Harlan membentakku malam itu. Aku memang akan menjadi orang tua nantinya tapi bukan orang tua yang jahat seperti mertuaku. Tak ada gunanya berdebat dengan Harlan sekarang karena aku tahu setelah bertemu dengan orang tuanya pasti banyak hasutan yang diterima olehnya.
"Sudahlah perkataanku memang tak akan pernah didengar olehmu. Kalau begitu aku tidur dulu, terserah mau mikir aku istri durhaka juga," balasku sambil merebahkan badan untuk tidur.
"Maafkan aku Nita tapi mama adalah orang tuaku kamu juga harus menghormatinya. walaupun suaranya terdengar lantang tapi mama sayang kami semua. Kamu hanya perlu beradaptasi," jawab Harlan.
Harlan semakin membuatku kesal rasanya aku ingin menyudahi semuanya mumpung belum mempunyai keturunan. Sudahlah ini adalah suami pilihanku kami saling mencintai tapi ibu mertua bisa membuatku gila.
***
"Badanku meriang rasanya pagi ini," keluhku saat bangun tidur pagi hari.
Tring ... Terlihat ada pesan masuk di ponselku. Segera aku lihat siapa yang mengirim pesan.
"Nita apa kabar? Ayo kita bertemu melepas rindu. Aku hubungi Lisa juga," isi pesan dari Tania.
Senang sekali membaca pesan dari teman kuliahku ini. Memang cukup lama semenjak lulus kuliah aku, Tania dan Lisa tidak bertemu. Terlebih saat kita bertiga sudah bersuami.
"Lisa dan Tania sudah mempunyai bayi yang mungil. Tapi aku belum," gumamku.
Aku balas saja pesan dari Lisa, "Tentukan hari dan jamnya ya, biar aku bisa siap-siap,"
Tania dan Lisa masing masih sudah punya keturunan dan aku belum sendiri. Hari ini aku senang sekali setelah pulang kerja langsung menuju tempat janjian dengan kedua temanku itu.
"Nita, tengoklah ke arah sini," Lisa melambaikan tangannya agar aku melihatnya.
"Senangnya bertemu kalian lagi. Apa kabar?" sapaku.
"Lihat dong kami terlihat bukan. Ayo cepat duduk kita ngobrol bareng. Pasti banyak cerita saat kita berpisah," balas Tania.
Tania mengatakan repor sekali punya bayi saat jalan-jalan seperti ini makanya dia selalu berada di rumah. Aku minta dikenalkan anak-anak temanku itu. sudah tahu sih tapi kan secara langsung dan lewat chat tidak sama.
"Enak ya sudah punya bayi. Jadi ada teman di rumah," ucapku.
"Sabar Nita jangan sedih begitu ah. Nanti akan ada waktunya kamu memiliki keturunan," hibur Lisa sambil repot memegangi anaknya.
Tania memesan makanan karena merasa aku lapar sepulang kerja. Mereka juga harus makan banyak karena tenaga pasti terkuras momong anak.
"Kalian udah jadi ibu rumah tangga enak nggak sih di rumah saja sambil momong bocah?" tanyaku pada kedua temanku itu.
"Enak tinggal nodong uang sama suami. Nggak enaknya beberes rumah nggak ada habisya," Sahut Lisa sambil lihat buku menu.
"Enaknya hanya sudah nggak macet-macetan kejar waktu agar nggak telat. Uang gajian di kasih pak suami. Tapi ya harus nahan kalau pengen sesuatu," jawab Tania.
Aku bertanya lagi pada mereka. Apa tidak jenuh di rumah. Mungkin pusing atur uang buat keperluan rumah tangga. Terus aku juga bertanya apakah mertua suka ikut campur masalah rumah tangga. Jawaban mereka mertua ada yang ikut campur ada yang tidak.
"Kalau mertua ikut campur yang ada rumah tangga kita nggak akan lama," ucap Tania.
"Betul kita berumah tangga kalau ada campur ibu mertua akan cepat kandas," balas Lisa.
Kami mengobrol cukup lama, tertawa, nostalgia, melepas penat bersama, yah ternyata bukan cuma aku saja yang merasakan tidak senang dengan yang namanya bacot mertua. Aku berharap semoga nanti jika aku punya anak laki-laki akan menjadi mertua yang bisa membaur dengan menantu dan tidak cemburu kasih sayang dengan menantu Perempuanku.
"Tak terasa sudah malam. Ayo kita pulang bawa bayi nih," ucap Lisa sambil menggendong anaknya yang tidur dengan gendongan.
"Anakku juga tumben ini tak rewel. Biasanya bikin pusing karena luar biasa aktifnya. Kalau ngga cocok bertemu sama orang bisa rewel dia," keluh Tania.
"Semenjak ada bayi hidup jadi berwarna ya. Doakan saja aku segera menyusul kalian punya monongan ya," ujarku.
Tania mengangguk mereka juga berharap aku cepat dapat momongan. Jemputan Lisa dan Tania sudah datang mereka sudah pergi dari tempat janjian tinggal aku sendiri berada di kafe ini.
"Eh Nita kamu dijemput Harlan atau naik ojek online soalnya jemputan sudah datang nih," ucap Tania.
"Naik ojek online online. Harlan lagi mampir ke rumah mamanya," ucapku.
"Berkabar lagi kalau sudah sampai rumah ya," pinta Tania.
"Bye Tania. Hati hati juga di jalan soalnya bawa bocah," jawabku.
Aku memesan ojek online untuk pulang. Namun Harlan menelponkuà bertanya apakah aku sudah pulang atau belum. sepertinya Harlan khawatir karena hari sudah larut malam.
"Nita kamu sudah pulang belum?" tanya Harlan dari sambungan telepon.
"Belum Ini masih di tempat makan dekat kampus. Kami janjian di sini," jawabku.
"Aku sebagai suami khawatirlah. Sudah malam juga ngga ada kabar. Jangan pulang malam-malam," sahut Harlan.
"Biasalah ibu-ibu kalau sudah berkumpul mengobrol sampai lupa waktu. Aku lagi pesan ojek online untuk pulang," ucapku.
"Aku masih di tempat mama. Aku jemput kamu pulang saja," balas Harlan.
Tidak sampai lima belas menit Harlan sampai menjemputku. Harlan menggerutu karena aku tidak memberi kabar. Kami pulang bersama di perjalanan asyik menceritakan lucunya tingkah laku anak kedua sahabatku.
"Senangnya kalau punya bayi. Seperti punya mainan hidup," ucap Harlan.
"Kita kapan ya di beri momongan?" tanyaku.