup dan ku kunci. Mas Andre masih terdiam di depan kamarku.
Setelah mengantarkanku pulang mas Andre bersiap pergi ke kantor, sebelum pergi dia berpesan pada Mirna untuk memastikan kondisiku baik-baik saja dan memintanya menghubunginya jika terjadi sesuatu.
Mirna yang dapat merasakan kecemasan yang mas Andre rasakan menggoda mas Andre, tapi hanya dengan tatapan sinis mas Andre saja membuat Mirna ketakutan dan memilih kembali ke dapur.
Andre melangkahkan kakinya ke arah kamarku didepan kamar dia tampak ragu membuka pintu kamar, saat dia coba membukanya ternyata pintu masih terkunci.
“Feli, buka pintunya.” Ucap Andre.
Di dalam kamar aku mendengar Andre kembali memanggil namaku tapi tetap aku abaikan. Setelah beberapa saat aku perlahan bangkit dan membuka pintunya.
“Bagaimana kondisi kamu?” Tanya Andre.
Aki masih berdiri di depan pintu seolah berniat menghalanginya masuk ke dalam kamar.
“Baik.” Jawabku singkat.
“Saya mau ke kantor, kalau ada apa-apa kamu telepon saya.” Ucap Andre.
“Iya.”
Setelah itu aku berniat menutup kembali pintu kamar tapi tangan mas Andre langsung mencegahnya, dia mengulurkan tangannya untuk aku cium. Aku menatapnya, tidak biasanya dia yang mengulurkan tangannya padaku. Setelah mencium tangannya aku langsung menutup kembali pintu kamar sedangkan mas Andre masih berdiri mematung dibaliknya.
***
Di kantor pikiran Andre terus tertuju padaku, dia masih merasa penasaran dengan sikapku padanya.
“Permisi pak.” Sapa Anggi.
Ternyata dari tadi Anggi mengetuk pintu kantor Andre tapi karena tidak mendapat jawaban akhirnya dia memutuskan untuk langsung masuk untuk mengecek kondisi Andre.
Andre tersadar setelah mendengar sapaan Anggi, ternyata Anggi sudah berdiri di depan mejanya dan di sampingnya tampak Dian yang tersenyum pada Andre.
Sebenarnya Andre tidak begitu mengenal sosok Dian tapi Andre masih dapat mengingat dengan jelas bahwa Dian adalah orang yang membicarakan hubungannya denganku dulu.
Anggi mempersilahkan Dian memperkenalkan diri pada Andre, setelah memperkenalkan dirinya Andre mengucapkan selamat bergabung dan memintanya mengerjakan pekerjaan dengan baik, ucapan Andre dijawab kesanggupan dari Dian.
“Anggi, kamu ajari Dian semua pekerjaan kamu, jadi selama kamu cuti saya minta dia dapat melakukan pekerjaanya dengan baik.” Ucap Andre.
Setelah mendengar beberapa arahan dari Andre akhirnya Anggi dan Dian keluar ruangan Andre dan kembali ke meja kerja masing-masing.
Tak lama setelah Anggi dan Dian keluar, pintu kantor Andre kembali diketuk. Kali ini giliran Randi yang meminta izin untuk masuk ruangan.
Andre mempersilahkan Randi masuk, dan memintanya duduk dihadapannya.
“Jadi apa yang akan kamu laporkan?” Tanya Andre tanpa basa-basi.
Kemudian Randi melaporkan semua informasi yang sudah dia dapat tentang Ferdi. Andre tampak antusias mendengarkan ucapan Randi, sesekali keningnya mengkerut tanda berpikir.
“Baik, Terima kasih infonya Ran. Saya minta kamu terus suruh orang mengawasi dia.” Lanjut Andre.
Setelah menyanggupi perintah Andre kemudian Randi pamit undur diri dari ruangan Andre. Di ruangan Andre masih duduk sambil berpikir. Dia berbicara dalam hati.
“Apa maksud laki-laki itu? Sudah jelas sekarang Feli menjadi istriku bisa-bisanya dia terus mendekati Feli.” Gumam Andre kesal.
***
Sementara aku di rumah yang merasa kondisiku membaik memilih keluar kamar dan kembali mengerjakan tugas yang mas Andre berikan padaku. Mirna yang melihatku langsung berteriak.
“Mba Feli, aduh sedang apa? Kan mba Feli masih sakit. Ayo kembali ke kamar istirahat.” Ucap Mirna.
Aku menolak ajakan Mirna dan memilih tetap melanjutkan pekerjaan rumah, Mirna yang merasa khawatir langsung memutuskan menghubungi mas Andre untuk melaporkan padanya.
“Halo mas Andre, ini loh mba Feli malah bersih-bersih rumah padahal wajahnya masih pucat.” Ucap Mirna seolah sedang menggambarkan kondisimu saat ini.
“Baik, sebentar mas.” Jawab Mirna.
Mirna berjalan melangkah mendekatiku, ternyata mas Andre meminta Mirna memberikan teleponnya padaku.
“Mba, ini mas Andre mau bicara dengan Mba Feli.” Ucap Mirna sambil memberikan teleponnya padaku.
Aku menerima HP Mirna.
“Halo.” Ucapku.
Mas Andre langsung memarahiku karena aku yang masih sakit tapi bersikeras mengerjakan pekerjaan yang dia berikan, aku tidak menjawab ucapannya. Mas Andre terus berbicara dan memintaku kembali ke kamar untuk beristirahat.
“Tidak apa-apa mas, lagipula kata kamu saya harus mengerjakannya setiap hari kan?” Ucapku.
Ucapanku membuat mas Andre terdiam, dia kembali mengingat ucapannya. Memamg saat itu dia memintaku untuk setiap hari mengerjakan pekerjaan yang dia berikan padaku tapi dia tidak menyangka bahwa dalam kondisi aku yang sakit pun tetap bersikeras mengerjakan pekerjaan yang dia berikan.
Dia masih terdiam begitupula aku yang sebenarnya menunggu jawabannya. Merasa tidak mendapat jawaban darinya aku langsung mengatakan pada mas Andre agar tidak perlu mengkhawatirkan kondisiku karena aku baik-baik saja, setelah beberapa saat telepon aku matikan dan HP aku kembalikan pada Mirna.
Mirna terus menatapku, dalam hatinya dia berpikir baru kali ini dia melihat mas Andre kalang kabut karena dihiraukan olehku padahal selama dia mengenal mas Andre justru sudah berapa wanita yang mas Andre abaikan tapi kali ini pertama kalinya ada wanita yang berani mengabaikan dan berani menolak permintaannya. Mirna tertawa puas, aku yang melihat Mirna tertawa bertanya padanya.
“Mirna, kamu kenapa?” Tanyaku penasaran.
“Tidak apa-apa Mba, lucu saja baru kali ini aku melihat mas Andre kalang kabut dicuekin perempuan. Biasanya dia yang selalu cuekin perempuan. Dulu ada tuh perempuan cantik model lagi Mba, dia berusaha mendekati mas Andre malah beberapa kali datang ke rumah untuk menarik perhatian mas Andre, eh mas Andre malah kabur dari pintu belakang.” Cerita Mirna.
Ucapan Mirna kembali mengingatkanku pada cerita Mella dulu bahwa ada model yang berusaha mendekati mas Andre tapi dia abaikan. Mungkin ini yang Mella maksud dulu.
“Sekarang mas Andre pasti kepikiran tuh dicuekin istrinya.” Sambung Mirna.
“Sudah, ayo lanjutkan pekerjaan kamu.” Ucapku meminta Mirna menyudahi ucapannya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Aku kembali fokus ke pekerjaanku, sesekali aku menahan sakit kepala yang membuat pandanganku buyar jika sudah begitu aku memilih untuk duduk karena takut pingsan.
***
Di kantor Anggi sedang memberikan arahan pada Dian untuk pekerjaan yang harus dia kerjakan. Sesekali Dian bertanya pada Anggi tapi menurut Anggi pertanyaannya tidak berkaitan dengan job desc nya sebagi sekertaris. Dian yang jelas-jelas menyukai Andre justru menanyakan beberapa pertanyaan yang bersifat personal seperti makanan kesukaan Andre, takaran kopi kesukaan Andre. Warna kesukaan Andre. Anggi yang merasa pertanyaan Dian tidak masuk akal memilih tidak menjawab pertanyaannya dan meminta Dian tidak perlu mengurusi hal lain selain tugasnya sebagai sekretaris. Sikap tegas Anggi membuat Dian kesal, Anggi memeng terkenal tegas itu mengapa Andre sangat menyukai dan cocok dengan kinerja Anggi sebagai sekretarisnya.
“Setelah kamu memeriksa file ini kamu bisa langsung ke ruangan pak Andre dan meminta approval dari beliau.” Ucap Anggi pada Dian.
“Baik bu.” Ucap Dian dengan wajah tampak sedikit dipaksakan ramah karena masih kesal dengan penolakan Anggi untuk menjawab pertanyaan tentang Andre tadi.
Dian bersemangat memeriksa berkas itu karena setalah selesai itu artinya dia bisa masuk ke ruangan Andre dan bertemu dengannya.
Setelah merasa pekerjaannya selesai dia langsung bergegas ke ruangan Andre, di depan pintu dia merapikan rambutnya, Anggi yang melihat ulah Dian hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah mengetuk pintu Dian masuk.
“Siang Pak, ini berkas yang harus pak Andre tandatangani.” Ucap Dian sambil tersenyum.
Sementara Andre masih fokus dengan file yang sedang dia baca tanpa melihat wajah Dian yang berbicara padanya.
“Simpan saja, nanti saya periksa dan saya panggil kamu jika sudah saya tandatangani.” Jawab Andre.
Dian merasa kesal karena Andre yang sama sekali tidak melihat wajahnya hanya berdiri diam ditempatnya semula.
Menyadari Dian yang masih tak begerak membuat Andre menoleh ke arahnya dan meminta Dian meninggalkan ruangannya kemudian dengan wajah kesal Dian pamit meninggalkan ruangan Andre.
Melihat Dian keluar dengan wajah kesal membuat Anggi tersenyum tipis, dia yang sudah sangat mengenal karakter Andre bisa menebak apa yang terjadi pada Dian. Setelah keluar ruangan Dian kembali ke meja nya disana dia terus berbicara dalam hati.
“Apaan sih pak Andre, lihat saya aja ngga. Dia ga sadar kalau ada wanita secantik aku dihadapannya. Lagipula apa bagusnya Felicya sih? Kenapa dia memilih Felycia sebagai istrinya.”
Dian terus menggerutu dalam hati setelah melihat sikap Andre yang cuek padanya. Lamunannya langsung buyar setelah Anggi memanggil namanya.
“Dian, ini schedule pak Andre tiga bulan ke depan. Jika ada tambahan atau reschedule tinggal kamu sesuaikan saja.” Ucap Anggi.
Dian mengangguk tanda mengerti ucapan Anggi.
“O iya, satu lagi pak Andre paling tidak suka dengan orang yang cari perhatian. Yang penting untuk pak Andre adalah pekerjaan dikerjakan dengan baik dan tepat waktu.” Lanjut Anggi sambil berlalu pergi.
Seolah memahami gelagat Dian yang menyukai Andre, Anggi berusaha memperingatkan Dian agar tidak melampaui batas. Dian merasa kesal dengan kata-kata yang baru saja dia dengar.
“Apaain sih Anggi. Sok banget. Awas saja kita lihat. Aku yakin nanti pak Andre akan melirikku.” Ucap Dian dalam hati dengan penuh percaya diri.
Mas Andre yang masih merasa cemas dengan kondisiku memutuskan membuka HP nya dan memeriksa CCTV rumah. Di layar Hpnya terlihat aku yang masih sibuk mengepel lantai dengan langkah kaki yang masih tertatih. Dia terus mengawasi gerak gerikku sambil memegang kepalanya pikiran nya kembali gusar.
Disatu sisi memang dia yang memintaku untuk setiap hari mengerjakan pekerjaan yang dia berikan tapi disisi lain ada perasaan cemas yang dia rasakan terhadap kondisiku walau sebenarnya dia sendiri masih memungkiri kepeduliannya padaku.
Masih merasa cemas mas Andre menghubungi Mirna.
Mirna yang sedang di dapur tidak menyadari HP nya berdering, beberapa saat Andre mencoba menghubunginya tapi tidak mendapat jawaban.
“Mirna ini, apa gunanya punya HP kalau dihubungi saja susah.” Ucap Andre kesal sambil terus berusaha menghubungi Mirna.
Akhirnya usaha Andre berhasil, Mirna mengangkat teleponnya. Belum sempat Mirna berbicara Andre langsung memarahi Mirna karena lama mengangkat telepon darinya, Mirna hanya mendengarkan ocehan Andre.
“Feli bagaimana?” Tanya Andre untuk memastikan kondisi Feli.
Mirna mencoba menjelaskan kondisiku pada mas Andre.
“Pastikan dia makan dan minum obatnya, setelah itu kami bilang kalau saya yang menyuruhnya menghentikan pekerjaan itu dan minta dia beristirahat. Bilang kalau dia sakit dia akan membuat saya repot.” Ucap Andre.
“Ingat bilang padanya ini bukan karena saya perhatian padanya tapi karena saya malas kalau dia membuat saya repot.” Lanjut Andre.
Mirna hanya mendengarkan ucapan Andre padahal dalam hatinya dia tahu bahwa sebenarnya Andre sangat merasa cemas dengan kondisiku.
Akhirnya Andre menutup teleponnya, dan Mirna bergegas menghampiriku yang sudah berada di halaman depan rumah.
***