Bab 16 Emang Bacot

929 Kata
Jarang sekali mertua datang ke rumahku padahal aku mempunyai bayi. Bukan mertuaku namanya jika datang tidak membawa bacot yang pedas seperti cabai setan. Bacot mertua selalu melukai hatiku. Ada saja yang dibacotin. Dari aku yang dikata sebagai pemalas nggak mau gerak. Punya bayi makan terlalu lama. Rumah nggak pernah di bersihkan karena banyak debu. "Punya anak itu makan yang sat set sat set. Jangan lama begitu memangnya kamu juragan empang punya banyak baby sister dan pembantu. Jangan lelet," ucap mertua ketus. "Masih panas suruh cepat-cepat gimana sih. Biar bibirku jontor?" tanyaku. "Di bilangin ngelawan mulu. Pantes kerjanya lama orang makan aja lama," balas mertuaku. Lebih mengesalkan lagi adalah aku dikata salah dalam mengurus bayi. Duh harus banyak iatigfar juga di rumah harus sedia koyo, balsem dan obat pereda pusing lainnya. Karena mendengarkan bacot mertua menyebabkan pusing. Hari ini Lisa dan Tania mengabari akan mengunjungi rumahku. Perasaanku senang karena bisa meluapkan keresahan hati yang sudah terasa sesak ini. "Nita aku dan Lisa mau ke rumah ya hari minggu. Mau bertemu Angela. Mau di bawain apa?" Tania mengirim chat padaku. "Alhamdulilah akhirnya ada tempat melepaskan unek-unek," jawabku. "Angela asi atau sufor?" tanya Tania. "Angela minum asi. Aku tunggu hari minggu ya, seneng banget ada teman," balasku. Aku cerita pada Harlan kalau Tania dan Lisa akan datang hari Minggu. Harlan ikut senang karena ada teman melepas penat untukku. Teman mengobrol yang nyambung denganku., Apalagi Harlan sudah tahu bagaimana kedekatan kami semasa kuliah dulu. "Bagaimana keadaan tubuhmu hari inu. Apakah lelah?" tanya Harlan sepulang kerja. "Cukup melelahkan yang penting jangan capek hati saja," Jawabku. "Angela rewel nggak hari ini?" tanya Harlan. "Ya seperti biasa dia tidak mau di taroh di kasur. Maunya gendongan mulu sama emaknya makan aja romannya nggak sempet," jawabku. "Kamu sudah makan sore apa belum?" Harkan bertanya sambil memelukku. "Belum sempet. Tapi udah ngemil banyak," jawabku. "Sini aku suapin kamu sekalian aku makan. Kita makan berdua," ucap Harlan yang menuju dapur mengambil makanan. Aku beruntung sekali punya suami pengertian dan selalu menyayangi aku dan anakku sepenuh hati. Bisa diajak curhat. Selalu ada solusi setiap kita ada masalah. Aku menyukai Harlan yang tidak pernah memihak jika sedang ada perdebatan antara aku dan mertua yang suka bacot. Harlan bisa menjadi penengah diantara kami. Tapi kadang juga terkena hasutan mertua. Tania dan Lisa menepati janjinya ketika hari minggu betulan datang ke rumahku. Saat ini mereka sedang perjalanan ke rumahku. Aku sudah kuat untuk beresin rumah. Harlan menggendong bayiku. Sedangkan aku menyiapkan makanan. Setelahnya aku menyelonjorkan kakiku. "Wiihh, Ada nyonya besar!" Bentak mertua yang melihat Harlan memijat Kakiku. "Tumben nggak ngabari ma?" tanya Harlan. "Mama nggak boleh kesini? Mama pengen gendong cucu. Harlan kamu apa-apan sih Kemarin mama lihat kamu nyuci baju. sekarang kamu seperti pembantu mijitin kaki istrimu. Dimana wibawa kamu sebagai suami?!" bentak mertua. "Nita cape ngurus anakku ma. Menyiapkan makanan. Menyetrika bajuku wajar aku memanjakan dia. Rumah tangga ini berdua tidak sendiran," jawab Harlan santai. "Tugas suami nyari uang. Tugas wanita itu ya jadi pembantu dalam rumah tangga. Lelaki mah tinggal nyari uang aja udah. Ngapain ngurusin istri!" seru mertua. "Jadi Mama selama ini hanya menganggap aku sebagai pembantu?" tanyaku kesal. "Ya enggak juga. Tapi dimana-mana seorang ibu adalah pembantu dalam rumah tangga. Kerjaannya ngurus suami, anak, masak. Kenapa marah emang mama salab ngomong?" jawab mertuaku. Aku sudah ngga tahan ingin membantahnya. Tapi Harlan mencegahku. Bacot mertua itu sungguh membuatku kesal. Untung Tania dan Lisa sudah sampai . Mertua langsung menggendong Angela saat mengetahui ada tamu. Padahal tamuku ini ingin melihat Angela. Entah mengapa mertua seakan tidak mau menyerahkan anakku. Ketika menangis anakku baru diserahkan padaku. "Nita. Kami datang mengunjungi ibu baru nih. Selamat ya sudah menjadi orang tua,," ucap Lisa. "Mana ini bayi lucunya kok nggak ada?" tanya Tania. Harlan mengajak kedua sahabatku untuk masuk ke kamar kami. Karena memang aku belum berani banyak gerak. "Mana bayimu Nita?" Tanya Lisa. "Tuh ada sama neneknya. Di gendong sama neneknya," balasku kesal. "Ada mertua toh ternyata. Sssttstt," ucap Tania sambil tertawa menaruh telunjuknya dibibir. "Bagimana rasanya lahiran normal Nit?" tanya Lisa. "Pokoknya Rasanya Luar biasa lah, Pas bayi mungil udah keluar dari perut, Placenta juga sudah keluar, Rasanya plong banget," jawabku. "Nita. ini anak kamu susuin dulu, kalau sudah kasih mama lagi," ucap mertuaku. Kedua sahabatku menyapa mertuaku. Kira-kira ni nenek-nenek akan melakukan drama apa ya. "Ada tamu rupanya. Maafkan Nita ya rumahnya berantakan. Nita mah orangnya manja. Beresin rumah aja nunggu Harlan pulang kerja. Enggak kasihan sama suami capek pulang kerja masih di suruh beresin rumah," ucap mertua tanpa memperhatikan perasaan mantunya. Terlebih lagi pas ada tamu. "Nita kan baru lahiran bu. Kondisinya belum pulih sepenuhnya. Lagian di sini saudaranya pada jauh. Kalau nggak ngandelin suami, sama siapa lagi?" balas Lisa. "Alah anak jaman sekarang pada manja. Jaman saya dulu. Anak tidur saya beresin rumah. Nggak ikutan tidur kalau ikut tidur ya rumah kotor terus," ucap mertuaku. Lisa mau menjawab lagi. Tapi Tania mencegahnya. Mertuaku pergi meninggalkan kamar dan aku langsung menyusui Angela. Sambil melanjutkan ngobrol dengan kedua sahabatku. Lisa menggerutu kesal kepada Tania yang mencegahnya untuk menyanggah perkataan mama harlan yang banyak bacot. Betapa malunya aku, Di hadapan kedua tamuku. Mertua masih saja tega mengkritik mantunya. "Udah sore nih Nit. Kami pamit dulu ya. Ngga usah banyak pikiran. Ntar Asinya seret." Kata Lisa. "Kasihan anakmu juga. Nanti rewel mulu, kalau maminya banyak pikiran," imbuh Tania. "Mana Harlan, Kita mau pamit?" tanya Lisa. Aku mengantar Lisa dan Tania sampai depan pintu. Aku memanggil Harlan karna kedua Sahabatku mau pulang. Mama mertua juga minta diantar pulang sama Harlan. "Sudah mau pulang ya. Ibu sebentar lagi juga pulang. Diantar sama Harlan?" ucap mertuaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN