"Sabar sayang nanti kita akan dapat giliran kok untuk dapat momongan," jawab Harlan.
"Aku tahu pasti akan ada saatnya," balasku dengan nada lemas.
Kami sudah sampai rumah dan setelah mandi kami beristirahat. Karena besok sudah kembali kerja.
"Pagi yang cerah seperti ini tapi kenapa badanku meriang ya," keluhku sambil memijat kepala.
"Jangan masuk kerja kalau sakit Nita," pinta Harlan.
Aku menggelengkan kepalaku walaupun aku sakit harus tetap masuk kerja. Di rumah mau apa tidak melakukan apapun nanti aku malah semakin terpuruk tidak ada teman mengobrol.
"Aku pergi kerja saja ya Harlan," rengekku.
"Baik tapi kalau nggak kuat kerja kamu pulang saja ya. Jangan dipaksakan," ucap Harlan.
Aku mengangguk pelan dan bersiap bekerja.
Sudah hampir dua minggu semenjak aku pulang bertemu kangen dengan Tania dan Lisa. Badanku berasa meriang dan masuk angin sudah aku obati dan kerokan juga tidak kunjung membaik.
Aku mengalami pusing yang tak sembuh-sembuh. Seperti seorang yang sakit asam lambung tapi kenapa di obati tidak sembuh-sembuh.
"Coba kamu beli tespek Nit. Kali saja itu gejala hamil," ucap Harlan.
Kesesokan harinya aku membeli tespek lalu saat bangun tidur aku mengecek hasil tespek yang sudah aku celupkan ke air seniku.
"Hasilnya negatif Harlan, berarti aku memang sakit biasa," ucapku sambil menunjukkan hasil tespek ke Harlan.
"Ya sudah Nita. Mungkin belum rejeki tidak apa-apa jangan sedih," hibur Harlan sambil memeluk tubuhku yang sedang sakit.
"Tapi sudah banyak yang tanya kapan hamil. Apalagi mamamu yang pakai bahasa tidak mengenakkan," keluhku.
Harlan mengajakku untuk ke Dokter kandungan sore ini. Aku tak tahu harus bagaimana karena aku tak mau cuti kerja. Tapi Harlan membujukku untuk tidak masuk kerja dan periksa ke Dokter.
"Kita pergi ke Dokter saja hari ini. Aku khawatir ada penyakit lain dalam tubuhmu," bujuk Harlan.
"Baik kalau begitu aku mau ijin dulu," balasku.
Aku mengangguk setuju atas ajakan Harlan. Aku mengabari kepala personalia karena tidak berangkat kerja hari ini via pesan singkat.
"Selamat pagi bu hrd. Mohon maaf saya ijin tidak masuk kerjatidak karena akan periksa ke Dokter. Sudah hampir dua minggu sakit tak kunjung sembuh. Terimakasih," ucapku dalam pesan singkat.
"Baiklah Nita jangan lupa surat Dokter. Semoga lekas sembuh," balas ibu kepala personalia di kantorku.
"Oh iya Nita nanti jika ada yang penting banget tentang pekerjaanmu. Toling jika orang kantor mengirimkan pesan tolong balas ya. Terima kasih sebelumnya. Selamat beristorahat," tambah Ibu kepala personalia.
"Siap bu," jawabku singkat.
Harlan ikut ambil cuti kerja. Dia sedang sibuk mencari Dokter kandungan yang bagus melalui referensi temannya ataupun browsing melalui internet. Dia melarangku untuk melakukan aktifitas fisik berlebih seperti melakukan pekerjaan rumah. Aku merasa senang menjadi ratu hari ini.
"Akhirnya menemukan dokter kandungan & Bidan yang rekomended dan dekat dari rumah," ucap Harlan sambil bertepuk tangan.
"Dimana tempatnya apakah sangat dekat?" tanyaku penasaran.
"Dekat kok tinggal jalan kaki juga sampai," jawab Harlan.
Aku bertanya itu Dokter atau Bidan. ucap Harlan mau ke Bidan karena lebih dekat dan rekomended.
Kami menuju Klinik Bidan dan langsung mengambil antrean sampai giliran kami dipanggil oleh asisten Bidan.
"Nyonya Nita silahkan masuk ke ruang periksa," panggil asisten Bidan.
"Baik bu Bidan," jawabku berjalan masuk ke ruang pemeriksaan.
"Silahkan Masuk Bu. Suaminya ada bu atau periksa sendiri?" tanya asisten Bidan.
"Ada kok bu. Itu suami saya," kataku sambil menunjuk Harlan.
"Periksanya berdua ya bu," pinta asisten bidan.
"Baik," Jawabku dan melambaikan tangan ke Bani isyarat memanggilnya.
Harlan mengikutiku masuk ruang periksa. Tak berapa lama ponselnya berdering dan Harlan mengangkat telepon yang masuk di ponselnya.
"Hallo iya ma. Ada apa? Harlan sedang di Bidan nanti Harlan telpon balik ya," ucap Harlan saat mengangkat teleponnya.
"Datang ke rumah mama," balas mama mertuaku.
Harlan menutup teleponnya karena masih mengantarku periksa di Bidan. Tak peduli banget mertuaku tentang aku yang tergolek lemah ini.
Setengah jam kami mendengar arahan dari Bu bidan beliau menganjurkan untuk melakukan usg ke Dokter yang telah di rekomendasikan oleh Bidan. Kami langsung menuju Dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Drrt ... Drrzzztt ... Suara getar dari ponsel Harlan dan suamiku mengambil dari sakunya.
"Bagaimana hasil periksanya. Jangan manja masuk angin doang segala periksa ke Bidan. Sudah bisa kerumah mama belum?" tanya Mertuaku lewat telepon.
"Ini di rujuk ke Dokter ma. Sudah ya ma Harlan tutup dulu," Harlan menutup telepon.
Aku hanya terdiam dan mengelus d**a. Saat genting seperti ini masih saja tidak peka dan harus pergi ke rumah mertua entah akan disuruh apa. Sepanjang jalan aku hanya batin tentang mertua dan pikiranku jadi kemana-mana.
Aku tau mertua yang melahirkan dan merawat suamiku. Tapi sampai kapan akan terus membuat hatiku sakit seperti ini?
"Nita, kita sudah sampai. Aku mengabtri ambil nomor antrean dahulu. Tunggulah di sini ya," pinta Harlan sambil menunjuk ruang tunggu.
"Baik aku duduk di kursi tunggu dulu," jawabku.
Dokter rekomendasi dari Bu Bidan cukup ramai pengunjung. Hampir satu jam kami menunggu antrian. Tibalah sekarang nomor antrian kami dipanggil. Aku dan Harlan masuk ruang periksa. Dokter menyarankan aku untuk banyak istirahat.
Tubuhku terlalu Capek untuk bekerja dan pikiran seperti penuh tekanan sehingga mempengaruhi kesehatan.
"Terimakasih Dok, atas saran yang diberikan," ucap Harlan.
"Iya pak. Istrinya dianjurkan banyak makanan bernutrisi ya pak. Sering makan buah dan sayur, kalau perlu minum vitamin jangan lupa," saran Dokter.
"Baik terima kasih banyak sekali lagi," jawab Harlan.
Kami keluar ruang konsultasi. Harlan mengecek ponselnya. Aku lihat banyak panggilan tak terjawab dari mama mertua. Harlan memasukkan ponselnya lagi ke dalam tasnya.
Harlan berkata akan menelpon lagi nanti saat sudah sampai rumah. Kami mampir beli makan dan lanjut pulang.
Betapa terkejutnya aku ketika sampai rumah sudah ada mama mertua menunggu sambil berkacak pinggang.
"Mama hanya minta kamu berkunjung kerumah. Pakai acara bilang periksa ke Bidan. Lalu lanjut ke dokter. Masa periksa lama banget. Sampai mama kesini sendiri. Bilang saja kalau nggak mau datang ke rumah mama!" seru mertuaku dengan sewotnya.
"Kami memang betulan pergi ke Bidan dan Dokter kok hari ini. Bahkan aku harus ijin tidak masuk kerja. Ini buktinya," ucapku.
"Alaaah ... Jadi perempuan harus kuat jangan lembek dan manja. Sakit sedikit periksa ke Dokter. Jangan kebanyakan makan obat. Mama saja jarang ke Dokter nyatanya tetap sehat. Kalau sakit cukup istirahat di rumah ntar juga sembuh," balas ibu Mertuaku.
Aku kaget dan kesal dengan bacot mertuaku. Aku bilang kalau ini bukan sakit biasanya karena pikiran dan mentalku yang terserang. Memang kalau meriang biasa tidur seharian juga sembuh. Badan setiap orang juga tidak sama untuk apa memaksakan kehendak agar bisa sama dengan manusia lainnya.
"Astaga ma perasaan aku salah terus ya di mata mama. Aku lagi sakit ma harus periksa karena bukan tubuhku yang kena tapi mentalku," ucapku.
"Dokter mah asal ngomong aja agar obatnya terjual laku. Dibilangin orang tua bantah Mulu. Nyatanya mama jarang ke Dokter sehat-sehat saja. Minum jamu makanya!" bentak ibu mertua sambil berkacak pinggang dan menunjukkan jarinya ke wajahku.
Harlan melerai kami dan mengeluarkan kata yang tegas agar kami semua diam tidak saling vantag lagi. Mungkin Harlan juga sudah capek dengan situasi ini.
"Cukup! Ayo kita masuk dulu malu didengar tetangga kalau menantu dan mertua sering ribut!" seru Harlan.
Harlan menjelaskan kenapa aku harus pergi ke Dokter. Aku sudah sakit selama dua minggu dan belum kunjung sembuh. Harlan juga menjelaskan kalau haidku telat dan tidak teratur.
"Kami pikir Nita hamil tapi ternyata Bidan menyarankan untuk usg lebih lanjut. Jadi kami ke dua tempat sekaligus untuk memastikan penyakit apa yang ada di tubuh Nita," ucap Harlan.
"Buang-buang uang saja periksa langsung ke dua tempat sekaligus. Makanya kalau jadi istri jangab malas. Biar nggak sering sakit jarang gerak sih. Kaya mama dong sering gerak jam empat subuh bangun langsung bebenah rumah jadi jarang sakit," balas mertuaku.
Harlan sudah menjelaskan kalau tidak ada hubungannya dengan jarang gerak. Karena aku bekerja sehari-hari tidak memakai tenaga melainkan pakai otak jadi wajar saja mungkin aku sedang stres.
"Mama dulu ngga begitu. Anak jaman sekarang aja pada manja. Sakit dikit ke Doktet. Minum jamu juga suruh istrimu makan tauge biar cepat hamil. Nggak usah ke Dokter ngabisin duit cuma dibohongi Dokter biar obatnya laku!" seru mertua lagi.
"Tidak bisa begitu ma. Jaman sudah berubah dan kita harus periksa kalau ada keluha. Agar penyakit apa dalam tubuh ketahuan. Lalu kalau misal ada kendala belum bisa hamil juga ketahuan agar nggak salah kaprah," ucap Harlan.
Mertua semakin marah dan aku hampir semakin gila dibuatnya. Katanya semenjak jadi istri lebih sering bantah mama. Tidak lagi menghargai dan menghormati mertua.
"Kamu jangan sok menggurui mama. Emangnya kamu pinter siapa yang biayain sekolah sampai tinggi?" bentak mertuaku.
"Punya mertua nggak punya hati dan perasaan. Aku ini sedang sakit dan butuh istirahat. Kalau begini terus mending aku mengalah dan minta cerai saja. Aku sudah nggak sanggup punya mertua jahat dan nggak punya hati seperti mama!" gertakku.
Apa aku salah yang terlahir dengan tubuh lemah? Benar juga kalau aku setahun lebih sudah menikah belum punya keturunan. Apa salahnya mencoba periksa ke Ahli di bidangnya untuk konsultasi dan test apakah ada yang salah di badanku ini?
Tapi aku sudah tidak kuat lagi menjalani rumah tangga ini.
Hinaan dan cemooh dari mertua membuatku sakit hati. Aku menikah bukan untuk dihina, direndahkan, atau menjadi sarana melahirkan keturunan semata. Aku berhak memilih hidupku sendiri.
"Nita aku mohon ucapan mama jangan dimasukkan hati ya," pinta Harlan.
"Aku ingin mengakhiri pernikahan ini saja Harlan. Aku sudah nggak sanggup mumpung kita belum punya keturunan," ucapku.
"Ngomong apa sih Nita. Kamu nggak boleh bicara sembarangan seperti itu," balas Harlan.
Aku mengeluarkan unek-unek di dalam hatiku. Kalau hati ini terluka. Sudah selama ini masih saja mertua tidak terima anaknya menikah dan selalu menghina dan membuatku sakit hati.
Harlan hanya mengucapkan kata Sabar. sebagai anak harus banyak bersabar. Menurut Harlan dalam pernikahan semua orang pasti banyak cobaan dan cobaan setiap orang pasti berbeda-beda. Harlan selalu mengatakan jangan masukkan hati ucapan mama mertuaku.
"Harlan aku sudah tidak bisa sabar lagi. Sudahlah aku tidak mau bertemu mamamu untuk menjaga kewarasanku," pintaku.
"Kalau begitu istirahatlah," jawab Harlan.
Aku menangis dalam pelukan Harlan. Saat mentalku dwon seperti ini aku butuh sandaran. Bukan malah dihina dan dimaki seperti ini oleh orang yang selalu minta disayangi oleh mantu.
Bagaimana bisa aku tenang dan tidak banyak pikiran sehingga aku stres dan mentalku sakit.
"Nita apa yang kamu rasakan sekarang. Apa kamu sudah merasa enakan setelah mengeluarkan unek-unek?" tanya Harlan.