BAB 3 KONTRAKAN BARU

901 Kata
"Siapa ya yang mengetuk pintu?" gumamku seraya mendekati pintu utama dan mengintipnya dari jendela. "Nita ini aku Harlan, buka saja pintunya," pinta Harlan yang menyadari kalau aku mengintip dari jendela. Suamiku sudah pulang karena hanya mengantar mertua ke stasiun kereta yang dekat rumah. Mertua sendiri yang minta diantar ke stasiun berdalih ingin mampir ke suatu tempat. "Loh kok cepat amat?" tanyaku heran. "Iya mama ingin mampir ke suatu tempat katanya, ayo kita beres-beres," jawab Harlan. Kami berdua berbenah rumah bersama. Pekerjaan berat jika dikerjakan berdua akan terasa ringan. "Akhirnya selesai juga, lelah sekali padahal barang kita hanya sedikit," ucapku. "Kelihatannya sedikit kalau lagi beres-beres ya kelihatan banyak," balas Harlan. Akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku dalam kasur bersantai ria sehabis beberes rumah kontrakan. Aku berharap setelah tinggal di kontrakan misah dengan mertua semoga rejeki kami mengalir deras dan juga tak ada drama rumah tangga yang dipicu oleh bacot mertua. Aku juga berharap kami diberikan kesehatan agar bisa bekerja menabung banyak uang untuk kebutuhan kami kedeoannya. Aku juga berdoa di karuniai keturunan yang cerdas dan sholeh atau sholehah. "Nita istriku," ucap Harlan sambil memelukku. Tentu saja Harlan membuatku kaget karena aku sedang fokus di depan kompor membuat mie instan. Berbenah kontrakan membuatku lapar. "Astaga untung aku tidak nyemplung ke air panas ini, kamu membuatku kaget tahu," balasku sambil memutar badan dan membalas pelukan Harlan suamiku. "Jangan sampai istriku yang cantik ini terluka, aku bisa pusing di buatnya," ucap Harlan sambil mencecap bibirku dan mendorong tubuhku sampai mepet ke tembok. Baru juga kami sibuk bermesraan. suara telepon milik Harlan berdering nyaring. Harlan segera mengangkatnya. "Harlan, besok kamu kalau pulang kerja mampir ke rumah mama ya," pinta mertya dari sambungan telepon. "Iya kalau pulang cepat besok kami usahakan pulang kerja mampir rumah mama," jawab Harlan. "Baru juga pindah belum ada sehari udah kangen saja itu mertua," gumamku heran. Ya nggak apa-apa sih toh Harlan suamiku memang anak mertuaku. Ya wajarlah namanya orang tua sayang sama anak pikirku tak mempermasalahkan permintaan mertuaku karena mungkin ada hal penting yang ingin di bicarakan. "Istriku yang cantik, janganlah kamu menggerutu kesal begitu. Mungkin mama belum rela anaknya misah rumah. daripada ngedumel begitu mending kita makan malam lalu main deh di atas ranjang," balas Harlan suamiku. "Entah kenapa jadi nggak mood denger mama kamu telepon," ucapku lirih. Akhirnya merasakan rumah tangga yang sesungguhnya di rumah kontrakan tanpa pengganggu. Aku jadi tenang setiap pagi bangun masak buat bekal sarapan dan makan siang di kantor. Mau ngejakuin apapun jungkir balik nggak ada yang melototit sampai mata seperti mau copot dan nggak di omongin ke tetangga. Bahagianya hidup berumah tangga tak ada yang mengcampuri. "Bangun suamiku. Sudah pagi ayo kita berangkat kerja aku sudah menyiapkan bekal untukmu. Aku juga sudah selesai mandi," ucapku saat membangunkan Harlan. "Badanku baru terasa ngerentek. Mungkin akibat pindahan semalam. Terlihat barang kita sedikit tapi pas pindah kelihatan banyak," keluh Harlan saat sudah bangun tidur sambil memijit pundak dan tangannya sendiri. "Sama badanku juga pada sakit semua. Tapi kita harus semangat bekerja menabung untuk anak kita kelak," balasku sambil mencium kening Harlan agar lebih semangat. "Oke aku jadi semangat lagi, aku mandi dulu ya," balas Harlan. Siang hari menjelang istirahat kerja, kudengar obrolan Mira dan Rani teman kerjaku tentang mertua. Obrolan mereka begitu menarik sehingga aku mengehntikan sejenak kerjaan di depan kataku lalu ikut mengobrol dengan Mira dan Rani. "Mir, mau makan siang dimana atau kamu bawa bekal?" tanya Rani ke Mira yang masih sibuk beresin berkas di meja mereka. "Aku bawa bekal Ran, makan di pantry aja yuk. Kamu bawa bekal nggak?" Mira tanya balik ke Rani. "Bawa juga kok. Aku kemarin niat balik kerja mau langsung santai sama anak kan ya dirumah. Tahu nggak kalau mertua tiba-tiba datang ke rumah ngomel udah kaya apaan tahu kata mertua rumahku kotor banyak debu. Mertua bilang jangan males jadi perempuan Ran. Nanti anaknya meniru kebiasaan ibunya yang malas. Bisa aja itu mertua ya.Dia kira aku nggak capek kerja apa ya," ucap Rani menceritakan keluh kesahnya tentang mertua dengan semangatnya. "Sama seperti kisahku Ran. Sepertinya semua mertua sama aja seperti itu. Kalau mertua aku seperti ngiri bg s gini ni istri itu jangan manja keenakan hidupnya, dulu jaman mama muda kerja juga rumah tetap beres ngga berantakan, gitu Ran ngomongnya" jelas Mira masih beresin berkas di mejanya siap siap makan siang. Mira dan Rani masih asyik mengobrol tentang bacot mertua mereka masing masing. Sedangkan aku bergumam dalam hati. "Berarti tidak hanya mertuaku saja yang masih belum rela anaknya memiliki istri. Aku tidak sendirian ternyata banyak mertua yang banyak bacot di luaran sana," "Nita kamu lagi kesambet ya kok tertawa sendirian di siru. Gabung sini makan siang bareng kita. Kamu bawa bekal atau nitip office boy?" tanya Rani sambil melambaikan tangannya. "Maaf ya aku nggak sengaja dengar obrolan kalian tentang bacot mertua. Aku merasa tidak sendiriam. Aku bawa bekal kok. Oke aku ikut gabung kalian ya, biar tambah seru ngobrolin bacot mertuanya," jawabku. "Iya emang Ran, Nit, dimana-mana mah mertua sama aja. Kalau ada mertua baik hatinya dan klop sama mantu perempuan itu mungkin hanya di cerita dongeng saja," sahut Mira sambil geregetan meremas tangannya. Kami bertiga tertawa kencang dan masih melanjutkan mengobrol tentang bacot mertua yang makin seru. Obrolan pengantin baru atau lama yang paling seru adalah tentang mertua, tak terasa kami makan siang dan ngobrol waktu istirahat telah usai. kami kembali ke meja masing masing dan lanjut bekerja. "Ya ampun sudah jam berapa ini kita masih mengobrol saja," ucap Mira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN