Aku dan Rani menoleh ke jam dinding yang ternyata sudah jam satu lewat lima belas menit. Saking semangat mengobrol jadi tak ingat waktu maklumlah wanita kalau sedang rumpi ya seperti ini.
"Yuk segera kembali ke tempat kerja," ajakku.
"Ibu-ibu kalau sedang rumpi jadi nggak ingat waktu ya," balas Rani sambil tertawa.
Kami kembali ke meja kerja masing-masing dan mulai bekerja. Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul lima sore. Yang lain bisa pulang tepat waktu aku belum juga bebenah sayang sekali kerjaan belum selesai.
"Nita kita pulang duluan ya. Tim tepat waktu biasalah ada anak di rumah yang sudah menanti kedatangan bidadari ini," ucap Mira sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati di jalannya, salam buat anak gadis di rumah ya," jawabku sambil melambaikan tangan ke arah Mira juga.
Ddzztt ... Ddzztt ... Suara getar nada dering ponselku. Aku meliriknya ternyata panggilan telepon dari Harlan, segera ku angkat telepon dari suamiku itu.
"Nita, apa kamu sudah selesai bekerja. Aku akan segera menjemputmu dan kita mampir rumah mama," ucap Harlan padaku lewat sambungan telepon.
"Aku belum selesai bekerja masih ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan kira-kira setengah jam lagi baru selesai," jawabku.
"Kalau begitu selesaikan dan jangan tergesa-gesa. Kamu nanti nyusul ke rumah mama naik ojek online ya," balas Harlan.
Ku tutup telepon dari Harlan sambil menggerutu tanpa jeda karena harus mampir ke rumah mertua. Di kepalaku audah terbayang-bayang bacot mertua yang pasti akan menyakiti hatiku. Pikiranku selalu negatif duluan padahal belum terjadi. Mungkin karena sudah terlalu sering mendapatkan kata yang menyakiti hatiku.
"Mbak Nita kok belum pulang sih?" tanya dewa salah satu office boy di kantorku.
"Allahuakbar, mengagetkanku saja!" seruku yang kaget.
"Makanya mbak Nita kalau kerja jangan bengong aja. Sudah mau magrib nanti kesambet penunggu gedung tahu rasa. Ini teh buat mbak Nita sudah saya jampe-jampe biar nggak kesambet," kata mas dewa menyodorkan teh untukku.
"Terimakasih ya ses dewa," jawabku sambil menyeruput teh hangat. Office boy itu terkenal kemayu makanya aku panggil ses. Entah apa tadi maksudnya di jampi-jampi, bodoh ah lebih baik segera fokus lagi ke kerjaan biar cepat rampung.
Kuseruput teh manis hangat yang di seduh oleh mas Dewa office boy di kantor tempat aku bekerja. Pikiranku masih menaro-nari membayangkan drama apa lagi yang akan dibuat oleh mama mertua yang gemar menyalahkan menantu itu. Jika aku diam semakin ditindas. Kalau aku lawan bicaranya pasti akan drama nangis mengadu ke Harlan suamiku.
"Akhirnya kerjaanku kelar juga. Saatnya pulang menuju rumah mertua, malas sih sebenernya tapi mau bagaimana lagi. Bagaimanapun dia adalah orang tua suamiku. Aku harus menghormatinya juga 'kan," gumamku sambil merapikan barang-barang.
Aku memesan ojek online menuju rumah mertua. Benar saja sampai rumah mertua ada saja yang membuatku gondok.
"Bulan ini Kiki nggak beri jatah bulanan untuk mama. Nggak ada yang bantu mama. Warung juga lagi sepi," ucap mertuaku saat aku baru saja datang.
"Mulai lagi deh ini mertua mulai ngebacot. Kalau mau minta uang tinggal bilang nggak usah drama kayak begini," gumamku dalam hati.
"Mungkin Kiki sedang ada yang dipengen ma. Namanya juga anak muda ingin membeli barang dari hasil kerjanya," balas Harlan mengemukakan pendapatnya.
"Mama juga pengen dikasih uang mantu. Punya mantu kok nggak sayang sama mertua, nggak pernah bagi uang hasil kerja. Padahal mah ngasih orang tua itu berkah. Teman-teman mama menantunya pada bagi. Nggak kayak mantu mama pelit banget," sindir mama mertua sambil menengadahkan tangannya di depanku.
"Harlan suamiku 'kan sudah memberi mama uang bulanan, apa masih kurang? Rumah tangga kita juga butuh keperluan sendiri!" seruku.
"Kurang lah, anak ngasih uang hanya dikit nyampe mana. Mama ini kebutuhannya banyak," ucap mertuaku.
Mertuaku juga menegaskan kalau membesarkan anak susah payah pontang panting sampai jadi sarjana dan kerja enak masa punya mantu nggak mau memeberi uang seperti teman-temannya. Anak sudah nikah tidak lagi memberi uang mertua lagi. Mertua juga mengatakan Harlan sudah menikah melupakan mamanya. Bahkan mertua mengungkit kami yang memilih kontrakan yang satu jam dari tempat tinggal mertua. Aku semakin kesal mendengar bacotan mertuaku malam ini.
"Uang lagi, lagi-lagi soal uang dan jatah bulanan. Memangnya yang membesarkan anak dengan susah payah hanya dia seorang. Sama kok orang tuaku juga membesarkanku dengan susah payah," Gerutuku dalam hati.
Hatiku bergemuruh kesal hanya bisa membatin bacot mertua yang lagi-lagi menyakiti hatiku. Aku tak tahan dan keluar dari rumah mertua. Sampai pangkalan ojek langsung minta dianterin sama tukang ojeknya ke alamat kontrakanku. Kesal sekali rasanya hatiku setiap bertemu mertua selalu mendengar bacot yang buatku sakit. Orang tidak ada bersyukurnya sama sekali. Padahal aku juga tidak melarang suami memberikan jatah bulanan saat sudah gajian ke mertua. Kecuali mungkin aku melarang suami menberi uang untuk mamanya, baru aku maklumi saja bacot mertua yang selalu memusuhiku itu.
Sampai rumah Aku dan Harlan bertengkar karena menurut mertuaku. Aku adalah menantu yang kasar dan berani melawan orang tua. Tidak menghormati orang tua pasangan dan ingin menjauhkan Harlan dari keluarganya.
"Iya aku adalah menantu yang tidak baik. Karena apa yang aku lakukan selalu salah di mata mamamu," ucapku kesal.
"Tadi kenapa kamu pulang tanpa pamit begitu. Tidak menghargai aku sebagai suami dan kamu juga tidak menghormati mama sebagai orang tuaku," balas Harlan.
Seperti inilah kelakuan suamiku. Jika sudah mendapatkan hasutan dari mertua selalu marah dan bertengkar denganku. Memang terkadang ada penyesalan menikah dengan Harlan. Terlebih lagi saat mendengar bacot mertua yang menyebalkan. Yah kalau nanti aku punya rumah makan akan aku beri level rasa, "Sepedas bacot mertua,"
"Ya Allah, Semua yang terjadi dalam hidupku adalah kehendakMu. Engkau yang menyatukan kami. Aku juga tahu Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Mungkin bacot mertua adalah cobaan rumah tanggaku," gumamku dalam hati.
Aku mencoba menguatkan hatiku sendiri. Aku harus kuat menghadapi cobaan pernikahanku ini. Tapi kapan sih selesainya kapan sih mertua nggak banyak bacot lagi.
Harlan memelukku setelah melihatku menangis sehabis adu debat dengannya. Ia mencoba menghiburku.
"Nita aku ingin kamu sabar menghadapi mamaya. Mama bersikap seperti itu karena masa lalunya keras. Membiayai dua anak susah payah. Dulu kami miskin hidup kami sangat berat. Kamu jangan ambil hati ucalan mama ya," pinta Harlan sambil mengusap kristal bening yang keluar dari mataku.
"Orang tuaku juga susah payah membesarkanku. Tidak hanya mamamu saja 'kan," balasku.
"Orang tua kita sama-sama membesakan kita dengan susah payah. Tapi mamaku beda," imbuh Harlan.
"Terus bedanya apa Harlan? Aku bantah salah. Aku diam semakin aku ditindas sama mertua dan anak lelakinya!" seruku.
"Tidak ada yang menindasmu kok. Maksud mama baik kok mungkin penyampaiannya saja kurang bisa kamu terima," balas Harlan.
Setiap ada masalah antara aku dan Mertua. Harlan selalu netral tidak berat sebelah. Tetapi aku merasakan kalau Harlan selalu membela mertua.
"Lalu aku harus bagaimana Harlan menyikapi mamamu yang banyak bacot itu?" tanyaku saking kesalnya.