Aku masih sibuk membersihkan lantai sisi kolam renang saat Mirna datang menghampiriku.
“Mba Feli, tadi Mirna cari di halaman depan ternyata mba disini. Ayo masuk ke dalam mba makan dulu tadi kata mas Andre, mba Feli tidak perlu melanjutkan pekerjaan mba Feli lagi. Setelah minun obat mba Feli diminta istirahat.” Ucap Mirna.
“Nanti ya Mir, tanggung nih.”
Aku menjawab sambil tanganku terus mengepel lantai, Mirna terus berusaha membujukku tapi aku tetap bersikeras untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Akhirnya Mirna putus asa dan pergi meninggalkanku sendiri.
***
Caroline masih tampak kesal akibat pertengkarannya dengan suaminya semalam, dia yang menyadari bahwa Ferdi masih mencintaiku merasa tersulut emosi dan berniat berbicara langsung padaku untuk menjauhi Ferdi. Dia mencoba menghubungiku tapi karena HP ku di kamar aku tidak mengetahui bahwa Caroline menelponku, masih merasa kesal akhirnya dia putuskan untuk mendatangi rumah mas Andre.
***
“Mba Feli, didepan ada tamu untuk mba Feli.”
“Siapa Mir?”
“Namanya Caroline mba.” jawab Mirna.
Aku langsung teringat ucapan mas Andre yang melarangku menerima tamu tanpa izin darinya, tapi karena yang datang Caroline aku memutuskan untuk menerimanya.
“Biarkan dia masuk ya Mir, dan tolong suruh tunggu dia diruang tamu.”
“Baik mba.”
Didepan pintu Mirna mempersilahkan Caroline masuk kedalam rumah dan meminta Caroline menunggu di ruang tamu tapi Caroline memaksa masuk kedalam rumah, Mirna sudah berusaha menghalangi tetapi gagal. Melihat aku sedang berada dihalaman belakang dia berjalan cepat menghampiriku, Mirna mengikuti dari belakang.
“Mbaaa, aku mau bicara.”teriak Caroline padaku.
“Maaf mba Feli, tadi aku sudah minta untuk tunggu diruang tamu tapi mba ini memaksa masuk.” ucap Mirna sambil menatap sinis kearah Caroline.
“Tidak apa-apa Mirna, tolong tinggalkan kami berdua ya.”
“Baik mba.”
Mirna bergegas meninggalkan aku dan Caroline.
“Ada apa Caroline?”
“Aku tidak ingin basa basi ya mba, aku kesini hanya mau bilang ke kamu jangan ganggu rumah tangga aku dengan Ferdi. Sekarang dia itu suami aku jadi jangan pernah hubungin dia lagi.” Ucap Caroline dengan nada sewotnya.
“Aku sudah katakan ke kamu, aku tidak pernah menghubungi Ferdi justru beberapa kali dia yang menghubungi mba tapi mba tolak.”
“Jadi maksud mba, dia yang masih mengejar mba padahal dia sudah menikah denganku? Begitu maksud mba?”
“Bukan begitu maksud mba.” Lanjut Caroline.
Karena terlanjur emosi Caroline mendekat kearahku menamparku dan menjambak rambutku, aku tidak melakukan perlawanan sama sekali sampai tindakan Caroline yang semakin kasar dan mendorong aku sampai tercebur ke kolam renang. Kakiku yang masih belum pulih karena terkirir tiba-tiba kram dan karena aku sendiri tidak bisa berenang menyebabkan aku hampir tenggelam.
Caroline yang melihat kondisiku bukannya menolongku justru pergi meninggalkanku, saat itu kondisi kolam renang kosong, Mirna sedang ada di lantai 2 membersihkan kamar mandi kamar mas Andre. Caroline meninggalkan rumahku dengan posisi pintu rumah terbuka, saat Caroline keluar pintu gerbang tak lama datang sebuah mobil yang langsung masuk kedalam rumah, saat itu Agus sedang berada di toilet sehingga tanpa dia sadari mobil itu bisa masuk kedalam gerbang rumah.
Pemilik mobil itu langsung berlari dan masuk kedalam rumah dengan mudah karena kondisi pintu rumah yang terbuka, dia berteriak memanggil namaku dan Caroline. Ternyata pemilik mobil itu adalah Ferdi, dia yang mengetahui Caroline kerumahku dari pembantu dirumahnya bergegas menyusul Caroline. Ferdi mencari-cari aku dan Caroline didalam rumahku.
Dia menoleh kearah kolam renang dan melihat tangan melambai meminta pertolongan dari dalam kolam renang, melihat itu Ferdi langsung bergegas dan menceburkan dirinya kedalam kolam renang. Dia menolongku dan membantu aku keluar dari dalam kolam renang, Mirna yang mendengar keributan berlari kearah kolam renang, betapa terkejutnya dia melihat Ferdi sedang membantuku memberi napas bantuan, kondisi aku yang tidak sadarkan diri langsung membuat Ferdi panik dan menggendongku untuk membawaku ke rumah sakit.
Mirna mengikuti untuk ikut membawaku kerumah sakit, didalam mobil dia mengirim pesan ke mas Andre untuk memberitahukan bahwa kondisiku tidak sadarkan diri. Setibanya dirumah sakit aku langsung mendapat perawatan dari dokter, diluar ruangan Mirna mencoba menghubungi mas Andre.
“Hallo?”
“Mas Andre ini loh kebiasaan, ini istrimu pingsan. Gimana sih istri sakit suaminya ga ada.”
“Ini loh mba Feli pingsan, tadi tenggelam di kolam renang.”
Mas Andre langsung panik setelah mendengar ucapan Mirna dan menanyakan posisi Feli dimana.
“RS.Sejahtera.”
Mas Andre langsung menutup teleponnya.
“Randi, kamu urus dulu semuanya saya harus ke rumah sakit.”
“Maaf Pak, siapa yang sakit?”
“Feli pingsan.”
Mas Andre langsung bergegas pergi meninggalkan ruangannya. Randi, Anggi, dan Dian hanya melihat kepergian mas Andre yang tergesa-gesa, terlihat Dian menunjukkan ekspresi tidak sukanya.
***
Di rumah sakit, aku sudah sadar dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, Mirna menemani diruangan.
“Mba Feli, maaf ya Mirna tidak menjaga mba Feli.” Ucap Mirna dengan mimik wajah penyesalan.
“Tidak apa-apa Mirna, ini bukan salah kamu.”ucapku menenangkan.
Tak lama Ferdi masuk ke kamar setelah mengurus administrasi rumah sakit.
“Feli, kamu tidak apa-apa?”
Aku sangat terkejut ketika melihat Ferdi, ternyata lagi-lagi dia yang menolong membawaku ke rumah sakit.
“Saya baik-baik saja, terima kasih atas bantuannya tapi saya rasa sekarang kamu sudah bisa pergi.”
“Tidak, saya tidak akan pergi sampai saya yakin kondisi kamu baik-baik saja.” ucap Ferdi.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ternyata mas Andre yang datang. Tatapannya langsung tertuju ke Ferdi, aku dan Mirna hanya diam melihat mereka saling beradu pandangan dingin.
“Sedang apa anda disini?”ucap mas Andre pada Ferdi dengan tatapan sinis nya.
“Justru seharusnya saya yang bertanya pada anda, kemana saja anda sampai anda tidak tahu istri anda dalam bahaya.” ucap Ferdi tak kalah sinis pada mas Andre
Mas Andre langsung emosi mendengar ucapan Ferdi, dia langsung mendekati Ferdi dan menarik kerah baju Ferdi. Aku yang melihat mereka langsung berteriak dan meminta mereka menghentikan perdebatan mereka.
“Ferdi, cukup saya minta kamu keluar dari sini. Terima kasih atas pertolongan kamu membawa saya kesini tapi tolong keluar dari sini.”
Mas Andre yang mendengar ucapanku terlihat terkejut.
“Bagaimana Ferdi bisa membawa Feli ke rumah sakit jika Feli tenggelam dikolam renang rumah, apa artinya Ferdi masuk kedalam rumah?” ucapnya dalam hati.
“Tapi Feli..”
“Tolong Ferdi, saya tidak punya cukup tenaga untuk melihat berkelahian kalian disini, jadi tolong keluar dari sini.”
Ferdi yang merasa tidak tega melihat kondisiku memutuskan untuk keluar dari ruangan. Mas Andre mendekat ke arahku, aku langsung memalingkan wajahku sedangkan Mirna langsung meminta izin untuk menunggu di luar kamar.
“Kamu kenapa? Kenapa sampai bisa terjatuh dan hampir tenggelam? “ tanya mas Andre padaku.
Aku hanya terdiam dan memejamkan mataku, tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka ternyata suster dan dokter masuk keruangan untuk memeriksa kondisiku. Setelah melakukan pemeriksaan dokter menjelaskan kondisiku pada mas Andre, ternyata selama tenggelam tadi aku banyak menelan air kolam renang yang mengandung kaporit sehingga malam ini dokter menganjurkan aku untuk di opname, setelah beberapa saat dokter berbincang dengan mas Andre akhirnya dokter dan suster keluar ruangan tak lama mas Andre yang keluar ruangan.
“Mir, malam ini Feli harus tidur dirumah sakit jadi sekarang kamu bisa pulang dan tolong siapkan pakaian untuk saya dan Feli, saya sudah minta supir kesini untuk jemput kamu nanti kamu bawakan pakaian itu ke supir dan minta dia mengantarkan pakaian seteleh mengantar kamu.”
“Baik mas.”
“O iya, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi? Kenapa laki-laki tadi bisa membawa Feli ke rumah sakit?”
“Jujur saya tidak tahu mas bagaimana orang itu tiba-tiba ada di dalam rumah, yang saya tahu ada perempuan bernama Caroline yang datang menemui mba Feli sebenarnya mba Feli meminta perempuan itu menunggu di ruang tamu, saat itu mba Feli sedang membersihkan kolam renang tapi perempuan itu memaksa masuk dan menghampiri mba Feli dengan emosi.”
“Terus? “ tanya mas Andre penasaran.
“Setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi karena mba Feli meminta saya meninggalkan mereka berdua.”
Setelah mendengar penjelasan Mirna, mas Andre duduk dikursi tunggu yang ada di luar kamar sedangkan Mirna pergi ke parkiran karena supir sudah datang menjemput.
Mas Andre membuka handphonenya untuk mengecek CCTV yang ada di rumah, dia memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi saat itu. Mas Andre melihat bagaimana Caroline menyerangku sedangkan aku hanya diam tidak melakukan perlawanan sampai Caroline mendorongku dan aku tenggelam di kolam renang. Mas Andre terus mengamati apa yang terjadi saat itu, sampai tiba-tiba muncul sosok Ferdi yang datang menyelamatkan aku dan memberi napas bantuan untukku, saat melihat itu mimik wajah mas Andre langsung berubah dia terlihat marah dengan apa yang dia lihat di layar handphone saat itu juga dia langsung mematikan handphonenya dan masuk ke dalam kamar.
Di kamar dia memperhatikanku yang sedang tertidur, dia melihat bekas luka di sekujur tubuhku.
“Belum sebulan dia menjadi istri saya tapi luka di sekujur tubuhnya sudah banyak.” Ucapnya dalam hati.
Tangannya hampir membelai rambutku tapi tertahan. Dia langsung menarik kembali tangannya dan bangkit dari duduknya.
Tengah malam mataku terbuka, aku merasa dahaga, ku lihat mas Andre duduk dikursi samping ranjang. Aku berusaha bangkit dari tempat tidur untuk mengambil gelas yang ada diatas laci tempat tidur tiba-tiba pandanganku buyar, aku tidak bisa melihat sekelilingku dengan jelas, tanganku tidak sengaja menyenggol gelas itu dan akhirnya terjatuh dan pecah, suara gelas pecah itu membangunkan mas Andre, dia melihat aku yang hampir terjatuh dan langsung menahanku, mata kami saling menatap saat itu aku melihat tatapan hangat dari sorot mata mas Andre, tatapan yang aku rasakan saat kami belum menikah, tatapan itu juga yang membuat aku berani memutuskan menerima pinangan mas Andre.
“Kan sudah saya bilang kalau kamu butuh sesuatu bilang ke saya, untuk apa saya disini kalau kamu bisa urus semuanya sendiri.” ucap mas Andre dengan nada tinggi.
Aku kembali dari lamunan, setelah menikah aku justru lebih sering melihat tatapan sinis dan mendengar kata-k********r yang mas Andre lontarkan padaku, tiba-tiba tanpa aku sadari air mataku mengalir. Aku langsung mengusap air mata yang menetes itu, aku urungkan niatanku untuk minum, ku balikkan badanku membelakangi mas Andre duduk, dia hanya terdiam.
“Apa saya terlalu kasar padanya?” Pikir mas Andre dalam hati.
Aku terus menangis sedangkan mas Andre terus berkutat dengan pikirannya. Sampai esok paginya kami hanya saling diam. Dokter datang untuk memeriksa kondisiku, dan memperbolehkan aku untuk pulang.
Di koridor rumah sakit dari kejauhan aku melihat sosok Caroline berjalan cepat menghampiriku, tangannya langsung mendarat dipipiku, aku ditampar lagi olehnya. Mas Andre yang masih terkejut melihat kejadian didepannya mematung sesaat, aku memegang pipi bekas tamparan, mas Andre langsung sontak berdiri di depanku mencoba menghalangi Caroline bertindak lebih jauh lagi, dari arah depan tampak Ferdi berlari mendekat rupanya dari kejauhan dia melihat perlakuan Caroline padaku. Ferdi langsung berusaha memegang pipiku tapi tangannya langsung dicengkram mas Andre.
“Stop, lebih baik anda urus istri anda. Feli menjadi tanggungjawab saya.” Ucap mas Andre tegas.
Caroline yang makin kesal melihat perlakukan Ferdi kepadaku semakin marah kepadaku, dia mengeluarkan kata-k********r padaku, aku hanya terdiam dan terlihat mas Andre menatapku dengan tatapan iba.
Tangan mas Andre langsung menarikku, aku mengikuti langkah cepat mas Andre dan samar-samar aku masih dapat mendengar cacian Caroline padaku.
***
Di dalam mobil aku mencoba menahan tangis sambil memegang pipiku yang masih merah karena bekas tamparan tadi, mas Andre melihat ke arahku, tangannya memegang pipiku perlahan dia belai lembut pipi merahku.
“Sakit? “ tanyanya lirih.
Entah apakah ini sekedar basa basi atau memang bentuk perhatiannya padaku, aku terdiam.
“Mau ke dokter? “ tanyanya lagi.
Jujur aku ingin tersenyum saat dia menanyakan itu padaku, menurutku lucu jika ada orang yang kedokter hanya karena ingin mengobati bekas tamparan. Aku menggelengkan kepalaku, dia menatapku.
“Kamu ngapain sih sebenarnya? Kenapa Caroline bisa semarah itu kepadamu?” Tanya mas Andre penasaran.
Aku kembali menggelengkan kepalaku, merasa tidak mendapat jawaban dariku mas Andre menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari rumah sakit. Di dalam mobil aku dan mas Andre saling terdiam, kuperhatikan sesekali mas Andre melirik kearahku.
Jarak rumah sakit dan rumah kami sebenarnya tidak terlalu jauh tapi entah kenapa perjalanan kali ini terasa sangat lama. Untuk memecahkan keheningan mas Andre menyalakan musik tapi mendengar alunan musik justru membuat aku semakin merasa pusing.
Sesampainya didepan gerbang rumah, mas Andre membunyikan klakson kencang, tampak Agus berlari tergesa-gesa untuk membukakan pintu gerbang.
Kami turun dari mobil, mas Andre memintaku masuk kedalam rumah sedangkan dia memanggil Agus.
“Kenapa orang bisa leluasa masuk ke dalam rumah?” bentak mas Andre.
Terlihat Agus sangat ketakutan mendengar ucapan mas Andre.
“Maaf Pak, saya sedang ditoilet saat ada mobil itu masuk.” Agus mencoba menjelaskan apa yang terjadi saat itu.
“Kamu dengar, sekali lagi ini terjadi saya pastikan akan memecat kamu.” Ucap mas Andre.
“Maaf Pak, saya pastikan tidak akan terulang lagi.”
Mas Andre berjalan meninggalkan Agus yang masih terlihat ketakutan. Di dalam rumah aku bergegas masuk ke kamar dan aku kunci pintunya, terdengar suara orang berusaha membuka pintu yang terkunci.
“Fel.. Feli.”
Suara mas Andre memanggilku, dengan langkah lunglai aku mendekat ke pintu kamar dan membuka kuncinya.
“ Kenapa? “ tanya aku ketus.
“ Kamu kenapa?”
“Apanya yang kenapa?” aku balik bertanya pada mas Andre.
“Iya, kenapa sikap kamu?”
“Sikap apa? Terus saya harus bagaimana?”
Mas Andre menarik napas panjang, dia meraih tanganku saat aku menjauh darinya.
“Jelaskan, kamu kenapa?”
Aku menatap tajam ke arah mas Andre.
“Dian.”ucapku singkat.
“Dian?” tanya mas Andre yang tidak memahami maksud ucapanku.
“Iya, Dian.” Jawabku.
Terlihat mas Andre mengerutkan keningnya mencari jawaban dari ucapanku.
“Kenapa kamu tidak cerita masalah Dian?”ucapku sinis.
“Masalah Dian? Maksudnya?”
Mas Andre masih tidak memahami maksud ucapanku.
“Kenapa kamu tidak cerita kalau Dian sekarang jadi sekertaris kamu.”
“Ya ampun, jadi sikap kamu berubah cuma karena masalah Dian?”
Aku terdiam, tidak menjawab pertanyaan mas Andre.
“Dian terpilih sebagai pengganti sementara Anggi atas keputusan HRD bukan saya yang minta.”
“Lagian kenapa kamu marah cuma karena masalah itu? Kamu cemburu?” sambung mas Andre.
Aku terdiam dan menutup pintu tanpa menjawab pertanyaan mas Andre.
Mas Andre pergi ke kamarnya setelah melihat pintu kamarku tertutup.