Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Harlan. Aku meminta diceraikan saja karena sudah terlalu terluka dengan kelakuan mertua dan ipar. Aku sakit butuh istirahat bukannya di caci dan dihina seperti ini. Seolah Harlan menikah denganku adalah sebuah malapetaka sehingga tidak bisa mengantar mamanya kemana-mana lagi.
"Pulangkan aku saja ke rumah orang tuaku. Aku dengar tadi mama dan adikmu ngomong apa. Aku dengar semuanya!" seruku sambil terisak.
"Nita maafkan mama dan adikku ya. Maafkan juga memang kondisi keluargaku seperti ini," balas Harlan sambil memelukku.
Sudahlah percuma berkata-kata paling juga Harlan akan terhasut lagi bacot mertua dan perkataanku tak akan didengar olehnya. Lebih baik aku tidur saja. Keesokan harinya Harlan mengecek tubuhku.
"Nita kenapa badanmu terasa panas. Istirahatlah dirumah aku akan meminta ijin ke kantormu karena kamu masih sakit," ucap Harlan.
"Aku ingin bekerja saja Harlan," jawabku
"Tidak boleh kamu masih sakit menurutlah dengan suamimu ini," balas Harlan.
Aku mengangguk saja menuruti permintaan Harlan daripada harus pingsan lagi di tempat kerja menyusahkan orang saja.
Harlan menelpon hrd tempat kerjaku untuk meminta ijin tidak masuk kerja. Harlan juga minta ijin kerja dari rumah untuk merawatku yang sedang sakit.
"Harlan aku ingin membicarakan sesuatu padamu!" seruku yang duduk di samping suamiku.
"Kamu mau membicarakan apa. Bukannya istirahat dengan baik karena masih sakit!" seru Harlan.
Aku mengutarakan perasaanku pada Harlan tentang pembicaraan Kiki dan mertua lewat telepon semalam. Harlan berkata jangan dimasukkin ke hati omongan Kiki karena memang mempunyai pemikiran yang belum matang.
"Sekarang bagaimana kalau begini Saja. Kita kan belum punya keturunan. Sepertinya aku sudah nggak kuat lagi menghadapi bacot mammu dan juga semalam ditambah adikmu. Ayahmu juga acuh tak acuh aku ingin pisah saja. Aku merasa aku tak diterima di keluarga ini!" seruku.
"Nita kamu sedang sakit. Sebaiknya kamu istirahat dulu jangan banyak pikiran atas nama mama dan Kiki aku mewakili mereka minta maaf," balas Harlan.
"Aku ini serius Harlan. Aku juga sakit seperti ini karena mendapar tekanan dari mamamu kok. Jika masih seperti ini aku mending sudahi pernikahan ini sebelum ada keturunan!" seruku.
Harlan ngotot nggak mau pisah denganku. dia berkata ini adalah ujian rumah tangga kita dan ujian setiap orang berbeda-beda. Harlan mengatakan kalau memang benar apa yang dikatakan mamanya ia belum mampu membahagiakan mamanya dan belum mampu berbakti maka mumpung mamanya masih hidup ia harus patuh dan menuruti semua keinginan mamanya.
Ku tanyakan pada Harlan apakah dengan begitu lantas aku yang jadi pelampiasan mamanya karena dengan adanya aku sebagi istri waktu Harlan terbagi karena sudah menikah. Aku tidak membujuk Harlan untuk meninggalkan mamanya atau tak membahagiakan mamanya tapi aku ini korban bacot mertua yang kasar.
"Maafkan mama Nita. Jangan masukin hati omongan mama. Mama hanya mengeluarkan unek-unek saja, kita sebagai anak harus patuh!" seru Harlan.
"Jangan di masukin hati bagaiman sih. Bacotan mamamu sudah keterlaluan Harlan. Aku sudah nggak sanggup!" tegasku.
Harlan memintaku untuk sabar dia berkata juga menasehati mamanya saat aku tidak ada. Dia membela mamanya memang yang namanya orang tua susah. Harlan kembali minta maaf.
Aku mengatakan sudah tidak sanggup lagi karena omongan mertuaku terlalu pedas dan menyakiti hati bukan sering lagi tapi sudah banyak hampir setiap menelpon Harlan. Jika aku muak dan membalasnya akan ada drama air mata buaya sambil mengadu pada kami dan berujung kami bertengkar.
"Bukan air mata buaya. Namanya orang tua nasehati dibantah jadi sedih lah. Mama jadi keinget masa lalu yang suram. Aku mohon kamu juga pahami posisi aku yang jadi penengah kalian. Aku pusing jika kalian bertengkar terus. Aku pusing jika istri dan mamaku tida akur," ucap Harlan.
"Kalau nggak mau pisah. Tolong ya bacotnya di jaga. Jangan asal ngebacot saja tanpa memikirkan perasaan orang. Kalau tidak mau dibantah atau disakiti!" ketusku karena sudah kesal.
"Sudahlah Nita sekarang lebih baik kamu istirahat saja. Kamu masih sakit lagi pula perjalanan pernikahan kita masih panjang," pinta Harlan.
Aku masih kekeh untuk mengakhiri pernikahan dengan Harlan. Hatiku sudah terlanjur sakit. Dari awal bertemu sampai sekarang masih saja belum berubah bacot mertuaku. Harlan juga kekeh tidak mau berpisah. Dia tidak mau ada perceraian di antara kami. Tidak lucu baginya menceraikan aku yang sedang sakit.
"Istirahatlah aku tidak akan bercerai denganmu. Sebagi suami aku akan menjagamu yang sedang sakit ini," ucap Harlan.
"Terserah kamu saja Harlan," balasku.
Aku sudah bekerja seperti biasa pasca sakit dua minggu lalu. Saat ini aku memang menghindari yang namanya ke rumah mertua agar tidak sakit lagi.
Beberapa hari ini aku masih merasakan meriang. Siklus bulanan juga masih belum datang. Aku minta tolong Harlan untuk membeli tespek di apotik terdekat untuk cek siapa tahu rejeki iya kan.
"Garis dua tapi masih samar ini berarti aku hamil bukan ya?" gumamku sambil melihat tespek yang bergaris dua samar itu.
Aku segera masuk kamar dan membangunkan Harlan menunjukkan tespek garis dua samar.
"Harlan coba bangun. Lihat ini!" seruku.
"Apaan sih. Apa ini Nita?" tanya Harla.
"Ini garis dua berarti aku hamil. Tapi aku masih tak percaya," jawabku.
"Alhamdulilah ya sudah nanti kita ke Dokter untuk memastikan ya!" seru Harlan.