"Sabar Nita ibu akan segera datang," ucap Harlan.
"Iya Harlan terima kasih ya sudah menjadi suami yang baik," balasku sambil tersenyum.
Seperti apa kata Harlan aku memang harus bersabar. Ibu dan adikku akan segera sampai.
Dokter melakukan cek kesehatan terhadap badanku. Bila sudah tak ada pendarahan atau masalah lainnya yang dialami ibu setekah melahirkan. Dokter dan pihak rumah sakit sudah memperbolehkan pulang.
Senyumanku melebar saat melihat ibu sudah sampai rumah sakit. Ibu langsung memelukku mengatakan selamat padaku yang kini telah menjadi seorang ibu.
Ibu membalut perutku dengan stagen dengan erat. Rasa nyaman sekali ketika ada ibu disampingku usai melahirkan seperti ini.
"Hati-hati ketika berjalan ya. Luka dalam rahimnya masih basah," pinta ibu sambil melihat aku berjalan.
"Baik bu," jawabku sambil berjalan kecil.
Ibu mendampingi aku berjalan sambil membawa tas kecil yang aku bawa ke rumag sakit kemarin dibantu dengan adikku. Sedangkan Harlan bertugas untuk menggendong bayi kami.
"Sudah sampai rumah bayi kecilku. Ini rumah kita," ucap Harlan sambil meletakkan putriku di box bayi.
"Hati-hati juga saat duduk jangan asal-asalnya. Karena rahimmu dijahit jadi harua hati-hati bisa lepas kalau sembarangan duduk. Baru dua hari soalnya, biasanya sampai tujuh hari baru normal lagi," ucap ibu sambil meluruskan kakiku sambil membalurinya dengan param. Rasanya nikmat sekali.
"Baik bu. Enak sekali rasanya di beri param kakiku," ucapku.
Ibu merawatku sampai putri kecilku pusarnya lepas. Banyak nasehat yang di sampaikan ke Harlan. Soal merawat wanita selepas melahirkan sampai empat puluh hari juga merawat bayi.
Harlan tampak antusias mendengarkan nasihat ibu dan mengerti. Selama ibu merawatku pasca persalinan. Mertua tidak ke rumah sama sekali dan itu membuat aku senang sekali. Tidak ada bacot mertua dan hari-hariku merasa tenang.
Aku menjadi sedih saat ibu dan adikku berpamitan pulang. Bagaimana aku tanpa mereka kalau mertua yang jahat itu datang.
"Nita, ibu dan adikmu pamit pulang. Jaga dirimu baik-baik. Jangan banyak pikiran dan cukuplah makanan yang sehat. Kamu juga harus istirahat yang cukup agar asi tidak seret. Kasihan anakmu nanti kalau asi sampai seret," pesan ibu sambil memelukku.
"Nita akan selalu ingat nasihat ibu. Maafkan Nita ya bu jika sudah sebesar ini masih merepotkan ibu. Ibu apa tidak bisa lebih lama sedikit menemani Nita?" tanyaku.
"Tidak bisa kamu harus kuat jadi ibu ya. Adikmu harus sekolah. Ibu lihat Harlan suami dan ayah yang bertanggung jawab. Semoga kalian bisa merawat bayi ini bersama ya," jawab ibu sambil mengusap air mataku.
"Ibu taxinya sudah sampai. Harlan bawakan koper ibu ke bagasi. Di cek nanti jangan sampai ada yang ketinggalan ya bu," ucap Harlan sambil membawa koper ibu.
"Menantuku Harlan ibu titip Nita ya. Sementara kamu yang nyuci baju sama beberes rumah ya. Luka di tubuh Nita pasca persalinan belum sembuh total sampai empat pulug hari. Jangan Angkat berat dulu, bisa robek lagi jahitannya," pinta ibuku menasehati Harlan.
"Baik seperti nasehat ibu aku akan mematuhinya," jawab Harlan Menganggukkan kepala.
Aku bersyukur sekali mempunyai suami seperti Harlan. Dia membantuku mengurus putri kami bersama. Sebelum berangkat kerja dia memasak nasi dan membelikanku lauk pauk. Ketika pulang kerja sore hari dia membawa makanan untukku makan.
Harlan tidak mengijinkanku bebenah rumah sesuai nasehat ibu. Kadang Harlan meminta tetangga untuk membantuku mengurus rumah dan membayarnya sebagai upah.
"Aduh Harlan kenapa rumahmu debunya tebel sekali. Lantai ngeres banget apa nggak pernah di pel. Lihat ini kaki mama kotor," ucap mertua yang datang langsung mengomel seperti biasa deh segala sesuatu di rumah dikomentari.
"Aku memang belum mengepel rumah kok ma. Angel kalau di taruh kasur nangis kalau digendong diem," sahutku sambil menggendong Angel.
"Anak jangan dibiasain gendongan terus, nanti jadi manja bau tangan nggak mau lepas emaknya," bentak mertua.
"Nangis keras ma kalau ditaruh kasur. Masa iya mau dibiarin saja nangis nggak mau berhenti. Memang anakku ini tipe bayi cengeng," balasku.
"Sini gendong nenek aja," ucap mertua dan langsung merebut bayi dalam gendonganku secara paksa dan menimangnya.
Begini amat punya mertua. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Aku melihat anakku yang masih bayi ditimang serta diayun dengan kencang oleh mertua.
Aku ingin langsung menasehati tapi pasti akan ribut besar.
Jadi aku mengurungkan niatkan dan mempethatikan cara mertua menggendong anakku.
Tiba-tiba mertua membereskan rumahku. dari menyapu, mengepel hingga cuci piring. Bukannya aku nggak bersyukur mertua mau membantuku berberes rumah atau tidak senang. Aku ingat tempo hari mertua juga pernah menginap di rumah kami ini. Waktu itu mertua berberes rumah tapi tidak mau bertanya dulu barang yang terpakai atau tidak langsung membuangnya begitu saja.
Aku menasehatinya mertua jawab barang itu masih di dalam kardus dan kardusnya seperti tidak terpakai dan banyak debu makanya mertua membuangnya ke tempat sampah.
"Ini baru rumah yang bersih nyaman untuk ditinggali. Sudah steril orang ada bayi masa rumah kotor. Jangan males kamu Nita baru punya anak satu, kerja beresin rumah saja malas," ucap Mertuaku.
"Siapa yang males sih ma. Anakku ini tipe yang enggak bisa ditinggal sebentar saja sama ibunyama. Kalau luka dalam perutku ini sudah sembuh juga enggak usah diomongin rumah bersih setiap hari," sahutku kesal.
"Jangan dijadikan alasan. Mama dulu pulang lahiran dari rumah sakit bisa nyuci baju sambil berdiri. Kasihan anakku Harlan sudah capek nyari duit. Pulang ke rumah mau istirahat tapi rumahnya kotor. Kamu gimana sih jadi istri," ucap mertuaku.
"Ma tubuh manusia itu berbeda. Saya 'kan baru selesai lahiran belum ada empat puluh hari," sahutku.
"Makanya kamu jangan malas pakai gerak jangan diem saja. Agar cepet sembuh lukamu. Jangan malas jadi istri itu. Terus ini obat apa?" tanya mertua sambil menunjuk Asi booster yang ada di atas lemari. Aku sengaja membelinya untuk memperlancar asiku.
"Ini asi booster agar asiku semakin lancar," jawabku.
"Alah kebanyak gaya. Orang dari desa saja belagu. Jaman dulu nggak ada tuh gini-ginian. Ngapain melancarkan asi pakai obat segala. Makan daun katuk murah meriah," ucap mertuaku.
Aku semakin kesal dengan bacot mertua.
Aku memang orang desa tapi yang namanya jaman sudah berkembang ya sudah ikuti saja tapi jangan yang hedon-hedon.
Aku ingin membantah bacot mertua ini meluapkan emosiku. Saat aku lihat wajah bayi tanpa dosaku ini. Aku tak jadi marah aku mencoba menghembuskan nafas panjang. Ini adalah cara untuk tidak emosi. Aku tak mau emosi sehingga asiku seret dan tak bisa mengAsihi anakku.
"Sabar Nita. Sabar ya punya mertua yang bacotnya gede seperti ini," hiburku pada diri sendiri sambil mengelus d**a.