BAB 14 DRAMA LAHIRAN BERSAMA MERTUA

1546 Kata
"Tidak apa-apa Harlan aku hanya sedikit kelelahan saja," balasku. Harlan memintaku untuk segera istirahat karena tidak baik melakukan aktivitas yang berat selama kehamilan.Aku hanya mengangguk menuruti perintah suamiku. Hari telah berlalu dan aku makin sibuk memeprsiapkan kelahiran buah hatiku, Pikiranku tenang karena akan melahirkan di rumah ibu, Hari ini adalah hari terakhir aku kerja sebelum mengambil cuti lahiran. "Nah begini dong kamu harus ceria seperti ini. Aku senang sekali melihat istriku ceria," ucap Harlan. "Iya karena hari ini terakhir kerja dan besok untuk sementara pulang ke rumah ibu untuk melahirkan buah hati kita. Aku bahagia sekali kamu mengijinkan aku melahirkan dirumah ibu," balasku. "Nanti sore kita periksa kandungan sebelum berangkat perjalanan jauh ya. Agar aku tak khawatir lagi nanti saat perjalanan," pinta Harlan. "Siap," jawabku singkat. Hari ini aku sibuk dari pagi sampai siang karena membereskan pekerjaanku dan serah terima yang belum selesai dengan teman satu departemenku.. Istirahat makan siang aku rebahan sebentar, Tiba-tiba aku merasakan pinggulku sangat panas, perutku mulas dan terasa kencang. Aku merasakan mau pipis dan mau buang air besar aku langsung ke kamar mandi dan terlihat ada bercak darah di pakaian dalamku. Aku bertanya pada seseorang yang sudah pernah lahiran di kantor sambil memegangi perutku yang sakit. "Mir, perutku rasanya mules banger kenceng seperti orang mau pup dan tadi aku kekamar mandi ada bercak darah di celanaku. punggungku sakit sekali dan perutku ini rasanya tidak karuan," keluhku pada mira, "Waduh, Nita mungkin sudah saatnya mau lahiran. Kalau begitu aku telpon suamimu dulu ya," balas Mira. "Punggung terasa panas ya Nit. Terus apa lagi yang kamu rasakan?" tanya Rani. "Punggung panas, perut mules tadi sudah ada bercak darah di baju dalamku," jawabku sambil memegangi perutku yang mules. "Mir, kamu buruan minta ijin buat Nita pulang . Aku yang telpon suaminya,". pinta Mira sambil memegang ponselku. "Apa ini adalah tanda-tanda orang mau melahirkan Ran?" tanyaku. "Takutnya sih kontraksi palsu tapi tidak ada salahnya kita perisksa dulu ke bidan atau dokter ini sudah berapa minggu usia kehamilanmu Nit," jawab Rani sambil mengelus punggungku. "Tiga puluh delapan minggu Ran. Masih lama dari hpl," balasku. "Aduh Nita kenapa belum cuti sudah tiga puluh delapan minggu," keluh Rani yang panik. Mira membuatkan ijin untukku ke atasan agar bisa pulang awal di terakhir kerjaku, Sementara Rani menelpon Harlan untuk menjemputku, Mereka berdua mengantarkan aku ke lantai bawah menunggu Harlan datang menjemputku, Bani langsung membawa ke klinik terdekat, Untung nya Bidan di klinik ramah dan cekatan ternyata aku sudah pembukaan dua setelah dicek oleh bu bidan. "Pak istrinya sudah pembukaan dua bisa pulang dulu. Karena masih lama pembukaan cepat atau lambat tergantung dari si ibu hamilnya. Nanti kalau sudah ada pecah ketuban bawa ibunya ke sini lagi ya pak," ucap bu Bidan kepada Harlan. "Baik, Bu bidan, terimakasih." balas kami berdua bersamaan. Kami mengabari ibu sudah pembukaan dua hari ini jadi kami pun mengurungkan niat untuk pulang. Ibu dan adikku yang datang ke rumahku karena tak tega aku melahirkan di kota tidak ada sanak saudara. Pukul delapan malam aku merasakan kontraksi semakin kuat. Perutku sangat mules seperti ada yang memeras dengan kuat. Harlan membawaku ke Bidan terdekat. Saat sampai Bidan langsung mengecek dan sudah pembukaan empat. Bidan mengatakan tekanan darahku tinggi. Jadi aku di rujuk ke rumah sakit serta di antar langsung oleh bu Bidan. "Harlan suamiku kalau nanti harus di operasi. Doakan saja yang terbaik buat aku dan calon bayi kita," ucapku lemas. "Jangan berpikir yang tidak-tidak Nita. Kamu pasti bisa melewati ini. Tentu saja aku akan Mendoakan yang terbaik buat buatmu dan calon anak kita," balas Harlan sambil menggenggap tanganku. "Jangan stres duluan ya ibu. Tetap optimis dan terus semangat. Agar persalinannya lancar," ucap bu Bidan yang mendampingi kami. Sampai di rumah sakit karena di dampingi oleh bu Bidan. Aku langsung mendapatkan penanganan dan kamar. Sesuai apa yang di arahkan Bu Bidan. Aku masih bisa jalan-jalan kecil. Tak lama kemudian ada bunyi seperti balon meletus dan cairan merembes keluar melalui celah kakiku. Aku sudah tidak boleh jalan kecil lagi. bu Bidan memintaku untuk rebahan miring kiri di atas kasur. "Itu namanya ketubannya sudah pecah bu. Biasanya kalau sudah pecah ketuban bakalan cepat pembukaannya bu," ucap bu Bidan. "Ayo Nita pelan-pelan. Aku bantu naik ke atas ranjang persalinan," ucap Harlan. Dokter datang sekall lagi untuk mengecek kondisi tubuhku. Kalau tensi masih tinggi Dokter menyarankan untuk tidak melahirkan secara normal. Dokter memeriksa sudah pembukaan tujuh tetapi macet sampai empat jam tidak ada pembukaan lagi. Harlan maupin aku sempat panik. Suamiku konsultasi dengan Dokter dan menelepon ibuku yang sedang dalam perjalanan menuju kota untuk menemaniku melahirkan. "Ibu maaf menggangu perjalannya. Saya mau mengabari kalau Nita sudah pembukaan tujuh tapi sudah empat jam belum ada pembukaan lagi. Apa yang harus saya lakukan bu?" tanya Harlan. "Tidaj usah panik Harlan yang begitu sudah lumrah terjadi. Ajak istrimu untuk tarik nafas lalu keluarin nafas. Ulangi terus menerus sampai istrimu rileks," jawab ibu. "Baik terima kasih ya bu sarannya. Saya tutup dulu dan mempraktekkan saran dari ibu," ucap Harlan. Dokter menyarankan untuk di induksi. Agar mempercepat pembukaan. Harlan menyetujui petunjuk Dokter. Tapi saat Harlan sedang berkonsultasi dengan Dokter di saat itu mertuaku sampai rumah sakit. Alih-alih mendampingiku lahiran mertuaku banyak bacot dan membuat keributan. "Jangan di induksi Harlan. Biarkan istrimu melahirkan normal alami saja," pinta mertuaku. "Tapi mah Nita istriku sudah kesakitan. Aku tidak tega melihatnya. Pembukaan jalan lahir untuk bayiku macet sudah hampir empat jam lamanya," balas Harlan. "Kamu tau apa Harlan tentang melahirkan. Turuti saja apa kata mama. Mama ini kan sudah pengalaman melahirkan dua anak," ucap Mertua. "Mah, jaman dulu sama sekarang beda. lagi pula Nita ada riwayat placenta previa. Tubuh orang kan beda-beda mah," balas Harlan ngotot. "Kamu mau nurut kata mama enggak sih. Mama bilang jangan induksi ya jangan induksi. Nanti pasti di sesar ini hanya trik Dokter untuk mendapatkan uang. Ngabis-ngabisin uang aja," bacot mertuaku tak bisa diam saja. "Mohon maaf ya semuanya jangan membuat keributan di ruang persalinan. ibu melahirkan itu taruhannya nyawa. Kalau saya jadi suami akan membuat kelutusan yang tepat. Uang masih bisa dicari. Tapi istri yang mau menemani kita dari nol itu susah dicari," ucap seorang petugas rumah sakit. "Itu karena bapak punya banyak uang untuk dipakai induksi. Anak saya lain pak. Nambah-nambahin pengeluaran untuk lahiran saja," sahut ibu mertuaku yang banyak bacot nggak tahu aturan kepada petugas rumah sakit. "Bapak sebagai suami keputusan ada di tangan bapak. Keselamat istri dan calon bayi adalah tergantung keputusan yang bapak. Mau diinduksi atau tidak itu adalah keputusan bapak. Tapi apakah bapak tega melihat istri bapak kesakitan sepanjang malam. Paling parahnya anda kehilangan istri anda karena tidak tepat mengambil keputusan, jangan sampai bapak menyesal," imbuh petugas rumah sakit. Setelah mendapatkan wejangan panjang lebar dari petugas rumah sakit Harlan menandatangi surat induksi seperti apa yang di sarankan oleh petugas rumah sakit. Seperti biasalah mertuaku tentu banyak bacot. "Kebangetan kamu Harlan. Ngga mau menuruti nasihat mama. Sudah dipengaruhi oleh istri kamu buat enggak patuh lagi sama mama," ucap mertuaku. Setengah jam kemudian setelah Dokter memberiku induksi, akhirnya bayi kecil berjenis kelamin perempuan dengan panjang 42cm dan berat badan 3.5kg lahir ke dunia. Harlan mengumandangkan adzan untuk putri kecil kami. Bayi kecil diberikan kepadaku oleh bu Bidan yang bertugas untuk imd dengan ibunya. Belajar menyusu sesuai anjuran dari Bidan. Yah bacot mertua tidak bisa diam lagi. "Silahkan belajar menyusui bayinya ya bu. Gendong untuk boanding antara ibu dan bayi," jelas bu Bidan sambil menyerahkan bayiku. "Sini mama gendong saja cucu mama yang cantik," ucap mertua yang langsung merebut paksa bayi perempuan yang aku gendong. "Cucu oma cantik sekali mirip oma waktu muda," ucap mertuaku yang banyak bacot itu. Aku hanya bengong dan terdiam karena tenaga sudah lemas buat mengejan melahirkan bayi. Sedih rasanya mempunyai mertua nggak punya perasaan seperti ini. Manusia yang tak mau memperhatikan perasaan mantunya. "Maaf ma, tadi petugas sudah bilang biar bayi bonding dan belajar menyusu sama Nita dulu," icap Harlan. "Mama emang ngga boleh gendong cucu sendiri Haralan?" tanya mertua. "Siapa yang bilang nggak boleh gendong. Kata Bidan tadi ibu dan bayi harus bonding dulu ma, belajar menyusu," jawab Harlan. "Alasan aja kamu. Tega kamu sama mama nggak boleh gendong cucu sendiri," balas mertua sambil menyerahkan bayiku. Bayi kecil itu aku peluk erat dan kucoba untuk menyusuinya. Bahagia rasanya hatiku setelah penantian panjang aku bisa menggendong bayi kecil yang telah lama aku nantikan kelahirannya ini. "Asi nya belum keluar?" tanya mertua yang banyak bacot sambil matanya melotot. "Sudah ini ma," jawabku lembut sambil melihat bayi kecilku. "Kok asinya encer sih. Nggak kenyang ntar cucuku. Loh kok nggak di buang dulu asi pertamanya. Tahu nggak sih itu s**u basi nanti keracunan cucuku. Bagaimana sih main langsung nyusuin aja, makanya tanya sama mama yang sudah berpengalaman," bacot mertua. "Ibu menyusui tidak boleh banyak pikiran loh nanti ASI-nya seret. Lagi pula ya bu enggak ada istilah asi pertama itu asi basi bu. Justru Asi yang pertama kali keluar banyak vitaminnya," ucap petugas medis yang datang memberi teh hangat manis padaku. Aku hanya bisa mengelus d**a melihat tingkah laku mertuaku. Mau aku bantah aku tak punya tenaga karena baru lahiran. Dari pertama aku menikah dengan Harlan lalu hamil sampai melahirkan. sepertinya mertua selalu bacot ingin ikut campur dalam rumah tangga kami. Beruntung Besok paginya ibu dan adikku sudah sampai kota. Jadi aku tidak usah pusing menghadapi mertua yang suka enggak masuk akal kalau bacot itu. "Ibu kok nggak sampai-sampai ya," gumamku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN