BAB 2 PERMINTAAN PINDAH RUMAH

1516 Kata
Harlan menggelengkan kepalanya dia masih mengatakan kalau sayang sekali pada mamanya dan belum tega meninggalkan rumah demi memantau kesehatan mamanya yang sudah renta .Harlan memintaku untuk sabar dan menunggu waktu selama satu bulan untuk membaur dengan mertuaku. "Nita bagaimana kalau kita coba bertahan di rumah ini selama satu bulan. Kamu hanya belum terbiasa dengan mamaku. Kalau sebulan tidak terbiasa aku janji deh kita akan pindah rumah," jawab Harlan suamiku malah memberikan janji kepadaku. "Baiklah kalau begitu tapi kalau satu bulan mamamu masih menyakitiku terus aku tetap ingin pindah rumah kita harus mandiri dan hidup berumah tangga tidak di setir oleh mertua," balasku dengan nada kecewa karena Harlan masih enggan berpisah dengan mamanya untuk membina rumah tangag denganku. Hari sudah berganti hari dan satu bulan sudah berlalu/ Aku sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah mertua karena apa yang aku lakukan semua serba salah di mata mertua. Jika aku membantah apa perkataan mertua ujung-ujungnya mertua mengadu kepada Harlan dengan air mata buanya. Menuduhku tidak patuh dan tidak menghormatinya lalu Harlan akan menegurku sebagai orang yang lebih muda seharunya menghormati yang lebih tua. "Nita kenapa kamu selalu membuat mama menangis. Kamu itu yang lebih muda cobalah sedikit menghargai orang tuaku. Dia yang melahirkan aku dan aku tidak tiga melihatnya menangis karena beradu argumen denganmu. Cobalah mengalah kepada yang lebih tua tidak masalah kok kalau kamu mau mengalah," pinta Harlan padaku saat mamanya mengadu kepadanya terntang adu mulut yang terjadi antara aku dan mamanya. "Jika aku selalu diam aku akan selalu ditindas oleh mamamu di rumah ini," jawabku. "Tidak ada yang menindasmu di rumah ini. Mama itu bermaksud menasehatimu saja kok. Tapi emang mungkin caranya yang salah, tolong maafkan mama ya," ucap Harlan lagi. Akhirnya kami selalu bertengkar kalau mertuaku habis mengadu hal yang tidak penting dan dibuat-buat seolah aku menantu yang durhaka padanya. Mertua selalu mengoceh mulai dari uang bulanan yang diberikan oleh Harlan mulai berkurang tidak seperti besaran nominal yang diberiakn Harlan ketika masih bujang. Hingga urusan rumah tangag yang selalu di recokin mertua apapun yang kami lakukan mertua selalu ingin tahu alias kepo dan akan ikut campuur mengurus rumah tangag kami. Rasanya aku tidak punya privasi sendiri di rumah ini karena semuanya mertua harus tahu apa yang sedang kami rencanakan terhadap rumah tangga yang baru kami bangun ini. Aku sebenarnya ingin merencanakan bagaimana kedepannya rumah tangga kami sendiri tanpa campur tangan orang luar termasuk mertua. Tapi yang aku rasakan adalah Mertua selalu menyetir Harlan dan harus melakukan apa yang mertua perintahkan ini yang membuatku semakin tidak tahan. "Harlan bagaimana dengan permintaanku untuk pindah rumah ke kontrakan saja tempo hari. Ini sudah satu bulan dan keadaannya semakin membuatku tertekan?" tanyaku pada Harlan. "Bagaimana kalau kita pindah bulan depan habis gajian ya," jawab Harlan. "Aku sudah tak tahan Harlan setiap hari ada saja bacotan mertua yang membuat hatiku sakit," balasku. "Kita cari rumah yang cocok dulu ya dan menyiapkan semaunya baru kita pindah rumah," imbuh Harlan. Dengan rasa berat hati aku menyetujui permintaan Harlan suamiku bulan depan kita pokoknya harus pindah rumah aku mulai melihat-lihat kontrakan melalui interner siapa tahu ada yang cocok. Sudah beberapa rumah kami kunjungi dan belum ada yang cocok untuk di tinggali. Sebelum kami pindah rumah Harlan mengutatakan niatnya untuk tinggal berpisah denagn orang tuanya dan reaksi mertua sesuai dugaanku lah pasti bacotannya banyak sekali. Sudah aku tebak sebelumnya pasti akan mengeluarkan perkataan yang membuatku terluka. "Apa? Mau pindah rumah!" seru mertuaku. "Pasti kamu sudah di hasut sama istrimu biar nggak dekat sama mama ya," imbuh mertuaku dengan anda kencang sekali. "bukan seperti itu kok ma. Kami sudah sepakat agar mandiri, Namanya juga sudah berumah tangga ya biar bisa merasakan mengurus rumah tangga seperti apa di rumah sendiri ma. Kalau masih nyampur orang tua mah tidak berasa berumah tangga," jawab Harlan. "Bilang saja terus terang kalau istrimu itu tidak mau didekatkan dengan keluargamu. Maunya misah jauh dari mama dan keluargamu. Mama itu maunya kalau anak-anak mama sudah menikah ya tetap tinggal dekat sama mama," ucap mertuaku. Harlan menjelaskan kalau semua ini sudah didiskusikan jauh-jauh hari bahkan sudah berkonsultasi dengan ustad. Agar tidak terus ada pertengkaran antara menantu dan mertua juga menjaga kedamaian antar keluarga ya memang harus pisah rumah. Tapi mertuaku selalu punya pikiran yang lain dari pada yang lain mertuaku selalu menganggap aku ini tidak bisa disatukan dengan keluarganya. "Kalau istrimu sudah hamil jangan pindahan nanti keguguran. Ingat deh omongan mama jangan jadi anak durhaka kamu walau sudah menikah tetap anak mama sampai mati!" tegas mertuaku. "Nita belum hamil kok ma," jawab Harlan. "Sudah beberapa bulan menikah kok istrimu belum hamil. Periksakan sana jangan-jangan kandungannya bermasalah," ucap mertuaku. "Itu tetangga sudah hamil loh Harlan 'kan bulan nikahnya sama seperti kalian cuma beda tanggal, kalau tidak bisa hamil ganti istri saja!" imbuh mertuaku. Ingin aku patahkan lidah mertuaku rasanya menikah baru beberapa bulan saja sudah berkata seperti itu. Aku ingin marah mendengar kata mertua dari dalam kamar yang terdengar karena suaranya menggelegar. Namun aku tahan untuk tidak membantahnya karena pasti mertuaku pasti akan menuduhku yang tidak-tidak dan aku akan menjadi tersangka atas kejadian ini. Padahal yang selalu berkata tidak mengenakkan hari ya mertuaku sendiri. Siapa yang betah tinggal bersama mertua yang bacotnya tidak enak didengar seperti ini. Hanya membuatku tekanan batin setiap hari dan akan cepat gila kalau terus tinggal bersama dengan mertuaku. Akhirnya kami sudah menemukan rumah yang cocok di pinggiran kota. Dengan pertimbangan lingkungan yang nyaman, bagus untuk tumbuh kembang anak kami nanti, dibandingkan di tengah kota yang padat dan sudah tidak ada lahan untuk bermain anak, barang sudah selesai kami kemas dan siap untuk pindah, tak lupa pamit dulu dengan mama mertuaku yang bacotannya pasti akan menusuk hatiku. "Ma kami, pamit untuk pindah rumah hari ini, semoga rejeki kami makin melimpah, dan mama panjang umur untuk bisa main dengan cucu," pamit Harlan. "Mama ikut pindahan, mama ingin lihat rumah seperti apa yang dipilih istrimu sehingga mau pisah rumah sama mama, layak tidak rumahnya untuk di tinggali," balas mertuaku yang wajahnya sudah tidak enak dipandang. Aku masih menahan untuk tidak keceplosan karena sebentar lagi aku akan pisah rumah harus meninggalkan kesan yang bagus buat mertua. Sepanjang perjalanan kami hanya diam seribu bahasa aku malas banget kalau mengobrol dengan mertua pasti akan membuat suara yang tidak enak aku dengar. Ketika kami sudah sampai di rumah baru mertuaku sudah mengoceh dan terus mengeluarkan kata-kata yang membuatku kesal. "Nyari rumah kok jauh sekali. Satu jam loh dari rumah mama. Apa kalian sengaja mau menjauh dari mama?" tanya Mertuaku. "Hanay satu jam kok ma dan kami masih bisa mengunjungi mama," jawab Harlan. Saat baru sampai pemilik rumah menjelaskan di rumah ini dekat dengan apa saja, Apa sih keisimewaan rumah ini sehingga kami memilih utnuk tinggal di sini. "Banyak warung di sekitar sini bu. Ada warung sayur, semabko, mainan, dekat dengan pasar, stasiun kereta dan angkot," ucap pemilik rumah menjelaskan pada mertuaku. "Baguslah kalau strategis tempatnya. Anak saya memang pintar memilih lokasi yang strategis," balas Mertuaku. Kalau soal kepandaian saja memuja dan memuji anak lelakinya dasar mertua menyebalkan. Tak beberapa lama kami membereskan semua barang yang kami bawa dan menata rumah kami seperti apa yang kami mau. Berhubung sudah sore mertuaku pamit pulang tak lupa juga beliau mengucapkan kata yang membuatku kesal. "Sudah sore mama pulang ya. Harlan sekarang sudah tinggal jauh dari mama. Kalau mama sakit nanti bagaimana?" tanya mertuaku. "Sekarang sudah ada telepon ma. Mama kalau sakit telepon Harlan nanti Harlan akan jenguk kok ma," jawab Harlan. "Harlan sekarang sudah jauh tinggal dari mama nanti kalau mama sakit sampai sekarat, kamu baru jalan dapat setengah jalan mama sudah nggak ada duluan sampai rumah mama kamu menyesal karena hanya bisa melihat mayat mama," ucap mertuaku. "Ingat ma ucapan adalah doa. Saya itu hanya ingin mandiri pisah dari rumah setelah menikah bukanuntuk menjauhkan anak dan ibu," balasku saking sewotnya. "Ingat ya Harlan ibumu tiga kali baru anak istrimu. Memuliakan ibu akan membuat hidupmu berkah dan rejekimu akan mengalir deras. Paham kamu Harlan ini itu yang ngomong pak ustad bukan mama," balas mertuaku, Apa-apaan sih mertuaku itu nggak nyambung banget kan omongannya. Aku juga tahu kalau sudah menikah anak lelaki tetap surganay ada ditelapak kaki ibunya dan aku sebagai istri surgaku ada pada suami. Mertua negeslin banget sih. "Aku nggak nyuruh Harlan untuk menjauhi mama kok. Aku juga tidak meminta Harlan untuk tidak berbakti pada mama. Kok mama ngomongnya seolah aku ini pembawa pengaruh buruk untuk Harlan?" tanyaku sedikit kesal. "Sudah janagn ribut lagi ayo ma Harlan antar pulang," ajak Harlan. "Nita kamu juga salah tidak baik selalu membantah mama usahakan tahan emosimu. Bagaimanapun dia juga orang tuaku dan juga orang tua kamu sekarang. Ridho mama berkah untuk kita," lanjut Harlan. Harlan mengantar mamanya pulang dan aku masih membereskan barang di rumah dengan perasan kesal dan banyak barang yang aku lempar untuk meluapkan emosiku karena perkataan mertua yang mengesalkan. Jika terus tinggal dengan mertua yang banyak bacot mungkin aku bisa gila dengan cecpat karena kalau berbicara tidak pakai mikir asal ngebacot saja tapi kalau kita balas pasti akan merasa seakan menantu jahat sedunia. Serba salah memang ya jadi menantu perempuan yang tinggal bersama mertua kolot. Tok ... Tok ... Ada suara ketukan pintu saat aku sibuk berberes rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN