BAB 6 Mertua Cemburu

1057 Kata
Aku kesal menuju ruang belakang dan duduk disana sendirian. Aku sangat kecewa dengan suamiku sendiri. Selalu mengutamakan mamanya daripada rumah tangganya sendiri. Berharap masuk surga karena memuliakan ibunya. Mendahulukan keinginan ibunya dan menomorduakan istri dan rumah tangganya sendiri. "Kenapa nggak menjawab pertanyaanku?" tanya Harlan. "Nggak tahu aku muak saja sama kamu. Aku kecewa rasanya sama kamu," jawabku sewot. "Maafkan aku. Apa kamu masih marah sama aku karena tak jadi berlibur kemarin Nita?" tanya Harlan lagi. Tentu saja aku marah dan kecewa ini sudah siang kenapa dia belum bangun juga. Kemarin mau berangkat mamanya telepon minta diantara untuk belanja warung. "Pake tanya lagi. Aku kecewa berat bahkan sudah pisah rumah masih saja direcokin," balasku. "Ah Nita ini masih pagi dan pas waktunya untuk melakukan sesuatu yang enak," bujuk Harlan sambil memelukku manja. Aku menolak tapi kekuatan Harlan suamiku terlalu kuat. Meski aku meronta Harlan masih tetap memelukku sampai dadaku sesak. Kami melakukan sesuatu yang menyenangkan itu di ruang belakang rumah kami. "Kenapa masih punya napsu menjamahku tapi kamu selalu mengecewakanku?" tanyaku agak kesal. "Aku suamimu wajar kalau aku meminta hal yang menyenangkan darimu," jawab Harlan sambil memakai bajunya lagi. Tapi dia mengecewakanku berkali-kali kalau mendengar hasutan dari mertua. Walau aku istrinya tak sepantasnya dia membuatku kesal jika mendengar hasutan dari mertua. "Sudah ayo mandi kita jalan-jalan hari ini," ajak Harlan sambil memapahku ke kamar mandi. "Aku sudah nggak mood lagi jalan-jalan nanti di tengah jalan mamamu nelpon terus kamu akan langsung pulang," ucapku. Harlan membujukku untuk tidak marah lagi. Kami mandi bersama sebelum berangkat jalan-jalan sesuai janji Harlan enggak tahu dia mau mengajakku kemana hari ini. "Sudah siap ayo kita jalan-jalan," ajak Harlan. "Baik beneran ya jalan-jalan betulan," ucapku. Kami jalan-jalan menuju wisata aquarium raksasa di salah satu pusat hiburam di ibu kota. Walau dekat aku sangat menyukainya dan bisa mengobati rasa kecewaku sedikit. Semoga Harlan bisa lebih bijak menjadi kepala rumah tangga. Kring ... Kring ... Suara telepon Harlan berbunyi dan perasaanku sudah tak enak. "Harlan kamu ke rumah mama ya sekarang. Hari ini 'kan masih libur," pinta mertuaku dari balik telepon. "Kalau bisa ya ma mampir ma. Harlan nggak bisa janji. Kalau belum bisa mampir maaf ya," jawab Harlan suamiku. "Pokoknya mama tunggu di rumah," ucap mertuaku. Harlan mengatakan padaku nanti sepulang dari jalan-jalan mama minta untuk mampir ke rumahnya. Yah sudah biasa untuk apa sih disuruh mampir terus ada-ada saja. "Nita kita ke rumah mama dulu ya," ajak Harlan. "Aku boleh nggak sih nggak ikut ke rumah mama?" tanyaku. Harlan mengangguk ini semua karena aku ingin menjaga kewarasan dalam hatiku. Tak ingin aku cepat gila mendengat bacotan mertua. Baru saja aku refreshing masa harus pusing lagi menghadapi bacot mertua. "Oke kamu pulang naik ojek ya. Aku ke rumah mama," ucap Harlan. "Baiklah aku pulang naik ojek," jawabku. Harlan pergi ke rumah mertua. Selalu saja seperti ini. Mertua selalu mengandalkan Harlan jika terjadi apa-apa, contohnya saat sakit, belanja kebutuhan warung, padahal di rumah ada ayah mertua dan adik iparku yang bujang. Entahlah aku merasa mertuaku tidak senang putranya mempunyai istri. Mertua belum siap anaknya menikah. Atau mungkin mertuaku cemburu kasih sayang anaknya terbagi dengan istri. *** "Menyebalkan sekali punya mertua seperti itu," gumamku kesal. Hari ini pun mertua meminta Harlan mampir ke rumah setelah pulang kerja. "Ada apa Nita. Kalau ada unek-unek keluarian aja sama kita," ucap Mira. "Biasalah mertua membuatku kesal saja," jawabku. "Nggak usah dipusingin namanya juga mertua. Sudah biasa dimana-mana emang seperti itu," balas Mira. Aku mengeluarkan unek-unekku kalau di rumah mertuaku itu ada anak bujang. Ada ayah mertua tapi kalau ada apa-apa minta suamiku untuk membantu. Kalau ngomong sama aku juga sangat mengesalkan sekali. Seakan aku ini menjauhkan anaknya menjadi jauh dengan ibunya. "Aku kadang malah dibandingin sama mantu yang lain.Saat ini gaji suamiku 'kan nggak cukup kalau aku nggak bantu kerja. Katanya anakku nggak keurus karena sibuk kerja. Kalau nggak kerja dan nggak bisa ngasih duit ntar di omong lagi, pusing deh ngurusin bacor mertua," ucap Mira. "Memang ya setiap orang punya cerita atau masalah rumah tangga nya sendiri. Termasuk bacot dari mertua ini salah satunya ujian rumah tangga. Kalian harus sabar dalam menjalani rumah tangga. Harus kuat iman," balas Rani. Benar juga omongan dari Ranu mungkin ujian rumah tanggaku adalah ibu mertua yang banyak bacot dan suka ngatur rumah tanggaku. Mertua selalu berbicara tak pakai memikirkan perasaan mantu. Tapi kalau aku membalas omongannya, beliau suka drama menangis dan mengadu pada anak lelakinya. Akibatnya aku dan Harlan selalu bertengkar jika suamiku mendapatkan aduan dari ibu mertua. "Sudah yuk bekerja dulu baru ngobrol lagi," ucap Rani. "Oh iya Nita, Rani kalau bisa kalian harus sering-sering komunikasi sama mertua. Ya siapa tahu hubungan kalian yang semula renggang bisa jadi harmonis dengan komunikasi," balas Mira. "Itu hanya bulsit, kominikasi apaan. Yang ada kita banyak interaksi di omongin di belakang," imbuh Rani kesal. Aku sendiri merasakan kurang komunikasi sama mertua. Sudah ku mencoba ajak mengobrol tapi selalu jawabannya ketus. Nggak nyambung sama obrolan. Mertua aku itu kolot banget. Aku memberi tahu apa saja yang wanita lakukan jaman sekarang tapi tidak masuk. Jawabnya selalu jaman dulu mama muda tidak begitu. Aku 'kan tidak tahu jaman dulu seperti apa karena aku hidup di jaman sekarang. "Sudah jangan dipikirin Nita. Fokus kerja dulu saja," ucap Rani. "Iya Ran maaf ya pikiranku kacau," balasku. Mempunyau mertya yang sangat kolot sekali membuatku tidak nyaman. Selalu berbicara ngasal nyeletuk bikin sakit hatiku. Kalau aku sudah tidak bisa menahan dan membantah omongan mertua langsung dong mengadu ke suami mertua bilang kalau mempunyai mantu yang kasar. Tidak sayang dan menghormati mertua. "Sudah selesi belum kerjaan. Kita istirahat dulu yukk sambil curhat," ajak Mira. "Oke ... Nita yuk sekarang keluarin apa yang kamu pendam," ucap Rani. Aku mengangguk dan mengatakan pada Rani dan Mira bahwa pernikahanku masih panjang. Semoga aku kuat menjalani ujian pernikahanku. walau badai cobaan sudah jelas datang dari mertua. Semoga pernikahanku akan langgeng sampai kami tua. *** "Nita istriku tercinta. Terimakasih," ucap Harlan sambil memeluk tubuhku. "Terimakasih untuk apa. Aneh banget?" tanyaku yang merasa aneh saja. "Terima kasih untuk semuanya. Kamu mau mendampingi hidupku. Menyempurnakan setengah agamaku," jawab Harlan. "Semoga kita bersama akan mampu melewati setiap ujian pernikahan," jawabku. Harapanku yang paling besar adalah Harlan tak lagi terhasut omongan mertua yang bisa membuat kami bertengkar. Aku merasa setiap Harlan pulang dari rumah mertua selalu bertengkar denganku. Ada saja aduan yang di berikan oleh mertua. "Kamu mau dengar harapanku nggak?" tanya Harlan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN