Hari ini kondisiku sudah jauh membaik, aku kembali mengerjakan pekerjaan rumah yang mas Andre berikan. Pagi hari aku sengaja bangun lebih awal agar dapat membuatkan sarapan untuk mas Andre.
Makanan aku tata diatas meja makan, aku duduk menunggu mas Andre keluar kamar. Tak lama mas Andre keluar dan duduk di kursinya, aku tersenyum manja padanya. Melihatku yang tersenyum mas Andre merasa aku sudah kembali ke sosokku yang asli setelah beberapa hari terus uring-uringan dan mengabaikannya.
“Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya mas Andre dengan muka datarnya, tangannya masih sibuk melipat lengan bajunya.
Aku mengambil nasi dan lauk untuk diletakkan di piringnya.
“Mas, kalau pekerjaan rumah sudah selesai nanti sore aku boleh keluar rumah sebentar?”
Mas Andre menatapku, sedangkan aku masih tersenyum manis padanya.
“Mau kemana?” tanya Mas Andre penasaran.
Belum sempat aku menjawab dia langsung melanjutkan ucapannya.
“Mau berkelahi dengan Caroline? Atau mau bertemu dengan Ferdi?” Sindir mas Andre padaku.
“Apaan sih mas, aku mau ke pameran lukisan. Disana ada lukisan yang dari dulu sangat aku suka.”
Aku mencoba menjelaskan padanya kemana tujuanku akan pergi. Mas Andre hanya terdiam dan tidak langsung menjawab.
“Gimana mas? Boleh kan?” Aku kembali bertanya dan sedikit memaksa.
Dia menatapku
“Kamu pergi dengan siapa?” Tanya mas Andre.
“Sendiri, aku kan bisa naik taxi.” Jawabku.
Mas Andre masih terdiam.
“Boleh yah mas??” ucapku dengan nada sedikit manja.
“Ya boleh, tapi jangan naik taxi nanti saya minta supir mengantar kamu.” Ucap mas Andre.
Aku yang sangat senang karena mendapat izin darinya secara reflex langsung memeluk lengannya. Mas Andre tampak terkejut melihat ulahku tapi terlihat dia sedikit tersipu malu.
“Ayo mas, dimakan. Enak lo masakan aku.”
Dia menggelengkan kepalanya setelah mendengaku memuji masakanku sendiri.
Begitu makanan masuk ke mulutnya dia tampak terkejut dan berbicara dalam hati.
“Enak juga nih masakan Feli.” Tanpa dia sadari dia lahap memakan masakan yang aku buat.
Aku tersenyum melihatnya makan sampai dia tersadar bahwa dari tadi aku hanya memperhatikannya.
“Enak kan?” aku menggodanya.
“Lumayan.” Jawab mas Andre ketus.
Setelah makan dia langsung bergegas pergi tak lupa seperti biasa aku mencium tangannya.
***
Hari ini adalah hari pertama Anggi cuti, dari kejauhan Dian dapat melihat Andre tampak berjalan mendekati mejanya. Dia bergegas merapikan rambutnya.
“Selamat pagi pak.” Sapa Dian.
“Pagi.” Jawab Andre sambil berlalu pergi.
Andre kemudian masuk ke ruangannya, setelah beberapa saat terdengar suara ketukan pintu.
“Masuk.” Ucap Andre.
Nampak Dian berjalan membawa cangkir, dia meletakkan cangkir itu diatas meja.
Andre yang melihat Dian menyuguhkan kopi untuknya merasa heran karena itu bukan menjadi tugasnya.
“Kenapa kamu yang memberikan kopi pada saya? Apa tidak ada OB?” Tanya Andre tegas.
“Tidak apa-apa pak, saya kan sekertaris bapak jadi tidak masalah bagi saya kalau harus menyiapkan semua kebutuhan bapak.” Ucap Dian seolah mencari perhatian dari Andre.
“Tidak perlu, lain kali minta OB yang membawakan untuk saya lagi pula mereka sudah tahu tugas mereka masing-masing, kamu kerjakan saja tugas kamu dengan baik dan tidak perlu mengambil pekerjaan yang bukan bagian kamu.” Ucap Andre.
Wajah Dian tampak merah karena menahan malu, dia tidak menyangkan akan mendapat penolakan lagi dari Andre, tapi menurutnya sikap Andre tersebut membuatnya semakin jatuh cinta.
“ Apa jadwal saya hari ini?” sambung Andre menanyakan jadwal pekerjaannya untuk hari ini.
Dian langsung mengambil agenda dan menjelaskan jadwal Andre beserta jam dan tempatnya.
Setelah menjelaskan jadwal kegiatan Andre, dia diminta meninggalkan ruangan kerja Andre.
Jadwal Andre ternyata hari ini cukup padat padahal awalnya Andre berniat mengantarku pergi ke pameran lukisan yang ingin aku kunjungi. Andre mengambil Hpnya.
“Kamu pergi ke pameran jam berapa?”
Isi pesan yang Andre kirim untukku.
Aku yang masih sibuk di dapur langsung menghentikan aktivitasku saat mendengar ada pesan masuk di HP ku.
“Ternyata dari mas Andre.” Ucapku dalam hati, aku sangat senang ketika melihat nama mas Andre di layar Hpku.
Aku langsung membalas pesan mas Andre.
“Jam 17.00 mas, acaranya mulai jam 17.30 wib.”
Sementara Andre berpikir saat membaca pesan jawaban dariku.
“Jam 17.00 padahal jam itu saya masih ada meeting penting dan baru selesai jam 19.00 wib. Gimana ya?” dia terus berbicara dalam hati berusaha mencari solusi untuk masalah yang sedang dia pikirkan.
***
Jam dinding sudah menunjukan pukul 17.00 wib, aku sudah bersiap untuk pergi ke pameran. Ku amati sekeliling tapi belum ada tanda-tanda mobil datang menjemputku.
Aku mencoba menghubungi mas Andre tapi teleponnya tidak aktif, aku berpikir keras apakah sebaiknya aku menggunakan taxi saja. Hampir aku pesan taxi online tapi dari kejauhan tampak mobil mendekat ke arahku.
Ternyata mobil tersebut yang dikirim mas Andre untuk mengantarku.
“Maaf Bu Feli, jalanan macet jadi saya terlambat.” Ucap pak Yono ramah. Dia adalah supir perusahaan mas Andre.
“Tidak apa-apa pak.” Aku menjawab dengan ramah.
Pak Yono langsung membukakan pintu mobil untukku dan aku bergegas masuk kedalamnya.
***
Aku langsung turun dari mobil saat pak Yono menghentikan mobil tepat di pintu masuk.
Pameran ini diadakan di hotel tempatku bekerja dulu, aku masuk ke dalam.
Suasana ballroom sangat ramai, terlihat tamu dengan gaya berpakaian yang mewah jika diperhatikan mungkin hanya aku yang berpakaian sangat sederhana. Padahal aku adalah putri tunggal dari pemilik hotel mewah ini.
Aku berkeliling melihat berbagai lukisan yang tergantung di dinding. Semenjak ibu mendatangiku dalam mimpi rasa traumaku terhadap lukisan menjadi berkurang terlebih lagi setiap hari dirumah mas Andre aku disuguhkan dengan pemandangan lukisan-lukisan indah sehingga kecintaanku terhadap lukisan semakin bertambah.
“Feli?”
Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku, aku langsung berbalik arah ternyata Luna berdiri dibelakangku.
Luna adalah temanku sewaktu kami melakukan kelas melukis, semenjak kejadian kecelakaan itu dan aku memutuskan untuk berhenti melukis akhirnya kami putus hubungan dan tidak pernah berkomunikasi lagi.
“Hai, Luna.” Aku balik menyapanya.
Kami berpelukan setelah saling menyapa, Luna adalah perempuan cantik, dari dulu banyak laki-laki yang tertarik padanya tapi etah kenapa dia selalu mengabaikan semua laki-laki yang berusaha mendekatinya.
“Kamu apa kabar?”
Luna menanyakan kabarku dan aku jawab bahwa kabarku baik-baik saja, dia menyatakan keprihatinanya karena kepergian ibuku, karena takut aku kembali mengingat kenangan buruk itu Luna langsung mengalihkan pembicaraannya ke hal lain.
Aku langsung balik menanyakan kabarnya, apakan dia sudah menikah, kesibukannya saat ini, dan beberapa pertanyaan lain. Dulu kami memang cukup dekat sehingga tak heran saat sekarang kami bertemu lagi dengan mudah kami dapat membahas banyak hal.
Dari ceritanya ternyata aku tahu bahwa saat ini dia belum menikah dan sekarang dia mengelola sebuah gallery seni yang sengaja dia bangun, bukan hal sulit bagi Luna memiliki galery seni, keluarganya cukup berada sehingga pasti mudah baginya meminta kepada orang tuanya membangun galery seni sendiri.
“Kamu gimana, sudah menikah?” tanya Luna.
“Sudah, beberapa bulan lalu aku menikah.” Jawabku.
“Wah, selamat ya Fel coba saja kalau kita masih terus kontak pasti aku datang ke pernikahan kamu.” Ucap Luna.
Kami terus berbincang sambil berkeliling melihat lukisan.
Sementara itu dari sudut lain ternyata ada Ferdi yang ikut datang, pantas jika Ferdi datang mengingat ini adalah hotel mertuanya. Ferdi sedang berbincang dengan beberapa orang tapi tidak sengaja dia melihatku yang sedang asik berbincang dengan Luna.
Tanpa aku sadari dia terus menatapku padahal saat itu dia sedang bersama tamu lain.
Setelah beberapa saat Luna pamit pulang duluan, tapi sebelum dia pulang kami bertukar nomer telepon agar kami bisa saling berkabar nantinya.
“Bye Fel, lain kali kita jalan lagi ya.” Ucap Luna saat kami berpelukan.
“Iya, kamu hati-hati ya.” Jawabku.
Setelah berpamitan Luna langsung melangkah pergi meninggalkan aku yang masih menikmati semua pemandangan indah di depan mata.
***
Di kantor, Andre terus melihat jam tangannya. Nampaknya dia mulai tidak fokus dengan meeting yang sedang berlangsung.
Beberapa materi bahkan dia percepat dengan harapan bisa segera mengakhiri meeting ini.
Jam dinding menunjukkan pukul. 18.45 wib artinya dia bisa mempercepat 15 menit dari waktu yang seharusnya, dia langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan dan staffnya. Tampak Randi dan Dian merasa heran dengan tingkah mas Andre.
Andre bergegas menuju mobilnya, dengan cepat dia melajukan mobilnya. Saat itu jalanan cukup padat di dalam mobil dia tampak gusar karena merasa sudah sangat terlambat.
Akhirnya dia tiba di tempat yang menjadi tujuannya. Dia mencari parkiran yang kosong untuk memarkirkan mobilnya.
Di area parkir yang sama tampak Luna masuk ke dalam mobilnya dan bersiap keluar area parkir, dia memundurkan mobilnya dan jalan perlahan menuju pintu keluar tapi matanya tertuju ke sebuah mobil yang dia rasa kenal dia mencoba memastikan apakah mobil yang dia lihat adalah mobil yang dia maksud, belum sempat melihat jelas plat mobilnya dari belakang terdengar suara klakson mobil yang meminta Luna melajukan mobilnya lebih cepat karena takut membuat kemacetan akhirnya Luna mengurungkan niatnya untuk memastikan no plat mobil itu.
Sementara itu setelah berusaha mencari area parkir yang kosong akhirnya Andre berhasil memarkirkan mobilnya. Dia bergegas keluar mobil dan masuk kedalam hotel.
***
Di dalam hotel aku masih berjalan sendiri, sesekali berhenti tepat didepan lukisan yang menarik perhatianku untuk melihat lukisan itu lebih jelas.
“Feli.” Lagi-lagi aku mendengar seseorang memanggil namaku dan kali ini suara yang memanggilku sangat aku kenal.
“Ferdi.” Ucapku dalam hati.
Tanpa menoleh pada sumber suara aku langsung bergegas pergi untuk menghindarinya. Ferdi langsung berusaha mengejarku, aku sedikit berlari kecil untuk menghindarinya saat itu aku yang menggunakan heels cukup kesulitan menjauh darinya karena langkahnya lebih cepat dari lari ku.
Lagi-lagi tangannya memegang tanganku, dan lagi-lagi aku berusaha melepaskan diri darinya.
“Lepaskan!! Atau saya akan berteriak.” Aku mencoba mengancam Ferdi dan ternyata berhasil.
Dia melepaskan tangannya dari lenganku.
"Kamu sendiri? Ayo saya antar kamu pulang.” Ucap Ferdi.
“Tidak perlu, ada supir yang mengantar saya.” Jawabku sambil terus berusaha menjauhinya. Ku langkahkan kaki terus menjauh darinya dan dia kembali mengejarku. Dan entah apa yang aku pikirkan saat itu ternyata kaki melangkah ke tangga darurat, aku terus berlari menghindari Ferdi tapi dia dapat dengan mudah mengejarku lagi.
Tangannya langsung memeluk tubuhku, aku berusaha melawan dengan sekuat tenaga yang aku punya karena tubuhnya jauh lebih besar dari tubuhku aku hampir putus asa karena tidak bisa melepaskan diri darinya.
Yang bisa aku lakukan sekarang hanya menangis, tapi tiba-tiba ada tangan yang menarik tubuh Ferdi, aku terlepas dari dekapan Ferdi.
Aku berlari menjauh dari Ferdi, tenyata lagi-lagi mas Andre datang sebagai menyelamatku. Dia langsung menghajar Ferdi dengan beberapa pukulan di wajahnya.
Melihat aku yang terus menangis di sudut tangga membuat mas Andre menghentikan pukulannya pada Ferdi. Dia melangkah mendekatiku, melepaskan jas nya dan memakaikan ke tubuhku. Tanganku sangat dinging karena ketakutan dia langsung memelukku dan berusaha menuntunku agar segera keluar tapi tanpa mas Andre sadari Ferdi bangkit dan berusaha memukul kepalanya aku yang menyadari tindakan Ferdi langsung menarik mas Andre dan menyebabkan aku yang terkena pukulan Ferdi, saat itu pandanganku langsung buyar dan akhirnya aku tak sadarkan diri.
***
Mataku perlahan terbuka, aku amati sekitar ternyata lagi-lagi aku sudah berada dirumah sakit entah kenapa semenjak aku menikah dengan mas Andre aku seolah pengunjung tetep rumah sakit.
Mas Andre tampak tertidur disamping ranjang ku. Aku mengelus rambutnya perlahan karena takut dia terbangun dan benar saja dia langsung terbangun.
“Bagaimana kondisi kamu?”
Aku tersenyum padanya.
“Terima kasih mas, Lagi-lagi kamu yang menyelamatkan aku.”
Mas Andre hanya terdiam mendengar ucapan terimakasihku.
***
Esok harinya saat aku dan mas Andre sedang sarapan di ruang makan Mirna datang menghampiri kami.
“Mas Andre ada tamu.” Ucap Mirna.
“Siapa?” Tanya mas Andre.
“Katanya dari kepolisian.” Jawab Mirna.
Aku merasa heran dan cemas setelah mengetahui bahwa polisi yang datang mencari mas Andre.
“Mas, kenapa polisi mencari kamu?”
Mas Andre menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan aku, karena aku merasa cemas akhirnya aku putuskan untuk mengikuti mas Andre menemui polisi itu.
“Selamat pagi pak Andre.” Sapa polisi.
“Selamat pagi pak, silahkan duduk.” Ucap mas Andre.
Aku ikut duduk disamping mas Andre menyimak semua yang dikatakan polisi itu.
Ternyata mereka datang untuk menindaklanjuti laporan mas Andre terkait k*******n yang semalam aku alami.
“Mas Andre melaporkan kasus semalam pada polisi?” Gumamku dalam hati.
Aku hanya mendengarkan mas Andre dan polisi berbincang sampai akhirnya polisi pamit pergi dan mengatakan akan menindaklanjuti laporan ini dan jika dibutuhkan meminta aku dan mas Andre untuk datang bersaksi.
Setelah polisi pergi, aku langsung menanyakan hal itu pada mas Andre.
“Mas, kamu serius melaporkan kasus semalam ke polisi?”
“Kapan saya main-main, saya tidak akan tinggal diam pada Ferdi. Ulahnya semalam sudah sangat keterlaluan.”
Belum sempat aku melanjutkan ucapanku mas Andre pergi meninggalkanku, aku kembali mengejar langkahnya.
***