"Sabar kita sebagai anak muda harus banyak sabar istriku. Maafkan mamaku jika kalimat nasehatnya menyakitimu ya," pinta Harlan.
"Entahlah aku sudah lelah rasanya," balasku.
Harlan memelukku menenangkanku yangs sedang kalut karena ibu mertua yang mengesalkan itu.
"Tenangkan dirimu dulu Nita. Ayo sekarang kita tidur dulu," ajak Harlan.
Aku hanya mengangguk malam ini Harlan mengajakku olah raga sampai larut malam. Kami terlelap setelahnya. Pagi hari seperti biasa kami menikmati sarapan bersama dan Harlan mengutarakan isi hatinya untuk berlibur untuk menghiburku setelah banyak kejadian yang membuatku sedih.
"Nita istriku, bagaimana kalau minggu ini kita berlibur ke puncak kek atau kemana. Aku tahu kamu sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Agar pikiran kita rilek mari kita liburan akhir pekan," ajak Harlan.
"Senangnya bisa liburan berdua setelah punya suami," balasku.
Hatiku menjadi senang saat suamiku mengajak liburan. Hari-hariku menjadi semangat saat Harlan mengajakku berlibur berdua.
Ketika hari terakhir masuk kerja aku sudah bersiap untuk berlibur memasukkan beberapa helai baju dan perlengkapan mandi kedalam tas. Serta keperluan untuk dibawa berlibur rencananya kami akan menginap semalam di puncak.
Keesokan harinya aku sudah bersemangat karena akan liburan. Namun perasaanku jadi tak enak setelah ada telepon masuk dari mertua di ponsel suamiku.
"Harlan, Tolong kamu ke rumah mama sekarang. Warung mama dagangannya banyak yang habis. Kamu harus antar mama berbelanja isi warung," pinta Mertua.
"Oke ma Harlan ke sana sekarang antar mama belanja warung," jawab Harlan.
Harlan menghampiriku yang sudah siap untuk liburan ini. Harlan duduk di sampingku dan mengatakan sesuatu yang membuatku patah hati.
"Nita. Kita berangkat liburan setelah aku mengantar mama belanja kebutuhan warung dulu ya," ucap Harlan sambil membelai rambutku.
"Ayah atau Kiki memang nggak bisa mengantar mama untuk belanja kebutuhan warung ya suamiku. Kenapa harus anak yang sudah menikah dan tinggal jauh yang dimintai tolong untuk mengantar mama belanja?" tanyaku.
Harlan mengatakan kalau ayah sedang sakit dan Kiki mungkin sedang main bersama temannya karena ini kan hari libur. Aku kecewa dengan suamiku aku juga tahu kalau surga suami masih berada di telapak kaki ibu tapi bukan begini caranya. Aku sudah merasa tak sanggup lagi.
"Kamu tahu sendiri ayah sudah tua dan tenaganya tak seperti dulu. Kiki anak muda weekend begini pasti main sama temannya," balas Harlan sambil memakai jaketnya.
"Aku tahu kok Harlan. Ayah sudah tua memang sih tapi masih bugar tidak terlihat sakit-sakitan. Ada juga anak bujang di rumah masa sih nggak bisa antar mama kamu belanja bahan warung," tegasku
"Nita membantu orang tua itu berkah. Jangan sampai aku menyesal karena mama minta tolong tidak aku penuhi. Soal liburan 'kan bisa di tunda. Membahagiakan orang tua tak bisa di tunda, iya kalau ini permintaan terakhir mama bisa menyesal aku," jawab Harlan.
Harlan segera meraih kunci motornya untuk menuju rumah mamanya. Aku tidak keberatan jika mertua membutuhkan bantuan suami. Tapi aku kecewa karena ini adalah kesempatan bahagia kami sebagai pasangan suami istri untuk menikmati waktu bersama.
Seolah aku merasa kalau mertuaku tidak mengijinkan kami pasangan ini untuk bahagia. Mertua juga selalu ingin ikut kami bulan madu. Beliau selalu menggunakan kalimat ceramah ustad "ibumu, ibumu, ibumu baru anak istrimu," sebagai alasan agar Harlan masuk surga kelak karena mendahulukan keinginan ibunya daripada istri.
"Kenapa Harlan jam segini belum pulang ya," gumamku dalam hati sambil membuka tirai jendela melihat keluar siapa tahu suamiku sudah pulang.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Pikiranku kacau hatiku kecewa. Sampai aku kehilangan akal sehatku dan ingin berpisah dengan Harlan.
"Nita istriku. Aku sudah pulang," ucap Harlan menghampirku yang ada rebahan di kasur.
"Kamu kenapa diam saja Nita. Aku tahu kamu kecewa. Maafkan aku ya. Aku janji minggu depan liburan kita tidak akan tertunda lagi," imbuh Harlan sambil memelukku.
Aku masih malas berbicara dengan Harlan. Daripada aku keceplosan berbicara yang menyakiti hati suami lebih baik aku diam saja.
"Nita aku tahu kamu marah padaku. Tapi mama butuh bantuan dan aku tidal bisa berkata tidak jika mama memerlukan bantuanku," ucap Harlan.
"Ceraikan saja aku sekalian. Aku tidak tahan jika seperti ini terus. Kamu seperti mempunyai istri dua dan aku istri mudanya," balasku kesal.
"Maafkan aku Nita. Jangan mengucap kata cerai dengan gampang. Aku mencintaimu Nita tapi Mama sudah tua dan butuh bantuanku. Bagaimanapun dia adalah orang tua ku. Mama yang mengandungku, melahirkan serta mendidikku sampai besar," ujar Harlan.
Aku tambah kecewa dengan kalimat yang keluar dari mulut suamiku Harlan. Bukannya menenangkan hatiku tapi aku semakin kesal. Selalu kata itu yang keluar dari mulut Harlan yang mengandung, melahirkan serta mendidik. Orang tuaku juga sama kali ya Allah ibu dan anak tega sekali menyakitiku.
"Iya yang membesarkan dan mendidik itu hanya orang tua dari pihak suami. Sedangkan pihak istri tidak mendidik anaknya sepenuh hati. Kalau alasanmu itu orang tuaku juga sama," ucapku yang masih kesal.
"Kalau orang tuamu butuh bantuan kita juga akan membantu. Yuk istirahat dulu besok kita ke tempat wisata deh," balas Harlan.
Hatiku masih kecewa atas kejadian hari ini. Harlan sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan padaku. Akhirnya aku memilih untuk tidur dan enggak berbicara lagi dengan Harlan.
"Harlan apakah akan menepati janjinya hari ini?" gumamku dalam hati.
Aku membuka tirai pada jendela kamarku udara di pinggiran kota seperti ini masih asri dan sejuk. Pikiranku sudah tenang aku ke tukang sayur memasak dan sarapan. Ku coba bangunkan Harlan berharap dia akan memenuhi janjinya untuk jalan-jalan.
"Harlan ayo bangun aku tagih janjimu untuk jalan-jalan hari ini," ucapku membangunkan Harlan.
"Iya sayang ... Oke," balas Harlan yang matanya masih merem.
"Ayo buruan bangun mumpung masih pagi. Keburu siang nggak jadi jalan-jalan lagi nanti," ucapku.
Harlan tak kunjung bangun. Ki coba tinggal dulu mencuci pakaian aku berharap saat aku selesai sampai menjemur pakaian suamiku akan bangun.
"Ya ampun belum bangun juga. Katanya mau jalan-jalan kenapa belum bangun?" tanyaku kesal.
"Apa istriku. Ada apa?" tanya Harlan yang kemudian merebah lagi dan tidur.
Hatiku semakin kecewa dan kesal dengan sikap suamiku ini. Kemarin aku sudah kecewa apa hari ini aku harus kecewa lagi karena suamiku kemarin sudah kecapekan membantu mama mertua berbelanja kenutuhan stok warung sembakonya sampai larut malam.
"Aku sudah tidak tahan lagi hidup seperti ini," ucapku dalam hati karena kesal.
Brakkk! Ku tutup pintu dengan keras karena kesal dan sudah merasa kecewa.
"Astaga Nita apa kamu jatuh?"