BAB 13 Jangan Melahirkan Cecar

1452 Kata
"Aku akan mencegahnya dan membicarakan masalah ini pelan-pelan," jawab Harlan. Aku tersenyum semoga ini akan menjadi kenyataan. "Istirahatlah, jangan banyak pikiran," ucap Harlan lagi. Aku mulai memberi perlengkapan bayi saat sudah menerima gaji. Kalau beli langsung nanti akan terasa uang yang dikeluarkan. Harlan selalu mampir rumah mamanya semenjak aku hamil setelah pulang kerja. Alasannya takut aku kecapekan karena sedang hamil jadi singgah ke mertua selama setengah. Jarak rumah mertia dengan tempat kerja kami sangat dekat. "Belanja mulu perasaan. Beli apaan sih tiap hari bawa paketan? tanya mertua yang melihat aku membawa bungkusan paket. "Perlengkapan bayi," jawabku singkat saja. "Pamali tahu hamil belum tujuh bulan sudah belanja perlengkapan bayi. Jangan belanja perlengkapan bayi dulu!" bentak mertuaku. "Nggak apa-apa kok soalnya kalau belanja langsung nanti takut uangnya nggak cukup," balasku. Mertua berteriak ke suamiku agar aku tidak belanja keperluan bayi dulu sebelum tujuh bulan kehamilan. Mertua mengatakan kalau nanti keguguran sayang sudah beli perlengkapan bayi. Suaranya menggelegar sekali sampai seluruh ruangan nyaring bunyinya. Harlan mengatakan tidak apa-apa. "Anak nggak mau nurut sama orang tua. Di bilangin orang tua ngeyel terus yang penting sudah mama bilangin ya. Kalau terjadi apa-apa rasakan sendiri," bentak mertuaku. "Eheemm, Aduh aku pusing," keluhku. Aku mengedipkan mata ke arah Harlan memberi isyarat kepadanya untuk segera pulang. Rasanya sudah nggak betah lama-lama di rumah mertua. Lagi hamil jadi 'kan bawaannya sensitif. Apalagi mertua kalau berbicara nadanya keras seperti menggunakan toa. "Ya sudah ma, Harlan pulang dulu ya," pamit Harlan. "Hati-hati, kalau di sini nggak pernah lama kenapa sih," balas mertu ketus. *** Ya bagaimana disuruh betah orang bacotnya seperti itu. Tak terasa usia kehamilanku memasuki usia tujuh bulan. Setiap jam makan siang tubuhku terasa lemas sekali. Aku minum air putih yang banyak lalu makan siang juga yang banyak. Kemudian aku meminta ijin ke pukesmas karena merasakan ada yang janggal dalam tubuhku. Aku segera ke kamar mandi untuk memastikan. Betapa aku syok saat melihat bercak darah di pakaian dalamku. Sengaja aku tak mengabari suamiku agar dia fokus bekerja. "Harlan ada kendala di kehamilanku. Aku sudah memerisanya dan sekarang sudah di rumah," aku beri kabar Harlan. Beberapa menit kemudian Harlan menelepon sepertinya dia panik dan takut terjadi sesuatu dengan kehamilanku. "Kamu nggak apa-apa kan Nota?" tanya Harlan "Bidan menyarankan aku untuk badrest di rumah sekitar empat hari," jawabku. "Diagnosa dari Bidan apa Nita?" tanya Harlan. Harlan memintaku untuk istirahat dan dia akan segera pulang saat pekerjaannya selesai. Ku pakai selonjoran kaki di atas kasur dan menikmati hidup sejenak. "Hamil jangan malas-malasan begitu. Pakai ngepel sambil jongkok, jalan kaki kek. Agar bisa lahir normal," bentak mertua yang maina nyelonong masuk kamarku. "Nita baru saja pendarahan sedikit tadi dia ijin kerja loh. Ada masalah di kandungannya. Tadi sudah periksa," balas Harlan. "Dibilangin orang tua ngeyel sih. Kan sudah mama bilang jangan beli perlengkapan bayi dulu sebelum tujuh bulan. Terus di kuret dong kalau begini kan ngabsin uang anakku saja!" bentak mertua. Harlan menjelaskan kalau bukan keguguran melainkan hanya gejala placenta previa atau ari-ari letaknya dibawah dan tidak mau naik ke atas. Mertua masih saja nyerocos sekaan sudah tahu segala dari tubuh orang lain. "Itu harus banyak sujud biar muter. Ngepel sambil jongkok biar letak bayinya bagus masuk panggul mama dulu begitu," balas Mertua. "Kata Dokter kemungkinan nggak bisa normal kalau placenta previa," sahut Harlan. Mertua mengatakan tidak boleh percaya Dokter karena Dokter hanya manusia. Mertua menyarankan untuk percaya sama yang maha kuasa saja karena hidup dan mati Allah yang menentukan. Bahkan belaiu menyarankan agar tidak sediki-sedikit periksa di Dokter karena Dokter hanya mencari uang saja. "Jangan percaya sama Dokter. Karena mereka hanya mencari untung saja. Nanti kalau sudah delapan bulan pijat perutnya. Biar nggak sungsang!" seru Mertua. "Nggak boleh di pijit ma. Nanti pendarahanlah kandungan Nita lemah juga ada kendala lainnya," jawab Harlan. Mertua mengatakan kalau saat Harlan masih dikandungan juga sunggang terus di pijit perutnya biar nggak sungsang. Nyatanya masih hidup lahir selamat. Emang apa bedanya hamil dulu sama sekarang sama saja. Mertua mengatakan anak jaman sekarang saja manja. "Dulu mama hamil kamu juga sungsang. Mama urut bisa mapan di jalan lahir. Jaman dulu ngga ada cecar mau sungsang mau kelilit tali pusat. Pada lahir aman tuh!" ucap Mertua. "Iya sih jaman dulu nggak ada sesar tapi menurut berita banyak ibu meninggalkan saat akan melahirkan begitu juga anak dalam perutnya," jawabku. "Berusaha kamu supaya nggak sesar. Biaya sesar mahal!" seru mertuaku. Nenek ini memang membuatku kesal kenapa setiap datang selalu menguras emosiku saja. *** "Tak terasa kehamilan Nita sudah sembilan bulan. Aku sebentar lagi akan menjadi ayah," ucap Harlan. "Aku masih mikir mau lahiran di mana," sahutku. Aku masih bimbang mau lahiran di rumah ibu atau di sini bersama Harlan suamiku dan mertua yang bacotnya minta ampun. Akhirnya aku konsultasi sama ibu dan menceritakan kondisi kandunganku. "Ibu, Nita mau curhat sedikit boleh nggak?" tanyaku lewat sambungan telepon. "Cerita saja ibu dengarkan," jawab ibu. "Kandunganku lemah bu. Jika kecapekan sedikit saja langsung flek darah gitu bu. Kata Bidan nggak berani menangani harus ke rumah sakit besar," jawabku. Ibu menyarankan untuk melahirkan di rumah desa saja. Kalau di desa banyak saudara apa-apa cepat. Nanti ibu akan berkonsultasi ke bidan Delima di desa. Ibu mengatakan untuk membicarakan masalah ini dengan Harlan dulu boleh tidak laahiran di tempat ibu. "Baik bu aku diskusi sama Harlan dulu," Jawabku sambil menutup telepon. Aku berdiskusi dengan Harlan soal rencana persalinan mau lahiran dimana. Aku mengatakan ingin lahiran di rumah ibu saja. Alasan nya adalah agar aku nyaman dan tenang jika di rumah ibu. Harlan setuju dengan rencana itu. Kami juga memberi kabar pada mertua tentang keputusan mau lahiran di mana. Yah seperti biasalah lah. Responnya seperti apa sudah jelas dong terlontar kata yang membuat sakit hati mantunya. "Nanti rencananya Nita akan melahirkan di tempat ibunya ya ma. Di desa," ucap Harlan. "Memangnya nggak mau lahiran di sini saja kenapa?" tanya mertua ketus. "Di sini mama sibuk jaga warung. Nggak ada yang mengurus Nita lahiran ma, kalau di desa banyak saudaranya," jawabku. "Mama yang mengurusi kamu. Kenapa ibu kamu nggak mau ke sini saat kamu mau lahiran. Nggak mau repot ya?" tanya mertuaku bacotnya nggak bisa di rem. Ku jawab saja lebih nyaman lahiran di tempay ibu. Apalagi kondisi hamilku nggak normal jadi lebih baik dengan keluarga sendiri. "Lahiran di desa ngabisin ongkos saja. Tabung duitnya buat kebutuhan yang lain," ucap mertuaku. "Aku pakai uangku sendiri nggak minta mama," sahutku kesal. "Pakai BPJS aja lahiran. Orang-orang sini pada pakai BPJS. Biar uangnya bisa dipakai yang lain," ucap Mertua. Aku jawab sesuai dengan pemberitahuan dari rumah sakit kalau lahiran normal nggak di cover bpjs. Tapi mertuaku masih ngotot saja kalau masih bisa dipakai. Karena tetangganya masih pakai. "Sekarang lahiran kalau lahiran pervagiman atau normal tidak dicover bpjs," ucapku. "Orang sini pada melahirkan normal pakai BPJS pelayanan bagus juga," balas Mertuku. "Aturan baru nggak bisa ma. Itu orang sini lahirannya kapan? Teman kemarin lahiran normal habis dua puluh juta di RSUD kamar nomor satu!" jawabku dengan nada emosi. Mertuaku masih ngeyel nggak mungkin lahiran normal membayar dua puluh juta. Itu pasti membuat paling mahal itu ya delapan ratus ribu kalau di pukesmas mah cuma dua ratus ribu sudah bersih menginap satu hari. "Jangan mau di bohongin. Mahal bener lahiran normal nggak mungkinlah sampai dua puluh juta. Mama dulu lahiran cuma delapan ratus ribu itu di rumah sakit besar menginap dua hari," balas mertuaku. "Lahiran di tahun berapa itu ma?" sahutku kesal apa itu lahiran Harlan di awal tahun sembilan puluhan. Ini tahun dua ribu dua puluh dua ya ampun mertuaku ini gila kali ya. Bandingin lahiran tahun sembilan puluhan awal dengan tahun 2022. Harlan meminta kami untuk tidak ribut lagi. Karena hari sudah malam kami akhirnya pamit pulang. Aku semakin kesal saja dengan bacot mertuaku ini. "Kami pamit dulu ya ma sudah malam. Ini jatah buat mama bulan ini. Nita melahirkan di desa saja nanti. Doakan lancar persalinannya ya ma," pinta Harlan sambil menyerahkan uang jatah mertua. "Sedikit amat bulan ini Harlan. Kenapa jatah mama dikurangi terus sih," mertua berkata sambil menghitung uangnya di depan aku yang sedang hamil tua. Air mataku langsunh jatuh terurai di pipi. "Dikurangin dari mana. Biasanya juga segitu nggak kurang dan nggak lebih," jawab Harlan. "Mertua nggak tahu diri apa ketakutan uang anaknya habis buat lahiran cucunya," gumamku dalam hati. Aku menberi kode Harlan untuk segera angkat kaki dari rumah mertua. Amit-amit jabang bayi semoga keturunanku tidak ada yang sifatnya jahat seperti mertua yang jahat naudzubilah. Sepertinya melahrikan di desa bersama ibu adalah keputusan yang tepat. Mungkin di sana aku akan merasa lebih nyaman dan di perhatikan dengan tulus oleh orang tuaku. Tidak seperti mertua yang hanya memikirkan diri sendiri. Mertua yang hanya ingin selalu diperhatikan oleh anak lelakinya yanh sudah menikah. Seakan tak ingin anaknya lebih sayang pada istrinya. "Nita apa kamu sedang tak enak badan?" tanya Harlan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN