Aku mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaan rumah. Mandi lalu ganti baju dan sarapan barulah bersiap ke Bidan menunggu Harlan siap berbenah diri.
"Nita kamu nggak usah masuk kerja saja. Kita langsung ke Bidan memastikan apakah kamu betulan hamil atau telat haid biasa," ucap Harlan.
"Oke aku ijin dulu sama atasanku," jawabku.
Kami ke Bidan setelah aku mengirim pesan pada atasanku. Kami juga membawa hasil tespek yang ada garis dua samarnya. Maklum masih grogi karena belum pernah hamil jadi agak bingung. Harlan menuju tenpat pendaftaran periksa sedangkan aku menunggu di ruang tunggu.
"Selamat ya untuk kalian akan segera menjadi orang tua. Usia kandungan kurang lebih empat minggu, ini kantong dalamnya ada calon bayi," ucap Bidan sambil melihat pada layar monitor usg.
"Alhamdulilah akhirnya bayi yang kami tunggu hadir juga," balas Harlan.
"Bu, kandungan ibu agak lemah jadi jangan sampai kecapean. Apalagi banyak pikiran nanti berpengaruh ke janin," ucap Harlan.
"Baik terimakasih bu," Jawab kami kompak.
Kami berpamitan dengan bu Bidan, menebus obat ke apotik karena persediaan bu Bidan sedang habis. Harlan mengajakku ke rumah mertua. Sebenarnya aku sangat malas banget datang.
Karena ini kabar gembira jadi aku turuti kemauan Harlan untuk singgah sebentar memberi kabar bahagia untuk mertua kalau Harlan akan menjadi ayah.
"Kamu ngga kerja Harlan jam segini sudah sampai rumah mama?" tanya mertuaku sambil menjaga warung.
"Ijin tadi ma. Ini habis periksa dan menebus obat di apotik. Aku akan menjadi ayah. Nita Hamil usianya sudaj empat minggu," Jawab Harlan.
"Belum ada satu bulan itu empat minggu," balas Mertua.
"Empat minggu itu, satu bulan mama," jelas Harlan.
"Jangan cecar nanti ya," ucap mertua menatap tegas ke arahku terlihat matanya hampir copot.
"Lah emang kenapa? Baru juga periksa udah kaya mau lahiran aja," ucapku sewot mungkin karena hormon.
Mertua juga berkata kalau sedang hamil janhan malas. Biar nggak cecar. Bukan masalah biaya mahal tapi karena sembuhnya lama.
Karena mengingat ucapan bu Bidan kandunganku lemah dan tidak boleh banyak pikiran Harlan meminta pamit untuk pulang ke rumah. Harlan mengucapkan kalau mampir hanya untuk memberikan kabar gembira kalau akhirnya ia akan memiliki anak.
"Baru juga dikabari hamil sudah ceramah jangan cecar kalau memang nanti aku di cecar gimana karena kondisi tertentu!" seruku sambil naik ke atas motor.
"Sudah ingat kata Bidan kalau nggak boleh banyak pikiran," balas Harlan.
Aku menghela nafaku kasar karena sebelum sampai rumah mertua pasti bukan memberi selamat pasti akan mengoceh yang membuat sakit hati. Bagiku mau cecar atau lahiran pervaginam aku tetap ibu yang terbaik buat anak ku kelak. Tak lupa ku kabari ibuku di kota sebelah.
"Bu Nita mau memberi kabar gembira kalau Nita hamil empat minggu. Hari ini sengaja nggak masuk karena sakit dua minggu nggak sembuh kami memutuskan periksa. Hasilnya aku hamil empat minggu," ucapku menelpon ibu.
"Alhamdulilah akhirnya hamil juga dan aku akan mendapatkan cucu. Setelah penantian panjang," jawab ibu ikut gembira.
"Iya ibu Alhamdulillah" balasku yang bahagia mendengar ucapan ibu.
"Sekarang kamu istirahat, jaga pola makan, jangan lupa obat dari Bidan diminum semua setiap haro rutin," pinta ibu.
"Baik bu. Nita sudahi teleponnya ya bu," balasku.
"Jaga kandungannya. Selamat istirahat. Nanti ibu kabari bapak, nenek dan keluarga yang lainya," ucap ibu sambil menutup telepon.
Memang ibu yang terbaik. Selalu menenangkan hatiku di kala gundah. Tempat curhat ternyaman setelah suami. Perbedaan respon yang sangat jauh saat mendengar kabar tentang kehamilan antara mama mertua dan ibu kandungku. Bukanya aku membedakan mereka, karana keduanya juga adalah orang tuaku.Namun sangat mencolok sekali bukan yang satu care yang satu ketakutan uang anaknya habis buat operasi cecar.
"Nita, jangan lupa minum vitamin dari Bidan," ucap Harlan sambil membawa vitamin dan air putih.
"Baik perhatian sekali sih," jawabku menerima vitamin dan air putih dari Harlan.
"Iya harus karena akhirnya kita di percaya untuk memiliki momongan. Sekarang di perutmu ada calon buah hati kita," jelas Harlan sambil mengelus perutku.
"Iya aku senang sekali. Tadi aku juga sudah ngabarin ibu via telepon," balasku.
Harlan bertanya apa kata ibu. Lalu aku jawab saja sesuai dengan kenyataan yang ada. Ibu memberikan selamat dan banyak memberikan nasehat seputara kehamilan. Tidak seperti manusia dari rumah sebelah.
"Nanti kamu habisin ya vitaminnta. Kamu mau minum s**u hamil?" tanya Harlan.
"Ngga usah deh takut aku mual," jawabku.
Harlan mengangguk dan memintaku untuk segera istirahat. karena besok harus bekerja dengan segala kesibukan yang ada.
"Istirahat lebih awal yuk besok masih kerja. Ingat sekarang sudah ada calon bayi. Tadi kan kata Bidan ngga boleh kecapean atau banyak pikiran," ucap Harlan.
"Baik Harlan, aku juga sudah ngantuk berat," jawabku.
Aku hanya mengangguk. Harlan menyelimuti tubuhku dengan selimut.
Selama hamil aku masih tetap bekerja seperti biasa. Harlan sudah mengatakan jika aku kecapean maka aku harus berhenti kerja.
Dia bilang untuk mencari pekerjaan itu gampang. Namun untuk mendapat momongan di jaman sekarang susah. Karena banyak wanita modern yang mengejar karir dan tidak mau memiliki anak.
"Istirahatlah karena aku sangat bahagia mendengar kehamilanmu," ucap Harlan.
"Jadilah suami siaga. Kalau mamamu mengatakan sesuatu yang tak masuk akal tentang kehamilanku kamu akan bagaimana Harlan?"