"Hatiku masih sakit Harlan. Maaf ya aku tak bisa mengontrol emosi. Aku sedang sakit loh tapi mamamu berkata tak masuk akal seperti itu," jawab Nita.
"Sabar ya Nita ayo sekarang minum obat dan istirahat," balas Harlan.
Hatiku masih sakit dan terngiang ucapan menyakitkan dari bacot mertua. Terasa Pedih hatiku saat ini nyeri sekali.
Seharusnya di saat mentalku yang sakit seperti ini mendapatkan dukungan tapi malah sebaliknya.
Keluarga dari pihak suami membuatku semakin dwon. Pikiranku semakin kacau dan semakin sedih saja.
Pagi ini aku putuskan untuk berangkat kerja agar tak banyak pikiran di rumah.
Pagi ini aku berangkat saat Harlan masih tid
ur. Aku hanya ingin memiliki pikiran yang jernih saat berdiskusi dengan orang di luar rumah.
"Nita! Dimana kamu?" teriak Harlan saat ia bangun dan sadar Nita tak ada.
Harlan mencari Nita ke dapur, kamar mandi dan kamar tidur tapi tak menemukan Nita.
Dengan panik dia mengambil ponsel dan menelpon istrinya.
"Nita kamu tidak ada di rumah. Aku bangun tidur kamu tak ada di sampingku kamu ada dimana?" tanya Harlan dengan suara panik.
"Aku sudah berada di kantor," jawabku.
"Kenapa kamu nekat pergi bekerja dan nggak menunggu aku bangun. Aku khawatir tahu kamu 'kan belum sembuh," oceh Harlan khawatir.
Aku meminta maaf pada Harlan karena tak mengabarinya saat pergi kerja. Harlan mengatakan kalau terjadi apa-apa bisa memberitahunya dan akan segera dijemput.
"Nita kamu benar-benar membuatku cemas. Aku tahu kamu masih marah sama mama tapi tidak seperti itu juga. Pergi dari rumah tanpa pamit," balas Harlan.
"Aku akan mengabarimu saat terjadi sesuatu. Maaf aku butuh ketenangan batin," ucapku.
Aku mematikan telepon dari Harlan. Aku kembali bekerja sejenak aku telah melupakan ucapan mertua yang membuatku sakit hati.
Apalagi ada teman mengobrol di kantor membuatku melepas penat dan melupakan kejadian semalam.
"Nita sudah tidak usah sedih terus. Semua mertua emang seperti itu pada mantu perempuan," ucap Rani.
"Kamu benar Ran. Tapi mertuaku sungguh keterlaluan," balasku.
"Ayo makam siang semuanya. Jangan sampai lapar. Karena menghadapi bacot mertua butuh tenaga!" seru Mira.
Rani dan aku menitip makan siang pada Office Boy. Kami hari ini makan di meja masing-masing sambil merumpi manja di temani musik dari Youtube.
"Carikan lagu yang las buat suasana hatiku saat ini dong!" pintaku.
"Lagu apa bacot mertua?" tanya Rani sambil memutar musik.
Aku menikmati hiburan dari Rani dan Mira. Mereka bersenandung mengikuti alunan musik dari youtube. Tiba-tiba penglihatanku kabur dan aku sudah mengingat apa-apa lagi.
"Kamu sudah makan siang belum Nita?" tanya Harlan saat mengangkat teleponnya.
"Maaf pak benar ini suami Nita Saya Rani teman kantor Nita. Dia pingsan di kantor. Kami sudah membawanya ke klinik Medika dekat kantor. Maaf ya saya hubungi pakai handphone Nita. Kami tunggu kedatangannya di Klinik Medika," balas Rani.
"Saya segera kesana mba terima kasih banyak," Jawab Harlan langsung ijin.
Rani menutup telepon dia dan Mira yang mengurus Nita di Klinik. Harlan tak lama setelah itu sampai klinik Medika.
"Nita kenapa kamu nekat berangkat kerja?" tanya Harlan.
"Maaf aku jenuu di rumah kepikiran bacot mertua mulu," jawabku.
Harlan meminta bertemu dengan Dokter yang memeriksa Nita. Dokter menjelaskan kalau Nita terkena trauma mental biasanya karena berkali-kali mendengar kalimat yang menyakiti hatinya. Lalu Nita secara terus menerus memikirkannya. Sehingga tubuhnya tidak kuat lalu jatuh sakit. Dokter menyarankan untuk membawa Nita ke psikolog.
"Bapak tolong jaga istrinya dengan baik. Jika tinggal dengan orang tua atau mertua ya saya sarankan untuk misah rumah saja. Mungkin istrinya tidak kuat mental menghadapi mertua," jelas Dokter.
"Terima kasih Dokter. Saya akan menjaga istri saya dengan baik," ucap Harlan.
Rani dan Mira pamit kembali ke kantor karena Harlan sudah sampai dan aku ada hang menjaga. Harlan tak lupa mengucapkan terima kasih pada kedua teman kantorku itu.
"Nita kamu membuatku khawatir," ucap Harlan saat memelukku.
"Aku juga tidak tahu semoga tidak ada apa-apa," jawabku.
Seorang suster masuk ke ruangan dan melepas inpusku. Lalu Harlan mengurus adminitrasi dan kami pulang.
Terdengar suara telepon dari ponsel Harlan dan suamiku segera mengangkatnya
"Kamu dimana Harlan?" tanya mama mertua.
"Harlan baru saja sampai rumah. Nita sakit ini baru sampai dari rumah sakit," jawab Harlan.
"Mama sedang sakit kamu anter mama ke Dokter sekarang!" seru Mertuaku.
Harlan mengatakan apakan ada ayah atau adik iparku yang ada di rumah tidak soalnya Harlan sedang menjagaku yang sedang sakit.
Betapa aku sakit hati mendengar ucapan dari iparku itu. Aku sakit beneran kalau bukan Harlan suamiku yang mengurus siapa lagi masa suami tetangga.
"Siapa suruh kamu nikah duluan. Mengantar mama ke Dokter saja tak bisa. Apa istrimu yang melarangmu untuk mengurus mama yang sakit?" tanya Kiki.
"Kakak iparmu sedang sakit tolong kamu antar mama dulu ke Dokter. Nanti aku nyusul," jawab Harlan.
Mertuaku melakukan Drama dia berkata punya anak sudah besar begitu mamanya sakit pada bertengkar saling iri siapa yang mengantar ke rumah sakit.
"Astaga kenapa keluarga suamiku begitu tega padaku seperti ini. Orang tuaku jauh kalau bukan Harlan siapa lagi yang mengurusku yang sedang sakit," gumamku.
Harlan masuk ke kamarku dan memelukku ia menyiapkan obat untuk aku mimum malam ini. Aku tak dapat menyimpan air mata yang sudah melelh di pipi ini. Harlan terlihat panik dan segera mengusap air mataku.
"Apa yang kamu rasakan. Kalau ada yang ingin di sampaikan kamu katakan padaku saja," pinta Harlan.