BAB 7 HARAPAN HARLAN SUAMIKU

1506 Kata
Aku juga penasaran dengan harapan yang diucapkan oleh Harlan. "Memangnya apa harapanmu Harlanmu?" tanya Nita. "Harapanku hanya satu sepele tapi mungkin sudah di lakukan," jawab Harlan. "Iya kamu berharap apa. Jangan buat aku penasaran deh!" seru Nita. "Kamu dan mama bisa akur," jawab Harlan. Aku hanya tersenyum mendengar harapan Harlan. Ya semoga saja semuanya akan akur pada waktunya. Aku juga ingin akur dengan mertua tapi apalah daya kalau saat ini belum bisa. Terlalu sakit hatiku. *** Hari ini tepat satu tahun pernikahanku dan Harlan. Tapi kami belum juga di karuniai keturunan. Ya mungkin masih di suruh untuk pacaran dulu. Banyak yang bilang kalau aku sengaja menunda momongan. Padahal itu tidak baik karena kalau KB bisa membuat kering peranakan. Kata mereka nanti aku menyesal karena menunda momongan. "Kamu belum hamil juga Nit? Apa sengaja menunda momongan. Maaf ya ini topik sedikit sensitif!" bisik Rani teman kerjaku. "Aku nggak nunda momongan kok. Tapi memang dari sananya belum di kasih," jawabku. "Maaf ya hanya mau ingatkan saja. Jaman sekarang wanita pekerja itu kalau ingin punya keturunan itu susah. Faktor makanan juga mempengaruhi. Stres kerja juga menghambat kehamilan. Kecapekan kerja juga bisa," balas Rani. Aku mencoba diskusi dengan mereka. Apa aku coba ke Dokter kandungan saja ya. Untuk mengecek rahimku sehat atau enggak. Soalnya sudah satu belum belum kunjung mempunyai keturunan. Mira menyarankan untuk pergi berlibur dulu sebelum ke Dokter. Karena pikiran yang tenang saat berhubungan intim akan membuat tubuh rileks dan mungkin juga akan menjadi janjin dalam perut. "Aku sih setuju dengan Mira. Yang deket dan murah saja refreshingnya sebulan sekali juga nggak apa-apa," imbuh Rani. "Jangan lupa konsumsi makanan sehat. Pola tidur yang cukup. Sebisa mungkin hindari stres. Kalau nggak kunjung dapat juga beberapa bulan ini baru ke Dokter," sambung Mira. Aku bertanya pada Mira dan Rani kenapa bisa pikiran terlalu banyak dan stres bisa menyebabkan tidak kunjung memiliki anak. Terus katanya kecapekan juga mempengaruhi kesuburan kok bisa sih? "Nita coba deh kalau kamu lagi banyak pikiran atau stres dan tubuh lelah. Pasti jadi meriang 'kan sakit semua badan dari kepala sampai ujung kaki?" tanya Rani dan aku menjawabnya dengan anggukan untuk membenarkan pertanyaan Rani. "Sudah lain kali kalau mertua banyak bacot. Nggak usah dipikirin deh. Enjoy aja anggap angin lewat," imbuh Mira sambil menekankan suaranya. Ku ucapkan terima kasih karena mereka berdua sudah membuatku paham tentang pelajaran mengenai kenapa tak kunjung hamil. Sedikit aku paham dan mengerti berarti aku harus benar-benar mengelola pikiran agar tidak stres. "Nita selamat ulang tahun pernikahan ya," ucap Rani dan Mira barengan. "Terima kasih ucapannya aku saja tidak ingat kalau ini hari ulang tahun pernikahanku," balasku yang merasa senang. Bahkan suamiku saja tak ingat juga. Hari sudah sore dan aku segera pulang ke rumah tepat waktu. Aku rasakan tubuhku sangat lelah sekali. "Hari ini sungguh melelahkan," keluhku sambil merebahkan diri di kasur. "Apa kamu banyak kerjaan hari ini sampai kelihatan capek?" tanya Harlan suamiku. "Banyak kerjaan sehingga membuatku capek. Banyak pikiran juga sebenarnya," jawabku. "Suamiku Harlan si anak mama ini ingat nggak sih kalau hari ini ulang tahun pernikahan kita. Kenapa hanya diam saja sedari tadi," ucapku dalam hati kesal. Harlan memintaku untuk istirahat lebih awal agar kondisi tubuhku tetap prima karena cuaca akhir-akhir ini tak menentu. Harlan mengecup keningku. Memakaikan selimut untukku dan keluar kamar. Aku kesal karena suamiku itu tak mengingat hari pernikahannya sendiri. Melihatku sedang tak nyaman Harlan mencoba bertanya padaku. "Apa yang kamu rasakan Nita. Ada sakit dibagian mana kamu terlihat gelisah sepanjang waktu?" tanya Harlan yang ikut khawatir. "Aku kecapekan kerja saja," jawabku sambil memalingkan badan memeluk guling. Mungkin Harlan penasaran kenapa aku bisa seperti orang sewot seperti ini. Aku masih merasa kesal karena Harlan sama sekali tidak romantis seperti pasangan pada umumnya. Yang memberikan kejutan untuk istri ketika memeringati ulang tahun pernikahan. Tak ada ucapan selamat ulang tahun pernikahan apalagi sebuah kado untuk memperingati ulang tahun pernikahan. Bayanganku kami akan makan malam romantis berdua. Bisa juga sih dengan mengunjungi tempat pertama kali kami bertemu dulu. Aku kecewa dengan Harlan suamiku yang tak memperhatikan hal sekecil ini. "Nita apa kamu sedang tak enak badan. Semalam juga kamu tak nyenyak tidur?" tanya Harlan. "Tidak ada masalah yang serius. Aku hanya kelelahan!" jawabku. "Kamu mau istirahat di rumah atau kerja?" tanya Harlan. "Kerja saja," sahutku lirih. Harlan menyemangatiku ia berjanji akan menjemputku on time karena aku terlihat kurang sehat. Mendengar kata jemput ontime aku jadi bersemangat. Seharian aku kerja penuh semangat. jadi saat sore hari waktu pulang kerja aku terlihat fresh. Aku penasaran kenapa Harlan membawa motor tapi bukan ke jalan biasanya. "Ini kita mau kemana?" tanyaku sambil lihat kanan kiri. "Kalau aku jawab berarti nggak kejutan lagi dong," balas Harlan sambil tertawa. Aku mengangguk saja kenapa Harlan main rahasia-rahasiaan segala. Jangan sampai ke rumah mertua deh bisa pusing kalau dengar bacotnya. "Sudah sampai yuk turun," ajak Harlan. "Kita mau apa di sini?" tanyaku heran. Harlan memarkir motor di depan sebuah rumah makan. Terlihat suasana di rumah makan di depanku ini kalau kata anak jaman sekarang aestetik. Di dalam rumah makan sudah ada kedua mertua dan adik iparku. Sepertinya mereka sudah janjian sebelumnya. "Nita selamat ulang tahun pernikahan ya. Maaf ya baru sekarang aku sempat merayakannya. Aku bukannya nggak ingat sama hari penting kita. Aku diskusi dulu sama mama untuk makan bersama keluarga saja merayakan ulang tahun pernikahan kita," ucap Harlan. "Aku senang sih Harlan ingat ulang tahun pernikahan kami tapi kenapa harus diskusi sama mertua," gumamku dalam hati Aku hanya mengangguk karena tak ingin terlihat jelas di mata Harlan aku membenci mamanya. Setidaknya suamiku ingat ada hari bahagiaku. Harlan mengatakan kalau sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan dan menunggu malam ini. Perasaanku selalu nggak enak kalau ada mertua. Aku bahagia Harlan memberiku kejutan di hari ulang tahun pernikahan tapi pasti ada omongan yang tak mengenakkan dari bacot mertua. "Harlan lain kali nggak usah buat acara makan-makan seperti ini. Pemborosan tahu. Simpang uangnya buat beli beras atau beli rumah. Masa depan kamu masih panjang ngapain buang-buang uang seperti ini," celetuk mertuaku. "Sekali-kali nggak apa-apa ma. Ini ulang tahun pernikahan kami. Lagian juga ajak mama, papa sama adikku kan," jawab Harlan. "Mama 'kan nggak minta kamu ajak makan. Ini pasti istrimu yang merengek minta makan-makan begini. Pemborosan banget nggak bisa ngatur uang. Mending buat yang lain uangnya," ucap mertuaku lagi. Harlan meminta mamanya untuk tidak berbicara lagi keburu makanannya dingin nanti nggak enak dimakan. Mendingan segera makan ada banyak makanan enak tersedia di meja. Mertuaku terus nyerocos dan membandingkan teman suamiku yang sudah bisa membeli mobil, rumah, banyak aset karena istrinya bisa hemat dan masak sendiri di rumah. "Mama di traktir bakso saja sudah seneng. Lain kali jangan seperti ini pemborosan. Berumah tangga itu kamu jangan terlalu manjaain istri nanti kamu nggak bisa kebeli benda berharga kalau istrimu mengajak foya-foya terus," ucap mertuaku. "Mohon maaf ya saya nggak minta makan malam di sini dan tidak hanya menghabiskan uang suami. Saya kerja loh cari duit setiap bulan gajian. Bahkan gaji saya itu lebih besar daripada Harlan," ucapku yang tak terima di bilang istri yang suka foya-foya sama mertua. Akhirnya mertuaku diam dan menikmati makanan yang tersaji dimeja. Harusnya aku bahagia makan malam memoeringati hari ulang tahun pernikahan tapi apa yang aku dapat? Bacor mertua yang menyakiti hatiku. Mertua seperti tak ingin aku bahagia. Mertua selalu membuat hatiku terluka. "Mama kamu kok selalu melihat kalau kamu selalu manjain aku sih. Aku kan nggak cuma duduk di rumah ongkang-ongkang kaki saja menghabiskan uangmu," ucapku yang kesal pada Harlan. "Maksud mama baik kok mama hanya mebasehati saja. Mungkin caranya kamu tidak suka," jawab Harlan. "Kamu itu selalu membela mama kamu. Mama kamu mau salah mau bener selalu kamu bela," ucapku. Harlan mengajakku istirahat. Sudah malam dan dia tak ingin berdebat denganku soal mertua yang menyebalkan itu. Hari ini aku sakit hati dengan bacot mertua lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak sukaku pada mertua yang jahat itu. Aku tidak bisa bermuka dua seperti orang-orang. Tidak suka ya tidak suka langsung saja bilang. "Nita Harapanku masih sama di ulang tahun pernikahan kita ini. Kamu dan mama akan akur. Aku senang kalau kamu dan mama akan akur," ucap Harlan sambil membelai rambutku. "Kalau terus mengeluarkan bacot tak enak di dengar ya mana bisa akur," balasku kesal. Jika aku diam mertua semakin mengkritik dan semana-mena terhadapku. Mertua selalu mencampuri urusan rumah tanggaku. Aku bantah di aduin ke suami katanya aku mantu yang suka melawan orang tua. Kalau diam saja yaa seperti itulah semakin diinjak mertua. "Kamu juga harus mendengarkan harapanku di ulang tahun pernikahan kita ini Harlan," ucapku. "Harapan apa yang kamu inginkan Nita?" tanya Harlan penuh semangat. "Aku ingin mertua tak lagi banyak bacot dan terlibat dalam rumah tangga kita," jawabku tegas. "Mama nggak ikut campur rumah tangga kita. Mama saja nggak pegang uang gajiku kok," ucap Harlan. "Nyetir anak yang sudah menikah itu tidak melulu soal uang," balasku kesal. Harlan marah karena tak terima aku berkata mamanya selalu mencampuri urusan rumah tangga ini. Baginya sang mama hanya menasehati saja dan itu masih wajar sebagai orang tua. "Nita kamu nanti juga akan menjadi orang tua. Saat itu kamu akan tahu bagaimana posisi mama," ucap Harlan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN